NovelToon NovelToon
Pengawal Yang Tak Terkalahkan

Pengawal Yang Tak Terkalahkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Identitas Tersembunyi / Action
Popularitas:672
Nilai: 5
Nama Author: Yanto Hl

Lin Muchen, seorang pengawal tangguh yang tak pernah kalah, dipaksa menerima tugas melindungi Gu Shiyu — seorang CEO muda yang cantik namun tegas. Di tengah tugas itu, ia terkejut menyadari bahwa wanita yang dijaganya adalah cinta pertamanya di masa kecil. Saat rahasia kelam keluarganya perlahan terbongkar dan dendam lama yang terpendam terungkap, Lin Muchen yang dulu tak terkalahkan kini jatuh hancur. Dari keterpurukan itu, ia bangkit bukan lagi untuk melindungi, melainkan untuk menuntut keadilan dan membalas dendam yang lama dinanti

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanto Hl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7 Kembalinya Sang Pelindung

Lin Muchen melangkah keluar dari ruang batu itu dengan hati-hati. Udara malam yang dingin menyapa wajahnya, menyadarkan bahwa ia benar-benar bebas. Namun rasa lega itu hanya sekejap — pikirannya langsung tertuju pada satu hal: Gu Shiyu. Di mana dia? Apakah dia selamat? Apakah dia juga dibawa ke tempat ini?

Ia berdiri diam sejenak, membiarkan matanya menyesuaikan diri dengan kegelapan. Tempat ini tampak seperti gudang tua yang terlantar di pinggiran hutan, jauh dari pemukiman. Di kejauhan, ia melihat sepasang lampu mobil menyala redup, seakan bersiap berangkat. Suara percakapan terdengar samar — dua orang sedang berdiri di dekat pintu, menjaga.

“Sudah dikatakan pada bos? Kita berangkat sebelum fajar,” suara seseorang terdengar rendah.

“Sudah. Tujuannya tebing utara. Cepat selesaikan, lalu kembali,” jawab yang lain.

Darah Lin Muchen mendidih. Tebing utara — tempat yang sepi, curam, dan jarang dikunjungi siapa pun. Jika mereka sampai di sana, semuanya akan berakhir. Ia tidak punya waktu banyak.

Ia mengintai dari balik tumpukan kayu tua, mengamati gerak-gerik mereka. Dua orang penjaga itu berdiri santai, tidak menyadari ada yang kabur. Lin Muchen menarik napas dalam-dalam, menenangkan detak jantungnya. Ia yang dulu dikenal tak terkalahkan, kini kembali menjadi dirinya — tenang, tajam, penuh perhitungan.

Dengan gerakan senyap, ia melangkah maju. Angin berhembus ke arahnya, menyembunyikan suara langkah kakinya. Saat cukup dekat, ia bergerak cepat — satu tangan menutup mulut orang pertama, tangan lain menahan pergerakannya. Pria itu terkejut, berusaha meronta, namun cengkeraman Lin Muchen terlalu kuat. Ia menurunkannya perlahan ke tanah, lalu berbalik menghadapi penjaga kedua yang baru menyadari kehadirannya.

“Siapa kau?!” pria itu berseru, merogoh saku untuk mengambil ponsel atau senjata. Namun sebelum ia sempat menyelesaikan gerakannya, Lin Muchen sudah berada di hadapannya, satu pukulan tepat ke leher membuatnya limbung dan jatuh tak sadarkan diri. Semuanya terjadi dalam hitungan detik, tanpa suara yang berlebihan.

Lin Muchen tidak menyia-nyiakan waktu. Ia segera memeriksa mobil yang bersiap berangkat — kursi belakang kosong. Gu Shiyu tidak ada di sana. Jantungnya mencelos. Apakah dia sudah dibawa pergi? Atau ditahan di tempat lain?

Ia kembali ke dalam bangunan tua itu, memeriksa setiap ruangan dengan cermat. Di lorong yang gelap, ia mendengar suara tangisan tertahan dari balik pintu di ujung koridor. Langkah kakinya memacu cepat. Ia membuka pintu itu perlahan.

Di sudut ruangan yang remang, Gu Shiyu duduk terikat di kursi, matanya bengkak dan basah. Saat melihat Lin Muchen, matanya membelalak, tak percaya.

“Muchen…” suaranya bergetar.

Lin Muchen segera mendekat, melepaskan ikatan di tangan dan kakinya dengan cepat. “Aku di sini. Sudah aman.”

Gu Shiyu bangkit, tanpa ragu langsung memeluknya erat, seakan takut ia akan hilang jika dilepaskan. “Aku pikir… aku pikir aku tidak akan melihatmu lagi.”

Lin Muchen memeluknya balik, menepuk punggungnya lembut, menyembunyikan rasa sakit yang masih tertinggal di tubuhnya. “Aku berjanji akan melindungimu, ingat? Aku tidak akan pergi ke mana-mana.” Ia melepaskan pelukan perlahan, menatapnya lekat-lekat. “Kita harus pergi sekarang. Mereka berencana membawamu ke tebing utara. Kita tidak boleh tertahan di sini sedetik pun.”

Gu Shiyu mengangguk, menyeka sisa air matanya. “Mereka punya surat itu… buktinya… Zhang Hua sudah mengambilnya.”

Lin Muchen mengerutkan kening, namun tidak putus asa. “Surat itu bukan satu-satunya bukti. Ayahmu pasti menyimpan salinan atau catatan lain. Dan orang yang menolongku keluar… dia tahu kebenarannya. Dia bisa menjadi saksi.” Ia meraih tangannya. “Tapi pertama-tama, kita harus selamat dari sini.”

Mereka keluar dari bangunan tua itu dengan berhati-hati, mengambil jalan yang tersembunyi di antara pepohonan. Langit di ufuk timur mulai memerah samar, tanda fajar akan tiba. Namun mereka belum aman — mobil yang membawa Zhang Hua belum terlihat pergi, dan suara mesin terdengar semakin dekat.

“Mereka datang,” bisik Gu Shiyu, menoleh ke arah jalan masuk.

Lin Muchen melihat sekeliling, mencari jalan keluar lain. Di dekat sana, terlihat sepeda motor tua yang terparkir di balik semak-semak — milik salah satu penjaga tadi. “Naiklah,” ucapnya, membukakan jalan.

Mereka naik ke atas sepeda itu. Lin Muchen menyalakan mesin dengan cepat, dan kendaraan itu melesat membelah kabut pagi. Di belakang mereka, terlihat lampu mobil menyala terang, mengejar.

“Mereka melihat kita!” seru Gu Shiyu, berpegangan erat pada pinggang Lin Muchen.

“Pegang erat!” Lin Muchen mempercepat laju sepeda, membelok ke jalan tanah yang sempit dan berkelok, tempat mobil besar sulit melaju. Angin menerpa wajah mereka, kabut tebal menyulitkan pandangan, namun ia terus melaju, mengenali jalanan di daerah ini berkat kenangan masa kecilnya.

“Ke mana kita akan pergi?” tanya Gu Shiyu di tengah deru angin.

“Ke tempat yang dulu ayahku percayakan pada orang yang paling ia hormati,” jawab Lin Muchen. “Rumah Pak Wen — bukan kepala cabang yang kita temui kemarin, melainkan ayahnya. Dia teman lama ayahku. Dia tahu segalanya.”

Gu Shiyu terdiam sejenak, lalu mengangguk percaya. “Aku ikut ke mana pun kau pergi.”

Setelah perjalanan yang menegangkan, mereka akhirnya tiba di sebuah rumah kayu sederhana yang berdiri tenang di tengah kebun. Pintu terbuka sebelum mereka sempat mengetuk. Seorang pria tua berambut putih berdiri di ambang pintu, menatap mereka dengan tatapan yang sudah menunggu kedatangan mereka sejak lama.

“Aku tahu kalian akan datang,” ucapnya pelan, menyuruh mereka masuk.

Saat mereka duduk di ruang tamu yang hangat, pria itu — Pak Wen yang lebih tua — menghela napas panjang. “Ayahmu, Lin Zhen, datang kepadaku sebelum meninggal. Ia menceritakan semuanya. Tentang Zhang Hua, tentang pengkhianatan, tentang ancaman pada keluargamu, Shiyu.” Ia menatap mereka bergantian. “Ia memohon agar aku menunggu. Bahwa suatu hari, kalian akan datang bersama.”

“Kau tahu?” tanya Gu Shiyu terkejut. “Kau tahu sejak dulu?”

“Sejak awal,” Pak Wen mengangguk sedih. “Namun aku takut. Zhang Hua terlalu kuat, terlalu licik. Jika aku bicara saat itu, tidak ada yang akan percaya. Dan nyawa kalian berdua bisa terancam.” Ia bangkit, mengambil sebuah kotak kayu dari lemari tua di sudut ruangan. “Tapi aku tidak diam saja. Aku menyimpan apa yang ayahmu kumpulkan, Shiyu — catatan rahasia, salinan dokumen, bukti pemalsuan tanda tangan. Semuanya ada di sini.”

Ia menyerahkan kotak itu kepada Gu Shiyu. Tangan wanita itu gemetar saat membukanya — tumpukan kertas rapi tersusun di dalamnya, tertulis tangan ayahnya sendiri. Air mata kembali menetes, namun kali ini bukan karena kesedihan semata, melainkan karena harapan yang perlahan tumbuh kembali.

“Ayahku… dia tidak menyerah,” gumamnya pelan.

“Tidak pernah,” ucap Lin Muchen lembut di sampingnya. “Dan kita juga tidak akan menyerah.”

Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama. Suara deru mobil terdengar mendekat, memecah keheningan pagi yang damai. Pak Wen melongok ke luar jendela, wajahnya berubah pucat.

“Mereka sudah sampai,” katanya tegas. “Lewat pintu belakang, ada lorong menuju sungai kecil. Ikuti sungai itu sampai ke desa seberang, di sana ada kantor kepolisian.”

“Dan kau?” tanya Lin Muchen.

“Aku akan menahan mereka di sini,” jawab pria tua itu tenang. “Sudah waktunya aku tidak lagi bersembunyi.”

Lin Muchen menatapnya hormat, lalu menggenggam tangan Gu Shiyu. “Ayo.”

Mereka berlari keluar melalui pintu belakang, menyusuri jalan sempit yang tertutup semak belukar. Di belakang mereka, terdengar suara teriakan dan pintu yang didorong kasar, namun mereka tidak menoleh. Mereka terus berlari — melintasi sungai dangkal, menaiki bukit kecil, menembus kabut yang perlahan menipis.

Saat akhirnya mereka melihat bangunan kantor kepolisian di kejauhan, matahari sudah terbit tinggi. Langit biru cerah, bersih dari kegelapan semalam. Gu Shiyu berhenti sejenak, napasnya memburu, menatap ke arah tangan mereka yang masih saling menggenggam erat.

“Kita berhasil,” ucapnya pelan, tak percaya.

Lin Muchen menatapnya, senyum tipis terukir di bibirnya — senyum yang pertama kali benar-benar tulus sejak bertemu kembali dengannya. “Belum selesai. Tapi kita sudah di jalan yang benar.”

Mereka melangkah masuk ke kantor itu bersama-sama, membawa kotak bukti di tangan Gu Shiyu, dan kebenaran yang tak lagi bisa dibungkam. Di luar, dunia tampak sama seperti biasanya, namun bagi mereka, segalanya telah berubah — masa lalu tidak lagi menghantui, melainkan menjadi kekuatan untuk melangkah ke masa depan yang baru.

Dan jauh di sudut hatinya, Lin Muchen menyadari satu hal: ia tidak lagi sekadar pengawal yang tak terkalahkan. Ia adalah seseorang yang akhirnya menemukan kembali bagian terpenting dari dirinya — keberanian untuk mencintai, melindungi, dan memperjuangkan apa yang benar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!