Selama 5 tahun Maya mengorbankan seluruh hidup dan cita-citanya demi merawat bagas, Suaminya yang koma dan lumpuh akibat akibat kecelakaan.
Maya harus bekerja keras banting tulang untuk biaya ruah sakit dan selalu setia menemani sang suami dengan air mata dan doa.
Akhirnya membuahkan hasil, Bagas perlahan-lahan sembuh.
Tapi apa yang Maya dapat, Setelah sembuh, Bagas mendapatan pekerjaan bagus dan ia malah menjalin hubungan dengan teman kantornya yang bernama Rania, Karena ia malu memiliki istri seperti Maya yang terlibat kusam akibat penderitaan selama bertahun-tahun.
Perceraian itu akhirnya terungkap saat Maya menemukan surat cerai di saat hari pernikahan mereka yang ke-7 tahun.
Maya pun harus bangkit dari kehidupan, pengorbanannya selama ini ternyata sia-sia, iya akan menunjukkan ketulusannya akan menjadi penyesalan terbesar Bagas
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SulSya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 14
BAB 14: KEMBALI KE DUNIA NYATA
Pagi itu, aroma antiseptik di kamar rawat terasa tak lagi mencekam, melainkan membawa desir lega yang hangat.
Dokter Frans berdiri di samping ranjang sembari memeriksa berkas hasil pemindaian MRI dan grafik fungsi motorik terakhir Bagas.
Di hadapannya, Bagas berdiri tegap tanpa menopang pada tongkat ketiak, disamping Maya yang memegangi jemarinya penuh harap.
Dokter Frans mengumbar senyum lebar, lalu menurunkan kacamata bacanya.
"Hasil pemeriksaan fisik dan respons saraf secara menyeluruh sangat memuaskan, Pak Bagas. Saraf tulang belakang Anda sudah berfungsi stabil, dan otot kaki Anda sudah pulih penuh."
Bagas menahan napas. "Maksud Dokter... saya sudah boleh pulang?"
"Bukan hanya boleh pulang, Pak," sahut Dokter Frans seraya menepuk bahu Bagas dengan mantap. "Secara medis, Anda dinyatakan pulih total. Anda sudah siap untuk kembali beraktivitas normal dan bekerja seperti sedia kala."
Bagas terpana sejenak sebelum akhirnya berseru riang. "Saya pulih total, Dok?! Saya benar-benar bisa kerja lagi?!"
"Iya, Pak Bagas. Ini sebuah pencapaian medis yang sangat luar biasa," jawab Dokter Frans tulus. Ia menoleh menatap Maya yang matanya sudah berkaca-kaca.
"Tapi ingat, keberhasilan ini tidak lepas dari perawatan luar biasa dan kesabaran tanpa batas dari istri Anda. Bu Maya adalah 'obat' terbaik yang Bapak miliki."
Bagas langsung membalikkan tubuhnya dan menarik Maya ke dalam dekapan erat. "May! Dengar kan, May?! Aku sembuh! Aku benar-benar sembuh total!"
Maya membalas pelukan suaminya rapat-rapat, mengusap punggung Bagas yang kini kokoh kembali. "Iya, Mas... Alhamdulillah... Terima kasih, Ya Allah..."
"Mulai hari ini, kamu nggak boleh kerja keras lagi, May," bisik Bagas tepat di telinga istrinya dengan nada emosional. "Cukup tiga tahun kamu menderita. Sekarang giliran aku yang cari uang dan menafkahi kamu."
Siang harinya, usai menyelesaikan seluruh berkas administrasi kepulangan, Bagas dan Maya berdiri di depan gerbang utama rumah sakit.
Bagas menghirup udara segar luar ruangan dalam-dalam, menatap jalanan kota yang ramai oleh lalu lalang kendaraan.
"Rasanya kaya mimpi, May," tutur Bagas seraya menggandeng mesra tangan Maya. "Tiga tahun aku terkunci di dalam sana, dan sekarang aku kembali ke dunia nyata."
"Roda kehidupan berputar, Mas," sahut Maya tersenyum manis. "Yang penting Mas sekarang udah sehat."
Bagas merogoh saku celananya, mengeluarkan sebuah ponsel murah yang baru saja dibeli dari sisa tabungan mereka.
Tangannya dengan sigap mengetik sebuah nomor telepon yang sangat ia hafal di luar kepala.
"Mas mau telepon siapa?" tanya Maya penasaran.
"Arya, teman lama Mas waktu di kampus dulu," jawab Bagas penuh semangat.
"Terakhir aku dengar, dia sekarang udah jadi manajer di sebuah perusahaan periklanan besar. Siapa tahu dia punya lowongan kerja buat aku."
Sambungan telepon terhubung pada nada dering ketiga.
"Halo? Ini siapa ya?" suara pria di ujung telepon terdengar sibuk.
"Arya! Ini gue, Bagas!" seru Bagas mantap.
Suara di ujung telepon mendadak terkejut. "Bagas?! Bagas Pratama?! Bro, serius ini lu?! Bukannya lu... kata orang-orang lu koma parah gara-gara kecelakaan?!"
Bagas tertawa pelan, melirik Maya yang menatapnya penuh kasih. "Gue udah pulih total, Ar. Keajaiban dari doa istri gue. Gue sekarang udah sehat bugar dan siap tempur lagi."
"Wah, alhamdulillah! Luar biasa lu, Gas! Bener-bener panjang umur lu!" sahut Arya gembira. "Terus ada angin apa nih lu mendadak kontak gue?"
"Gue mau kembali ke dunia kerja, Ar," jawab Bagas tanpa ragu. "Gue butuh pekerjaan secepatnya. Lu ada posisi kosong nggak di kantor lu? Gue rela mulai dari posisi apa aja, yang penting gue bisa membuktikan kapasitas gue lagi."
Arya terdengar berpikir sejenak di ujung telepon. "Sebenernya kantor gue lagi butuh tim kreator konten dan manajer lapangan buat proyek iklan baru, Gas.
Lu kan dulu punya bakat bagus di bidang itu sebelum kecelakaan. Gimana kalau besok pagi lu datang ke kantor gue buat wawancara langsung sama direktur?"
Mata Bagas berbinar terang. "Serius, Ar?! Besok pagi gue bisa langsung datang?!"
"Bisa, Bro! Besok jam sembilan pagi, ya. Nanti alamat kantornya gue kirim lewat pesan."
"Siap, Ar! Terima kasih banyak, ya! Lu bener-bener penolong gue!" seru Bagas sebelum mematikan sambungan telepon.
Bagas mengguncang kedua bahu Maya gembira. "May! Besok pagi aku ada panggilan wawancara kerja di perusahaan periklanan!"
"Wah, selamat ya, Mas!" sahut Maya ikut berseri-seri. "Maya yakin Mas Bagas pasti bisa. Dulu kan Mas memang pinter banget di bidang itu."
Bagas menggenggam kedua tangan Maya yang terasa kasar dan mengelupas. Ditatapnya wajah polos istrinya dengan tatapan penuh tekad.
"Aku bakal berjuang sekuat tenaga di wawancara besok, May," janji Bagas penuh keyakinan.
"Aku bakal buktikan sama semua orang yang dulu menghina kamu, kalau suami kamu ini bisa sukses dan bikin kamu jadi wanita paling bahagia."
Maya mengangguk pelan, menyandarkan kepalanya di dada Bagas yang berdetak hangat, merasa bahwa masa-masa kelam penderitaan mereka akhirnya benar-benar telah usai.