Arka cowok paling populer di sekolah tapi punya sifat yang dingin dan keras kepala. Laras gadis pendiam yang selalu berusaha tampil biasa saja, tapi entah kenapa selalu berakhir berdebat sama Arka. Awalnya mereka saling tidak suka, selalu berselisih paham di mana pun mereka bertemu. Namun seiring waktu berlalu dan berbagai kejadian menyatukan mereka, rasa benci itu perlahan berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih dalam rindu yang tak terucap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aulia Cemmzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Belajar Berjalan Sendiri
Hari-hari pertama tanpa Arka terasa seperti berjalan di tempat yang asing. Setiap pagi saat Laras berjalan menuju gerbang sekolah, dia tidak lagi melihat sosok yang dulu sering menunggunya dari kejauhan. Di kantin, bangku di sebelahnya terasa kosong dan terlalu luas.
Saat pulang, tidak ada lagi suara langkah kaki yang menemaninya sampai ke persimpangan dekat rumah. Dunia seakan tetap berjalan seperti biasa, tapi ada ruang kecil di hatinya yang terasa sepi sekali.
Namun Laras tidak membiarkan kesepian itu mengalahkannya. Dia teringat pesan Arka, jadilah versi terbaik dari diri mu sendiri, bahkan saat dia tidak ada di sisinya.
Maka Laras mulai mengisi hari-harinya dengan hal-hal yang bermakna. Dia bangun lebih pagi untuk membantu ibunya di rumah, belajar lebih tekun dari sebelumnya, dan bergabung dengan klub menulis di sekolah untuk menyalurkan perasaannya ke dalam tulisan.
Setiap surat yang dia tulis untuk Arka sekaligus menjadi catatan perjalanannya tumbuh dewasa.
Tentu saja tidak selalu mudah. Ada malam-malam di mana rindu datang begitu kuat hingga sulit ditiduri. Lalu Laras akan membuka kotak kenang-kenangan dari Arka yaitu sebuah pulpen yang sering dipinjam Arka, foto mereka berdua di pesta perpisahan sekolah, dan surat yang Arka tinggalkan.
Dia akan membaca ulang baris terakhir surat itu: "Tumbuhlah dengan indah di sana, Laras. Gue akan selalu bangga melihat lu bersinar dari jauh." Kata-kata itu menjadi kekuatan yang membuatnya bangkit kembali di pagi hari.
Siska dan Riska tidak pernah lagi berani mengganggunya. Mereka seakan menyadari bahwa kedekatan mereka bukanlah kelemahan, melainkan kekuatan yang membuat Laras semakin teguh berdiri sendiri.
Laras bahkan berusaha bersikap sopan kepada mereka, meski tidak perlu menjadi terlalu dekat. Dia belajar bahwa memaafkan bukan berarti harus berteman, tapi berarti melepaskan beban kebencian agar hatinya tetap ringan untuk masa depan.
Tahun-tahun berlalu satu per satu. Laras lulus dengan nilai terbaik, mendapat beasiswa di universitas impiannya, dan cerita yang dia tulis di klub sastra sekolah bahkan dimuat di majalah kota.
Dia tidak menunggu diam saja, dia terus melangkah, membangun mimpinya sendiri, sambil tetap menyimpan janji di hatinya untuk seseorang yang jauh di seberang lautan.
Hari kelulusan sekolah akhirnya tiba. Saat Laras berdiri di depan gerbang sekolah yang sudah lama dia kenal, mengenakan seragam kelulusan berwarna putih, dia tidak merasa sedih seperti yang dia kira dulu.
Laras menyadari bahwa setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Begitupula dengan perpisahnnya dengan Arka yang sudah jauh darinya.
"Masih teringat dulu waktu Aku dan Arka pertama kali bertemu. Ada kenangan tersendiri yang Aku alami bersamanya. Beberapa kenangan pahit dan manis sudah aku alami, walaupun begitu Aku sudah siap untuk menghadapi nya apapun yang terjadi"
Dia merasa siap. Siap menyambut masa depan, siap bertumbuh lebih jauh lagi, dan siap jika saatnya tiba untuk bertemu kembali dengan orang yang pernah mengajarkannya arti mencintai dan merindukan dengan tulus.
Walaupun persabahatan dan percintaan Laras dan Arka belum terlalu lama, tapi benih benih cinta yang mereka jalin seperti sudah 1 dekade lebih.
Di tinggalkan orang yang di cintai dalam waktu lama memang selalu membekas dalam kenangan, walaupun begitu Laras masih bisa mengambil alih kenangan tersebut dengan cara belajar untuk berjalan sendiri.