NovelToon NovelToon
Pesugihan Ratu Ular

Pesugihan Ratu Ular

Status: sedang berlangsung
Genre:Mata Batin / Penyelamat / Balas Dendam
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

-

Di tengah ketenangan Desa Lemah Wungu yang asri dan dikelilingi hamparan sawah hijau, Bagas hidup dalam impian sederhana bersama ibunya. Namun, penyakit parah yang menggerogoti sang ibu memaksa Bagas nekat melanggar pantangan desa: memasuki hutan keramat Sendang Manten untuk mengikat perjanjian gaib dengan Ratu Ular.

Seketika, nasibnya berubah. Kepingan sisik emas melimpah membuat Bagas menjadi pemuda terkaya di desa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 10

****

Sinar mentari pagi menyiram hangat hamparan sawah hijau yang membentang luas di Desa Lemah Wungu. Suara gemericik air irigasi bercampur dengan kicau burung emprit menciptakan harmoni pedesaan yang menenangkan. Namun, bagi Bagas, ketenangan itu hanyalah lapisan tipis yang menutupi pusaran misteri gaib di dalam dadanya.

Beberapa hari telah berlalu sejak peristiwa teror ribuan ular yang mengepung rumah joglonya. Bagas memilih untuk kembali menyibukkan diri dengan rutinitas harian. Mengenakan caping lebar dan celana kain yang digulung hingga bawah lutut, pemuda tegap itu turun langsung mengecek pematang sawah dan mengawasi belasan buruh tani yang sedang memupuk kebun jatinya.

"Pematang sebelah utara dipastikan airnya mengalir lancar ya, Kang Saman," ujar Bagas memberi arahan pada salah seorang pekerja dengan suara yang mantap dan tenang.

"Siap, Mas Bagas! Beres semuanya," sahut Kang Saman sembari mengacungkan ibu jarinya gembira.

Di saat Bagas sedang memeriksa helai daun padi yang mulai merunduk berisi, langkah kaki yang tergesa-gesa terdengar menginjak rumput basah di pematang sawah. Aroma wangi minyak melati buatan pabrik menyengat, sangat berbeda dengan aroma melati ghaib yang biasa mencengkeram dada Bagas.

Bagas menoleh perlahan. Di sana, berdiri Sekar dengan kebaya merah muda yang mencolok dan payung renda berwarna senada. Wajah cantiknya dihiasi senyuman manis yang dibuat-buat, meski dahinya berpeluh tipis akibat berjalan menyusuri jalanan sawah yang becek.

"Mas Bagas... Rajin sekali pagi-pagi sudah ada di sawah," sapa Sekar dengan nada suara mendayu-dayu, mencoba memangkas jarak di antara mereka.

Bagas tidak membalas senyuman itu. Raut wajahnya seketika berubah kaku dan dingin. Ia menyapu pandangannya pada penampilan gadis di depannya, lalu kembali mengarahkan pandangannya ke tengah hamparan sawah.

"Ada keperluan apa Mbak Sekar jauh-jauh datang ke pematang sawah ini?" tanya Bagas datar, tanpa sedikit pun keramahan dalam intonasinya.

Sekar menggeser payungnya, mencoba menatap lurus ke mata Bagas. "Tidak ada hal khusus, Mas. Sekar cuma... khawatir saja dengan keadaan Mas Bagas setelah kejadian heboh malam itu. Sekar dengar rumah Mas Bagas dikepung ular dari hutan keramat? Mas Bagas betul-betul tidak apa-apa, kan?"

"Saya tidak apa-apa, Mbak Sekar. Semua sudah selesai dan warga sudah paham. Sebaiknya Mbak Sekar tidak perlu ikut pusing memikirkannya," jawab Bagas singkat.

Sekar menggigit bibir bawahnya, merasa terabaikan oleh jawaban serba pendek pemuda di hadapannya. Namun, tekadnya belum surut. Ia melangkah satu pijakan lebih dekat di atas tanah pematang yang sempit.

"Mas Bagas... kenapa sih akhir-akhir ini sikap Mas Bagas ke Sekar dingin sekali?" bisik Sekar dengan suara yang manja, mencoba memancing simpati. "Sekar kan cuma perhatian. Dulu waktu Mas Bagas baru merintis, Sekar selalu memperhatikan Mas dari jauh..."

Bagas tertawa kecele, sebuah tawa dingin tanpa sedikit pun rasa humor. Ia menatap Sekar lurus-lurus, membuat gadis itu agak tersentak oleh pendar tajam di mata Bagas.

Bagas tahu betul siapa Sekar. Sedari dulu, ketika ia masih menjadi buruh miskin yang pakaiannya bertambal dan baunya penuh lumpur, Sekar bahkan tidak mau menoleh atau menyapanya jika berpapasan di jalan desa. Jangankan menyapa, memandang sebelah mata pun tidak. Bagi Sekar dan ayahnya—Pak Kades yang berkuasa di Lemah Wungu—pria yang pantas bersanding dengannya hanyalah pria berharta dan berkedudukan tinggi.

Perubahan sikap Sekar yang mendadak manja dan perhatian ini hanya terjadi setelah Bagas memborong belasan hektar sawah dan membangun joglo megah. Hati Bagas sama sekali tidak tersentuh oleh pesona sang putri kepala desa; ia sadar sepenuhnya bahwa yang dicintai Sekar bukanlah sosok Bagas, melainkan kilau harta dan status barunya.

"Perhatian dari jauh?" sindir Bagas pelan namun menohok. "Setahu saya, waktu saya masih harus berhutang beras ke warung demi makan Ibu, Mbak Sekar kalau lewat naik delman selalu memalingkan muka karena takut kena debu dari pakaian kusam saya."

Wajah Sekar seketika memerah padam. Ia tak menyangka Bagas akan menyuarakan kenyataan pahit itu secara terang-terangan.

"M-Mas Bagas... itu kan dulu. Dulu Sekar masih belum kenal betul siapa Mas Bagas—"

"Dan sekarang Mbak Sekar merasa kenal karena saya sudah punya uang?" potong Bagas cepat, suaranya terdengar tegas tanpa ragu. "Mbak Sekar, dengarkan saya baik-baik. Jangan buang-buang waktu Mbak Sekar yang berharga untuk mendekati saya. Saya tidak punya waktu untuk urusan seperti ini. Lapangan sawah ini butuh diurus, dan Ibu saya butuh ditemani."

Sekar tertegun kaku. Kata-kata Bagas bagaikan tamparan tak berwujud yang meremukkan harga dirinya sebagai putri tunggal orang paling dihormati di desa itu.

"Mas Bagas sungguhan tega bicara begitu sama Sekar?" cicit Sekar dengan mata yang mulai menggenang air mata kekecewaan.

"Saya cuma bicara jujur, Mbak Sekar," balas Bagas dingin. "Sebaiknya Mbak Sekar pulang. Tanah pematang ini becek, nanti kain kebaya mahal Mbak Sekar kotor terkena lumpur."

Tanpa menunggu respon lebih lanjut dari Sekar, Bagas membalikkan badannya dan melangkah menjauh, memotong jalan pematang menuju kelompok pekerja di ujung sana. Ia sengaja menumpuk jarak, meninggalkan Sekar yang berdiri sendirian di tengah terik matahari pagi yang mulai membakar.

Rajah Pusaka Sisik Emas di dada kiri Bagas bergetar pelan, menyalurkan pendar hangat yang menenangkan. Seolah-olah dari dimensi lain, Nyai Ratu Ular menyetujui ketegasan dan keheningan hati suaminya yang tidak sedikit pun goyah oleh godaan wanita manusia.

Sementara itu, Sekar meremas gagang payungnya erat-erat. Air mata kekecewaan yang sempat menggenang di pelupuk matanya perlahan berubah menjadi kilatan amarah dan rasa tidak terima. Selama ini, tidak pernah ada pemuda di Desa Lemah Wungu yang berani menolak apalagi merendahkan dirinya seperti ini.

"Kamu pikir kamu siapa, Bagas?!" geram Sekar dalam hati dengan napas memburu. "Cuma karena kamu mendadak kaya, kamu bisa bersikap seangkuh ini padaku?!"

Sekar menyapu pandangannya pada punggung tegap Bagas yang semakin menjauh. Rasa sukanya yang berakar dari kekaguman atas kekayaan Bagas kini bercampur dengan rasa penasaran yang teramat sangat serta ambisi untuk menaklukkan pemuda itu.

"Kamu boleh dingin sekarang, Bagas... Tapi lihat saja. Aku tidak akan menyerah begitu saja," bisik Sekar tajam pada angin sawah yang bertiup. "Kalau cara lembut tidak bisa menyentuh hatimu, aku akan pakai cara lain. Bapakku Kepala Desa di sini, dan aku punya ribuan cara untuk membuatmu berlutut memohon di hadapanku!"

Dengan langkah dihentak-hentakkan penuh kejengkelan, Sekar memutar badannya dan berjalan cepat meninggalkan kawasan sawah. Di dalam benaknya, sebuah rencana baru yang lebih matang dan nekat mulai tersusun—sebuah siasat yang tanpa ia sadari akan mengusik ketenangan yang sangat berbahaya antara dunia nyata dan kegelapan Kerajaan Sendang Manten.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!