NovelToon NovelToon
Hari Terakhir Bersama Keluarga

Hari Terakhir Bersama Keluarga

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Kutukan / Anak Genius
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: my queen

Aku mempunyai kemampuan bisa melihat hari kematian semua orang termasuk diriku sendiri. Tapi justru aku di anggap aneh dan pembawa sial bagi keluarga ku sendiri dan juga orang lain. Tapi hanya satu yang peduli padaku yaitu kakekku sebelum dia meninggal

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my queen , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

Siang harinya, ketukan pelan dari Bibi Marni di pintu kamar menandakan bahwa hidangan makan siang telah siap. Meskipun hatiku masih didera kecemasan dan tubuhku terasa lelah, aku menguatkan diri untuk turun ke bawah demi menghargai perintah Kak Ethan. Aku melangkah menuruni anak tangga marmer berdampingan dengan Olivia yang terus menggenggam erat jemariku.

Namun, begitu kami menginjakkan kaki di ruang makan utama, suasana kaku yang teramat mencekam langsung menyergap kami.

Kak Charles sama sekali tidak terlihat di sana. Pria itu memilih untuk tetap mengunci diri di kamarnya, menolak untuk ikut turun buat makan siang bersama kami karena rasa sakit hati dan gengsi tingginya yang hancur setelah dihantam oleh Kak Ethan tadi.

Di meja makan yang luas itu, hanya ada Kak Ethan yang duduk tenang di kursi kepala keluarga, serta Kak Aaron yang duduk di sisi sebelah kanan. Di sekeliling meja porselen yang dipenuhi jamuan mewah mewah itu, Kak Aaron hanya diam saja. Wajah kakak keduaku itu tampak teramat kaku, pucat pasi, dan sepasang matanya menatap kosong ke arah piringnya tanpa menyentuh makanan sedikit pun. Ketakutan yang terselubung dan rasa bersalah atas rahasia hilangnya kabar Paman Hendra selama seminggu ini jelas-jelas sedang menyiksa batinnya.

"Duduklah, Bella. Olivia," ucap Kak Ethan dengan suara baritonnya yang berat namun terdengar jauh lebih melunak dari biasanya.

Aku dan Olivia mengangguk pelan, lalu mendudukkan diri di kursi yang berseberangan dengan Kak Aaron. Satu-satunya bunyi yang memecah keheningan total yang teramat panjang dan menyiksa ini hanyalah dentingan halus sendok yang sesekali beradu. Di bawah tatapan kaku Kak Aaron yang membisu dan perlindungan terselubung dari mata elang Kak Ethan, aku menyuap makananku perlahan, merasakan debaran cemas yang kian membubung tinggi di dalam dada menanti kebenaran takdir yang akan segera pecah di rumah ini.

Dentingan sendok yang beradu dengan piring porselen sesekali memecah keheningan yang mencekam di antara kami. Di tengah kecanggungan yang teramat padat itu, tiba-tiba Olivia membuka suara, memecah kebisuan meja makan.

"Kak Charles kenapa tidak ikut turun untuk makan siang, Kak?" tanya Olivia sembari menatap kursi kosong di ujung meja, lalu beralih menatap Kak Ethan.

Kak Ethan tidak langsung menjawab. Ia meletakkan sendoknya perlahan, lalu menatap adik bungsunya dengan sorot mata elang yang tenang namun tegas. "Tidak usah menghiraukan Charles. Lanjutkan makan saja," ucap Kak Ethan dengan nada suara baritonnya yang berat, memotong pertanyaan Olivia dengan mutlak.

Mendengar ketegasan dari sang kepala keluarga, Olivia hanya bisa mengangguk patuh. Akhirnya, kami semua melanjutkan makan siang dalam keheningan yang kembali merayap.

Namun, kedamaian kecil di antara aku dan Olivia mendadak memercikkan kehangatan baru. Tiba-tiba, jemari mungil Olivia bergerak lincah mengambil sepotong daging semur yang empuk—lauk yang sejak dulu diam-diam menjadi makanan kesukaanku. Dengan gerakan yang teramat manis, Olivia menaruh daging kesukaanku itu tepat ke atas piring makanku.

"Kakak harus makan yang banyak, ya!" ucap Olivia dengan nada suaranya yang imut dan ceria, menatapku dengan binar mata penuh perhatian.

Aku tertegun sejenak, menatap potongan daging di atas nasiku sebelum akhirnya mendongak menatap wajah polosnya. Segaris senyuman tulus yang teramat hangat perlahan terukir di bibirku yang kian memerah. "Terima kasih banyak, ya, Olivia," ucapku pelan sembari menerima perhatian manisnya.

Di ujung meja, Kak Ethan yang sejak tadi mengawasi kami perlahan-lahan mengendurkan ketegangan di wajah tegasnya. Sepasang mata elangnya melunak, dan segaris senyuman tipis yang teramat langka terukir di bibirnya. Kak Ethan tampak sangat bahagia melihat kedua adik perempuannya bisa saling menyayangi dan akur di rumah ini.

Sementara itu, di sisi kanan meja, Kak Aaron hanya diam membisu. Kakak keduaku itu sama sekali tidak menyentuh makanannya, melainkan hanya melirik interaksi kami dari balik bulu matanya dengan sorot mata yang sarat akan rasa cemas dan salah tingkah yang teramat besar. Pikirannya jelas-jelas masih dikunci oleh ketakutan ghaib mengenai batas waktu lima hari Paman Hendra yang sudah terlewati.

Setelah kami menyelesaikan makan siang yang penuh dengan gejolak emosi yang tertahan tersebut, keheningan kembali merayap runtuh menguasai area ruang makan. Tanpa banyak bicara, kami semua bangkit dari kursi porselen masing-masing. Olivia kembali menuntun lenganku dengan teramat hati-hati, membimbingku untuk melangkah naik menuruni anak tangga marmer menuju ke lantai dua.

Kami semua kembali masuk ke dalam kamar masing-masing demi menenangkan pikiran yang sempat lelah.

Sementara itu, di lantai bawah, derap langkah kaki Kak Ethan yang berat terdengar melangkah lebar membelah kesunyian. Dengan wajah tegas yang kian mengeras tanpa ekspresi, sang kepala keluarga Adipta Group itu berjalan mantap menuju ke ruang kerja pribadinya. Tas kulit kerjanya yang tadi sempat dijatuhkan di lantai teras kini sudah berada di dalam cengkeraman tangannya yang kekar.

Klik.

Pintu kayu jati ruang kerja ditutup rapat dari dalam. Begitu sosoknya terisolasi dalam kesunyian ruangan yang berbau harum kayu dan kertas dokumen, Kak Ethan langsung meletakkan tasnya di atas meja marmer. Sepasang mata elangnya menatap nanar ke arah laci meja kerja tempat ia berniat menyimpan kembali buku harian mendiang Mama.

Firasat tajam Kak Ethan sebagai seorang pemimpin berteriak bahwa kebohongan Bella yang tertahan di telepon siang tadi, serta aduan berapi-api dari Kak Charles mengenai ramalan kematian Paman Hendra, bukanlah sebuah takhayul ghaib yang bisa diabaikan begitu saja. Ia harus segera mencari tahu kebenaran mutlak di balik hilangnya kabar sang mitra bisnis terbesar mereka, sebelum batas waktu yang diramalkan oleh adik perempuannya itu benar-benar merenggut segalanya dari keluarga Adipta.

Beberapa jam setelah makan siang keluarga selesai, keheningan total kembali menguasai setiap sudut lantai bawah. Di dalam kamarnya, perut Charles mendadak berbunyi nyaring, didera rasa lapar yang teramat sangat karena sejak pagi ia belum menelan makanan sedikit pun. Dengan langkah yang terkesan mengendap-endap dan kaku, ia akhirnya memutuskan untuk beranjak turun ke bawah demi mencari sesuatu yang bisa mengganjal perutnya.

Begitu menginjakkan kaki di ruang makan utama, Charles mengedarkan pandangan elangnya ke sekeliling ruangan yang sunyi. Ia tidak melihat keberadaan satu pun orang di sana.

"Untung saja mereka sudah pada selesai makan. Aku sama sekali tidak ingin bertemu dengan mereka sekarang," gumam Charles lirih pada keheningan ruangan.

Ia mengembuskan napas panjang, merasa lega karena terhindar dari tatapan dingin Kak Ethan, pembelaan berapi-api dari Olivia, ataupun kecanggungan kaku dari Kak Aaron. Bagaimanapun juga, ego dan harga diri tingginya yang hancur akibat dihantam Kak Ethan tadi siang masih menyisakan rasa perih yang teramat dalam di hatinya.

Namun, tepat saat Charles hendak menarik kursi porselen untuk duduk, tubuh tegapnya seketika tersentak kaku.

“Tuan Muda baru turun untuk makan? Kenapa tidak bareng yang lain tadi, Tuan?”

Suara bariton parau khas Bibi Marni yang tiba-tiba bergema tepat di belakang punggungnya laksana hantaman petir di siang bolong. Charles terbelalak kaget, jantungnya mendadak berdegup dua kali lebih cepat karena terlalu terkejut dengan kehadiran sang pelayan paruh baya yang mendadak muncul dari arah selasar dapur tanpa terdengar derap langkahnya.

Charles berdeham kaku, berusaha keras menguasai kembali ekspresi wajahnya yang sempat dikejutkan oleh kedatangan sang pelayan paruh baya. Ia memperbaiki posisi berdirinya, menolak untuk menatap langsung mata Bibi Marni yang sarat akan pengalaman hidup itu.

"Ah, iya, Bi. Tadi aku masih ada urusan yang harus diselesaikan di kamar," jawab Charles dengan nada suara yang dibuat sedatar mungkin, mencoba menyembunyikan rasa lapar yang melilit perutnya.

Bibi Marni tidak membalas dengan raut wajah kesal. Wanita paruh baya yang telah mengabdi puluhan tahun di rumah keluarga Adipta itu justru mengulas senyuman ramah yang amat tulus. Ia melangkah mendekati meja makan, lalu dengan cekatan mulai menata kembali barisan piring porselen dan menghangatkan lauk-pauk yang sempat tersisa dari makan siang tadi.

"Ya sudah, Tuan Muda duduk saja dulu. Biar Bibi siapkan nasi dan lauknya yang hangat," ucap Bibi Marni lembut sembari menuangkan secangkir air putih untuk Charles.

Namun, gerakan tangan Bibi Marni mendadak melambat saat ia meletakkan mangkuk sayur tepat di hadapan Charles. Ia mengembuskan napas pendek, lalu melayangkan tatapan mata yang teduh namun terasa teramat menyengat bagi nurani sang tuan muda.

"Tapi Tuan ... lauk daging semur ini rasanya agak kurang bumbu dibanding biasanya," ucap Bibi Marni dengan nada suara yang sengaja dilembutkan, memulai sindiran halusnya tanpa melepaskan kesopanannya. "Soalnya tadi siang, Nona Besar Bella baru saja membantu Bibi sebentar di dapur sebelum diseret turun ke bawah. Padahal, Nona Besar sudah berniat menghias piring buah pencuci mulut khusus untuk Tuan Muda Charles dan Tuan Muda Aaron agar kalian senang."

Mendengar nama Bella disebut bersamaan dengan fakta bahwa adiknya sempat ingin menghidangkan makanan khusus untuknya, gerakan tangan Charles yang hendak meraih sendok seketika membeku kaku di udara. Hatinya laksana dihantam oleh sebuah godam besar yang tak kasat mata.

"Bibi ... Bibi sengaja menyindirku, hah?" sahut Charles dengan suara bariton yang mendadak parau dan tertahan di tenggorokan, gengsi tingginya laksana dipaksa runtuh berkeping-keping.

Bibi Marni hanya tersenyum tipis tanpa rasa takut, lalu membungkukkan badannya dengan takzim sebelum melangkah mundur menuju selasar dapur. "Bibi tidak berani menyindir Tuan Muda. Bibi hanya merasa kasihan melihat anak sekecil Nona Bella yang baru keluar dari rumah sakit, harus menahan rasa sakit di pundaknya akibat amukan orang rumah, padahal beliau hanya ingin memberikan kehidupan yang layak bagi kakak-kakaknya di sini  Mari, silakan dinikmati makanannya, Tuan Muda."

Keesokan harinya, seberkas cahaya pagi menyinari ruang tamu rumah besar keluarga Adipta. Kami semua berkumpul di sana, tetapi atmosfer di dalam ruangan terasa begitu pekat dan diselimuti oleh rasa canggung yang teramat luar biasa. Kak Charles duduk di sudut sofa dengan wajah tertunduk kaku, sudut bibirnya yang memar akibat pukulan Kak Ethan kemarin tampak mengeras. Sementara Kak Aaron terus-menerus meremas jemarinya sendiri dengan gelisah.

Bzzz... Bzzz...

Tiba-tiba, keheningan itu pecah oleh getaran hebat dari ponsel di genggaman Kak Aaron. Detik berikutnya, sepasang mata Kak Aaron seketika terbelalak kaget. Wajahnya yang semula pucat pasi kini berubah menegang sempurna saat menatap layar digitalnya.

"Paman Hendra menelepon!" seru Kak Aaron dengan suara bariton yang bergetar hebat, menoleh ke arah kami semua dengan tatapan tak percaya.

"Angkat. Nyalakan pengeras suaranya agar kita semua tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Paman dan apa yang ingin Paman sampaikan," perintah Kak Ethan mutlak. Suara kakak sulungku itu terdengar begitu berat, dingin, dan dipenuhi penekanan yang menuntut kebenaran.

"Baik, Kak," sahut Kak Aaron kaku. Dengan jemari yang gemetar, ia menggeser tombol hijau dan mengaktifkan mode loudspeaker.

"Halo, Paman? Paman Hendra di mana sekarang? Kenapa ... kenapa Paman sama sekali tidak bisa dihubungi oleh kami selama satu minggu ini?" tanya Kak Aaron beruntun, tidak mampu lagi membendung kepanikan yang mencekik parunya.

"Halo, Aaron," suara bariton Paman Hendra yang familier menyahut dari seberang sambungan telepon. Suasananya terdengar tenang, namun tersirat sisa kelelahan yang teramat pekat. "Paman sekarang sedang ada urusan dinas di luar kota. Aaron ... sebenarnya ada yang ingin Paman tanyakan secara pribadi. Apa Bella ada di rumah sekarang? Paman ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya pada Bella. Karena berkat peringatan Bella waktu itu, nyawa Paman berhasil terselamat dari maut."

Deg.

Jantungku serasa berhenti berdetak seketika mendengar pengakuan jujur yang meluncur langsung dari mulut sang mitra bisnis terbesar keluarga kami. Aku menatap nanar ke arah ponsel di atas meja marmer dengan mata yang mendadak berkaca-kaca.

Di seberang meja, Kak Aaron seketika membeku kaku laksana patung di tempatnya duduk. Sepasang matanya melebar sempurna, dan lidahnya mendadak kelu sebelum akhirnya ia berhasil memaksa suaranya keluar.

"Maksud Paman apa? Bella ... Bella menyelamatkan nyawa Paman?" tanya Kak Aaron terbata-bata pada Paman Hendra, menolak untuk memercayai bahwa takdir supraalami yang selama belasan tahun ini mereka kutuk sebagai pembawa sial, justru baru saja bertindak sebagai malaikat pelindung yang nyata.

"Begini, Aaron ...," suara bariton Paman Hendra kembali terdengar dari balik pengeras suara ponsel, bergetar samar oleh sisa kengerian takdir yang baru saja dilewatinya. "Awalnya Paman memang berniat pergi dinas menggunakan mobil operasional perusahaan. Namun, karena terus-menerus memikirkan ucapan tegas Bella tempo hari, Paman akhirnya mendadak mengubah jadwal dinas dan memilih untuk menunda keberangkatan."

Paman Hendra mengembuskan napas panjang di seberang sana, menjeda kalimatnya sejenak.

"Dan ternyata, waktu itu mobil perusahaan itu tetap jalan karena dipakai oleh Pak Sopir bersama keponakan saya. Tepat di jalur bebas hambatan, sebuah truk besar mendadak mengalami rem blong dan menghantam keras mobil tersebut dari arah belakang. Benturannya begitu dahsyat, Aaron. Kursi penumpang bagian belakang—posisi yang seharusnya Paman duduki malam itu—hancur total dan rusak parah tanpa sisa. Mungkin ... mungkin kalau saja Paman tidak memikirkan perkataan Bella waktu itu, Paman sudah tiada dan menjadi mayat sekarang."

Keheningan total yang teramat mencekam seketika laksana menyumbat pasokan oksigen di ruang tamu kami.

"Paman sangat bersyukur pada adikmu, Bella. Keluarga Adipta ternyata mempunyai seorang gadis yang begitu berharga. Paman benar-benar ingin berterima kasih langsung padanya, Aaron," ucap Paman Hendra mengakhiri ceritanya.

Baru kali ini ..., batinku dengan dada yang mendadak terasa begitu sesak dihantam oleh rasa perih yang luar biasa pekat. Setitik air mata hangat luruh melewati pipiku yang kian memucat.

Selama dua puluh tahun hidup terasing dan dikutuk di dalam kegelapan rumah ini, baru kali ini ada orang yang sangat bersyukur atas kehadiranku. Baru kali ini ada orang yang memanggilku dengan sebutan 'sangat berharga' di dunia ini. Namun, hal yang paling menyayat hati adalah ... aku mendengar kalimat bermakna itu bukan dari mulut keluarga kandungku sendiri, melainkan meluncur dari bibir orang lain.

Aku menundukkan kepalaku dalam-dalam, meremas ujung sweter tipisku demi menahan isak tangis yang siap pecah di depan mereka.

"Paman ... Paman Hendra sungguh berlebihan," potong Kak Aaron tiba-tiba, memecah keheningan dengan nada suara yang mendadak meninggi dan bergetar hebat. Pria itu menggelengkan kepalanya berulang kali, menolak untuk menerima kenyataan bahwa takdir ghaib yang selama belasan tahun mereka benci, baru saja menyelamatkan nyawa rekan bisnis mereka. "Bella itu hanya asal bicara, Paman! Ini semua pasti murni hanya kebetulan semata. Karena Paman masih dilindungi oleh Tuhan, makanya Paman tidak terjadi apa-apa di jalan kemarin! Tidak ada hubungannya dengan Bella!"

Kak Aaron mencecar kalimatnya dengan rahang yang mengatup rapat laksana orang kesurupan. Gengsi besar dan benteng keangkuhannya menolak mentah-mentah jika anak perempuan yang selama ini mereka cap sebagai dalang pembawa sial dan monster petaka, siang ini justru dipuji setinggi langit sebagai malaikat pembawa keberuntungan bagi Adipta Group.

"Aaron, kamu harus menyampaikan ucapan terima kasihku yang sebesar-besarnya pada Bella," sela Paman Hendra di seberang telepon, mengabaikan sanggahan kaku dari Kak Aaron dengan nada suara yang teramat tegas dan berwibawa. "Setelah Paman pulang dinas nanti, Paman pasti akan datang berkunjung ke rumah kalian untuk mengatakannya secara langsung pada Bella. Adik perempuanmu itu benar-benar gadis yang luar biasa."

Mendengar ketegasan dari sang mitra bisnis terbesar, Kak Aaron seketika terbungkam dengan rahang yang mengatup rapat. Wajahnya yang pucat pasi kian menegang kaku, menahan gejolak salah tingkah yang luar biasa besar di depan Kak Ethan.

"Baik, Paman. Paman beristirahatlah dengan baik di sana. Kami tidak akan mengganggu waktu istirahat Paman lagi. Kalau begitu, Aaron tutup dulu teleponnya ya, Paman," ucap Kak Aaron dengan nada suara yang dipaksakan se-tenang mungkin untuk menutupi kepanikannya.

"Baik, Aaron. Jaga diri kalian baik-baik di rumah. Paman tutup dulu teleponnya," balas Paman Hendra sebelum suara klik halus menandakan sambungan telepon antarpulau itu akhirnya terputus sepenuhnya.

Pip.

Ruang tamu yang megah itu seketika kembali diselimuti oleh keheningan mati yang teramat mencekam dan mencekik paru. Ponsel di genggaman Kak Aaron perlahan diturunkan, diletakkan di atas meja marmer dengan tangan yang bergetar hebat.

Aku masih tertunduk diam di atas sofa, menatap hampa ke arah telapak tangan kiriku yang polos bersih. Di dalam rongga dadaku, detak jantungku bertalu-talu tidak keruan, berkejaran dengan rasa sesak yang kian menyiksa batin. Pembuktian dari Paman Hendra barusan telah menelanjangi seluruh kesalahan jajaran kakak laki-lakiku selama dua puluh tahun ini secara telak di depan mata Kak Ethan. Kini, dengan berakhirnya panggilan tersebut, aku tahu bom waktu konfrontasi utama di antara kami baru saja diaktifkan sepenuhnya.

1
falea sezi
kakak bangsat🤣
falea sezi
moga bella g meninggal ya😕
Cholifah Umro
Bab ini kok ada bawangnya y thor ... berasa ikut merasakan sakit hatinya Bella ...😭😭...lanjut thor
Cholifah Umro
gak sabar nunggu apa yg ditulis mamanya buat bella ...biar mata kakak ke2 dan ke3 terbuka klo bela gak salah ... lanjut thor👍
my queen 👸: makasih comment nya ya kk... di tunggu lanjutannya
total 1 replies
Cholifah Umro
bagus cerita family
my queen 👸: terima kasih banyak sudah mampir 🙏
total 1 replies
Cholifah Umro
ceritanya bagus
Cholifah Umro
lanjut thor
Cholifah Umro
Udah Bella biarin saja... gak usah cari masalah
my queen 👸: terima kasih kk uda mampir
total 1 replies
Anonim
Lanjutkan👍

eh ia nanti mampir di Novel aku yaaa~
my queen 👸: siap kk
total 1 replies
Sayekti 0519
sangat mengenaskan.mili terus air mata Ama ingus ku thooor
my queen 👸: terima kasih sudah mampir kk
pantau cerita ku yang lain ya 🙏❤️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!