"Mati adalah akhir yang terlalu mudah bagi seorang pengkhianat. Aku akan memastikan kalian memohon kematian sebelum napas terakhir kalian kuhentikan."
Elikai Wijaya adalah agen elit legendaris berkode nama "Shadow" di organisasi intelijen Phantom. Tapi, kesetiaannya dibayar darah. Demi kekuasaan, paman kandungnya sendiri. seorang gembong mafia bernama Gaizka Wijaya bekerja sama dengan mentor Elikai, Jenderal Jendra, untuk membantai seluruh keluarga Elikai dan menembaknya hingga sekarat.
Dikira telah tewas, Elikai bangkit dari neraka berkat bantuan Belladona, sang hacker jenius. Dengan wajah baru hasil operasi rekonstruksi, ia menyamar menjadi Liam Jeren, seorang CEO muda yang kaya raya dan arogan.
Misi balas dendam pun dimulai. Liam sengaja mendekati Bellatrix, sepupu kandungnya sendiri yang polos, untuk dijadikan pion penghancur dinasti kriminal pamannya. Dari balik meja kerja CEO dan senapan runduknya, sang Agen Bayangan siap memburu para pengkhianat satu per satu tanpa ampun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ghost_Writer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pahlawan Berkedok Iblis
Jalanan menuju kawasan perumahan elite Menteng pasca tengah malam selalu menyisakan kesunyian yang mencekam. Rintik hujan tipis menyisakan lapisan basah di atas aspal hitam, memantulkan pendar kuning dari lampu-lampu jalan yang berjarak renggang. Di bawah bayangan pohon beringin tua yang rimbun di tepi jalan yang sepi, sebuah sedan hitam mematikan seluruh lampunya, melebur sempurna dengan kegelapan malam.
Di dalam kabin kemudi, Liam Jeren duduk tenang. Jemarinya yang berbalut sarung tangan kulit hitam mengetuk kemudi dengan ritme yang lambat dan konstan. Sepasang mata elangnya menatap lurus ke arah sebuah mobil sedan putih yang terparkir darurat sekitar lima puluh meter di depan dengan lampu hazard yang berkedip malas.
Asap tipis tampak mengepul dari balik kap mesin sedan putih itu. Di samping badan mobil, seorang gadis dengan gaun satin berwarna krem berdiri dengan gelisah. Ia memegang ponselnya ke telinga, melangkah mondar-mandir sembari sesekali menatap layar dengan frustrasi.
Bellatrix Wijaya. Sepupu kandungnya. Putri tunggal dari pria yang telah membantai seluruh hidup Elikai Wijaya.
Melalui lensa kamera intai yang terhubung langsung ke gawai di dasbor mobilnya, Liam bisa melihat wajah Bellatrix dengan jelas. Gadis itu masih sama seperti ingatan masa lalunya, polos, naif, dan terlalu terlindungi di dalam menara gading yang dibangun dari uang berdarah ayahnya. Gaizka sangat memanjakan putrinya, menyembunyikan taring serigalanya rapat-rapat agar sang anak tetap tumbuh menjadi malaikat suci yang bersih.
"Cairan korosif yang disemprotkan anak buah sewaan kita ke radiatornya sudah bekerja maksimal, Liam," suara Belladona berdengung pelan di earphone mikro milik Liam. "Sistem kelistrikannya juga sudah dimatikan lewat gelombang EMP jarak pendek dari menara seluler terdekat. Dia gak bakal bisa telepon siapa-siapa sekarang. Sinyalnya nol total."
"Sempurna," gumam Liam. Suara baritonnya mengalun dingin di dalam mobil yang sunyi.
Dari arah kegelapan gang di seberang jalan, tiga orang pria berjaket hoodie longgar melangkah keluar. Langkah mereka sengaja dibuat sempoyongan, meniru gerak-gerik preman jalanan yang mabuk. Akan tetapi, Liam tahu betul siapa mereka, mereka adalah tiga tentara bayaran kelas teri yang sengaja ia sewa melalui jaringan bawah tanah untuk memainkan peran kecil malam ini.
Bellatrix menyadari kehadiran ketiga pria itu. Tubuhnya seketika menegang. Ia mundur beberapa langkah hingga punggungnya merapat ke pintu mobilnya yang mogok. Tangannya yang gemetar mencoba menekan tombol di ponselnya berulang kali, tetapi layar itu tetap menampilkan logo No Service.
"Hei, Nona manis. Malam-malam begini kok sendirian di pinggir jalan?" salah satu preman sewaan itu mulai bersuara, melangkah maju dengan seringai yang dipaksakan.
"Jangan... jangan mendekat! Saya bisa panggil polisi!" suara Bellatrix bergetar hebat, matanya melebar dipenuhi ketakutan yang riil. Ia tidak tahu bahwa seluruh ketakutan dan kepanikannya malam ini hanyalah sebaris skenario yang ditulis dengan rapi oleh pria yang mengintainya dari balik kegelapan.
Pria kedua maju, mencengkeram pergelangan tangan Bellatrix dengan kasar hingga ponsel gadis itu terlepas dan menghantam aspal. Bellatrix menjerit, mencoba meronta, tapi cengkeraman itu terlalu kuat untuk tenaga ringkihnya.
Di dalam sedan hitam, Liam menarik napas dalam-dalam. Ekspresi wajah pualamnya tidak bergeser satu milimeter pun saat melihat sepupunya diperlakukan kasar. Di dalam dadanya, tidak ada lagi rasa kasihan. Rasa empati itu sudah habis terbakar bersama jasad keluarganya. Baginya, Bellatrix bukan lagi saudara. Gadis itu hanyalah sekeping kartu truf, seonggok daging yang akan ia gunakan untuk meruntuhkan singgasana Gaizka Wijaya.
Liam memutar kunci kontak. Mesin sedan hitamnya menderu halus tanpa suara kasar. Ia menginjak pedal gas, membiarkan mobilnya meluncur membelah malam, memotong jalur tepat di depan mobil Bellatrix dengan suara decitan ban yang dramatis di atas aspal basah.
SREEEK!
Sorot lampu jauh dari mobil Liam seketika membutakan pandangan ketiga preman dan Bellatrix. Pintu kemudi terbuka. Liam melangkah keluar dari dalam mobil. Setelan jas hitamnya yang rapi berpadu dengan postur tubuhnya yang tegap dan tinggi memancarkan aura dominasi yang begitu pekat. Di bawah rintik hujan, wajah tampannya yang sedingin es tampak begitu berkharisma seperti sesosok penyelamat yang turun dari langit, atau mungkin, iblis yang sedang menyamar dengan sangat rapi.
"Lepaskan dia," ucap Liam. Suara baritonnya yang berat terdengar begitu tenang, namun memiliki tekanan yang membuat ketiga preman itu yang memang sudah dilatih untuk berakting pura-pura tersentak mundur.
"Jangan ikut campur!" salah satu preman berteriak maju menerjang Liam dengan pukulan yang sengaja dibuat lambat bagi insting seorang agen elit Phantom.
Liam bergerak dengan presisi yang mengerikan. Tanpa mengeluarkan tangan dari saku jasnya, ia menghindar sedikit ke samping, lalu melayangkan satu tendangan sapuan keras ke arah lutut pria itu.
BRAK!
Pria itu tersungkur ke aspal dengan bunyi debum yang keras, ia mengerang kesakitan yang kali ini bukan lagi sekadar akting. Dua preman lainnya bertukar pandang dengan ekspresi ngeri yang nyata, mereka tidak mengira bahwa pria kaya yang menyewa mereka memiliki kemampuan bertarung sefatal ini. Mengikuti skenario, mereka segera membopong temannya yang tumbang dan berlari tunggang-langgang masuk ke dalam kegelapan gang, meninggalkan area itu kembali sunyi.
Liam tidak mengejar mereka. Ia merapikan sedikit lipatan jasnya yang terkena rintik hujan, lalu membalikkan tubuhnya menghadapi Bellatrix.
Gadis itu masih terduduk lemas di samping ban mobilnya yang basah, dengan napas yang memburu dan air mata yang mengalir di pipinya. Ia menengadah, menatap pria asing yang baru saja menyelamatkannya dengan tatapan penuh rasa kagum, lega, dan takjub. Di mata Bellatrix malam itu, Liam Jeren adalah seorang pahlawan tanpa cela yang dikirim Tuhan untuk melindunginya.
Liam melangkah mendekat, lalu berlutut dengan satu kaki di depan Bellatrix, mengabaikan lutut celana jas mahalnya yang kini kotor menyentuh aspal basah. Ia mengulurkan tangan kanannya yang terbalut sarung tangan kulit, menawarkan bantuan dengan gerakan yang sangat sopan dan penuh kehangatan tiruan.
"Anda tidak apa-apa, Nona?" tanya Liam melembutkan intonasi suaranya hingga terdengar begitu menenangkan di telinga Bellatrix.
Bellatrix menatap tangan itu ragu, sebelum akhirnya menyambutnya. Telapak tangannya yang dingin dan gemetar tenggelam di dalam genggaman tangan Liam yang kokoh dan hangat. Saat Liam membantunya berdiri, mata mereka bertemu dalam jarak dekat. Bellatrix terpaku melihat sepasang mata elang di balik kacamata bening pria itu, sepasang mata yang tampak begitu teduh akan tetapi entah mengapa menyimpan kedalaman misterius yang tidak bisa ia selami.
"T-terima kasih..." bisik Bellatrix, suaranya masih bergetar. "Kalau Anda tidak datang... saya tidak tahu apa yang akan terjadi."
"Saya hanya kebetulan sedang lewat setelah pertemuan bisnis," Liam tersenyum tipis, sebuah senyuman menawan yang ia latih berulang kali di depan cermin bunker untuk menyembunyikan kekosongan di jiwanya. Ia melirik ke arah kap mesin mobil Bellatrix yang masih mengeluarkan asap. "Sepertinya mobil Anda tidak akan bisa berjalan malam ini. Dan sinyal di daerah sini cukup buruk. Jika Anda tidak keberatan, saya bisa mengantarkan Anda pulang."
Bellatrix menatap mobilnya yang mati total, lalu kembali menatap Liam. Di bawah pengaruh rasa takut yang baru saja mereda dan pesona karisma pria di depannya, kewaspadaan gadis itu runtuh sepenuhnya. Ia tidak tahu bahwa senyuman hangat pria yang berdiri di depannya ini adalah jaring laba-laba yang siap menjerat seluruh keluarganya menuju kehancuran yang paling berdarah.
"Iya... tolong antarkan saya," jawab Bellatrix pelan mengangguk pasrah.
Liam membukakan pintu penumpang depan mobilnya untuk Bellatrix dengan gerakan yang sangat ksatria. Saat pintu mobil tertutup dan Bellatrix sudah aman di dalam kabin yang hangat, Liam berjalan memutari kap depan mobilnya. Rintik hujan membasahi wajah barunya, mengalir turun di sela-sela rahangnya yang tajam.
Di dalam kegelapan malam, senyuman hangat di bibir Liam menguap tanpa bekas, digantikan oleh tatapan mata yang begitu dingin dan mematikan. Langkah pertamanya untuk masuk ke dalam rumah Gaizka Wijaya telah berhasil dieksekusi dengan sempurna tanpa meninggalkan satu pun jejak mencurigakan.
Iblis ini telah mengetuk pintumu, Paman, batin Liam saat ia masuk ke balik kemudi, siap membawa pion pertamanya menuju papan permainan yang sesungguhnya.