Alina Elviana dan Rafael Mahendra menikah karena perjodohan. Namun hati Rafael tak pernah benar‑benar di sini, ia masih menyimpan perasaan pada seseorang di masa lalunya.
Revan Adinata, asisten yang bergabung enam bulan lalu, justru lebih memahami Alina, hadir mengisi kekosongan yang ditinggalkan suaminya. Namun di balik sikap tenang dan setianya, Revan menyimpan rahasia besar yang tak boleh terungkap.
Saat perasaan terlarang mulai tumbuh, Alina harus memilih: bertahan dalam pernikahan yang hampa, atau mengikuti suara hati yang terancam hancur saat kebenaran terungkap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 15
Deg…
Jantung Alina berdegup kencang. Ia terkejut sejenak, tapi segera menarik napas panjang untuk menenangkan diri. Perlahan ia bangkit berdiri, tatapannya tetap lurus ke arah kedua wanita itu. Citra juga ikut berdiri di sampingnya, siap mendukung sahabatnya.
Amara mengeluarkan jam tangan dari tas selempangnya, lalu mengulurkannya ke depan Alina.
"Jam tangan Rafael semalam tertinggal di apartemenku. Tadinya aku ingin mengembalikannya besok setelah selesai pemotretan, kebetulan bertemu denganmu di sini, jadi kuberikan saja padamu."
Alina masih berusaha tampak tenang meskipun dadanya terasa sesak seperti terhimpit batu. Ia mengulurkan tangan dan menerima jam itu dari genggaman Amara. Saat wanita itu mengangkat tangan satunya untuk merapikan rambut ke belakang, lehernya terbuka dan terlihat jelas bercak kemerahan samar di sana.
Alina menyunggingkan senyum tipis yang dingin. Ia tahu betul tanda apa itu.
"Terima kasih sudah mengembalikannya," ucapnya singkat, tidak ada nada ramah sedikit pun. Ia menyelipkan jam tangan itu ke dalam tasnya. "Kami harus pulang sekarang."
Ia menoleh ke arah Citra, memberi isyarat untuk pergi. Citra melirik tajam ke arah Amara sebelum berjalan mengikuti Alina keluar dari kafe. Revan yang sedari tadi mengawasi segera berjalan mengikuti dua wanita itu keluar.
Begitu keluar dari kafe, Alina tidak mempedulikan apapun lagi. Ia bergegas menuju mobil sport merah itu, naik ke kursi kemudi, lalu menyalakan mesin dengan bunyi menderu keras. Tanpa menunggu siapa pun, ia menekan gas dan mobilnya melaju cepat meninggalkan area kafe.
Revan berlari ke depan, terhenti di samping Citra yang masih berdiri mematung, wajahnya penuh kebingungan sekaligus kekhawatiran menatap bayangan mobil Alina yang sudah menghilang di tikungan jalan. Ia segera menoleh ke kanan‑kiri, matanya mencari‑cari jalan untuk mengejar.
Di pinggir halaman kafe, seorang pemuda baru saja tiba dan sedang memarkir motor besarnya. Revan segera berlari mendekat, mengeluarkan dompet dari saku celananya, mengambil surat izin mengemudi lalu menyerahkannya kepada pemuda itu.
"Pinjam motormu. Nanti aku kembalikan," ucapnya dengan nada terburu-buru.
Pemuda itu terkejut sejenak, menatap kartu di tangannya, lalu mengangguk.
"O-oke."
Revan segera melompati jok motor, menyalakan mesin dan melaju kencang menyusuri jalan yang sama dengan arah kepergian Alina.
Alina terus melajukan mobil sport merahnya dengan kecepatan tinggi, tatapannya kosong menatap jalan di depan. Saat mereka memasuki jalan yang melewati area perkebunan yang agak sepi, Revan menekan gas hingga batas maksimal, menyalip dari sisi kiri, lalu memotong laju mobil Alina dan berhenti mendadak tepat di depannya.
Alina terkejut, ia menginjak rem sekuat tenaga. Ban mobil berderit keras di atas aspal panas, mobilnya berhenti tepat beberapa meter dari motor Revan.
Ia memegang kemudi dengan tangan gemetar, dadanya naik‑turun karena napas yang terengah‑engah.
Revan segera turun dari motornya, berlari mendekat ke sisi pintu kemudi Alina. Ia mengetuk kaca jendela mobil dengan nada cemas.
"Alina! Buka pintunya!" serunya.
Alina mendorong pintu mobil terbuka lebar, wajahnya memerah karena marah dan ketakutan. Ia menatap tajam ke arah Revan yang berdiri di depan pintu.
"Revan, kamu mau mati ya! Hampir saja aku menabrakmu!" suaranya bergetar karena emosi yang meluap‑luap.
"Kalau aku tidak memotong jalanmu, kamu akan terus melaju terlalu cepat sendirian di jalan sepi ini. Aku tidak ingin sesuatu terjadi padamu." potong Revan, suaranya terdengar tegas.
Alina terdiam sejenak, pikirannya kembali teringat jam tangan dan tanda di leher Amara. Rasa marah bercampur sakit hati membuat matanya berkaca‑kaca.
"Kamu tidak perlu khawatir tentangku. Ini urusanku, bukan urusanmu!"
Revan melangkah mendekat perlahan, matanya tak berpaling dari mata Alina yang berkaca‑kaca. Jari‑jemarinya mengusap lembut sudut mata wanita itu yang mulai basah.
"Tentu saja urusanku, Alina. Rafael sendiri yang menyuruhku untuk menjagamu. Jadi apapun tentang kamu itu adalah urusanku."
Alina memalingkan wajah ke samping, mencoba menghindari sentuhannya, tapi air mata akhirnya menetes jatuh ke pipinya.
"Revan..." panggilnya dengan suara bergetar. "Tentang ucapanmu kemarin, apakah masih berlaku?"
Revan tertegun sejenak, tatapannya melembut saat mendengar pertanyaan itu.
"Kamu bertanya apakah aku mau mempertimbangkan kamu," lanjut Alina, menatap mata Revan dalam-dalam, suaranya pecah antara gengsi dan putus asa. "Aku sudah membuat keputusan. Kalau Rafael bisa menghabiskan malam dengan wanita lain, kenapa aku tidak? Jadilah pria-ku, Revan."
Sudut bibir Revan menyunggingkan senyum tipis, ia mendekatkan wajahnya semakin dekat. Satu tangannya diletakkan di bodi mobil, membatasi ruang gerak Alina di antara tubuhnya dan pintu mobil. Napas hangatnya menyentuh wajah Alina, bibir mereka hanya berjarak beberapa inci.
"Kamu yakin? Masih ada waktu satu menit untuk berubah pikiran, Alina."
Alina menelan ludah susah payah, jari-jemarinya mencengkeram pinggiran pintu mobil hingga memutih. Bahunya sedikit bergetar, tapi tatapannya tetap tegas menatap mata Revan.
"Aku yakin. Aku tidak akan berubah pikiran lagi."
Revan terdiam sejenak, matanya meneliti wajah Alina yang tampak rapuh namun berani mengambil keputusan besar itu. Belum sempat ia melangkah lebih jauh, suara deru mobil lain terdengar mendekat dari kejauhan, memecah keheningan jalan perkebunan yang sepi itu. Ia sedikit menoleh ke arah suara itu, lalu kembali menatap Alina dengan tatapan yang penuh perhitungan.
"Kalau begitu... ayo kita pergi dari sini dulu. Tempat ini tidak aman untuk membicarakan hal sepenting ini."
Alina masih menatapnya, napasnya belum teratur. Revan perlahan menarik tangannya dari bodi mobil, memberi sedikit ruang, tapi matanya tidak lepas dari wanita itu.
"Mobil merah ini terlalu mencolok. Kamu ikut denganku," lanjut Revan pelan, suaranya hampir berbisik di dekat telinganya.
"Tapi kita mau ke mana, Revan?" tanya Alina ragu.
Revan tersenyum tipis, tatapannya dalam dan tajam. Ia mencondongkan tubuh sedikit lagi, suaranya hanya cukup untuk didengar Alina.
"Ke hotel."
Jantung Alina mencelos mendengarnya. Ia menatap Revan, mencoba mencari keraguan di mata pria itu, tapi yang ia temukan hanya ketenangan yang mengendalikan.
-
-
-
Bersambung...
Maybe gt🤭
Konfliknya berlapis, bukan cuma soal Alina - Rafael - Revan. Tapi ada 2 bom waktu di sini:
Cinta terlarang Alina & Revan dan rahasia besar Revan.
Rafael sebagai suami yang dingin karena masa lalu, Revan sebagai penyelamat yang tenang dan setia. Kontrasnya dapet. Alina berada di posisi dilema dengan pilihan berat "bertahan dalam pernikahan hampa atau mengikuti suara hati". Itu bukan pilihan mudah. Apalagi ada embel-embel "Di Bawah Kendali Asisten Suami" - yang mengisyaratkan dominasi, posesif. Ini bukan cerita nikah biasa, ini cerita tentang kekosongan yang akhirnya diisi oleh orang yang seharusnya tidak boleh.
cerita kakak luar biasa. semangat berkarya🥰