Putri Wening adalah seorang gadis yang lemah lembut. Dia tinggal bersama ibu dan ayah angkatnya. Suatu hari Wening mendapati ayah angkatnya bersikap tidak wajar. Saat dia tau sikap ayahnya yang tidak baik, lantas dia pun ketakutan. Hingga dia langsung mencari sahabatnya untuk mencari jalan keluar.
Ayu Pratama teman Wening memberi saran agar dia menikah dan pindah dari rumah. Wening setuju, atas usulan Ayu dia membuat janji dengan seseorang yang diatur Ayu.
Tapi setelah bertemu orangnya, Wening kaget ternyata orang yang dipilih oleh Ayu adalah Paman Ayu, Max Pratama.
CEO terkaya dikota Jakarta.
Apakah mereka akan menikah dan hidup bahagia?
Apakah Wenning akan berhasil pergi dari rumah? Dan mendapatkan Suami yang baik?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon мυмυ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berhasil Pergi
Setelah Sinta keluar dari kamar Wening, dia melihat Anton sedang membereskan meja. Melihat Sinta keluar, Anton langsung bertanya. "Kenapa?berantem lagi sama Wening?ucapnya sambil memegang pipi Sinta."
"Wening lagi ngambek. Dia ngotot mau pindah."jawab Sinta. Anton yang mendengarkannya langsung melepaskan tangannya dari pipi Sinta. Mau pindah?ucap Anton. Ibu baru turun, tasnya ketingalan. Kamu antarkan saja kebawah. Biar aku sama Wening bicara baik-baik ucapnya lagi."
"Baik, aku akan pergi antarkan tas nya."jawab Sinta. Tanpa berpikir lagi Sinta langsung keluar untuk menemui mertuanya itu. Setelah Sinta tidak terlihat, Anton terlihat tersenyum jahat dan segera menemui Wening dikamarnya.
Pada saat Wening membuka pintu kamarnya. Dia melihat ayah tirinya sudah ada didepan kamarnya. "Anakku, kamu mau tinggalkan Ayah?tanya Anton dengan muka mesumnya itu. Wening yang melihat itu langsung memanggil ibunya.
"Ibu ... Ibu ... Wening memanggil ibunya.". Ibuuuu ... dia sedang mengantar Nenekmu. Tidak akan cepat kembali,kata Anton." Mendengar itu, Wening langsung menutup pintu kamarnya dan mengunci nya langsung.
Dia yang ketakutan langsung duduk didepan pintu untuk menghalangi di dobrak dari luar. Anton tidak mau diam, dia mengambil sesuatu didalam saku celananya. Dia mengambil kunci cadangan kamar Wening. "Nakal ya, kelinci manis, buka pintunya, ketemu ini dia kuncinya,"ucapnya sambil memegang kunci kamar Wening.
Wening didalam hanya bisa ketakutan. Sementara Anton mencoba membuka pintu kamarnya. Saat kunci hampir mencapai pintu. Tiba-tiba bell rumah berbunyi.
Ting tong ... ting tong ... karena bell terus berbunyi Anton pun mengurungkan niatnya dan melihat siapa yang datang. Saat pintu terbuka dia melihat teman nya Wening, Ayu Pratama.
"Paman aku mencari Wening ucap tiba-tiba Ayu." Lalu Anton pun mencari alasan. "Wening hari ini dia tidak enak badan jawab Anton." Sementara Wening yang mendengar suara Ayu dia langsung membuka pintu dan berlari membawa kopernya dan langsung berdiri didekat Ayu.
Ayu yang melihat itu langsung berbicara lagi. "Paman aku dan Wening sudah janji, mau menjemputnya dan mau menginap beberapa hari dirumahku. Teman teman sudah menunggu kita dibawah. Paman tidak akan melarang kan?tanya Ayu."
"Hahaha tentu saja tidak jawab Anton. Setelah berkata begitu, Ayu langsung membawa Wening pergi keluar rumah agar tidak berlama lama lagi dirumah nya. Setelah mereka berdua sampai dipinggir jalan, Ayu langsung berkata.
"Untung kamu sudah bisa keluar, ayah tiri kamu itu seram banget,aku sampai geli dan merinding ucap Ayu."
"Terimakasih, Ayu. Kalau tidak kamu datang tepat waktu -. Belum selesai Ayu sudah menyela. "Ngapain terimakasih, aku kan sahabatmu. Tapi kali ini ... aku disuruh orang ucap Ayu."
Lalu Ayu melirik kearah belakang Wening. Terlihat seseorang keluar dari mobil mewahnya. Dengan gaya dinginnya. Max terlihat tampan dengan memakai baju kemeja hitam dan memakai kacamata nya. Dia keluar dan menghampiri Mereke berdua.
"Paman Muda itu khawatir. Kamu tidak membalas pesannya dan tidak mengangkat teleponnya. Dia hampir saja telepon polisi. Untung aku cepat datang ucap Ayu." Mendengar itu Wening hanya tersenyum malu-malu.
Saat Max sudah berada dibelakang Wening. Ayu berhenti berbicara. Max langsung memegang koper Wening. Saat melihat suaminya didepan matanya. Wening langsung berterimakasih padanya.
"Terimakasih ucapnya." Max tidak menjawab tapi dia malahan bertanya pertanyaan lain. "Kamu menangis? Ada yang ganggu kamu?ucapnya. Wening tidak menjawab dia hanya dia diam saja sambil menundukkan kepalanya.
"Paman Muda, Paman tidak tahu. Wening ... belum sempat Ayu berbicara. Wening langsung memotong nya. "Tidak ada apa-apa, aku cuma kebanyakan lihat hape terlalu lama."
Mata jadi sakit jawab Wenin. "Masalah keluarga ini ... jangan sampai ganggu dia,ucap Wening dalam hati."
Max yang mendengarnya cuma diam. Dia akan menyelidiki semuanya sendiri. "Kalau begitu lebih baik kita pulang, ini sudah larut malam ucap Max." Mereka pun langsung pergi dan meninggalkan rumah yang seperti neraka itu.