NovelToon NovelToon
Menepis Dekapan Tuan Dewangga

Menepis Dekapan Tuan Dewangga

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Ibu Tiri / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:409.2k
Nilai: 5
Nama Author: Mommy Ghina

"Aku tidak akan bersaing dengan masa lalumu. Sebelum kamu mendepakku, aku yang akan berjalan keluar."

Nayara tahu posisinya di kediaman Dewangga hanya sebatas hitam di atas putih. Melalui pernikahan kontrak dua tahun, ia menjadi tameng bagi Arkananta Dewangga untuk mempertahankan hak asuh anaknya, Kenzie, dari kejaran mantan istrinya, Saskia. Naya menjalani perannya dengan profesionalitas tinggi, sembari mengunci rapat hatinya di balik dinding es yang tebal.

Namun, situasi memanas saat Gisella—cinta pertama Arka—kembali dalam kondisi hancur. Dalih tanggung jawab membuat Arka kerap berpaling, memicu kelicikan Clarissa (saudara Saskia) untuk menjebak Arka hingga skandal kemesraannya dengan Gisella viral di media sosial. Foto viral ini menjadi senjata maut Saskia untuk merebut Kenzie kembali di sidang banding. Di depan mertua yang murka, Naya tampil anggun membela Arka demi menuntaskan tugas kontraknya.

Namun di balik layar, Naya menampar ego suaminya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35. Malam Sebelum Persidangan-2

Arka tersentak pelan, merasakan kehangatan murni dari jemari Naya yang langsung merayap naik menembus seluruh urat nadinya, meredam debaran kepanikan di dadanya dalam hitungan detik. Ia mendongak, menatap lurus ke dalam sepasang mata bulat milik Naya yang berkilat memancarkan kekuatan jiwa yang menghanyutkan sekeras baja.

"Lihat saya, Mas Arka," bisik Naya, suaranya mengalun sangat stabil dan teratur, bertindak bagai air es yang menyiram kobaran api kecemasan di dalam diri Arka. "Apakah saya terlihat seperti wanita yang akan menangis hanya karena beberapa kalimat sindiran dari pengacara Clarissa? Apakah saya terlihat seperti orang lemah yang akan menyerah begitu saja?"

Arka menelan ludah, tenggorokannya mendadak terasa kering melihat keteguhan di mata Naya yang begitu megah di bawah pendaran lampu kuning. "Tidak, Naya. Kamu ... kamu selalu menjadi yang paling kuat di rumah ini."

"Maka dari itu, berhentilah merasa bersalah," tutur Naya tegas namun lembut, jemarinya meremas lebih erat tangan Arka, memberikan kekuatan sunyi yang mengunci pergerakan logika suaminya. "Mantan tetangga, dokumen finansial, atau utang masa lalu keluarga saya ... semua itu adalah riak kecil yang sudah saya selesaikan sebelum saya melangkah masuk ke rumah ini. Saya tidak pernah malu dengan kemiskinan harta, Mas. Yang memalukan adalah kemiskinan moral, seperti yang diperlihatkan Saskia saat dia menelantarkan Kenzie demi ambisinya."

Naya memajukan tubuhnya sedikit, membuat jarak wajah mereka kian mengikis di atas ranjang yang sama. "Besok pagi di ruang sidang, tim hukum Maheswari akan menggunakan taktik intimidasi psikologis. Mereka ingin melihat Anda meledak marah, dan mereka ingin melihat saya ketakutan lalu mundur. Jika kita memperlihatkan celah emosional sekecil apa pun, mereka yang akan memegang kendali pertempuran."

Arka menatap lekat-lekat garis wajah jernih Naya. Desir hangat yang belakangan selalu mengacaukan ritme jantungnya kembali merayap naik dengan intensitas yang jauh lebih menggila dari biasanya. Rasa kagum, rasa bersyukur yang teramat besar, dan gelombang perasaan cinta yang selama bertahun-tahun ini ia kunci rapat di balik dinding es hatinya, malam ini tumpah tak terkendali di dalam dadanya.

Secara refleks, Arka membalikkan telapak tangannya, membalas genggaman tangan Naya bukan lagi dengan kekuatan seorang bos, melainkan dengan sentuhan murni seorang lelaki yang sedang memuja belahan jiwanya. Ia mengangkat tangan Naya, membawa jemari halus wanita itu ke depan bibirnya, lalu mengecup punggung tangan Naya dengan sangat lama dan penuh perasaan.

Naya menahan napasnya selama beberapa detik. Detak jantungnya sendiri seketika berpacu dengan ritme yang liar mendapati kecupan tulus dan tatapan mata elang Arka yang begitu dalam dan menghanyutkan dari jarak sedekat ini. Dada Naya berdesir hebat, ada kehangatan asing yang menjalar ke seluruh nadinya, meruntuhkan sisa-isanya benteng pembatas profesionalisme kontrak yang selama ini ia pertahankan dengan kaku.

"Naya ...." Arka membuka suara, suaranya merendah, berat dan serak karena emosi yang tertahan di tenggorokan. "Aku bersumpah demi nama ibuku, dan demi sisa hidupku ... apa pun yang terjadi di dalam ruang sidang besok pagi, aku tidak akan membiarkan satu pun kata penghinaan dari mereka menyentuh atau melukaimu. Aku akan berdiri di depanmu sebagai perisaimu, dan aku akan memastikan ... setelah badai ini lewat, kamu akan tetap menjadi Nyonya di dalam rumah dan di dalam hidupku untuk selamanya. Bukan karena kertas kontrak dua tahun ini, tapi karena aku ... aku benar-benar tidak bisa lagi hidup tanpa kehadiranmu, Nayara."

Pengakuan jujur yang meluncur begitu alami dari bibir Arka malam itu seolah membakar habis lembar demi lembar pasal perjanjian di atas kertas kontrak mereka. Nyawa dari hubungan mereka telah sepenuhnya hidup; meleburkan batasan majikan dan pekerja menjadi satu ikatan batin yang sah secara emosional di tengah keheningan kamar utama.

Naya tidak memalingkan wajahnya. Ia membiarkan rona merah samar terbit di kedua pipinya yang bersih, menatap lurus ke dalam manik mata elang Arka dengan kelembutan yang sangat teduh. Ia menyunggingkan senyuman tipis yang sangat anggun—sebuah senyuman yang memberikan kelegaan mutlak bagi jiwa Arka yang selama seminggu ini tegang didera ketakutan.

"Mari kita simpan janji besar itu sampai palu hakim mengetuk kemenangan kita besok siang, Mas Arka," ucap Naya dengan nada bicara yang kembali dikontrol dengan sangat taktis dan rapi, namun memiliki kehangatan murni yang tidak bisa dipalsukan lagi. "Sekarang, berbaringlah dan pejamkan mata Anda. Anda butuh energi dan kepala yang dingin untuk menghadapi pengacara Saskia besok pagi. Biarkan saya yang memegang kendali atas ketenangan malam ini."

Arka menatap garis senyum Naya yang tampak berkilau di bawah temaram lampu kamar. Rasa frustrasi dan kecemasan yang sempat membuat kepalanya mau pecah beberapa jam lalu seketika sirna tanpa sisa, digantikan oleh rasa aman yang luar biasa yang mengalir dari kehadiran wanita di sampingnya. Pria kaku itu akhirnya mengangguk patuh, merebahkan tubuh tegapnya di atas kasur sutra, berdampingan langsung dengan Naya tanpa ada lagi jarak bantal pembatas di antara tubuh mereka.

Naya ikut merebahkan tubuhnya, menarik selimut hangat untuk menutupi dada mereka berdua. Di dalam kegelapan kamar utama yang kian larut, di tengah deru angin malam Jakarta yang kian kencang mengetuk jendela, tangan Arka bergerak di bawah selimut, mencari kembali jemari Naya dan menggenggamnya dengan sangat erat sepanjang sisa malam.

Tidak ada sentuhan fisik yang berlebihan, namun debaran jantung mereka yang bersahut-sahutan di dalam keheningan menjadi bukti nyata yang hidup bagi batin pembaca: bahwa di malam sebelum pertempuran meja hijau dimulai, pertahanan di dalam kamar tidur utama kediaman Dewangga telah berdiri begitu kokoh dan tak tertahankan—bersiap membawa takdir baru bagi Arka, Naya, dan Kenzie di bab-bab persidangan selanjutnya, di mana kelicikan Clarissa dan masa lalu Saskia tidak akan pernah bisa menemukan celah untuk merubuhkan kekuatan cinta mereka yang sesungguhnya.

Bersambung...

1
Nanik Kusno
Alhamdulillah.... terima kasih atas ceritanya Kak Othor.... semoga sehat selalu dan semangat untuk terus berkarya.....
Nanik Kusno
Bahagia selalu semuanya.... dikelilingi orang-orang tercinta.....🩷🩷🩷🩷🩷🩷🩷
Nanik Kusno
Alhamdulillah....SAH... semoga SAMARA....
Nanik Kusno
Sheeeppp.....selangkah lagi menuju kebahagiaan...👍👍👍👍👍👍👍
Nanik Kusno
Semoga bahagia selalu menyertai seluruh keluarga.....
Nanik Kusno
Alhamdulillah....Bu Ambar sadar juga...
Nanik Kusno
Alhamdulillah.....👏👏👏👏👏👏
Nanik Kusno
Sebenarnya.... Arka Naya sudah cerai belum sih????🤔🤔🤔🤔🤔
Nanik Kusno
😭😭😭😭😭Arka sudah bener2 menyerah.....apapun yang sudah dimiliki...g ada harganya ketika anaknya sakit karena merindukan mamanya....
Nanik Kusno
Selalu anak yang jadi korban..... kasian Kenzie
Nanik Kusno
Semangat Arka.....usaha g mengkhianati hasil....💪💪💪💪💪
Nanik Kusno
Sabar ya Arka.... tembok baja bernama Naya akan luluh.... meskipun membutuhkan waktu lama.... jangan pernah putus asa.... berjuanglah untuk kebahagiaan keluargamu...
Nanik Kusno
Nah gitu Arka.... berusahalah dengan sungguh-sungguh....dekati Naya mulai awal.... pelan-pelan....sabar....
Nanik Kusno
Kejar kembali Naya.....kamu punya segalanya untuk menemukan dan berjuang mendapatkan hati Naya...
lakukan dengan cara yang paling baik Arka....😭😭😭😭😭😭😭😭😭
Nanik Kusno
😭😭😭😭😭😭😭 bagaimana dengan Kenzie nantinya....dis g tau kalau mamanya g akan kembali ke rumah ini lagi......
Nanik Kusno
Kita lihat berikutnya pemirsah..... apakah Naya akan luluh.......🤔🤔🤔🤔🤔
Nanik Kusno
Wanita yang mereka sebut kampungan.... menghempaskan seluruh argumen lawan.... tanpa celana.... tanpa emosi....👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
Nanik Kusno
Masalah ketulusan....Naya tiada duanya.... masalah membela harga diri.... Naya juaranya......👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
Nanik Kusno
Naya selalu keren.....hebat..... 👏👏👏👏👏👍👍👍👍👍👍👍
Nanik Kusno
Ayo semangat Arka.....kejar cintamu... tunjukkan bahwa kamu. hanya mencintai Naya.....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!