NovelToon NovelToon
Gitaris Cantik Bertato Pujaan Ku

Gitaris Cantik Bertato Pujaan Ku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Dikelilingi wanita cantik / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Arni Arlinawati

Meloudy Tanuwirama, pemilik tato mencolok yang menutupi seluruh lengan kanan hingga pundak, adalah seorang gitaris metal dan kreator konten dengan 100 juta lebih pelanggan. Di balik kesuksesannya di dunia maya, ia berjuang keras menafkahi sekaligus membiayai pengobatan ibunya yang sakit — menjadi satu-satunya tulang punggung keluarga tanpa ayah. Namun penghasilannya belum cukup menutupi biaya yang terus menumpuk.

Sementara itu, Vano S. Viandra — pemilik perusahaan S Group yang berpengaruh di seluruh Benua Asia, berparas tampan luar biasa namun berhati sedingin es — terkejut luar biasa saat menyadari siapa wanita itu sebenarnya.

"Tato itu… Kau Loudy? Gitaris metal yang punya seratus juta lebih pelanggan? Kau?!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arni Arlinawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7 — Pelarian di Tengah Keramaian

Elona menyadari perubahan kecil itu. Ia memiringkan kepala, menatap Vano dengan tatapan curiga sekaligus sedikit kesal. Ada jarak yang tiba-tiba tercipta di antara mereka — dingin, tak terlihat, namun terasa begitu nyata, seolah dinding tak kasat mata telah memisahkan mereka berdua.

"Ada apa?" tanyanya pelan, suaranya terdengar menguji.

"Kau terlihat… terganggu. Atau ada hal lain yang sedang memusingkanmu sampai-sampai menciumku pun kau tak serius?"

Vano tidak seketika menjawab. Ia menunduk sedikit, menyusun kata-kata di kepalanya agar terdengar tenang, tak memberi celah bagi pertanyaan lain.

"Urusan kantor," jawabnya singkat. Ia segera menata kembali wajahnya menjadi datar — tak sedikit pun membiarkan wanita itu melihat apa yang sebenarnya tersembunyi di balik tatapannya. Tak akan pernah ia katakan, bahwa saat ini pun, di balik wajah Elona, yang ia lihat hanyalah bayangan wanita lain.

"Bukan hal yang perlu kau pikirkan," lanjutnya tegas.

"Katakan apa yang ingin kau bicarakan, Elona. Aku masih ada jadwal setengah jam lagi. Dan kita berdua tahu posisi kita. Semuanya tetap seperti yang kita sepakati sejak awal."

Elona menghela napas pelan, namun senyum penuh percaya dirinya tak luntur sedikit pun. Ia tahu Vano — atau setidaknya, ia berpikir ia mengenalnya. Ia yakin tak ada satu pun wanita yang bisa menggantikan posisinya di sisi pria itu. Bukan rekan kerja, bukan siapa pun. Ia adalah satu-satunya yang tahu kelemahan dan sisi lain dari Vano — atau begitulah yang ia yakini.

Ia tak pernah tahu, bahwa selama ini ia hanyalah pengganti. Bahwa setiap kali pria itu bersamanya, ia sebenarnya sedang merindukan sosok lain — sosok yang bernama Laudys, yang tato di lengannya telah merasuk ke dalam pikiran Vano hingga tak ada ruang lagi bagi wanita lain.

Elona bergerak mendekat, mencondongkan tubuhnya sedikit ke arah Vano, suaranya berubah lebih lembut dan membujuk, seolah tak ingin menerima penolakan apa pun.

"Kalau begitu… selesaikan pekerjaanmu lebih cepat. Malam ini ada acara di Velvet Night Club — tempat yang selalu kita kunjungi, tempat di mana kau bisa lupa sejenak pada semua tumpukan berkas dan kesibukan yang tak ada habisnya. Ayo ikut denganku. Kau butuh hiburan, Vano. Kau terlalu lama mengurung diri di sini, di antara dinding dingin ini sendirian."

Vano terdiam sejenak, menatap berkas di atas mejanya tanpa benar-benar melihatnya. Bayangan wajah Laudys kembali melintas di benaknya, namun ia menepis bayangan itu perlahan, bukan karena ingin melupakan, melainkan karena ia butuh pelarian — sesuatu, apa pun itu, yang bisa membuatnya berhenti berpikir tentang wanita itu walau hanya untuk beberapa jam.

"Baiklah," jawabnya singkat, dingin, tanpa antusiasme sama sekali.

"Setelah urusan pekerjaanku selesai."

Elona tersenyum lebar, puas mendapatkan jawaban itu, seolah kemenangan telah berada di tangannya. Ia melangkah mundur perlahan, menatapnya dengan tatapan penuh kemenangan dan kepemilikan.

"Bagus. Aku tunggu di lobi, ya. Jangan terlalu lama."

Dengan anggun, Elona berbalik dan melangkah keluar ruangan itu, gaun merahnya berkilau di bawah cahaya lampu langit-langit. Pintu tertutup perlahan di belakangnya, dan seketika itu juga, ruangan itu kembali sunyi — sunyi yang lebih dalam dari sebelumnya.

Vano tetap diam di tempat, menatap ruang kosong di hadapannya. Hatinya tak berdebar, tak ada kegembiraan, tak ada harapan — hanya kekosongan yang semakin melebar, semakin dalam. Ia tahu, malam ini pun, di tengah keramaian, di tengah suara musik yang bising dan tawa orang-orang di sekitarnya, ia akan tetap sendirian. Karena di mana pun ia berada, siapa pun yang bersamanya, pikirannya akan selalu kembali ke satu sosok — sosok yang bernama Laudys, yang tak pernah ia temui, namun telah menguasai seluruh ruang di hatinya hingga tak tersisa sedikit pun untuk wanita lain.

Malam semakin larut ketika Vano melangkah keluar dari gedung pencakar langit itu. Langit Jakarta gelap pekat, hujan masih turun rintik-rintik, membasahi aspal yang memantulkan cahaya lampu kota. Mobil Rolls-Royce-nya sudah menunggu di depan pintu utama, dan di dalamnya, Elona sudah bersandar santai di kursi kulit itu, menyambutnya dengan senyum yang tak pernah luntur.

Perjalanan menuju Velvet Night Club berjalan dalam keheningan. Elona sesekali berbicara tentang acara malam itu, tentang orang-orang yang akan mereka temui, tentang kemewahan dan kegembiraan yang menanti — namun Vano hanya menjawab singkat, sesekali mengangguk, matanya menatap ke luar jendela tanpa benar-benar melihat apa pun. Pikiran itu tetap di sana, tak berpindah — melodi gitar yang berat, tatapan mata yang penuh luka, dan tato indah yang menjalar di lengan wanita yang tak pernah ia kenal.

Sesampainya di klub, suara dentuman musik elektronik langsung menyambut mereka — bising, berdenyut, mengguncang lantai tempat mereka berpijak. Cahaya lampu berwarna-warni berkedip-kedip, menciptakan suasana yang penuh kemeriahan dan kesembronoan, tempat di mana orang-orang datang untuk melupakan kenyataan. Di sudut ruangan, di atas panggung kecil, seorang penyanyi sedang membawakan lagu yang penuh irama, dan pasangan-pasangan menari di lantai dansa dengan tawa yang meledak-ledak.

Elona langsung menarik tangan Vano menuju meja khusus di lantai atas — tempat yang sudah dipesan sebelumnya, tempat dengan pemandangan seluruh ruang utama. Minuman beralkohol mulai datang, dan Elona tertawa, berbicara, sesekali menyentuh lengan Vano dengan penuh keakraban — namun pria itu tetap diam, gelas di tangannya tak tersentuh. Matanya menatap keramaian di bawah sana, namun ia tak melihat siapa pun.

"Kau tahu, Vano…" ucap Elona di tengah suara musik yang bising, mendekatkan wajahnya ke arah pria itu,

"Banyak orang yang iri padaku malam ini. Kau jarang sekali mau keluar bersamaku."

Vano menoleh perlahan, menatapnya — namun tatapannya kosong, seolah menatap melalui sosok wanita itu.

"Minumlah, Elona. Nikmati malam ini. Bukankah itu yang kau mau?"

Suaranya dingin, datar, tanpa nada kasih sayang — namun Elona tak peduli. Baginya, kehadirannya sudah cukup. Ia tak pernah tahu bahwa di setiap detik yang berlalu, di setiap sentuhan yang ia berikan, Vano justru semakin merindukan wanita lain. Bahwa di tengah keramaian ini, yang ia dengar bukanlah musik yang bising, melainkan petikan gitar yang berat dan penuh perasaan. Bahwa di samping wanita yang cantik dan siap sedia ini, yang ia bayangkan adalah sosok yang tersembunyi di balik layar — sosok yang mungkin tak seindah Elona, namun memiliki jiwa yang begitu dalam, sehingga mampu meruntuhkan tembok dingin yang selama ini ia bangun di sekitar hatinya.

Malam itu berlanjut — tawa, musik, cahaya yang berkedip — namun bagi Vano, semuanya terasa jauh, terasa asing. Ia ada di sana, tubuhnya duduk di meja itu, namun jiwanya berada di tempat lain — di ruangan kecil yang remang, di mana seorang wanita memetik gitar dengan air mata yang tak jatuh, menumpahkan segala beban hidupnya ke dalam nada-nada yang merambat hingga ke hatinya.

Dan di suatu tempat, di rumah kontrakan kecil yang sepi itu, Meloudy sedang menatap layar ponselnya — melihat notifikasi masuk, melihat jumlah penonton yang terus bertambah, tanpa tahu bahwa di antara ribuan orang itu, ada satu pria yang bukan sekadar mendengarkan, melainkan sedang merasakan setiap lukanya. Bahwa di tengah keramaian dan kemewahan itu, pria yang paling dingin dan tak terjangkau justru sedang memikirkan dirinya — dengan perasaan yang begitu dalam, begitu tulus, namun terhalang oleh rahasia yang belum waktunya untuk terungkap.

^^^Bersambung...^^^

1
ginevra
iya, terima aja.... biar jadi jariah si vano
ginevra
aku takut kalau sang ibu malah diambil duluan sama authornya 🥹🥹
ginevra
awww ... terharu aku tuh 🥹🥹... melodi emang anak yang manis
ginevra
itu pas melodi melipat bajunya .. ingat ingat donk
ginevra
ternyata udah fans lama ini mah....
ginevra
cuma nampilin tangan aja loh... udah buat Vano terpana .. hebat kamu melodi mehehe
Nona Cloe
wuohhh mulai serius nih, ada apa?😄
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ Kartika Candra Buwana
itu kan rencanamu. tapi rencana author seharusnya ga begitu. betul ga?😄
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ Kartika Candra Buwana
wah wah, berharga di hatimu ya😄
My_Lucia
aduh... 🫣 melody di jadiin fantasi
My_Lucia
kasian banget sih... kerja capek-capek tapi gak bisa menikmatinya
Myz Pena
benar2 membuatmu terkesan ya vanno sampai hati mu susah melupakan suasana dengan meloudy walau hanya sebentar 🤭
Myz Pena
kehadiran vano bisa saling melengkapi dengan meloudy 👍
Myz Pena
ya harusnya pulang nggak usah lama2 kecuali vano udah demen pada meloudy 🤭
Myz Pena
yuhuuu vano udah muali terdekteksi ada rasa pada meloudy 🤣
Myz Pena
ya ibu mu benar ,, di cocok jadi calon suami mu di masa depan lagi pula dia adalah fans sejatimu meloudy 🤣
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
gila sih si vano. kok aku ngeri ya.
ah cowok kan emang begitu
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
duh ternyata si vano begitu ya🤧
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
dia di dekat kamu
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
pengemar melody lain nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!