Pertemanan medsos membuat wanita yang sudah berusia senja jatuh cinta pada seorang pria muda yang pantas menjadi anaknya.
Dia tidak bertepuk sebelah tangan keduanya saling jatuh cinta, saling sayang, saling memberi dan merima.
" umi gak mau melanjutkan hubungan ini, kalau umi tahu Abi punya istri."
" gak Abi sudah sepuluh tahun menduda.."
Ketika akhirnya dia tahu bahwa si pria punya istri, dia ingin mundur tapi ...
"'Umi, kita jalani aja hubungan ini, apa umi mau, Abi sayang umi.."
Dia menyerah, cinta terlarang itu berlanjut..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eritasyofia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia di Balik Centang Satu
Dua hari berlalu sejak Winta melakukan panggilan video dengan Rangga di kantornya. Pesan WhatsApp yang dikirimnya kini hanya menunjukkan centang satu.
Hati Winta berkecamuk kecemasan, rindu yang menyiksa, penyesalan mendalam, hingga rasa rendah diri sebagai perempuan senja yang seolah kehilangan kehormatan. Rasa berdosa karena merasa telah melangkah terlalu jauh terus menghantuinya.
Malam-malam tak lagi dihangati sapaan pesan singkat. Matanya enggan terpejam, dan saat ia mencoba mencari kejelasan, akun media sosial Rangga bahkan telah lenyap tanpa jejak.
Tangis Winta akhirnya pecah di atas sajadah. Dalam sujudnya, ia memohon ampunan sekaligus berdoa agar hatinya dibebaskan dari bayang-bayang lelaki itu.
Guncangan batin itu menggerogoti fisiknya. Badan Winta melemah drastis, dan kadar gula darahnya melonjak naik.
melihat kondisi sang ibu yang memprihatinkan, Dinda berinisiatif membawanya ke klinik.
"Mama kenapa bisa sampai drop begini?" tanya Dinda cemas.
"Mama enggak apa-apa, Nak. Cuma agak lelah."
"Mama sering begadang, ya?"
"Iya... Kalau sudah terlanjur asyik menulis, Mama sering lupa waktu."
Dinda menghela napas, menatap ibunya penuh harap.
"Mulai hari ini Mama harus istirahat total. Jangan nulis dulu, ya?"
"Mama tulisnya siang hari saja. Mama kan harus terus perbarui bab cerita tiap hari."
"Iya, tidak apa-apa kalau siang. Tapi malamnya Mama harus tidur nyenyak. Tahajudnya tidak harus memaksakan diri kalau fisik Mama sedang tidak fit,"
bujuk Dinda lembut.
"Mama harus jaga kesehatan. Kasihan Adik, dia masih menahan diri tidak pulang karena urusan kerjaan. Kalau tahu Mama sakit, dia pasti nekat pulang."
"Iya, Nak..." sahut Winta pelan.
Ya Allah, betapa tulusnya anak-anakku mengasuh dan mengkhawatirkanku. Tapi ibunya justru tenggelam dalam rasa yang tak pantas ini... Aku malah jatuh cinta.
Bisik Winta dalam hati. Air matanya menetes perlahan. Ia menarik selimut menyembunyikan wajahnya, lalu mencoba memejamkan mata.
Begitu terbangun, refleks tangan Winta kembali meraih ponselnya. Ia membuka aplikasi percakapan, berharap ada kabar. Namun nihil, tidak ada tanda-tanda Rangga daring, dan pesan terakhirnya masih berstatus centang satu.
Jantungnya berdegup kencang, darah seakan berdesir naik ke kepala, dan air matanya kembali menetes.
Sesakit inikah rasa rindu? Mengapa di usia senja ini aku harus jatuh cinta, cinta yang begitu tidak masuk akal? Seorang perempuan yang sudah dipanggil oma, menaruh hati pada lelaki setara usia anak sulungnya. Lelaki tampan yang seharusnya bisa memilih gadis muda atau mahasiswa manapun.
Tiba-tiba Winta teringat pada Sri, temannya di TikTok. Ia membuka aplikasi tersebut dan melihat status Sri sedang aktif.
"Assalamualaikum, Mbak Sri."
"Waalaikumsalam, Mbak Winta. Gimana kabarnya?"
"Alhamdulillah sehat. Mbak Sri sehat?"
"Alhamdulillah, sehat juga."
Winta memberanikan diri memancing kabar.
"Oh iya, Mbak Sri, kemarin saya lihat Mbak sempat komen di akunnya Rangga. Kebetulan dia berteman juga dengan saya."
"Oh, Rangga! Dia itu sepupu saya, ibunya sama ibu saya bersaudara kandung."
"Oh, begitu ya, Mbak Sri..."
"Dia memang suka komen di novel saya, orangnya jahil dan lucu. Tapi Mbak tahu tidak, Rangga itu ngakunya duda, apa iya ?"
"Ah, enggaklah, Mbak Winta! Dia punya istri, kok. Anaknya satu, perempuan."
Dugh!
Dada Winta serasa dihantam beban berat. Napasnya tertahan seketika.
"Mbak Winta? Kenapa?"
tanya Sri melihat jeda balasan yang cukup lama.
Winta menyapu air mata yang nyaris menetes, lalu jemarinya mengetik cepat seraya menyembunyikan kehancuran hatinya.
"Enggak apa-apa, Mbak Sri. Cuma kaget saja, maklum anak muda zaman sekarang suka bercanda gombal,"
balas Winta melengkapi pesannya dengan stiker tertawa.
Percakapan panjang itu terus berlanjut hingga kumandang azan Magrib memisahkan mereka.
Begitu sambungan obrolan terputus, ponsel dalam genggaman Winta terlepas ke kasur.
Winta langsung menarik bantal, menutupi seluruh wajahnya, dan melimpahkan seluruh remuk redam di dadanya.
Di dalam kamar yang hening itu, tangisnya pecah tanpa tumpuan. Ia terisak-isak hingga tubuhnya terguncang hebat, meratapi kebodohannya yang telah meletakkan hati pada bayangan semu seorang pria beristri.
Rasa malu, hancur, dan penyesalan mendalam menyatu dalam setiap hela napas dan deras air mata yang membasahi bantalnya malam itu.
Bersambung