Karin gadis pemalas yang punya hobby nonton Drakor dan Dracin sepanjang masa remajanya, tidak menyangka bahwa nasibnya akan seperti di drama drama yang pernah ia tonton.
Diumur ke 20 tahun ia dipaksa menikah muda dengan Om Om yang di jodohkan Oleh Ayahnya.
Om Om itu adalah kolega bisnis Ayah Karin bernama Arjuna Prayoga.
Meskipun hanya berbeda 7 tahun tapi Karin yang saat itu masih kuliah, sangat sulit untuk menerima perjodohan dan pernikahan itu.
Apalagi Karin sudah memiliki pacar yang telah dipacarinya selama bertahun tahun bernama Kai Bagaskara seorang cowok populer dan sangat dicintainya.
Dapatkan Karin Lolos dari perjodohan yang disiapkan Ayahnya?
Ataukah pada akhirnya ia akan benar benar menikah dengan Om Arjuna?
Selamat membaca semoga kalian suka dengan karyaku, saranghae 🩷
BTW karena ini cerita tentang pernikahan Harap bijak sebelum membaca okey...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YirumaNitya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebuket Mawar Merah Tanda Cinta
Esoknya Karin sudah pindah ke Apartemennya Om Arjuna Prayoga.
Apartement itu sangat nyaman memiliki 4 kamar tidur, kamar tidur yang terbesar menjadi kamar utama, 1 Kamar untuk tamu, dan 2 kamar lain untuk ART dan juga menyimpan barang barang.
Arjuna memutuskan untuk membawa Karin tinggal di Apartment agar Karin lebih leluasa dan nyaman, daripada gadis itu harus tinggal bersama maminya dan Sekar.
Apalagi adiknya Sekar sangat cerewet dan Moodyan, pastinya tidak akan ngeklop dengan Karin yang masih bocil dan manjanya tidak ketulungan.
Meskipun tidak terlalu besar dan mewah namun tempat ini akan ia buat senyaman mungkin untuk ditinggali Istri kecilnya itu.
"Rin ini kamar kita ya, Om sudah atur lemarinya, yang sebelah sini bajunya om, yang sebelah situ punya Karin." Om Yayang memandu Karin di rumah baru mereka itu, kamar utamanya sangat luas, semua furniture dan dekorasi kamar ini terasa telah disesuaikan dengan selera Karin.
Karin mengangguk tak mau banyak bertanya, jiwanya seakan masih ada di rumahnya, di kamar nyaman milik Karin.
"Barang barang Karin sudah om suruh Bi Wati rapihkan, sekarang kamu istirahat aja ya, Om keluar dulu ada urusan dan mau beli beberapa barang yang lupa di beli."
"Iya" Jawab Karin sembari melihat lihat isi lemari pakaiannya
Ada beberapa baju asing yang terlihat dilemari itu, sepertinya Om Yayang menyiapkan beberapa pakaian dan aksesoris baru untuk Karin.
Lelaki itu berjalan keluar menjauhi Karin, keluar untuk membeli sesuatu seperti yang tadi di utarakan pada Karin.
Karin melamun, duduk di bibir kasur, ia masih memikirkan hidupnya yang tadinya sangat amat tenang, tiba tiba kini menjadi seakan jungkir balik di roller coaster.
Biasanya dia hanya memikirkan besok akan pakai baju apa saat ke kampus, akan makan dimana dengan teman temannya, akan nongkrong dimana sepulang ngampus, dan kegiatan kegiatan seputar kampus lainnya yang masih bisa otak Karin handle.
Tapi sekarang berbeda dia ada rumah lelaki yang tak pernah ia sangka sangka akan menjadi suaminya. Kini lelaki itu sekamar dengan Karin, berbagi kasur dan juga lemari bersamanya.
Seorang Arjuna Prayoga, pengusaha muda yang sedang naik daun berkat prestasinya di dunia bisnis dan teknologi.
Seorang Arjuna Prayoga sahabat dekat Om Danu Paman kesayangan Karin.
Seorang Arjuna Prayoga Om Om yang biasa Karin palak kalau sedang gabut bertemu dijalan atau di tempat tempat nongkrong bersama teman temannya.
Ini sungguh plot twist di kehidupan remaja Karina Melodi Pradipta si anak mommy yang manjanya tak ketulungan itu.
Kini Om Yayang bukan hanya menjadi teman sekamarnya tapi menjadi tempat dimana Karin harus pulang dan juga harus membaktikan diri padanya.
Lelaki yang harus bisa Karin cintai meski kini hatinya masih dipenuhi oleh Kaiziro Bagaskara.
Karin menarik nafasnya ada rasa berat terasa tertahan di dadanya, Karin bukan tidak menyukai Om Yayang, bagi Karin Om Yayang adalah sosok yang baik dan juga perhatian padanya, tapi baginya ia hanya seperti Om Danu, sosok yang di anggapnya keluarga.
Karin mengingat kejadian tadi pagi bersama suaminya, ciuman panas yang membuat Karin terngiang ngiang. Karin tidak munafik sebagai wanita normal sangat sulit menolak pesona Pria tampan dan mapan seperti Om Yayang, tubuh tingginya, wajah tampan dan badan kekar atletisnya sangat sulit baginya untuk menampik pesona lelaki itu, hanya hatinya tak bisa berbohong, hasrat seksual dan hati adalah dua hal yang berbeda.
Mungkin di depan Om Yayang Karin bisa terbawa suasana dan juga menikmati adegan mesra dengannya.
Tapi saat itu selesai, perasaannya kembali kosong, kembali mengingat Kai lagi dan lagi.
...----------------...
"Non." Seru bi Wati dari arah dapur, Bi wati adalah ART yang disiapkan om Yayang untuk melayani Karin dan dirinya di Apartement itu.
"Iya bi." Karin keluar dari kamarnya menghampiri ARTnya itu.
"Ada apa bi?"
"Non makan dulu, ini tadi tuan menyuruh bibi siapkan ini semua." Bik Wati menunjukan aneka makanan yang tersaji di meja.
Karin terbelalak kaget "Banyak banget bi, ini gak akan habis."
Di meja itu tersaji aneka lauk dan sayur seakan akan mau menyambut keluarga besar, juga ada buah potong dan aneka pudding.
Bik Wati tersenyum ramah "Kata Tuan biar bibi bisa lihat non Karin sukanya makan apa aja, nanti biar jadi sumber referensi bibi buat masakin non."
Karin terhenyak ternyata Om Yayang sebegitu perhatiannya dengan dirinya.
"Yaudah bibi ikut makan yuk sama Karin." Tawar Karin, dia tak mungkin juga bisa menghabiskan semua makanan itu.
"Enggak deh, non bibi udah kenyang." Tolak BI Wati dengan nada sopan.
"Yaudah Karin nunggu Om Yayang pulang aja deh bi." Ucap Karin, perutnya memang belum lapar, semakin banyak fikiran Karin malah jadi tidak nafsu makan.
Tak lama kemudian suami yang ditunggunya itu datang.
Pria dengan penampilan casual itu tampak kerepotan membawa barang belanjaan
Karin beranjak dari duduknya berniat membantu suaminya, namun Bik Wati yang sudah duluan cekatan menurunkan barang dari pangkuan Pria tampan itu.
Dari salah satu Paper Bag yang di bawanya Om Yayang mengeluarkan sebuah buket bunga mawar merah berukuran medium.
"Selamat hari pertama tinggal di rumah baru ya sayang." Ucapnya sembari memberikan buket itu ke tangan Karin.
Karin yang sejak tadi murung, menjadi tersentuh, ia refleks menarik sudut sudut bibirnya kemudian tersenyum.
"Nah gitu dong, istri Om harus bahagia." Lelaki matang itu tersenyum bahagia melihat Karin yang kini kelihatan lebih rileks.
Seharian ia memantau Karin dari CCTV dan terus melihatnya melamun dan nampak murung.
Hari itu Arjuna ada meeting dengan beberapa kenalannya, meeting santai sembari olahraga padel.
Makanya tadi ia meninggalkan Karin sendirian beberapa saat untuk meeting, pulangnya dia membelikan Karin banyak hadiah untuk menghiburnya.
"Makasih ya Om." Ucap Karin malu malu.
"Peluk dong." Kata Lelaki Tinggi menjulang dan sangat tampan itu.
Wajah Karin memerah karena tersipu, bik Wati yang juga sedang membereskan hadiah hadiah yang di bawa Om Yayang ikut senyam senyum.
"Malu ah ada Bik Wati." Kata Karin ngeles.
Tapi Om Yayang tak peduli akhirnya dia yang mendekat ke istrinya untuk memeluknya.
Diciuminya dahi Karin juga pipinya. "Rin, om sayang banget deh sama kamu, jangan sedih sedih terus dong."
"Iya." Ucap Karin lalu gadis itu menciumi buket bunga yang di pegangnya.
"Yaudah makan yuk, kamu pasti laper." Ajaknya.
Karin mengangguk, lalu ia meminta tolong Bik Wati untuk menyimpan buket mawar pemberian om Yayang.
Kini mereka berhadap hadapan di meja makan.
Om Yayang nampak lahap memakan sajian itu, beda lagi dengan Karin yang masih makan sedikit karena tidak nafsu makan.
Lelaki itu selesai makan tapi dilihatnya Karin masih mengunyah makanan itu dengan enggan.
"Karin gak suka masakannya?" Tanya Om Yayang membuyarkan lamunan Karin walau sedang makan.
"Suka kok, masakannya enak, cuma Karin lagi gak enak perut aja om." Katanya beralasan.
Tanpa disangka sangka Om Yayang bangkit dari duduknya berpindah duduk menjadi duduk di sebelah Karin.
"Sini biar om suapin aja." Kini Om Yayang merebut sendok yang sejak tadi Karin pegang.
Ia menyendokan lauk dan sayur juga nasi dalam satu suapan yang harus di makan Karin.
"Aaaaa" Katanya memandu Karin.
"Om Karin bisa makan sendiri." Tolak gadis itu agak risih, apalagi Bik Wati masih ada disana.
"Buka mulutnya terus makan, kalau bandel nanti om cium sampe gak bisa bangun." Ancam Om Yayang membuat Karin terpaksa membuka mulutnya.
Kini Pria itu sibuk menyuapi Karin, Karin dengan patuh memakan makanan yang diberikan suaminya.
"Karin udah kenyang om." Ujarnya ketika piringnya sudah hampir kosong.
"Dikit lagi dong Rin, tinggal 3 suap." Bujuk lelaki dengan lesung pipi kecil di sebelah kiri bibirnya itu.
Karin menurut, akhirnya piringnya kosong.
Om Yayang mengambilkan segelas air untuknya. Karin meminumnya beberapa teguk.
"Kalau Karin males makan lagi, om bakal suapin ya, jadi kamu gak ada alesan buat gak makan." Wajah Suami Karin itu nampak serius.
"Rin Om bawa Karin dari rumah, dalam keadaan sehat dan cantik, masa Karin jadi sakit pas udah tinggal sama Om, Om malah pengen jadiin Karin lebih sehat dan lebih cantik lagi dari sebelumnya, ngerti."
Ego Karin jadi menurun, ternyata Om Yayang tidak seburuk yang Karin fikirkan, ternyata dia sangat memperdulikannya.
Karin tertunduk ada rasa bersalah yang dia rasakan, seharian ini dia memikirkan Kai, padahal ternyata suaminya begitu sangat memperdulikannya.
Apakah kelak Karin akan bisa mencintai suaminya itu?