"Katanya sahabat masa kecil itu cuma masa lalu, tapi kenapa kehadirannya bisa menghancurkan masa depanku?"
Bagi Nawang, Timy adalah segalanya—cowok yang berjanji melindunginya di bawah inisial kalung T&N. Tapi segalanya berubah saat Kanaya, teman masa kecil Timy yang rapuh dan penuh trauma, kembali hadir. Demi alasan kemanusiaan, Timy perlahan melangkah terlalu jauh hingga melupakan janji-janjinya pada Nawang.
Saat Nawang memilih mundur karena lelah dianaktirikan, Rendy—Ketua OSIS berhati es—hadir menawarkan sandaran baru.
Di saat Timy tersadar dirinya hanya dijadikan pelampiasan egois oleh Naya, semuanya sudah terlambat. Penyesalan Timy membawanya pada Jihan, gadis misterius yang diam-diam membalut lukanya.
Ini bukan sekadar cerita tentang cinta segitiga, melainkan tentang melepaskan yang sia-sia, menyembuhkan luka, dan menemukan kedewasaan di koridor sekolah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Patah Hati Terhebat Nawang 18.
Gerimis sore itu tidak kunjung reda saat Nawang memutuskan untuk pulang.
Tolakan halus dari Rendy yang sempat menawarkan tumpangan tadi sengaja dia abaikan. Nawang butuh angin dingin.
Dia butuh kepalanya waras, walau nyatanya, dada wanita itu justru makin terasa dihimpit batu besar setelah obrolannya dengan Rendy di selasar sekolah tadi.
Langkah kakinya membawa Nawang melewati deretan ruko di dekat area stasiun.
Karena hujan makin menderu, dia terpaksa menepi di bawah kanopi sebuah kafe estetik bergaya industrial yang dindingnya didominasi kaca transparan besar.
Nawang hanya ingin berlindung sebentar sampai hujan agak mereda.
Namun, takdir sore itu seolah sengaja ingin menelanjanginya sampai habis.
Melalui kaca besar yang sedikit berembun itu, pandangan Nawang terkunci pada satu sudut meja di dekat jendela interior.
Di sana, duduk dua orang yang sangat familiar.
Timy dan Naya.
Mereka masih mengenakan seragam yang sama dengan Nawang. Di atas meja, ada sepiring waffle cokelat yang separuhnya sudah habis.
Nawang membeku di tempatnya berdiri.
Detak jantungnya mendadak berkejaran, bukan karena kafein, melainkan karena rasa was-was yang mendadak naik ke tenggorokan.
Tepat saat itu, Timy tertawa.
Itu bukan tawa formalitas yang biasa Timy berikan pada Nawang belakangan ini saat Nawang protes tentang pesannya yang diabaikan.
Itu tawa lepas. Tawa yang matanya sampai menyipit jenaka, persis seperti tawa Timy tiga tahun lalu saat mereka pertama kali jadian di halaman belakang sekolah.
Tawa yang sudah sangat lama hilang dari kamus hubungan mereka.
Timy memotong secuil waffle dengan garpu, meniupnya pelan, lalu mengarahkannya ke depan mulut Naya.
Naya sempat mengerucutkan bibir, sok menolak, sebelum akhirnya menerima suapan itu sambil memukul pelan lengan Timy.
Timy mengacak rambut Naya gemas.
Nawang mencengkeram tali tas sekolahnya begitu kuat hingga jemarinya memutih.
Rasa manis dari susu cokelat pemberian Rendy yang tadi sempat menenangkannya, mendadak berubah menjadi rasa pahit yang membakar lambung.
“Masa lalu itu kayak spion mobil, Wang...” Kata-kata Rendy terngiang lagi, mengejeknya di tengah dinginnya udara jalanan.
Belum habis rasa perih itu, Nawang melihat Timy merogoh saku celananya.
Sebuah kotak beludru kecil berwarna biru dongker diletakkan di atas meja. Naya tampak terkejut, menutup mulutnya dengan kedua tangan.
Saat Timy membuka kotak itu, kilau perak dari sebuah kalung rantai tipis tertangkap oleh mata Nawang.
Di ujung rantai itu, menggantung sebuah liontin kecil berbentuk huruf. Bukan satu, tapi dua huruf yang digabung menjadi satu.
T & K. Timy dan Kanaya.
"Ini simbol kalau lu nggak bakal sendirian lagi, Nay. Kita bakal selalu bareng-bareng," ucap Timy dari balik kaca.
Nawang tidak bisa mendengar suaranya, tapi dia sangat mahir membaca gerak bibir cowok yang berstatus pacarnya itu. Lagi pula, tatapan mata Timy malam itu sudah menceritakan segalanya tanpa perlu pengeras suara.
Naya menerima kalung itu dengan mata berkaca-kaca, lalu memeluk Timy erat.
Timy membalas pelukan itu, menepuk-nepuk punggung Naya dengan gestur penuh proteksi. Gestur yang dulu selalu menjadi hak milik Nawang seorang.
Timy tidak pernah menoleh ke luar kaca. Dia terlalu sibuk menjadi pahlawan di dunia Naya, sampai lupa kalau di luar sana, di bawah guyuran hujan yang dingin, perempuan yang statusnya masih menjadi dunianya sedang mati rasa.
Nawang mundur satu langkah.
Kepalanya pening. Logikanya yang tadi dibangunkan paksa oleh Rendy kini benar-benar menampar kesadarannya,
Lu udah kalah, Nawang. Lu mempertahankan orang yang jiwanya udah lama pergi.
Tanpa memedulikan hujan yang makin deras menghantam bumi, Nawang berbalik dan berlari. Dia tidak peduli lagi pada sepatu sekolahnya yang basah kuyup, atau seragamnya yang kini menempel ketat di kulit karena air hujan.
Dia hanya ingin pergi secepat mungkin dari tawa yang membunuhnya perlahan itu.
Begitu sampai di rumah, Nawang melewati ruang tengah tanpa menyapa siapa pun.
Dia mengabaikan panggilan ibunya yang heran melihat anak gadisnya pulang dengan kondisi sekacau itu.
BRAK!
Nawang menutup pintu kamarnya dengan kasar, memutar kunci dua kali hingga terdengar bunyi klik yang final.
Tas sekolahnya terlepas begitu saja dari pundak, jatuh mencium lantai kayu.
Begitu juga dengan tubuh Nawang.
Lututnya mendadak kehilangan seluruh daya. Perempuan yang dikenal sebagai kapten cheerleader yang tangguh dan selalu sialan sempurna di mata satu sekolah itu, kini luruh, terduduk lemas di balik pintu kamarnya sendiri.
Dunianya runtuh. Benar-benar runtuh tak tersisa.
Keheningan kamar itu langsung pecah oleh suara tangis yang sejak tadi tertahan di tenggorokan. Nawang menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, mencoba meredam suara isakan yang keluar, namun gagal.
Tangisnya pecah menjadi raungan yang menyakitkan.
Dia menangis sejadi-jadinya. Dadanya naik turun dengan ritme yang kacau. Oksigen di sekitar kamarnya mendadak terasa menipis, membuat setiap tarikan napasnya terasa seperti menghirup serpihan kaca.
"Kenapa..." bisik Nawang di sela tangisnya yang makin histeris. "Kenapa harus gue yang hancur sendirian, Tim? Kenapa?"
Dia memeluk lututnya sendiri di atas lantai yang dingin. Rasa sesak yang luar biasa menghantam dadanya, membuatnya kesulitan bernapas hingga harus mencengkeram bagian kiri seragamnya yang basah. Nawang terbatuk, berjuang mencari udara di tengah rasa sakit yang begitu hebat.
Malam itu, di sudut kamar yang gelap, tidak ada Nawang si kapten cheerleader yang kuat.
Yang ada hanya seorang gadis remaja biasa yang hatinya baru saja dipatahkan secara paling brutal oleh orang yang paling dia percaya.
Nawang hancur, total dan sendirian, tanpa tahu bagaimana cara mengumpulkan kembali kepingan dirinya yang sudah terlanjur menjadi debu (._.)
......................
...****************...
Tbc,