Nayara tak pernah menyangka, pria yang dinikahinya dengan penuh cinta, justru tega mengkhianatinya.
Adrian berselingkuh, bahkan menghamili wanita lain, di belakang dirinya.
Di tengah luka dan pengkhianatan, hadir seorang pria yang mencintainya.
Rendra, pria yang mencintai Nayara dalam diam dan bersedia memberinya ketulusan, dan cinta yang tak pernah ia dapatkan dari suaminya sendiri.
Kini, Nayara dihadapkan pada pilihan yang menyakitkan: bertahan demi pernikahan yang telah dikhianati atau pergi bersama luka yang belum sembuh.
Sementara itu, ada hati lain yang menunggunya, berharap suatu hari Nayara mampu membuka kembali pintu cintanya.
Namun, ketika Nayara akhirnya menentukan pilihannya, siapa yang akan ia genggam, suami yang mengkhianatinya, atau pria yang mencintainya? Dan akankah Adrian rela kehilangan istri yang selama ini ia sia-siakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22: Rencana Sejak Awal
____🌺
Pertanyaan itu meluncur begitu cepat hingga Marissa sempat terdiam.
"Kenapa Mama tidak menyuruhnya menikahi Selena sejak awa,l kalau perempuan itu bisa memberikan semua yang Mama inginkan?"
Marissa mengamati Nayara dari ujung kepala hingga kaki. Tatapannya begitu dingin, seolah sedang menilai barang yang sudah tidak lagi memiliki kegunaan.
"Karena dua tahun lalu, Selena terlalu ambisius. Dia bukan tipe perempuan yang cocok menjadi istri untuk menjaga nama baik keluarga di Mahendra."
Marissa menyandarkan punggungnya dengan santai.
"Sedangkan kamu berbeda. Kamu penurut. Kamu bisa diminta berhenti bekerja. Kamu pandai mengurus rumah dan tidak keberatan berada di belakang suamimu. Adrian membutuhkan istri sepertimu untuk mempertahankan citranya di mata publik sebagai pria berkeluarga yang harmonis."
Nayara membeku.
Kalimat itu terasa seperti tamparan yang jauh lebih menyakitkan daripada apa pun yang pernah ia terima.
Jadi, selama ini, itulah alasan dirinya dipilih?
Bukan karena Adrian mencintainya. Bukan karena keluarga Mahendra menganggapnya layak menjadi bagian dari mereka.
Melainkan karena ia cukup penurut untuk dijadikan wajah sempurna sebuah keluarga yang ternyata menyimpan begitu banyak kebusukan.
"Jadi ... selama ini aku cuma dijadikan pajangan?"
Suara Nayara melemah. Ia mengepalkan tangan di sisi tubuhnya, berusaha menahan gemetar yang semakin sulit dikendalikan.
"Aku berhenti bekerja demi anak Mama. Aku mengurus semua kebutuhannya setiap hari. Aku mengorbankan pekerjaan dan mimpi-mimpiku karena kupikir itulah yang harus kulakukan sebagai seorang istri."
Ia menatap Marissa dengan mata berkaca-kaca.
"Ternyata, semua pengorbananku hanya untuk,. dijadikan citra dan nama baik keluarga ini? Sementara di belakangku, kalian membiarkan perempuan lain masuk ke dalam pernikahanku?"
"Itulah pengorbanan menjadi seorang istri, Nayara."
Marissa menjawab seolah sedang memberikan nasihat bijak kepada seorang anak yang belum memahami kehidupan.
"Mama tidak bermaksud mencampuri urusan pribadi kalian. Mama membiarkan Adrian memilih caranya sendiri untuk bahagia. Kalau dia merasa Selena bisa menutupi kekuranganmu, Mama tidak akan ikut campur."
Marissa berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada dingin.
"Yang penting, Adrian tetap pulang ke rumah sebagai suamimu."
Nayara memandangnya dengan jijik.
"Kalian benar-benar menjijikkan!"
Air matanya menetes, tetapi ia segera mengusapnya dengan kasar. "Kalian semua sudah sakit jiwa."
"Jaga bicaramu di depanku!"
Marissa berdiri. Matanya melotot tajam, tidak terima mendengar menantunya berbicara seperti itu.
"Kamu pikir kehidupan nyaman yang kamu nikmati selama dua tahun ini gratis? Adrian bekerja setengah mati untuk mempertahankan posisinya di perusahaan! Dia pantas mendapatkan kompensasi atas semua kerja kerasnya!"
Marissa menunjuk Nayara dengan telunjuk gemetar. "Dan kalau kompensasi itu adalah Selena, kamu sebagai istrinya seharusnya tahu diri dan tutup mulut!"
Nayara menggelengkan kepala.
Rasa muak membuat perutnya terasa mual. Baru sekarang ia menyadari betapa luas kebohongan yang selama ini mengelilinginya.
Adrian yang sering pulang larut malam.
Rapat mendadak di luar kota.
Alasan pekerjaan setiap kali ia bertanya mengapa suaminya semakin sulit meluangkan waktu untuknya.
Bahkan pertengkaran mereka yang selalu berakhir dengan Adrian mengaku lelah bekerja.
Mungkinkah selama ini Marissa mengetahui semuanya?
Nayara mengangkat wajahnya kembali.
"Selama enam bulan ini, Mama tahu Mas Adrian sering pulang malam karena menemui Selena?"
"Ya. Mama tahu."
Jawaban itu keluar begitu lugas, tanpa keraguan sedikit pun.
Nayara merasa dadanya semakin sesak.
"Lalu saat peringatan hari pernikahan kami kemarin, ketika Mas Adrian pergi ke hotel bersama Selena ... Mama juga tahu?"
Marissa menghela napas panjang, tampak mulai kehilangan kesabaran menghadapi pertanyaan menantunya.
"Nayara, Mama punya orang-orang yang melaporkan jadwal Adrian di kantor. Tentu saja Mama tahu ke mana dia pergi. Tapi Mama tidak mau ikut campur. Itu urusan pribadi Adrian."
"Urusan pribadi?" ulangnya.
Nayara tertawa hambar. Air matanya terus mengalir, tetapi kini ia bahkan tidak lagi peduli untuk menyekanya.
"Lalu ketika dia menghamili perempuan itu, Mama juga akan mengatakan bahwa itu bukan urusan Mama?!"
Suaranya menggema di seluruh ruangan.
“Mama menggunakan bayi hasil perselingkuhan itu untuk menekan, aku! Mama memaksaku menerima anak itu demi nama baik keluarga Mahendra! Mama dan Mas Adrian sama saja!"
Nayara menatap ibu mertuanya dengan amarah yang nyaris tidak terbendung.
"Kalian sama-sama egois dan pengecut!"
Plak!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kiri Nayara.
Kepalanya terlempar ke samping. Rasa panas menjalar di kulit pipinya, disusul perih yang menusuk hingga ke telinga. Suara tamparan itu menggema di ruang keluarga yang luas.
Untuk beberapa saat, tidak ada yang bergerak.
Marissa menurunkan tangan kanannya. Napasnya memburu, sementara matanya menatap Nayara dengan kebencian yang tidak lagi disembunyikan.
"Jangan pernah menyebutku dan putraku pengecut di rumah ini!" bentaknya. "Kamu itu bukan siapa-siapa, Nayara! Keluarga ini yang mengangkat derajatmu! Beraninya kamu menghina kami setelah semua yang sudah kami berikan!"
Nayara perlahan mengangkat tangannya, menyentuh pipi kirinya yang terasa panas.
Ia memutar kepala dan kembali menatap Marissa.
Anehnya, tidak ada air mata baru yang jatuh.
Rasa sakit di pipinya tidak seberapa dibandingkan luka yang baru saja ditorehkan oleh pengakuan ibu mertuanya sendiri. Selama ini, ia masih berusaha menghormati Marissa, bahkan ketika perempuan itu berkali-kali merendahkannya.
Namun, sesuatu di dalam diri Nayara akhirnya patah.
"Kalian tidak memberiku apa-apa, selain kebohongan," ucapnya datar.
Suaranya begitu tenang hingga terdengar lebih mengerikan daripada teriakannya tadi.
"Kalian merampas dua tahun hidupku. Kalian membiarkanku percaya bahwa aku sedang membangun rumah tangga yang bahagia, padahal kalian tahu semuanya tidak seperti itu."
"Dan kamu harus tetap diam, dan menerima semua ini kalau kamu masih ingin hidup nyaman!" ancam Marissa.
Nayara tersenyum sinis.
"Aku tidak membutuhkan uang keluarga Mahendra, Ma. Ambil saja suamiku. Ambil saja Selena dan bayinya. Aku tidak peduli lagi."
Ia berbalik, bersiap meninggalkan rumah yang kini terasa seperti neraka baginya.
"Aku akan keluar dari rumah ini hari ini juga."
Nayara sudah melangkah beberapa langkah ketika suara Marissa kembali menghentikannya.
"Kamu pikir ini cuma soal bayi?"
Langkah Nayara terhenti.
Nada bicara ibu mertuanya berubah. Tidak ada lagi bentakan atau kemarahan yang meledak-ledak. Yang terdengar justru suara dingin seseorang yang sedang mempertimbangkan langkah berikutnya.
Nayara menoleh perlahan.
Marissa tidak lagi berdiri di dekat sofa. Ia berjalan menuju sebuah laci di sudut ruangan, membukanya, lalu mengeluarkan sebuah map cokelat.
Dengan langkah tenang, perempuan itu kembali menuju meja kaca dan melemparkan map tersebut ke atasnya, tepat di sebelah amplop hasil pemeriksaan kehamilan Selena.
"Kamu pikir keluarga Mahendra menerima Selena kembali hanya karena dia sedang mengandung cucuku?"
Marissa tersenyum meremehkan.
"Kamu terlalu polos, Nayara. Di dunia kami, tidak ada yang namanya kebetulan. Dan tidak semua tindakan dilakukan semata-mata karena cinta."
Nayara mengerutkan kening. Pandangannya beralih dari wajah Marissa ke map cokelat di atas meja.
"Apa maksud Mama?"
"Buka dan lihat sendiri."
Marissa menunjuk map itu dengan dagunya.
Dengan langkah ragu, Nayara mendekati meja kaca. Ia mengambil map tersebut, lalu membukanya perlahan.
Di dalamnya terdapat beberapa lembar dokumen berlogo Mahendra Group. Pada halaman pertama, tercantum draf perjanjian kerja sama perusahaan. Nayara membalik halaman berikutnya, berusaha memahami isi dokumen itu.
Namun, begitu matanya menemukan sebuah klausul khusus, tangannya seketika berhenti.
Ada nama Selena di sana.
Di bawahnya tercantum nama seorang direktur utama yang sangat Nayara kenal.
Napas Nayara tertahan. Jemarinya mencengkeram tepi kertas hingga lembaran itu sedikit tertekuk.
"Apa ini?" tanyanya lirih.
"Itu bukti bahwa dunia ini tidak berputar hanya di sekitar perasaanmu yang terluka," jawab Marissa dingin.
Perempuan itu melipat kedua lengannya di dada, mengamati perubahan raut wajah Nayara dengan kepuasan yang sulit disembunyikan.
Nayara kembali membaca klausul tersebut.
Semakin lama ia menatapnya, semakin sulit baginya untuk percaya bahwa dokumen itu benar-benar ada di tangannya.
Selena ternyata tidak sekadar kembali untuk merebut Adrian. Kehamilannya pun bukan satu-satunya hal yang membuat keluarga Mahendra bersedia menerimanya.
Ada kepentingan bisnis yang jauh lebih besar.
Dan nama Selena tercantum di dalamnya.
"Selama ini ... semua ini sudah direncanakan?" bisik Nayara.
Marissa tidak segera menjawab. Ia justru mendekat, lalu mengetuk salah satu bagian dokumen dengan ujung jarinya.
"Lihat klausul itu baik-baik, Nayara."
Nayara menurunkan pandangannya.
Di sana, tertulis sebuah ketentuan khusus yang berkaitan dengan Selena dan posisi penting dalam perusahaan.
emang lu doang yang bisa 🤣🤣