Fajar cuma pegawai biasa yang nekat menulis surat cinta buat sekretaris direktur. Sayangnya, amplop merah muda itu malah nyasar ke meja Kirana, Direktur muda yang dingin dan anti-romansa.
Satu kesalahan pengiriman membuat mereka berdua berhadapan. Fajar panik setengah mati. Kirana justru mulai mempertanyakan sesuatu yang selama ini dia abaikan.
Apakah satu surat yang salah kirim bisa mengubah segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMZAHikhsan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7: Rahasia yang Sangat Tidak Rapi
Sejak hari bersejarah di ruang direktur itu… tidak ada yang berubah.
Di mata semua karyawan, struktur kehidupan di kantor berjalan persis seperti biasanya. Kirana tetaplah sang direktur utama yang dingin, tegas, dan tak tersentuh. Sementara Fajar tetaplah karyawan biasa di divisinya, sibuk dengan tumpukan laporan dan omelan harian. Seolah-olah… percakapan penuh pengakuan tempo hari tidak pernah terjadi.
Dan sejujurnya, justru itulah letak masalah terbesarnya.
Karena di balik setelan formal, di balik wajah datar saat berpapasan di koridor, dan di balik sapaan kaku mereka… Fajar dan Kirana kini resmi berpacaran.
Menjalani hubungan rahasia di satu kantor nyatanya jauh lebih menyiksa daripada yang Fajar bayangkan.
Pagi itu, Fajar sedang menyeduh kopi di pantry yang sepi. Ia baru saja mengaduk cangkirnya ketika aroma parfum yang sangat familier menyeruak masuk. Kirana melangkah ke dalam pantry, berdiri di samping dispenser, berpura-pura sibuk meracik teh celupnya sendiri.
“Jadi… kita ini beneran gak boleh kelihatan interaksi sama sekali ya, Bu?” bisik Fajar pelan, memastikan tidak ada langkah kaki karyawan lain yang mendekat.
Kirana tidak menoleh. Matanya tetap fokus pada uap panas dari cangkirnya. “Di area kantor, panggil saya ‘Bu Direktur’, Fajar. Kita harus profesional.”
Fajar menahan senyumnya yang nyaris meledak. Ia menunduk sedikit, menatap profil samping wajah Kirana yang kaku namun menggemaskan di matanya. “Baik… Bu Direktur.”
Mendengar nada suara Fajar yang menggoda, Kirana akhirnya meliriknya dari sudut mata. Tatapan tajam andalannya keluar, meski kali ini tidak ada efek mengerikan sama sekali.
“…dan tolong, jangan senyum begitu,” desis Kirana pelan.
Fajar menaikkan sebelah alisnya. “Kenapa? Memangnya senyum dilarang di peraturan perusahaan?”
“Karena itu mencurigakan,” jawab Kirana cepat, lalu segera berbalik dan meninggalkan pantry dengan langkah cepat, menyembunyikan rona merah yang mulai menjalar di lehernya.
Sejak memutuskan bersama, mereka sebenarnya telah membuat "Aturan Tidak Tertulis" demi menjaga profesionalisme:
Tidak boleh mengobrol santai apalagi bercanda di area kantor.
Tidak boleh saling menatap mata terlalu lama.
Tidak boleh sampai ketahuan oleh siapa pun.
Namun, yang namanya aturan… sepertinya memang dibuat untuk dilanggar. Terutama oleh Kirana sendiri.
Suatu pagi yang sibuk, Kirana berjalan menyusuri deretan kubikal divisi Fajar. Seperti biasa, auranya membuat semua karyawan menunduk pura-pura sibuk. Namun, saat melewati meja Fajar, langkah Kirana melambat.
Wanita itu berhenti sejenak. “Pak Fajar.”
Fajar langsung duduk tegak, berusaha memasang wajah seprofesional mungkin. “Iya, Bu Direktur?”
“Laporan Anda kemarin… bagus. Tingkatkan terus,” ucap Kirana dengan nada datar, lalu kembali berjalan pergi seolah tidak terjadi apa-apa.
Di meja sebelahnya, Bayu yang sedang mengetik langsung menoleh dengan kecepatan kilat hingga lehernya nyaris berbunyi. Mulutnya sedikit terbuka.
“…loh?” gumam Bayu kebingungan.
Fajar menelan ludah, mendadak merasa gugup. “T-terima kasih, Bu…” balasnya telat pada punggung Kirana yang sudah menjauh.
Begitu pintu ruangan direktur tertutup, Bayu langsung menggeser kursi rodanya mendekati meja Fajar. Matanya menyipit penuh selidik layaknya detektif.
“Sejak kapan… seorang Kirana memuji hasil kerja karyawannya secara langsung di depan umum?” interogasi Bayu.
Fajar pura-pura sibuk menyusun kertas, mencoba menutupi kepanikannya. “Eh… ya, mungkin dia lagi mood baik aja hari ini?”
“Gak mungkin,” bantah Bayu tegas, menunjuk wajah Fajar dengan ujung pulpennya. “Ini sangat mencurigakan, Jar.”
Insiden kecil itu bukan satu-satunya pelanggaran.
Hari berikutnya, Fajar melangkah masuk ke dalam lift untuk turun ke lantai lobi. Beberapa detik sebelum pintu menutup, sebuah tangan menahannya. Kirana melangkah masuk. Pintu baja itu tertutup, mengurung mereka berdua dalam keheningan yang canggung.
Hanya ada suara dengung mesin lift. Fajar melirik ke arah panel CCTV yang kebetulan sedang rusak dan tertempel kertas 'Out of Order'.
Fajar mencondongkan tubuhnya sedikit, memecah kesunyian dengan bisikan pelan. “Bu Direktur…”
“Iya?” balas Kirana tanpa menoleh, masih menatap angka lantai yang turun secara berurutan.
“Kalau di luar kantor… saya boleh manggil pakai nama, kan?”
Pertanyaan itu membuat Kirana akhirnya menoleh. Ia menatap manik mata Fajar cukup lama, melanggar aturan kedua mereka. Napasnya sedikit tertahan, namun perlahan raut wajahnya melembut.
“…boleh,” jawab Kirana lirih.
Fajar tersenyum simpul, senyum tulus yang membuat jantung Kirana berdetak lebih cepat. “Kirana.”
Deg.
Mendengar namanya disebut dengan nada selembut itu dari mulut Fajar, Kirana langsung memalingkan wajah, menatap lurus ke depan. Pipi putihnya seketika bersemu merah. Ia berdeham kecil, mencoba menjaga sisa-sisa kewibawaannya.
“Jangan ulangi panggilan itu di area kantor,” peringat Kirana, meski suaranya sama sekali tidak terdengar mengancam.
Fajar tertawa kecil. “Siap, laksanakan.”
Ting!
Pintu lift terbuka di lantai dua. Dan di sanalah Bayu berdiri, siap melangkah masuk. Begitu melihat siapa yang ada di dalam lift, pergerakan Bayu terhenti sejenak.
Bayu melangkah masuk dengan kaku. Ia berdiri di sudut, melirik Fajar yang tampak menahan senyum dan Kirana yang berdiri terlalu tegap dengan wajah sedikit memerah. Ketegangan di dalam lift itu bisa dipotong dengan pisau.
Bayu mengernyit. “Gue ganggu sesuatu gak nih?”
“ENGGAK!” sergah Fajar kelewat cepat dan nyaring.
Kirana segera menambahkan dengan nada sedatar mungkin, “Kami hanya berdiskusi soal pekerjaan.”
Bayu menatap keduanya bergantian dengan tatapan aneh. “...kenapa hawa di lift ini mendadak kayak lagi nungguin sidang skripsi, ya?”
Tidak hanya di kantor, pelanggaran aturan itu juga menjalar ke luar jam kerja.
Malam harinya, di kamar kosnya yang sunyi, ponsel Fajar bergetar. Sebuah notifikasi pesan masuk.
Kirana: Sudah sampai rumah?
Fajar langsung tersenyum lebar, mengetik balasan dengan cepat. Fajar: Sudah. Bu Direktur sendiri?
Balasan datang hanya dalam hitungan detik. Kirana: Jangan pakai panggilan ‘Bu Direktur’ di chat.
Fajar tertawa kecil, berguling di atas kasurnya. Fajar: Baik, Kirana 😄
Beberapa detik berlalu. Status 'typing...' muncul cukup lama sebelum pesannya masuk. Kirana: …dan jangan pakai emoji juga.
Fajar: Loh, kenapa?
Kirana: …itu mencurigakan.
Fajar menutup wajahnya dengan bantal, tertawa sendirian memikirkan betapa kaku dan lucunya sang direktur saat sedang jatuh cinta. “Astaga… lucu juga ya dia.”
Sayangnya, masa-masa manis dan rahasia itu harus menghadapi ujian berat. Sikap sembunyi-sembunyi mereka nyatanya tidak serapi yang mereka kira.
Suatu siang, saat Kirana menyerahkan setumpuk dokumen ke meja Fajar, map teratas tergelincir dan jatuh berserakan di lantai. Refleks, Fajar dan Kirana sama-sama membungkuk untuk memungutnya.
Tepat saat tangan Fajar meraih kertas itu, tangan Kirana tak sengaja menumpuk di atasnya. Kulit mereka bersentuhan.
Hening sejenak. Mereka saling bertatapan dalam jarak dekat.
Namun, momen romantis itu dihancurkan seketika oleh lengkingan suara dari seberang ruangan.
“KOK PEGANGAN TANGAN DI KANTOR?!”
Itu suara Bayu. Pria itu berdiri dari kursinya, menunjuk tangan mereka yang masih bersentuhan dengan wajah syok berat.
Fajar langsung menarik tangannya seolah tersengat listrik, panik setengah mati. “INI GAK SENGAJA, BAY! SUMPAH!”
Kirana segera berdiri tegak, merapikan setelan jas kerjanya dengan gerakan kaku. Tanpa melihat ke arah Fajar ataupun Bayu, ia berkata dengan nada memerintah, “Fokus pada pekerjaan kalian.”
Dan wanita itu pun berlalu pergi dengan langkah terburu-buru.
Begitu Kirana menghilang, Bayu berjalan mendekati meja Fajar dengan aura intimidasi penuh. Ia menatap Fajar lekat-lekat.
“Jar…” panggil Bayu.
“I-iya?”
“Kenapa gue ngerasa ada sesuatu yang aneh banget di antara kalian berdua?” selidik Bayu.
Fajar berkeringat dingin, menelan ludah dengan susah payah. “Perasaan lo aja kali, Bay. Kurang kopi lo…”
Di sisi lain koridor, Sinta—sekretaris yang tahu segalanya—berdiri tenang sambil memeluk clipboard. Matanya mengawasi kejadian memalukan itu dari awal sampai akhir. Sinta tersenyum kecil, menggelengkan kepalanya.
“Rahasia yang sangat, sangat tidak rapi…” gumam Sinta pada dirinya sendiri.
Sore itu, saat mengantarkan jadwal meeting harian ke ruang direktur, Sinta tidak langsung pergi. Ia berdiri di depan meja Kirana, menatap atasannya yang sedang sibuk mengetik.
“Bu Direktur,” panggil Sinta dengan nada tenangnya yang khas.
“Iya, Sinta? Ada jadwal tambahan?”
“Tidak ada. Saya hanya ingin menyampaikan opini pribadi,” ucap Sinta, membuat ketikan Kirana terhenti. “Hubungan yang sehat… tidak harus selalu disembunyikan dengan cara yang menyiksa.”
Kirana langsung menegang di kursinya. Matanya membesar, menatap sekretarisnya dengan kewaspadaan penuh. “…maksud Anda apa, Sinta?”
Sinta hanya membalasnya dengan senyum simpul yang misterius. “Saya tidak mengatakan apa-apa, Bu. Selamat sore.” Sinta berbalik dan meninggalkan ruangan.
Kirana terdiam kaku di kursinya. Jantungnya berdebar kencang. “...dia tahu.”
Namun, ancaman nyata bagi hubungan mereka bukanlah Sinta, atau bahkan kecurigaan Bayu. Melainkan kehadiran sosok baru keesokan harinya.
Seorang karyawan baru bernama Alya resmi bergabung di divisi Fajar. Alya adalah tipe gadis yang ceria, ramah, dan sangat ekspresif. Entah kebetulan atau tidak, Alya langsung merasa nyaman dan sangat dekat dengan Fajar sejak hari pertama bimbingan kerja.
“Mas Fajar, tolong bantu aku dong bagian input data yang ini,” rengek Alya manja sambil tersenyum lebar, menarik ujung lengan kemeja Fajar.
“Oh, bagian itu. Iya, sini aku jelasin biar cepat,” balas Fajar ramah, menunjuk layar monitor Alya.
Keduanya tertawa kecil saat Alya melontarkan lelucon ringan tentang betapa rumitnya sistem kantor. Pemandangan itu terlihat sangat normal bagi semua orang.
Namun, dari kejauhan, tepatnya dari balik dinding kaca ruang direktur… sepasang mata menatap pemandangan itu dengan sangat lekat.
Kirana berdiri mematung di balik kaca blinds yang sedikit terbuka. Wajahnya datar, bibirnya terkatup rapat, tetapi tangan kanannya yang memegang bolpoin mengepal begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih.
Ia melangkah kembali ke meja kerjanya, menghela napas kasar. “Kenapa… rasanya tidak enak sekali melihatnya?” gumamnya pelan. Ada perih aneh yang menyengat dadanya.
Sore harinya, tepat sebelum jam pulang, Fajar mendapat panggilan interkom. Ia harus menghadap ke ruang direktur. Fajar masuk dengan langkah santai seperti biasa, tidak menyadari awan gelap yang sedang menyelimuti ruangan itu.
“Pak Fajar,” sapa Kirana tanpa basa-basi, suaranya lebih dingin dari biasanya.
“Iya, Bu Direktur? Ada dokumen yang salah?”
Kirana menatap Fajar tajam. “Sepertinya… Anda cukup sibuk dan sangat dekat dengan karyawan baru kita.”
Fajar mengerjap bingung, butuh beberapa detik untuk mencerna arah pembicaraan ini. “Hah? Maksud Ibu, Alya?”
“Iya. Alya.” Kirana menyebut nama itu dengan penekanan yang sinis.
“Ya… saya cuma bantu ngajarin sistem kerja aja, Bu. Kan dia baru masuk,” jawab Fajar jujur, masih tidak mengerti.
Kirana menyandarkan punggungnya, melipat kedua lengan di dada. “Hanya mengajarkan sistem kerja? Tidak lebih dari itu?”
Fajar mengernyitkan dahi. “…tidak. Memangnya kenapa, Bu?”
Keheningan melanda ruangan itu. Kirana memalingkan wajahnya, enggan menatap mata Fajar.
Detik itu juga, bola lampu di kepala Fajar menyala. Ia perlahan menyadari nada bicara Kirana yang ketus, tatapannya yang menghindar, dan pertanyaan-pertanyaan yang menjurus. Fajar menahan senyumnya yang ingin merekah.
“Bu…” panggil Fajar dengan suara sedikit menggoda.
“Iya?” balas Kirana ketus.
“Ibu… lagi cemburu, ya?”
Kirana langsung terdiam. Matanya membelalak kaget. “…tidak.”
Bantahan itu meluncur terlalu cepat, memperjelas kebohongan di baliknya.
Fajar tersenyum kecil, merasa menang. “Pasti cemburu.”
“Fokus saja pada pekerjaanmu, Fajar. Silakan keluar,” usir Kirana sambil memalingkan wajah, menyembunyikan pipinya yang memanas parah.
Sementara itu, di luar ruangan, Bayu masih belum pulang. Ia berdiri di dekat mesin fotokopi, memperhatikan pintu ruang direktur tempat Fajar baru saja masuk dengan durasi yang lebih lama dari sekadar mengantar laporan.
Bayu melipat tangannya, bergumam pada dirinya sendiri. “Ini bukan lagi sekadar mencurigakan…” Matanya menyipit penuh tekad. “Ini… sudah hampir ketahuan.”
Malam itu, di dalam kamarnya, Fajar yang baru selesai mandi merebahkan diri di kasur. Ponselnya berdenting, menampilkan pesan baru.
Kirana: Besok… jangan terlalu dekat dengan Alya. Ajari seperlunya saja.
Fajar tersenyum lebar membaca pesan itu, jarinya mengetik balasan dengan semangat. “Fix… dia beneran cemburu,” gumam Fajar sambil terkekeh bangga.
Namun, belum sempat senyum Fajar memudar, satu pesan masuk lagi. Kali ini dari kontak yang berbeda.
Bayu: Besok di kantor, gue bakal cari tahu semuanya. Gue tahu ada yang lagi lo sembunyiin dari gue, Jar. Siap-siap aja lo.
Senyum di wajah Fajar seketika lenyap berganti dengan raut pucat pasi. Ia menatap layar ponselnya dengan horor. Tubuhnya mendadak kaku.
“Wah… ini bahaya…”