Chandra adalah dewa jatuh yang turun ke bumi menjadi manusia, dia tidak menyadari kekuatan dewa nya tidak hilang. Kesehariannya adalah melukis dan menjualnya di pasar, hidupnya berubah setelah memasuki galeri teratai hitam menemukan banyak keberuntungan dan juga harem yaitu Yueji siluman rubah ekor sembilan cantik dan mempesona, . Apakah hubungan Chandra akan menyadari bahwa dirinya adalah seorang dewa jatuh setelah bertemu Yueji?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Musang_Galau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jangan Ganggu Suamiku
Mobil Chandra kini sudah sampai di area basement mall.
"Kita sudah sampai, ayo keluar."
"Ayoo..." serempak Yueji dan Sisi bersiap keluar mobil.
"Sebentar!!" teriak Chandra menahan.
Mereka kembali duduk. Yueji lalu memandangi suaminya itu.
"Ada apa, Sayang? Bukannya sudah sampai?"
"Kamu ini, aku baru sadar. Kok kamu pakai baju kuno lagi? Kan aku sudah belikan pakaian baru!" Chandra menggerutu ke istrinya.
"Aihh, aku lupa."
Tring! (Yueji menjentikkan jarinya)
"Nah, sudah cantik kan, Sayang?" ucap Yueji sambil tersenyum.
"Wuanjir, cepet banget! Perasaan waktu pertama harus aku bawa ke toilet dulu."
"Itu karena suamiku terlalu bawel, makanya aku nurut saja."
"Bawel? Aku?" Jari Chandra menunjuk ke wajahnya sendiri.
Lalu Yueji memegang kedua pipi suaminya.
"Becanda, Sayang. Muach!" Bibir Yueji mendarat sempurna di pipi Chandra.
"Aihh..." Sisi refleks menutup mata dengan tangannya.
"Baiklah, kamu pengertian juga," ucap Chandra yang kini salah tingkah, lalu keluar dari mobil.
Mereka bertiga pun berjalan menyusuri mall, melihat toko pakaian yang begitu gemerlap dengan cahaya lampu yang mewah.
"Wahh, cantik sekali ya." "Benar, cosplay yang sangat bagus." "Sepertinya dia bidadari."
Ucap para pengunjung yang memandangi Sisi. Hampir setiap orang memuji kecantikannya.
"Terima kasih... Terima kasih..." Begitu pun Sisi, setiap ada yang memuji, dia tertunduk membalasnya dengan senyuman.
"Ada apa sih?" Chandra menoleh ke belakang.
"Ehh, tidak boleh!" bentak Yueji.
"Emang ada apa sih, Sayang?"
"Pandangi aku saja!" ucap Yueji sambil mendekap wajah suaminya, mengarahkannya tepat ke wajahnya sendiri.
"Iya, aku juga tahu kamu cantik, Sayang."
"Gitu doang? Muach!" Kembali Chandra dicium oleh Yueji.
"Aihh, kamu ini. Di tempat ramai masih saja gitu..." Chandra mengerutkan dahinya sambil menggerutu.
"Wah, pasangan yang lucu. Tapi serasi ya, yang satu tampan, yang satu cantik..."
Mendengar pujian pengunjung tersebut, seketika Chandra menarik pinggang istrinya.
"Heheh, terima kasih."
"Umm... tadi bilangnya tidak mau."
"Sudah-sudah, ayo kita masuk ke toko itu."
"Hemm."
Mereka pun saling merangkul, dengan Sisi mengekor di belakangnya.
"Wah, pakaiannya bagus-bagus!" Yueji memegang beberapa pakaian di toko tersebut.
"Nyonya, pakaian begini sangat minim. Sungguh tidak sopan..." ucap Sisi sambil mengerutkan dahinya.
"Yeh, kuno! Kamu cocok banget kalau pakai ini."
"Sayang, aku ke kamar mandi dulu ya," ucap Chandra sambil mencari toilet toko.
"Iyahh..." jawab Yueji singkat.
Chandra merapikan pakaiannya sambil bercermin di toilet.
"Sudah kuduga, aku ini memang tampan. Untung Yueji cantik, jadikan cocok."
Dia kembali keluar menyusul istrinya.
"Lah? Dia ke mana?" Chandra kebingungan, istri dan pelayannya hilang dari pandangan.
"Sudahlah, di toko sebesar ini paling mereka cari pakaian yang pas."
Chandra kembali berjalan mencari pakaian untuk istrinya. Karena Chandra begitu hafal ukuran tubuh istrinya, dia mencoba memilihkan pakaian.
"Selamat siang, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?" Terlihat seorang pelayan toko berdada besar, dengan wajah jutek menyapa Chandra.
"Wahh, ukuran apa ini, besar sekali!" Begitu kagum Chandra melihat hal tersebut dalam hati.
"Apa kamu mau coba pegang, Tampan?"
"Ehh!" Chandra terkejut mendengar ucapan tersebut, lalu refleks mundur tiga langkah.
"Maaf Nona, saya sudah beristri," Chandra menunduk malu.
"Aku ini ngomong apa barusan, cari masalah saja!" batin Chandra yang merasa khilaf.
"Ohh, takut istri ya? Kulihat kamu tampan dan juga punya uang, tidak seharusnya cuma memiliki satu istri." Pelayan toko itu semakin agresif, lalu menyodorkan dadanya tepat di depan wajah Chandra.
"Wuanjir, ujian jenis apa lagi ini!" batin Chandra kembali berteriak, lalu dia mundur satu langkah lagi.
Terlihat wanita itu melirik keadaan sekitar, lalu mencengkeram tangan Chandra.
"Coba saja pegang dulu!"
"Ti-ti-tidak, Nona! Ini tidak pantas!"
Tiba-tiba, cengkraman kuat menerkam lengan wanita tersebut, membuat darah segar membasahi lantai.
"Ohh, kamu mau mencuri suamiku rupanya!"
Wajah pelayan itu sontak melotot, namun mulutnya seolah terkunci dan tidak bisa berteriak.
"Suamiku, sepertinya kamu harus dapat hukuman malam ini," ucap Yueji dengan senyuman manis menghadap Chandra, namun tangannya sama sekali tidak melepaskan cengkraman pada pelayan tersebut.
"A-a-apa, aku? Aku tidak melakukan apa-apa!" ucap Chandra menunjuk hidungnya sendiri dengan panik.
"Haha, sebentar ya Suamiku, aku bereskan dulu anak ayam ini."
Yueji pun menarik pelayan tersebut masuk ke dalam ruang ganti.
RAAWRRR! (Suara raungan samar terdengar)
Tak lama, Yueji melangkah keluar dengan anggun lalu merangkul tangan Chandra.
"Hey, pelayan, kemarilah," ucap Yueji dengan wajah tersenyum.
Pelayan wanita itu keluar perlahan dari ruang ganti dengan wajah ketakutan dan begitu pucat.
"Semuanya berapa? Suamiku mau bayar," ucap Yueji sopan.
"Se-se-semuanya... sepuluh juta, Nyonya," ucap pelayan tersebut dengan badan bergetar hebat.
"Suamiku, bayar ya."
"Hah! Sepuluh juta?!" teriak Chandra terkejut.
"Ohh, kamu tidak mau bayar ya?" Yueji menatap tajam wajah suaminya.
"Hehe, baik Sayang, aku bayar."
Ting-Tong! (Pembayaran Berhasil: 10 Juta Rupiah)
Pelayan itu membungkuk dengan badan yang masih bergetar hebat.
"Terima kasih banyak, Nyo-nyo-nyonya..."
Wajah Chandra terlihat frustrasi sekali, belanja baju saja langsung melayang sepuluh juta.
"Sayang, kamu tidak suka membahagiakan aku?" tanya Yueji anggun.
"Suka, sangat suka, Sayang! Kalau seperti ini terus, aku pastikan kamu punya sepuluh anak denganku!" Begitu geram Chandra sampai bicaranya sambil menggigit gigi.
"Hahaha, ummm... mau!" jawab Yueji manja.
Mereka pun kini pergi meninggalkan toko tersebut.
BRUKK!!
Pelayan tersebut kini jatuh tersungkur di lantai toko.
"Mama, aku mau berhenti bekerja! Huuaaaa!" Dia menangis histeris di dalam toko tersebut.
Chandra yang baru keluar toko terkejut mendengar jeritan itu.
"Waduh, kok dia nangis?"
"Biarkan saja, Sayang," jawab Yueji santai.
"Kamu apakan dia tadi?" tanya Chandra keheranan.
"Gak apa-apa, cuma kasih peringatan saja," jawab Yueji tersenyum.
"Ayooo, Sayang..."
"Ehhh... ehhh..." Chandra pun kini ditarik oleh Yueji menuju ke basement.
"Akhirnya selesai juga," ucap Chandra yang kini sudah duduk lega di kursi mobil.
Tiba-tiba tangan Yueji menarik tangan Chandra, lalu menaruhnya tepat di atas dadanya.
"Loh, Sayang, gimana aku bisa menyetir kalau satu tanganku kamu tawan!"
"Kamu mau pegang dada wanita tadi, kan?"
"Kamu salah paham!"
"Tidak percaya! Pokoknya tangan ini harus tetap di sini!" Yueji merajuk dengan wajah cemberut.
Sisi di belakang hanya melongo melihat kedua tuannya saling berargumen. "Hehehe..."
"Sayang, ayolah... aku mau mengemudikan mobil."
"Kamu! Emangnya dadaku kecil sampai kamu melirik dia?!" Yueji kini marah dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Ehh, bu-bu-bukan gitu, Sayang..."
"Terus apa, hah?!"
"Ehh..."
Yueji lalu melepaskan tangan Chandra, dan menangis menutup wajah dengan kedua tangannya.
Badan Chandra mulai merangkul tubuh Yueji dan memeluknya erat.
"Maafkan aku, Sayang... Aku janji tidak akan gitu lagi."
Yueji masih menangis tersedu-sedu di dalam pelukan.
TITTTTITT... TITTT...!
"Woy! Jadi keluar tidak?! Aku mau parkir ini!" teriak seorang pengunjung dari mobil lain.
Yueji yang sedang berpelukan dan menangis, tiba-tiba kesal. Mata rubahnya bangkit dan ekor ghaibnya terlihat menembus mobil, menempeleng mobil pengunjung tersebut sampai berputar dan menabrak tiang basement!
BRAKK! TUTT... TUTTT! (Suara benturan keras disusul sirine alaram mobil)
"Suara apa barusan?" Chandra berusaha bangkit dari pelukannya untuk melihat ke luar.
Tapi dia ditahan oleh Yueji yang makin mengencangkan tangisannya.
"Hihihi..." Sisi tertawa di belakang melihat kejadian tersebut.
KRING... KRING... KRINGGG!
"Halo, Paman? Oh iya baik, kami segera pulang."