Bagaimana bisa seorang agen rahasia berdarah dingin yang ditakuti dunia mafia mati mengenaskan di rumahnya sendiri... hanya karena tersedak air putih?
Takdir bercanda saat jiwanya terlempar ke tubuh seorang gadis kaya yang terkenal pendiam, lambat, dan selalu ditindas. Lebih parah lagi, gadis itu terikat pernikahan dingin dengan seorang CEO kejam yang diam-diam memimpin sindikat mafia paling berpengaruh.seorang CEO kejam yang diam-diam memimpin sindikat mafia paling berpeSang CEO berdarah dingin dibuat pusing setengah mati melihat istrinya yang dulu pemalu kini berubah menjadi wanita impulsif yang dengan santainya melumpuhkan puluhan penjahat, walau uniknya masih sering tersandung kaki sendiri saat berjalan.
Di tengah kecamuk perang antar-mafia, intrik bisnis triliunan rupiah, dan tingkah konyol yang tak terduga, mampukah sang Raja Mafia menundukkan jiwa liar di tubuh istrinya, atau justru dialah yang akan berlutut di hadapan sang istri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAYAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14
Dua fotografer yang berada di sudut kamar mencoba bergerak maju, tetapi gerakan Aura jauh lebih presisi. Hanya dalam dua detik, Aura menyambar tali kamera fotografer pertama, memutarnya hingga pria itu melintir, lalu mengarahkan sikutnya tepat ke ulu hati lawan.
*Brak!*
Fotografer pertama ambruk ke atas karpet tebal, tidak sanggup bernapas. Fotografer kedua yang panik berniat mencabut ponsel untuk memanggil bantuan, namun Aura melangkah maju dengan gerakan cepat, menepis ponsel tersebut hingga melayang, lalu melempar pukulan *palm strike* tepat di rahang pria itu hingga pingsan seketika.
Julian yang menyaksikan dua orang sewaannya tumbang dalam waktu kurang dari sepuluh detik langsung mundur hingga punggungnya menghantam dinding kamar. Wajahnya pucat pasi, peluh dingin membanjiri dahinya.
"A-Aura... tolong, ini semua ide Tante Siska dan Clara! Aku cuma disuruh!" ratap Julian dengan suara gemetar hebat.
"Terlambat untuk minta ampun, parasit," ucap Aura dingin secepat senapan mesin.
Tanpa ragu, Aura mencengkeram pergelangan tangan Julian dan memutarnya ke belakang hingga suara *krak* halus berbunyi. Julian menjerit kesakitan sebelum akhirnya Aura menghantamkan punggung tangan pria itu ke tepi meja kayu hingga ia pingsan tak sadarkan diri.
Dengan tenang, Aura mengambil kamera canggih milik fotografer yang tergeletak di lantai. Ia memindahkan kartu memori ke ponsel pribadinya, lalu mengakses sistem operasional proyektor utama *ballroom* hotel melalui jaringan Wi-Fi internal—sebuah keahlian peretasan dasar yang sangat mudah bagi mantan agen rahasia.
"Siska, Clara... kalian ingin pertunjukan media, kan? Mari kita beri mereka pertunjukan yang tak terlupakan," gumam Aura dengan senyum sinis.
Sementara itu di *ballroom* utama, suasana sedang berada di puncak keramaian. Siska dan Clara berdiri di dekat panggung utama bersama beberapa wartawan terkemuka. Clara berkali-kali melirik jam tangannya dengan senyum puas yang sulit disembunyikan.
"Ibu, seharusnya gambarnya sudah muncul sekarang," bisik Clara penuh semangat.
Siska mengangguk pelan, mengangkat gelas *champagne*-nya. "Tunggu sebentar lagi, Sayang. Sebentar lagi nama Aura Valeria akan hancur lebur di depan seluruh petinggi kota."
Adrian yang berdiri di dekat area VIP memegang gelasnya dengan raut wajah yang semakin dingin. Naluri kewaspadaannya memberi sinyal bahwa Aura terlalu lama berada di atas. Tepat ketika Adrian hendak memberi perintah pada pengawalnya untuk memeriksa lantai empat, lampu utama *ballroom* mendadak redup secara otomatis.
Layar proyektor raksasa di atas panggung utama menyala terang!
Para tamu undangan dan wartawan langsung mengarahkan perhatian mereka ke panggung, mengira acara lelang amal akan segera dimulai. Kamera-kamera wartawan siap merekam.
Namun, alih-alih menampilkan logo Yayasan Kartika, layar proyektor justru menayangkan rekaman video jernih bersuara tajam dari Kamar 408!
Di dalam video tersebut, terlihat jelas rekaman percakapan antara Siska, Clara, dan Julian di sebuah kafe sehari sebelumnya. Suara Siska terdengar sangat nyaring menyebar ke seluruh penjuru *ballroom*:
*"Ibu sudah menyiapkan rencana untuk menjebak Aura dengan obat bius. Julian, tugasmu tinggal berpura-pura mesra dengannya di kamar hotel, lalu wartawan akan mengambil gambarnya. Kita hancurkan reputasinya di depan Adrian Vane!"*
Video kemudian berganti menampilkan detik-detik pelayan menyerahkan jus beracun kepada Aura, lengkap dengan bukti analisis rekaman CCTV hotel yang dipercepat.
*Gasp!*
Gelombang teriakan kaget dan gumaman panik langsung memenuhi *ballroom*! Kamera-kamera wartawan yang tadinya tenang seketika berbalik seratus delapan puluh derajat, mengarahkan kilatan lampu *flash* tanpa henti tepat ke arah wajah Siska dan Clara!
"Ya ampun! Nyonya Siska dan Clara berniat menjebak anak sendiri?!"
"Licik sekali! Ini sudah masuk ranah tindak kriminal peracunan dan pencemaran nama baik!"
"Keluarga Valeria benar-benar tidak punya urat malu!"
Wajah Siska seketika pucat bagaikan mayat. Gelas *champagne* di tangan Clara terlepas dan pecah berantakan di lantai marmer. Mereka berdua gemetaran hebat di bawah kepungan puluhan wartawan yang memberondong pertanyaan tanpa ampun.
"Nyonya Siska! Apakah video itu benar?!"
"Apakah Anda sengaja memberi obat bius pada Nona Aura?!"
Sebelum mereka sempat melarikan diri, pintu masuk utama *ballroom* terbuka lebar.
Aura melangkah masuk dengan gaun hitamnya yang tetap rapi tanpa cela. Di belakangnya, belasan polisi berseragam resmi berjalan mengawal. Aura berjalan menuju panggung dengan langkah tegap, memancarkan pesona dominasi yang begitu kuat.
Aura mengambil mikrofon di atas mimbar panggung. Bicaranya langsung mengalir secepat senapan mesin, membedah kasus tersebut di depan seluruh hadirin tanpa memberi jeda satu detik pun bagi Siska maupun Clara untuk membela diri!
"Semua bukti digital, rekaman suara, sampel obat perangsang di jus, dan pengakuan tertulis dari Julian sudah saya serahkan ke pihak kepolisian sepuluh menit yang lalu," cecar Aura secepat kilat. "Tindakan peracunan berencana dan rekayasa skandal ini adalah pelanggaran hukum berat. Selamat menikmati proses hukumnya, Nyonya Siska dan Clara!"
Pihak kepolisian langsung bergerak cepat memasangkan borgol ke tangan Siska dan Clara di tengah histeria dan kilatan kamera media.
"Aura! Kamu anak tidak tahu diri! Lepaskan kami!" jerit Siska sambil diseret keluar dari *ballroom*.
"Kak Aura, tolong! Aku adikmu!" teriak Clara menangis histeris, namun para petugas tidak menghiraukannya sedikit pun.
Seluruh tamu undangan memberikan tepuk tangan meriah atas keberanian dan ketegasan Aura yang membongkar kejahatan tersebut secara elegan di depan publik.
Aura meletakkan kembali mikrofon di mimbar, merasa sangat puas karena telah menuntaskan dendam pemilik tubuh asli atas perundungan keluarga beracun itu. Ia berniat turun dari panggung untuk menemui Adrian.
Namun... sifat ceroboh bawaan jiwanya yang selalu kumat setiap kali ia merasa terlalu lega atau puas kembali berulah!
Ujung gaun malam hitamnya yang panjang terinjak oleh hak sepatu *heels*-nya sendiri saat melangkah turun dari anak tangga panggung!
"Aah, aduh!"
Aura hilang keseimbangan total dan tubuhnya meluncur jatuh ke depan tangga!
*Greb!*
Tentu saja, lengan kokoh Adrian yang sudah bersiap di bawah tangga menangkap tubuh Aura dengan presisi sempurna. Adrian menarik tubuh wanita itu rapat-rapat ke dalam dekapannya, menyelamatkannya dari benturan keras untuk kesekian kalinya.
Aura mendongak kaget, matanya yang bulat berkedip-kedip konyol di pelukan Adrian di depan ratusan pasang mata tamu undangan.
Adrian menatap wajah Aura dari jarak sangat dekat. Sebuah senyuman sangat menawan dan penuh rasa bangga terukir jelas di wajah sang CEO Mafia.
"Rencana pembalasan dendam yang sangat jenius, Istriku," bisik Adrian dengan suara rendah yang begitu seksi di dekat telinga Aura, kekehan renyahnya bergema di dalam dada bidangnya. "Tapi kenapa setiap kali kamu selesai bersikap seperti ratu penguasa dunia, kamu selalu menutupnya dengan manuver jatuh ke dalam pelukanku?"
Wajah Aura seketika memerah panas sampai ke ujung telinga!
"I-itu tangga panggungnya terlalu curam! Bukan aku yang ceroboh!" elak Aura secepat kilat, bicaranya yang serba cepat kembali keluar untuk menutupi rasa malu. "Lagipula kamu ngapain berdiri rapat-rapat begini?! Turunkan aku sekarang, semua orang sedang melihat tahu!"
Adrian tidak menurunkan Aura. Sebaliknya, pria itu justru mengangkat tubuh Aura dalam papahan gaya *bridal carry* yang sangat mesra di hadapan seluruh wartawan yang langsung bersorak dan mengambil gambar momen romantis tersebut.
"Biarkan mereka melihat," tegas Adrian dengan pandangan posesif yang pekat, menatap Aura yang berada di pelukannya. "Mulai malam ini, seluruh kota tahu bahwa kamu bukan sekadar istriku... tapi penguasa yang berjalan di sampingku."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
TBC ❤️🥰😘