NovelToon NovelToon
Aetherist: Takdir Para Terpilih

Aetherist: Takdir Para Terpilih

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:124
Nilai: 5
Nama Author: seravya

Dahulu sekali, saat dunia ini hanya sebuah dataran luas, para makhluk yang menghuninya bertarung demi sebuah kekuasaan. Satu di antaranya adalah manusia—kaum yang paling lemah.

Pernahkah kalian mendengar tentang para manusia pengendali elemen? Aetherist, begitulah mereka dipanggil.

Berabad-abad lalu sejak para Aetherist pertama berhasil menyelamatkan manusia dan membentengi wilayah mereka dengan Aetherwall. Kini, ancaman dari kegelapan mulai menyeruak keluar.

Para Aetherist muda kini dihadapkan pada tantangan dari sang Penguasa Kehampaan. Perang besar pertama dan terbesar yang pernah mereka hadapi.

Petualangan penuh keajaiban, tekad, semangat, luka, air mata, juga cinta menanti mereka. Kehadiran makhluk lain yang entah menjadi sekutu atau musuh—Elf, Mermaid, Vampire, hingga Werewolf.

Akankah para Aetherist muda ini mampu memimpin umat manusia lepas dari kehampaan, atau justru membawa kehancuran bagi peradaban?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon seravya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Tekat gelombang pertama

"Kau pasti bercanda, Paman," kekeh Airyn sinis, menyunggingkan senyum tak percaya. "Bagaimana caranya kita berdua melawan pasukan prajurit yang bersenjata lengkap?"

Namun, Kaelen menatapnya dengan keseriusan mutlak. "Kita punya hal yang tidak mereka miliki, kontrol elemen air. Kita ini adalah seorang Aetherist Air."

Kepala Airyn makin pening. Terlalu banyak rentetan informasi dan istilah asing yang harus ia cerna hanya dalam kurun waktu dua hari.

"Paman, itu ide yang benar-benar gila! Lagi pula, aku tidak bisa mengendalikannya sehebat Paman. Aku hanya bisa mengangkat air sebentar sebelum cairan itu meletus dan membasahi seluruh tubuhku," tolak Airyn jujur.

Kaelen mendengarkan keberatan itu dengan sabar. "Kekuatanmu baru saja terbangun, Airyn, itu sangat normal. Dulu aku pun baru bisa membangkitkannya saat berumur lima belas tahun."

"Lalu... bagaimana dengan ayahku?" tanya Airyn penasaran.

"Aturannya jelas, Airyn. Hanya ada satu Aetherist per satu generasi dalam garis darah utama. Hanya aku yang mewarisi Aether murni itu, sementara Kakak tidak," terang Kaelen lembut.

***Aether \= Kekuatan atau energi sihir

***Aetherist \= manusia yang bisa mengendalikan energi sihir berupa elemen

Airyn mengangguk-angguk pelan, mulai memahami garis besar takdir aneh yang menyelimuti keluarganya.

"Kita harus memulai latihanmu sekarang agar kau siap," desak Kaelen.

"Tidak, Paman! Aku tidak mau!" seru Airyn tegas. "Aku tidak mau dicap sebagai monster atau makhluk aneh lagi!"

Kaelen mengembuskan napas panjang. Pria itu mengikis jarak dan memegang kedua pundak keponakannya rapat-rapat.

"Dengar, Airyn. Kita harus merebut kembali hak kita. Lihatlah sekelilingmu... berapa banyak ketidakadilan dan kehancuran yang telah diperbuat oleh Grance? Kita bisa menghentikan penindasan itu jika kita menjatuhkannya."

Dada Airyn bergemuruh. Rasa ragu dan takut masih membelenggu jiwanya. "Beri aku waktu, Paman..." gumam Airyn seraya menepis halus jemari Kaelen dari bahunya, lalu berbalik melangkah masuk ke dalam kedai.

Hari berlalu dalam kesibukan. Paman Marco duduk di meja kasir sembari menghitung kepingan koin hasil jualan hari ini. Airyn sibuk mengepel lantai kayu, sementara Kaelen merapikan deretan meja sudut.

Brak!

"Dasar bedebah biadab!" umpat Paman Marco mendadak seraya menggebrak meja kasir.

Airyn menyandarkan pelnya dan menghampiri sang pemilik kedai. "Ada apa, Paman?"

"Prajurit-prajurit sialan itu menaikkan pajak kedai kecil ini lagi!" gerutu Paman Marco dengan napas gusar. "Apa si tua Grance itu berniat membangun istana megah baru dari perasan keringat rakyat?!"

Airyn terdiam. Ia melanjutkan pekerjaannya dalam hening, sementara Kaelen mengamati dari jauh dengan tatapan penuh arti.

Saat kedai dikunci dan malam mulai membayang, pandangan Airyn teralihkan oleh deretan pedagang gerobak di pinggir dermaga yang sedang membereskan barang-dagangannya. Airyn mengenali sosok bibi penjual buah yang ditolongnya tadi siang.

"Mau ke mana, Bi?" sapa Airyn menghampiri.

"Bibi mau berhenti berjualan," desah wanita itu lelah. "Pajak berdagang naik sepuluh persen lagi. Orang kecil seperti kami tidak sanggup membayarnya. Bibi mau mencoba melamar kerja di pabrik saja."

Beberapa pedagang lain di sekitarnya mengangguk setuju dengan raut wajah muram.

"Walau gaji di pabrik dipotong pajak juga, setidaknya tidak seberat berdagang," lanjut sang bibi dengan mata berkaca-kaca. "Anakku butuh biaya sekolah... tapi orang-orang istana itu mana peduli pada nasib kami."

Airyn terpaku di tempatnya. Hatinya mencelos. Geram dan rasa muak terhadap penindasan Lord Grance yang selama ini ia abaikan kini membakar dadanya hingga tuntas.

Airyn memutar haluan, melangkah cepat menyusuri jalanan dermaga menuju penginapan. Kaelen mengiringi langkahnya di belakang tanpa suara, membiarkan gadis itu berkutat dengan pikirannya.

Tiba di depan pintu kamar, Airyn mendadak menghentikan langkah. Ia berbalik, menatap Kaelen dengan binar mata emas yang tak lagi diliputi keraguan.

"Paman..."

Kaelen menanti perkataan keponakannya dengan napas tertahan.

"Ayo kita lakukan," tegas Airyn, menatap lurus ke dalam manik mata pamannya. "Aku sudah muak melihat penindasan pada orang-orang lemah ini."

Kaelen menyunggingkan senyum hangat. Ia mengangguk mantap. "Mari kita mulai."

"Ulangi dua puluh kali push-up lagi!" perintah Kaelen tegas dari atas dermaga kayu saat fajar masih remang di ufuk timur.

"P-paman... beri aku lima menit... aku lelah sekali..." keluh Airyn yang terlentang pasrah di atas papan kayu dermaga. Napasnya terengah-engah, dadanya naik-turun meraup udara pagi yang dingin.

Kaelen berdiri tegap di dekatnya tanpa kompromi. "Kau harus menguatkan fisikmu terlebih dahulu sebelum belajar mengendalikan Aether."

Airyn memejamkan mata sejenak, meloloskan erangan kecil, lalu memaksa tubuhnya bangkit untuk melanjutkan latihan. Tangannya gemetaran menahan beban tubuh, tetapi tekad di dadanya membakar setiap kepedihan ototnya.

"Lanjutkan dengan lari mengitari dermaga ini sampai matahari terbit!" seru sang paman mengambil posisi lari.

Airyn berjuang bangkit dan menyusul langkah Kaelen. Namun karena kondisi fisiknya yang belum terbiasa, Kaelen melaju jauh di depan, menyalipnya dengan mudah.

"Kau terlalu lambat, Airyn!" seru Kaelen yang mendadak muncul dari belakang Airyn setelah menyelesaikan satu putaran penuh.

Airyn mengerahkan sisa staminanya, terus berlari melintasi bentangan dermaga hingga pendar keemasan surya mulai memancar di ufuk timur.

Begitu garis putaran terakhir terselesaikan, lutut Airyn lemas. Tubuhnya tersungkur ke depan, tetapi dengan sigap Kaelen menangkap bahunya sebelum membentur papan kayu.

"Cukup untuk pagi ini," ucap Kaelen bangga. Airyn hanya sanggup membalasnya dengan senyuman lelah.

Setelah membimbing Airyn kembali ke kamar untuk mandi dan berganti pakaian, keduanya melangkah ke kedai roti Paman Marco.

"Aduh... seluruh badanku rasanya mau remuk..." keluh Airyn sembari mengadoni roti di dapur belakang.

"Istirahatlah, biar aku yang lanjutkan adonannya," tawar Kaelen mengambil alih mangkuk besar dari tangan Airyn.

Airyn tak menolak. Ia duduk di kursi belakang dapur, menumpu pipinya di atas meja. Rasa kantuk yang luar biasa mendadak menyerang fisiknya yang terkuras. Dalam hitungan detik, Airyn tertidur lelap.

Kaelen tersenyum tipis. Ia mengambil selimut kain dari sudut lemari dan menyelimuti tubuh Airyn dengan perlahan.

"Airyn, rotinya sudah—"

"Shhh!" Kaelen dengan sigap menempelkan telunjuk di bibir, menghentikan Paman Marco yang baru muncul dari depan.

Paman Marco melirik Airyn yang tertidur pulas, lalu mengangguk paham. Kedua pria itu melanjutkan pekerjaan tanpa membuat kegaduhan, membiarkan gadis rajin itu memulihkan tenaganya.

Matahari sudah meninggi saat Airyn terbangun. Ia terkejut mendapati Kaelen yang sedang telaten meracik dan memanggang roti di dekat oven.

"Paman! Kenapa tidak membangunkanku?" seru Airyn merasa bersalah, buru-buru berdiri.

"Kau kelelahan, Airyn. Lagipula aku bisa melakukannya," sahut Kaelen terkekeh pelan. Airyn menghela napas, lalu memaksakan diri ikut membantu tugas-tugas ringan hingga waktu tutup tiba.

Malam harinya, setelah kedai ditutup dan Paman Marco pulang, Kaelen mengajak Airyn ke suatu tempat, sebuah kawasan hutan bakau yang sepi di tepian pesisir Tidebay.

"Cobalah sekarang, Airyn," pinta Kaelen, berdiri di samping keponakannya di atas akar pohon bakau yang tegap.

Airyn mengembuskan napas gugup. Tangannya terangkat ragu ke arah permukaan air laut. Kaelen melangkah mendekat, mengusap pundak Airyn dengan lembut.

"Kunci dari seorang Aetherist air adalah ketenangan jiwa. Fokuslah... rasakan setiap desir aliran Aether yang mengalir di telapak tanganmu," bimbing Kaelen tenang.

Airyn memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam, lalu membiarkan fokus jiwanya menyatu dengan suara deru ombak. Saat matanya terbuka kembali, iris emasnya berkilat tajam.

Ia mengarahkan kedua telapak tangannya ke depan, mengangkatnya perlahan.

Swoosh...

Air laut yang tadinya tenang mulai beriak halus. Dari pusaran kecil, gumpalan air berukuran cukup besar mendadak terangkat ke udara membentuk tirai gelombang setinggi satu meter!

Tangan Airyn terasa sangat berat, seolah ia sedang menahan sebongkah batu raksasa. Tak sanggup menahannya lebih lama, Airyn menurunkan tangannya mendadak.

Brak!

Tirai air itu terhempas hebat, menciptakan cipratan ombak raksasa yang menyiram basah kuyup tubuh Airyn dan Kaelen dari ujung kepala hingga kaki.

Akibat guyuran air laut yang mendadak itu, racikan pasta arang di rambut mereka luntur seketika. Cairan hitam pekat mengalir deras dari atas kepala, menyapu dahi, pipi, hingga memenuhi seluruh wajah keduanya dengan noda cemong hitam.

Airyn memandang pamannya, dan Kaelen pun menatap Airyn.

"Pffft... Hahaha!"

Tawa renyah pecah di antara rimba bakau yang hening. Keduanya tertawa lepas tanpa beban saat melihat paras satu sama lain yang tampak konyol dipenuhi lelehan hitam arang, memperlihatkan kembali surai biru serenity mereka yang berbinar di bawah pendar rembulan.

Kaelen menyeka noda arang di sekitar matanya seraya tertawa kecil. "Pernah coba sup makanan laut khas Tidebay, Airyn?"

Airyn menatap pamannya polos sambil menyapu pasta hitam di pipinya. "Makanan laut itu mahal sekali, Paman. Kita ini biasanya hanya makan roti sisa kedai."

Kaelen tersenyum canggung, menggaruk tengkuknya yang basah. "Baiklah... kalau begitu mari kita bekerja dan berlatih keras agar bisa membelinya nanti!"

Airyn mengangguk mantap, menyambut janji kecil pamannya dengan senyuman hangat di bawah naungan malam pesisir Tidebay.

1
Nizam Rayna
pada suatu hari ada hidup binatang rusa dia sedang berjalan di
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!