Bagi publik, Arka Dirgantara adalah pengusaha sukses berselimut gosip miring, mulai dari disfungsi ereksi hingga rumor menyukai sesama jenis. Tak ada yang tahu rahasia terbesarnya, ditinggal kabur mantan istri di malam pengantin membuatnya trauma dan masih perjaka.
Terdesak ancaman dicoret dari warisan dan runtuhnya investasi, Arka nekat mengajak Naya Kirana, gadis ceria yang butuh uang pengobatan ibunya, untuk menjalani pernikahan kontrak satu tahun. Aturannya tegas, pura-pura mesra di depan media, tapi dilarang saling sentuh di rumah.
Namun, hidup seatap dengan Naya yang blak-blakan perlahan meruntuhkan dinding kaku Arka. Ketika sang mantan istri kembali untuk membongkar rahasia kelamnya, akankah sandiwara konyol ini hancur, atau justru berubah jadi cinta sejati yang menyembuhkan trauma masa lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fhatt Trah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6. Babak Baru Dimulai
Aroma antiseptik yang menyengat menampar indra penciuman Naya begitu ia melangkah keluar dari lift lantai tiga Rumah Sakit Medika Utama. Suasana lorong menuju ruang operasi jantung terasa begitu kontras dengan keharuman vanila dan kemewahan butik di Senopati yang baru saja ia tinggalkan beberapa jam lalu.
Di sini, tidak ada renda sutra atau kilau kristal Swarovski, hanya ada dinding cat putih memudar, suara dengung mesin medis, dan aroma kecemasan yang pekat.
Naya berjalan cepat menyusuri koridor. Gaun A-line yang mahal itu telah berganti kembali dengan celana jeans longgar dan kaos polos yang agak kusam. Namun, ketegangan yang mengikat dadanya sama sekali belum terangkat.
Lampu indikator merah di atas pintu ganda berlapis baja itu menyala terang, menampilkan tulisan tegas: OPERASI SEDANG BERLANGSUNG.
Naya mendaratkan tubuhnya di atas kursi besi dingin di ruang tunggu. Ia menangkupkan kedua tangan di depan wajah, membiarkan jemarinya yang bergetar saling bertautan.
Di dalam sana, di bawah sorotan lampu bedah yang dingin, jantung ibunya sedang dibuka, dipotong, dan diperbaiki oleh tim dokter spesialis terbaik yang berhasil disewa oleh uang dua miliar milik keluarga Dirgantara.
Satu jam. Dua jam. Tiga jam.
Waktu terasa berjalan merayap secara menyiksa. Setiap kali pintu ruang operasi bergeser terbuka untuk memperlihatkan perawat yang keluar membawa perlengkapan medis, jantung Naya melonjak hingga ke tenggorokan. Setiap langkah kaki yang bergema di koridor membuatnya menoleh dengan napas tertahan.
“Naya?”
Naya mendongak kaget. Doni berdiri beberapa meter darinya, membawa dua cangkir kopi kertas dari kedai bawah.
Asisten pribadi Arka itu telah melepas jas resminya, menyisakan kemeja putih dengan lengan yang digulung hingga siku.
“Pak Doni? Kenapa masih di sini?” suara Naya serak, tenggorokannya terasa kering seperti padang pasir.
“Pak Arka meminta aku memastikan proses operasi Ibu Retno berjalan lancar hingga selesai,” jawab Doni sopan sembari mengulurkan salah satu cangkir kopi panas ke arah Naya. “Minumlah dulu. Wajahmu pucat sekali.”
Naya menerima cangkir itu, merasakan hangatnya meresap ke telapak tangannya yang dingin. “Terima kasih... Pak Arka sendiri di mana?”
“Beliau masih ada rapat darurat dengan dewan komisaris hingga larut malam. Tapi beliau terus memperbarui informasi medis ibumu lewat aku setiap jam.” Doni mendudukkan diri di kursi besi yang berjarak dua meter dari Naya, menjaga jarak profesionalnya.
Naya menatap permukaan kopi hitam di tangannya. Ada rasa hangat yang aneh melintasi dadanya, sebuah pengakuan kecil bahwa di balik seluruh kalkulasi dingin dan transaksi bisnis ini, Arka setidaknya menepati janjinya dengan sangat teliti. Pria itu tidak membiarkan satu detail pun terabaikan, termasuk kelancaran operasi ibunya.
Bukan karena peduli, Naya mengingatkan dirinya sendiri dengan cepat. Ini hanya bagian dari komitmen transaksi. Dia butuh pengantin yang fokus dan tidak histeris di hari pernikahan nanti.
Pintu baja ruang operasi mendadak bergeser terbuka lebar. Seorang dokter pria paruh baya bertubuh agak tambun keluar, mengusap peluh di dahinya sembari melepas masker bedah.
Naya langsung bangkit berdiri begitu cepat hingga cangkir kopinya hampir tumpah. Ia berlari mendekati sang dokter, diikuti Doni di belakangnya.
“Dokter Harun... bagaimana ibu saya?” tanya Naya dengan suara bergetar, matanya menatap penuh harap sekaligus ketakutan.
Dokter Harun menghela napas panjang, lalu sunggingan senyum tipis terukir di wajahnya yang lelah.
“Operasi bypass jantungnya berjalan lancar, Naya. Pendarahan berhasil ditangani, dan katup jantungnya yang rusak sudah berhasil dipasang jaringan pengganti.”
Air mata yang sejak tadi ditahan Naya akhirnya luruh tanpa bisa dibendung. Lututnya menegang kaku, menahan beban tubuhnya yang mendadak terasa begitu ringan karena kelegaan luar biasa.
“Ibu... Ibu selamat, Dok?”
“Selamat. Masa kritis utamanya sudah lewat,” jawab Dokter Harun ramah. “Namun, karena kondisinya yang sempat sangat lemah sebelum operasi, beliau harus dirawat intensif di ruang ICU khusus selama 24 sampai 48 jam ke depan untuk observasi ketat. Kita belum bisa membangunkan beliau sepenuhnya sampai indikator vitalnya benar-benar stabil.”
“Saya boleh lihat Ibu?”
“Hanya sebentar dari balik kaca ICU nanti setelah beliau dipindahkan. Sekarang, biarkan tim medis memindahkan beliau terlebih dahulu.” Dokter Harun menepuk pelan bahu Naya sebelum beralih menatap Doni.
“Pak Doni, terima kasih atas fasilitas tim anestesi tambahan yang dikirimkan oleh pihak manajemen Dirgantara Group tadi. Itu sangat membantu mempercepat proses reanimasi pasien.”
“Sudah menjadi kewajiban kami, Dok,” sahut Doni singkat dengan anggukan hormat.
Setelah Dokter Harun kembali masuk ke dalam area steril, Naya menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Bahunya berguncang pelan dalam tangis tanpa suara. Beban seberat batu gunung yang menindih dadanya selama bertarung dengan utang-utang dan ancaman kematian ibunya, untuk pertama kalinya melonggar.
Ibunya masih hidup. Operasinya berhasil.
Doni berdiri ragu beberapa langkah di belakangnya, memberi ruang bagi Naya untuk menumpahkan emosinya. Ponsel di saku jas Doni bergetar pelan. Ia merogohnya, melihat nama panggilan yang tertera di layar, lalu mengangkatnya dengan cepat.
Doni berdiri ragu beberapa langkah di belakangnya, memberi ruang bagi Naya untuk
“Yo, Ka.”
“Gimana operasinya?” suara Arka terdengar dalam dan sedikit serak di seberang telepon.
“Bypass-nya aman, Ka. Dokter Harun baru aja keluar. Tante Retno udah lewat masa kritis, sekarang lagi dipindahin ke ICU buat pemulihan.”
Hening sejenak di ujung telepon. Untuk beberapa detik, Arka tidak bersuara.
“Cewek itu gimana?” tanya Arka kemudian.
Doni melirik Naya yang masih menangis wajar di depan pintu operasi, mengusap air matanya dengan lengan baju. “Lega banget dia. Sempet nangis sesenggukan sih, tapi fisiknya aman kok.”
“Bagus,” sahut Arka datar, kembali ke mode pragmatisnya. “Satu hal lagi, perketat penjagaan depan ICU. Gua nggak mau ada wartawan nyelonong ke area rawat inap, apalagi ganggu atau main jepret foto Naya sembarangan sebelum rilis resmi besok pagi.”
“Sip, aman. Security udah standby di pos masing-masing.”
“Satu lagi, Don.”
“Apaan?”
“Beliin dia makanan yang bener. Gua nggak mau gaun A-line yang udah diukur tadi pagi mendadak kedodoran gara-gara pengantinnya lupa makan.”
Sambungan telepon terputus begitu saja. Doni menurunkan ponselnya dari telinga, menggelengkan kepala pelan melihat tingkah sahabatnya yang selalu membungkus kepedulian dengan gengsi tingginya.
Doni melangkah mendekati Naya yang mulai menyapu sisa air mata di pipinya.
“Naya, Ibu Retno sebentar lagi akan dipindahkan ke kamar ICU lantai empat. Kita bisa ke sana sekarang.”
Naya mengangguk mantap, menyeka pipinya hingga bersih. Matanya yang sembap kini memancarkan sinar keteguhan yang baru.
“Terima kasih banyak, Pak Doni. Tolong... sampaikan juga terima kasih saya yang sebesar-besarnya pada Pak Arka.”
Doni tersenyum tipis. “Pesanmu akan aku sampaikan. Dan seperti kata Pak Arka... simpan tenagamu. Perjalanan menuju hari pernikahan tinggal lima hari lagi, dan badai yang sesungguhnya baru akan dimulai saat wajahmu muncul di surat kabar besok pagi.”
Naya mengangguk pelan. Ia tahu Doni benar. Operasi ibunya hanyalah babak pertama dari perjanjian ini. Babak berikutnya, menjadi bagian dari keluarga Dirgantara dan berdiri di samping Arka di bawah sorotan lampu kamera, baru saja dimulai.
–tbc–
buat arka jatuh cinta ke naya ya kak... dan naya makin jaga jarak dan sadar diri dgn pernikahan kontraknya
lanjut kak