Setelah tewas dalam invasi brutal yang meluluhlantakkan kotanya, Yang Zhen tiba-tiba terbangun kembali ke masa remaja saat ia masih menjadi murid akademi yang selalu dicap sebagai pecundang.
Namun, berbekal ingatan masa depan dan pusaka kuno Gulungan Dewa Naga yang memberinya kekuatan, ia kini bersumpah untuk memutarbalikkan takdir dan menginjak-injak siapa pun yang berani meremehkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Di atas arena, Zhao Wei mulai kehilangan kesabarannya karena serangannya selalu meleset. Ia melompat mundur untuk menjaga jarak dan mulai merangkai segel tangan dengan sangat cepat.
"Jangan pikir kau bisa terus menghindar dariku!" teriak Zhao Wei penuh amarah. "Seni Es Keluarga Zhao, Hujan Jarum Membeku!"
Syuut syuut syuut!
Puluhan paku es berukuran kecil tiba-tiba terbentuk di udara sekitar Zhao Wei. Dengan satu kibasan tangan, semua paku es itu melesat secepat kilat ke arah Yang Zhen dari berbagai arah.
"Matilah kau sekarang!" tawa Zhao Wei meledak penuh kemenangan.
Serangan jarak jauh ini mencakup area yang sangat luas sehingga mustahil untuk dihindari dengan gerakan biasa. Su Lin yang menonton dari tribun tanpa sadar berdiri dari kursinya karena cemas.
Namun Yang Zhen yang menjadi sasaran serangan mematikan itu malah tersenyum bosan. Ia mengalirkan Qi dari Dantiannya dan menyebarkannya ke seluruh otot di tubuhnya.
Krak!
Ia menghentakkan kaki kanannya ke lantai granit arena dengan sangat keras. Tenaga fisik murni yang setara dengan kultivator Tingkat Delapan meledak seketika dari otot-otot kakinya.
Wush.
Sosok Yang Zhen tiba-tiba menghilang dari pandangan semua orang tepat sebelum paku-paku es itu mengenainya. Ia bergerak dengan kecepatan yang menembus batas suara, meninggalkan bayangan kabur di tempat asalnya.
Prang prang prang!
Puluhan paku es itu hanya menghantam lantai kosong dan hancur menjadi serpihan salju. Zhao Wei mematung kebingungan mencari keberadaan lawannya yang tiba-tiba lenyap ditelan bumi.
"Kau terlalu lambat, Tuan Muda Zhao." bisik sebuah suara dingin tepat di telinga kanan Zhao Wei.
Mata Zhao Wei terbelalak sempurna dan ia langsung memutar tubuhnya dengan panik. Namun semuanya sudah terlambat.
Sebuah telapak tangan biasa yang tidak dilapisi sihir elemen apa pun mendarat telak di pipi kanannya. Tamparan itu terlihat sangat sederhana namun membawa tenaga fisik yang sangat brutal.
Plak!
Suara tamparan keras menggema ke seluruh penjuru arena yang tiba-tiba menjadi sunyi senyap. Wajah tampan Zhao Wei bergeser bentuk dan darah segar langsung menyembur dari mulutnya.
Brak!
Tubuh Zhao Wei terlempar sejauh lima meter ke udara seperti boneka kain yang putus talinya. Ia berguling-guling di atas lantai batu granit sebelum akhirnya terhenti dalam posisi tengkurap.
Hening.
Ribuan pasang mata di tribun penonton menatap tidak percaya pada pemandangan di bawah sana. Tuan Muda Zhao yang genius dan berada di Tingkat Delapan baru saja diterbangkan hanya dengan satu tamparan tangan kosong.
"A-apa yang baru saja aku lihat?" bisik Wang Hao dengan rahang yang benar-benar jatuh kali ini. "Yang Zhen menamparnya?"
"Itu adalah ledakan tenaga fisik murni." gumam Kepala Akademi yang duduk di kursi kehormatan dengan wajah serius. "Pemuda itu tidak menggunakan elemen sihir sama sekali, ia murni menggunakan kekuatan otot dan tulang."
Yang Zhen menurunkan tangan kanannya dan meniup debu imajiner dari telapak tangannya. Ia menatap sosok Zhao Wei yang sedang berusaha bangkit dengan tatapan penuh belas kasihan palsu.
"Apakah hanya ini kemampuan terbaik dari pewaris keluarga Zhao yang agung?" ejek Yang Zhen dengan suara yang cukup keras untuk didengar semua orang.
Zhao Wei memuntahkan tiga gigi patah bercampur darah kental ke atas lantai. Wajah sebelah kanannya membengkak sebesar bola tenis dan berwarna ungu kehitaman.
"K-kau... aku akan membunuhmu!" raung Zhao Wei dengan suara sengau karena mulutnya yang hancur.
Ia memaksakan dirinya untuk berdiri dan kembali menyerang dengan membabi buta ke arah Yang Zhen. Akal sehatnya sudah lenyap ditelan rasa malu yang tidak tertahankan.
Bugh!
Yang Zhen dengan santai menyarangkan tinju kirinya tepat ke perut Zhao Wei sebelum tuan muda itu sempat menyentuhnya. Tenaga pukulan itu menembus pertahanan aura es Zhao Wei seolah itu hanya selembar kertas tipis.
"Aaargh!"
Zhao Wei menjerit kesakitan sambil memegangi perutnya. Tubuhnya kembali membungkuk seperti udang rebus.
Krak.
Yang Zhen tidak berhenti sampai di situ. Ia mengangkat kaki kanannya dan menendang lutut kiri Zhao Wei dengan sangat keras.
Suara tulang patah terdengar jelas memecah kesunyian arena. Zhao Wei langsung jatuh berlutut dengan wajah yang berkerut menahan rasa sakit luar biasa.
"Kau seharusnya bersyukur kita sedang berada di atas arena sekolah." bisik Yang Zhen dengan suara yang hanya bisa didengar oleh Zhao Wei. "Jika ini di luar sana, kepalamu sudah terpisah dari lehermu saat ini juga."
Yang Zhen kemudian melepaskan tendangan lurus ke arah dada Zhao Wei yang sedang berlutut. Tendangan itu mengirim tubuh Zhao Wei meluncur sejauh sepuluh meter hingga keluar dari batas arena batu granit.
Bruk.
Tubuh Zhao Wei menghantam dinding pembatas penonton dan langsung jatuh pingsan tak sadarkan diri. Darah segar terus mengalir dari mulut dan hidungnya, menodai jubah putih mewahnya menjadi merah mengerikan.
Wasit pertandingan berdiri mematung dengan mulut terbuka lebar dan bendera yang terlepas dari tangannya. Ia butuh waktu beberapa detik untuk menyadari apa yang baru saja terjadi di depan matanya.
"P-pemenangnya... Yang Zhen dari Kelas Elit!" teriak wasit itu dengan suara bergetar keras.
Suasana arena meledak dalam kekacauan dan sorak-sorai yang tak terkendali. Tidak ada yang bisa memprediksi bahwa murid terlemah akan mengalahkan sang genius tanpa menggunakan sihir sama sekali.
Yang Zhen berdiri tegak di tengah arena bagaikan seorang raja iblis yang baru saja turun dari tahtanya. Matanya menyapu tajam ke arah para tetua sekolah dan beberapa bawahan keluarga Zhao di tribun..