NovelToon NovelToon
Unit Kosong

Unit Kosong

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Rumahhantu / Iblis
Popularitas:239
Nilai: 5
Nama Author: Storyginal Finger

Cerita bergenre Horor dan Misteri yang mengungkap rahasia kelam pembantaian korban penghuni apartemen oleh penguasa. Meski terinspirasi berdasarkan kisah nyata, tapi termasuk Fiksi karena banyak tambahan yang dimasukkan ke dalam cerita.

SINOPSIS: Bagas bersama timnya pergi dari Jakarta ke Bandung untuk bertemu investor yang akan membiayai project film mereka. Tapi siapa sangka kalau mereka justru dipesankan unit apartemen yang berhantu. Bangunan terbengkalai yang mangkrak karena wabah covid-19.

Meskipun sudah diminta pindah, Jefry yang merupakan leader tim justru menolak. Ia menganggap bahwa ini kesempatan untuk mendapat ide cerita horor dari kisah nyata. Sedangkan Bagas tidak bisa menolak keputusan leadernya itu.

Mereka pun harus menghadapi teror demi teror yang semakin hari, semakin membahayakan. Tapi di balik bahaya tersebut, membuat Jefry semakin bersemangat dan penasaran akhir yang akan mereka lalui ke depan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Storyginal Finger, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 19: Menemukan Visi Baru

Siang menjelang. Akhirnya kami berempat kumpul di ruang tengah, duduk bersama di sofa.

“Kita libur dulu deh hari ini,” kata Jefry. “Badan gua remuk, nggak tahan kalo harus ke resto.”

Aku teringat kalau kita punya janji temu dengan beberapa vendor sudah beberapa kali dibatalkan hanya karena mengikuti mood Jefry yang tidak jelas.

“Gini deh, Bang. Gua yang temuin mereka, gua bisa kok.”

“Udahlah, nggak usah, kita istirahat aja. Ngapain juga kita jadi babu restoran. Kita ini tim film kok. Nggak perlu repot-repot lagi lah, capek gua,” keluh Jefry.

Seketika aku merasa terkejut dengan ucapan Jefry. Aku melirik sebentar ke Hendra yang juga menoleh ke arahku.

Kami merasa heran karena dari awal, ia paling menginginkan untuk mengurusi restoran. Ia juga selalu meyakinkan bahwa ini hanya agar Damar dan Sully memberikan kepercayaan.

Tapi mau bagaimana lagi, aku sudah tidak punya waktu untuk terkejut. Begitulah Jefry sebenarnya.

Aku semakin yakin untuk tetap pergi ke restoran, menemui salah satu vendor acara grand opening Waroeng Kayoe.

Jefry pun tidak bisa menghentikanku.

Kami terbagi dua, Jefry dan Shinta di apartemen, sedangkan aku dan Hendra pergi ke restoran.

Baru saja keluar dari unit apartemen, aku langsung penasaran dengan lift yang membuat petaka semalam. Ternyata sudah tidak rusak.

“Udah dibenerin kali ya?” ujar Hendra.

Aku menekan tombol arah bawah. Angka digital memperlihatkan lift sedang naik ke atas, seharusnya menuju ke lantai kami berada.

“Ding!”

Suara pintu lift terbuka.

Bukannya langsung masuk, aku dan Hendra justru saling lirik sebentar. Tapi tidak lama, kami melangkah masuk lift berbarengan.

Tidak ada kejadian aneh saat kami berada di dalam lift. Hingga kami sampai ke luar lobby.

Aku menghembuskan nafas panjang yang sejak tadi tertahan, begitu juga dengan Hendra. Rupanya kami sama-sama memendam ketegangan sepanjang perjalanan turun tadi.

“Semoga aja nggak ada kejadian lagi deh ya, Gas,” ucap Hendra.

“Iya, Bang. Tapi gua agak ngeri nih, nanti kalo liftnya rusak lagi kayak semalam gimana?” kataku.

Hendra sempat berpikir, lalu mengatakan, “Kita jangan pulang malem. Habis kita beresin urusan vendor, langsung balik.”

“Oke!” jawabku.

Di dalam mobil, aku mulai santai. Mencoba untuk buka omongan terkait peristiwa semalam.

“Bang.”

“Yang semalam itu, gimana ya jadinya?” ujarku mengawali dengan ambigu.

Tentu saja Hendra tidak langsung menanggapinya dengan lugas, “Gimana apanya, Gas?”

“Nggak tau juga sih, Bang. Bingung mau ngomongin yang mana,” kataku ragu.

Mendengar jawabanku tidak yakin, Hendra malah seperti ingin membahasnya lebih terarah.

Ia mengungkit soal kejadian tak masuk akal tapi terasa sangat nyata. Terkait kejahatan terorganisir kepada para penghuni apartemen saat covid.

“Kalo inget itu, nggak tega banget gua, Gas.”

Aku pun merasa demikian. Tapi gilanya aku justru menemukan sebuah visi yang mungkin terlalu besar.

“Gua malah ada kepikiran, buat investigasi masalah itu. Menurut lo gimana, Bang?”

“Tapi gimana caranya?” Hendra menanggapinya dengan pesimis.

Sore harinya saat berjalan di dekat dapur restoran, secara tanpa sengaja aku bertemu Lestari, istri Jeje. Ia terlihat cantik, ramah, tapi ada sesuatu di matanya. Seperti orang yang menyimpan rahasia.

Aku mengetahui sosoknya, beberapa kali melihat ia bersama Jeje tapi belum pernah bertegur sapa.

"A’ Bagas ya?" sapanya. "Jeje teh sering cerita tentang A’ Bagas ke aku."

Aku membalasnya dengan senyuman sopan. Canggung, tidak tahu harus merespon seperti apa.

Ia tertawa pelan, lalu menatapku lama. Tiba-tiba saja ia berkata, "A’ Bagas, punten nih ya, Aa’ punya aura yang nggak biasa ya?"

"Maksudnya teh?" tanyaku, setengah bercanda.

"Ada yang ngikutin, tapi bukan sosok jahat. Justru dia yang bikin A’ Bagas aman," katanya pelan. "Tapi kalo kata aku mah, A’ Bagas imbangin sama ibadah, biar lebih aman."

Aku terdiam. Kata‑katanya seperti menggantung di pikiran. Bahkan, aku tidak menjawab. Benar-benar tidak tahu harus membalasnya seperti apa.

Untungnya Hendra segera datang. Mengajak aku untuk bersiap, pulang ke apartemen.

“Udah beres? Yok, balik,” ujarnya.

Aku pun pamit ke Lestari, segera mengambil tas dan bergegas menyusul Hendra yang sudah lebih dulu ke mobil.

Dalam setiap langkah, aku masih memikirkan tentang apa yang diucapkan oleh Lestari barusan. Aku juga merasa heran karena kenapa ia mengatakan hal seperti itu.

Bagaimana juga ia bisa mengetahui tentang sosok pelindung yang ada padaku?

“Rasanya nanti aku harus tanya ke Jeje,” pikirku.

***

Kami sampai di apartemen jam 5.19.

“Mudah-mudahan liftnya aman,” celetuk Hendra begitu turun dari mobil.

Ucapannya membuatku overthinking. Bagaimana kalau liftnya rusak lagi, “Semoga aman, Bang. Masih sore juga kan.”

Setiba di lobi, aku melihat Dayat sedang berdiri di meja resepsionis. Sikap ramahnya kepadaku mendadak hilang. Ia kembali menatapku dengan sinis.

Ketika aku berusaha untuk menyapa pun, ia merespon dengan buang muka.

“Gara-gara Jefry nih!” keluhku dalam hati.

Tak lama kemudian, kami berada di depan lift. Aku menekan tombol naik. Lift langsung terbuka karena kebetulan memang sedang berada di lantai satu.

“Alhamdulillah,” ujar Hendra sesaat setelah pintu lift terbuka.

Kami pun segera masuk. Ketika hendak menutup, tiba-tiba pintu lift terbuka lagi. Aku mengira kalau lift bermasalah.

Tapi rupanya, ada seorang wanita muncul, ikut masuk ke dalam lift. Ia merupakan wanita yang pernah bertemu dengan kami dari lantai delapan beberapa waktu lalu.

Aku langsung memberanikan diri untuk mengajaknya bicara, “Udah lama tinggal di sini, Kak?”

Ia hanya mengangguk, senyum pahit. Tapi aku tidak menyerah.

“Kemarin kakak dari lantai delapan juga ya?”

Wajahnya berubah, merasa sangat tidak nyaman dengan pertanyaanku. Namun sayang karena setelah naik ke lantai dua, pintu lift terbuka, ia keluar begitu saja tanpa menjawab pertanyaanku.

Hendra tersenyum kepadaku, “Ada-ada aja lo, Gas.”

“Namanya juga usaha, Bang,” jawabku.

Lift terbuka dengan bunyi khasnya.

“Ding”.

Aku dan Hendra berjalan keluar ke lorong lantai delapan. Entah kenapa, langkah kami terasa berat.

Koridor panjang itu seperti labirin dan aku bisa mendengar sesuatu yang tidak seharusnya ada.

Bisik-bisik pelan, mendesis.

“Gas, lo denger nggak?” ucap Hendra.

Aku menelan ludah, “Iya.”

Desis itu seperti berasal dari dinding. Kadang menjauh, kadang mendekat cepat, bahkan serasa tepat di belakang telinga. Aku menoleh refleks, tidak ada siapa pun.

Kami mempercepat langkah.

Begitu pintu unit kami terbuka, kami melihat Jefry dan Shinta duduk di sofa, lagi ngobrol serius. Tapi begitu melihat kami masuk, mereka langsung diam, wajah mereka tegang.

“Wah, finally datang juga,” kata Jefry, memaksakan senyum. “Nasi padangnya mana?”

Aku mengangkat plastik besar di tanganku. “Ini, telor sama ayam kan? Yang telor pake sayur.”

Jefry yang memesan telur dan sayur karena ia tidak bisa makan daging. Alasannya karena pernah kecelakaan bagian kepala, tempurung hancur sehingga kalau makan daging, akan membuat ia sakit kepala.

Tapi supaya mudah menjelaskan ke orang awam, biasanya mengatakan bahwa ia seorang vegan.

Shinta bangkit, mengambil plastik dari tanganku. “Makasih ya, gue udah laper banget.”

Aku dan Hendra ikut duduk. Untuk beberapa saat, suara bungkus makanan dan sendok yang menyentuh piring jadi satu-satunya suara di ruangan.

Tapi rasa mencekam itu tetap ada, aku bisa merasakan.

“Oke temen-temen,” kata Jefry setelah menelan makanannya, “Kita ngobrol bentar ya?”

Aku menatapnya.

Ia meletakkan sendok, “Kita ini udah terlanjur masuk terlalu jauh.”

“Masuk ke mana, Bang?” tanya Hendra memastikan agar tidak ambigu.

“Semuanya,” jawab Jefry pelan. “Ke Bandung dan apartemen ini.”

Aku masih  diam saja tapi ia sepertinya mengharapkan respon dariku.

“Tulisan film horor yang lagi kita garap itu, kayaknya udah bukan sekadar premis deh. Kita bisa mulai bikin babak-babaknya.”

Shinta ikut bicara, seakan telah mengetahui apa yang direncanakan oleh Jefry.

“Bener tuh, biar cepet kelar juga.”

Jefry rasanya masih belum niat untuk melanjutkan makan.

“Kita selesaikan, tuntasin. Kita tulis secepetnya, habis itu kita pergi dari sini. Nanti gua yang ngomong sama Damar buat pindahin kita.”

Aku menyandarkan punggung ke sofa. “Terus kita tulis  endingnya gimana?”

“Protagonis tiba-tiba mengajukan pindah apartemen ke bosnya, film selesai. Gitu?”

Hendra spontan tertawa mendengar ucapanku, “Nggak asik banget, Gas.”

Sekarang Jefry terdiam, wajahnya penuh keraguan. Ia seperti baru menyadari apa yang aku ucapkan, ada benarnya.

“Mending kita coba bahas dulu deh, kemarin waktu lo menghilang. Lo kemana, Bang?” kataku setelah sekian lama enggan mempertanyakan.

Ia kemudian menjelaskan bahwa tak begitu ingat apa yang terjadi kemarin. “Yang gua ingat cuma lift rusak, satpam ngeselin itu nggak bisa benerin.”

“Udah segitu aja. Selebihnya, gua sadar, tau-tau udah di kamar.”

Dengan wajah serius, Hendra bertanya, “Lo sempet manggil kita dua kali lho, Bang. Lo nggak inget sama sekali?”

Jefry terkejut, “Memangnya iya, Dek?” bertanya ke Shinta dengan nada agak kesal. “Kok lo nggak kasih tau gua, Dek?”

Rupanya Shinta tidak menceritakan detail tentang apa yang terjadi kemarin. Mungkin ia tidak ingin mengungkit atau tidak berani mengingatnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!