Aku masuk ke dalam tubuh calon permaisuri sial dan terdampar di Kerajaan Langit. Di kepalaku, Sistem yang jatuh dari langit aktif!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ve Love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21 - GERHANA BULAN DAN PILIHAN TERAKHIR
Tujuh hari setelah penolakan surat cinta Pangeran Tirta di Danau Biru, seluruh Kerajaan Langit sibuk membicarakan satu hal.
Gerhana Bulan Penuh.
Menurut Kitab Langit yang disimpan di Perpustakaan Terlarang, gerhana bulan penuh hanya terjadi seratus tahun sekali. Saat itu, gerbang antara dua dunia akan terbuka di puncak Candi Langit yang ada di belakang istana. Gerbang itu hanya terbuka selama satu jam, saat bulan benar-benar tertutup bayangan bumi dan langit menjadi gelap gulita.
Dan menurut buku putih masa depan ku, malam ini adalah malamnya.
Di halaman terakhir buku putih yang sudah tidak lagi menulis dengan sendirinya sejak aku menolak Tirta, ada tulisan terakhir yang muncul dengan tinta yang berkilauan seperti bintang.
"Hari ke-30: Gerhana Bulan Penuh. Pukul 00:00 tepat. Puncak Candi Langit. Dua pilihan: Masuk ke dalam cahaya putih untuk pulang ke abad 21 sebagai Rania, mahasiswi UGM 2023. Atau tetap di sini, bakar buku putih ini di dalam api persembahan, dan menjadi Kahiyang Gayatri Ayuningtyas selamanya, Permaisuri Sejati Kerajaan Langit dengan mahkota emas murni. Tidak ada pilihan ketiga. Waktu hanya satu jam. - Rania."
Aku membaca tulisan itu berulang-ulang di Paviliun Mawar ku, dengan tangan gemetar.
Pulang ke abad 21. Kembali menjadi Rania, mahasiswi Sejarah UGM angkatan 2023, yang bisa minum boba, main HP, nonton drakor, dan bertemu dengan keluarga Adiningrat yang asli yang mungkin sedang mencariku di dunia nyata.
Atau tetap di sini. Menjadi Kahiyang selamanya. Menjadi Permaisuri Sejati dengan mahkota emas murni, istri dari Segara El-Bhumi, Kaisar Tanpa Hati yang sekarang sudah menjadi Kaisar Cinta Mati, yang memelukku dengan canggung di lumbung padi dan erat di Danau Biru.
Pilihan yang sangat berat. Lebih berat dari 100 peti emas Pangeran Tirta.
Sejak pagi, Segara terlihat gelisah. Dia bolak-balik dari Balairung ke Paviliun Mawar ku, tanpa alasan yang jelas. Kadang hanya untuk memberikan teh mawar, kadang hanya untuk memastikan aku ada di paviliun.
"Kahiyang, malam ini ada gerhana bulan penuh. Jangan keluar dari paviliun ya. Konon gerhana itu membawa angin jahat," katanya siang tadi dengan suara yang berusaha terlihat santai, tapi matanya cemas.
Aku hanya tersenyum. "Ya, Gusti Kaisar."
Dia tidak tahu tentang buku putih itu. Dia tidak tahu tentang pilihan pulang itu. Hanya aku dan buku putih itu yang tahu.
Malam tiba dengan cepat.
Pukul 23:00, langit mulai gelap perlahan. Bulan purnama yang biasanya terang, perlahan-lahan tertutup bayangan hitam. Satu per satu bintang muncul lebih terang dari biasanya.
Seluruh istana mematikan semua lentera, sesuai adat saat gerhana. Hanya ada satu tempat yang tetap menyala terang: puncak Candi Langit di belakang istana, tempat api persembahan untuk gerhana dinyalakan oleh para pendeta.
Aku memakai gaun putih sederhana, bukan gaun emas atau biru langit. Gaun putih yang aku pakai pertama kali saat terdampar di dunia ini. Di dalam selendang putih ku, aku menyelipkan buku putih masa depan itu.
Mbok sudah aku suruh tidur lebih awal. "Mbok tidur saja, saya ingin melihat gerhana dari teras saja."
Pukul 23:45, aku menyelinap keluar dari Paviliun Mawar, lagi-lagi lewat jendela belakang, memakai jubah hitam Mbok yang kebesaran itu. Aku berlari kecil menuju puncak Candi Langit yang ada di atas bukit kecil di belakang istana.
Candi Langit itu adalah candi yang sangat tua, terbuat dari batu hitam. Di tengah candi ada altar batu besar dengan api persembahan yang menyala biru, bukan merah seperti api biasa.
Dan di belakang altar, saat bulan hampir tertutup total, perlahan-lahan muncul sebuah lingkaran cahaya putih yang berputar-putar seperti pusaran air. Cahaya itu bening, tenang, dan di dalamnya terlihat bayangan-bayangan gedung-gedung tinggi, motor-motor yang lalu lalang, dan sebuah kampus dengan tulisan besar UGM.
Gerbang pulang ke abad 21. Terbuka.
Aku berdiri di depan gerbang itu dengan napas terengah. Di satu sisi, aku melihat masa depan ku yang modern, yang nyaman, yang aku rindukan.
Di sisi lain, di belakangku, aku mendengar suara langkah kaki yang berlari dan terengah.
"KAHIYANG!"
Segara El-Bhumi datang berlari dengan jubah hitamnya yang tidak rapi, tanpa mahkota, rambutnya berantakan karena berlari mendaki bukit. Wajahnya pucat karena panik.
"Kahiyang, apa yang kau lakukan di sini? Aku sudah bilang jangan keluar! Dan apa cahaya putih itu?!" teriaknya sambil menarik tanganku menjauh dari pusaran cahaya putih itu.
Dia menatap pusaran cahaya itu dengan mata membelalak. Dia melihat gedung-gedung tinggi di dalam cahaya itu.
"Apa itu? Apa itu dunia dewa?" tanyanya dengan suara gemetar.
Aku menatapnya. Matanya yang sedalam samudra itu penuh dengan ketakutan. Ketakutan kehilangan.
Aku mengeluarkan buku putih itu dari balik selendang ku dan memberikannya padanya.
"Gusti Kaisar, ini... ini surat dari masa depan saya. Saya bukan Kahiyang Gayatri Adiningrat yang asli. Saya adalah Rania, dari 800 tahun di masa depan. Saya terdampar di sini karena buku ini. Dan malam ini, gerbang untuk pulang ke masa depan saya terbuka. Saya punya satu jam untuk memilih. Pulang, atau tetap di sini selamanya," kataku dengan suara bergetar, air mata menetes.
Segara mengambil buku putih itu dengan tangan gemetar dan membukanya. Halaman-halamannya yang dulu kosong, sekarang terisi penuh dengan tulisanku dan tulisan Rania.
Dia membaca dengan cepat, dengan napas tertahan.
Saat selesai membaca, dia menatapku. Wajahnya yang dingin itu sekarang penuh dengan air mata yang mengalir tanpa bisa ditahan. Kaisar Tanpa Hati menangis lagi, untuk kedua kalinya, di puncak Candi Langit.
"Jadi... jadi semua obat dewa mu, semua drainase mu, semua lipstik surga mu... semua itu dari masa depan? Kau bukan dari keluarga Adiningrat?" bisiknya.
Aku mengangguk sambil menangis. "Maafkan saya, Gusti Kaisar. Saya berbohong. Saya berbohong tentang keluarga Adiningrat."
Dia menggeleng dengan cepat dan memelukku erat, sangat erat, dengan buku putih itu masih di antara kami.
"Tidak! Jangan minta maaf! Kau tidak berbohong! Kau adalah Kahiyang ku! Kahiyang yang kotor karena lumpur, Kahiyang yang membuat teh mawar asin, Kahiyang yang memelukku di lumbung padi! Itu kau! Bukan keluarga Adiningrat!"
Dia memelukku semakin erat, seolah jika dia melepaskan, aku akan langsung masuk ke dalam cahaya putih itu.
"Kahiyang, jangan pulang. Kumohon, jangan pulang. Jika kau pulang ke dunia dewa mu itu, siapa yang akan membuat Paviliun Mawar ku ramai dengan tawa? Siapa yang akan mengajariku menggali selokan? Siapa yang akan memelukku saat aku demam?" bisiknya di telingaku dengan suara yang hancur dan putus asa.
Pukul 00:00 tepat. Bulan tertutup total. Langit gelap gulita. Hanya ada cahaya biru dari api persembahan dan cahaya putih dari gerbang pulang.
Waktu satu jam ku dimulai. Gerbang itu berputar semakin cepat, seolah memanggilku.
Aku menatap gerbang itu. Di dalamnya aku melihat bayangan diriku sendiri memakai jaket almamater UGM, tertawa bersama teman-teman, minum boba.
Aku menatap Segara yang memelukku erat dengan air mata di wajahnya yang dingin itu.
Aku harus memilih.
Aku melepaskan pelukan Segara dengan pelan. Aku mengambil buku putih itu dari tangannya.
Lalu, dengan langkah mantap, aku berjalan menuju api persembahan yang menyala biru di altar.
"Kahiyang! Apa yang kau lakukan?!" teriak Segara panik.
Aku menoleh padanya dengan senyum yang paling tulus dan paling santai yang pernah aku buat, senyum yang sama seperti saat aku pertama kali menyeduh teh mawar untuknya.
"Gusti Kaisar, di dunia saya, ada pepatah: pulang itu bukan tentang tempat, tapi tentang di mana hati merasa hangat," kataku.
Aku melemparkan buku putih masa depan itu ke dalam api persembahan yang menyala biru.
*Wusss!*
Buku putih itu terbakar dengan cepat. Api biru berubah menjadi api emas yang sangat terang, menyilaukan.
Bersamaan dengan terbakarnya buku itu, pusaran cahaya putih gerbang pulang itu bergetar hebat, lalu perlahan-lahan mengecil, mengecil, dan akhirnya... hilang. Hilang total bersamaan dengan buku putih yang menjadi abu emas.
Gerbang pulang ke abad 21 tertutup selamanya.
Aku telah memilih untuk tetap di sini.
Saat api emas itu padam, di atas altar batu tempat buku itu terbakar, muncul sebuah mahkota yang sangat indah. Mahkota emas murni dengan ukiran bunga mawar yang sangat halus, dengan satu permata merah delima di tengahnya yang berkilauan seperti lipstik ku.
Mahkota Permaisuri Sejati.
Segara yang melihat semua itu, berlari dan memelukku dari belakang dengan sangat erat, dengan tangis yang pecah.
"Kau... kau membakar pintu pulang mu... demi aku? Demi lumbung padi yang berdebu itu?" bisiknya dengan suara yang tidak percaya dan bahagia sekaligus.
Aku berbalik dan mengangguk di dalam pelukannya. "Ya, Gusti Kaisar. Karena lumbung padi itu lebih hangat daripada gedung-gedung tinggi di dalam cahaya tadi. Dan karena pelukan canggung Gusti lebih nyaman daripada boba di dunia saya."
Di langit, gerhana bulan penuh perlahan-lahan berakhir. Bulan mulai terbuka sedikit, cahaya perak mulai menerangi puncak Candi Langit.
Segara melepaskan pelukanku dan dengan tangan gemetar, dia mengambil mahkota emas murni dengan permata merah delima itu dari altar dan meletakkannya dengan sangat hati-hati di atas kepalaku.
Mahkota itu pas sekali, seolah memang dibuat untukku.
"Kahiyang Gayatri Ayuningtyas, Permaisuri Sejati Kerajaan Langit, istriku," bisiknya dengan suara yang bergetar dan mata yang masih basah.
Malam itu, di puncak Candi Langit yang sepi, di bawah bulan yang baru saja mengalami gerhana seratus tahun sekali, Kaisar Tanpa Hati yang sudah menjadi Kaisar Cinta Mati itu, mencium kening permaisurinya yang sudah memilih untuk tetap tinggal selamanya, dengan mahkota emas murni di kepalanya.
Alurnya memang santai malam ini, hanya membakar buku dan memilih.
Tapi ngena sekali, karena pilihan itu, adalah pilihan terakhir dan selamanya. Tidak ada lagi pintu pulang. Tidak ada lagi Rania dari UGM 2023. Yang ada hanya Kahiyang, Permaisuri Mawar, dengan mahkota emas murni dan pelukan hangat di bawah bulan gerhana.