“Sikapmu sekarang sama seperti wanita murahan.”
“Kau yang membuatku terlihat seperti itu, jadi jangan salahkan aku.”
•••
Giselle Uchiyama tak pernah tahu apa arti sebenarnya dari kebahagiaan sebelum ia bertemu dengan seorang pria yang anehnya dapat membuat Giselle bertingkah gila hanya untuk mendapat perhatian.
Namun…
Bagi Jio Pratama, Giselle hanyalah iblis berparas bidadari yang siap menghancurkan hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vienbluu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 7
•••
Beberapa hari setelah skorsing yang diberikan Bu Jennie kepadanya, kini Giselle sudah kembali masuk kampus seperti biasa.
Di koridor kampus menuju kelas, Giselle bertemu dengan Karina dan Yesha yang dengan sengaja menghadang jalannya.
"Kau di skors lagi?”
“Kenapa tak mengabari kami?”
“Kau bahkan tidak bisa dihubungi. Kau punya masalah apa dengan Jevan sampai-sampai memukulnya, dan itu kau lakukan di kampus pula.”
“Ya Tuhan… itu menjadi topik utama di seluruh departemen kampus ini kau tahu?" Pekik Karina dengan pertanyaan beruntun yang dia ajukan.
"Kau tak bisa bertanya satu-satu? Mana yang harus aku jawab lebih dulu?"
"Baiklah. Kemana saja kau, kenapa tidak bisa dihubungi beberapa hari ini?"
"Aku mematikan ponselku."
"Kenapa?" Sahut Yesha.
"Karena aku tahu kalian akan mengomel padaku seperti ini. Terlebih lagi Karina, lebih baik aku mematikan ponselku."
"Wah… kejam sekali padahal aku khawatir padamu."
"Bukankah kau bilang tak akan bicara pada Giselle, karena dia memutus panggilanmu sepihak waktu itu?" Ucap Yesha pada Karina.
"Benarkah? Aku akan berterima kasih pada Tuhan jika itu benar terjadi. Bicara dengan Karina hanya membuat tekanan darahku naik."
"Kalian jahat sekali, menyebalkan."
Karina meninggalkan Giselle dan Yesha yang tertawa setelah puas menggodanya.
•••
Kelas selesai Giselle, Karina, dan Yesha pergi ke cafetaria kampus untuk makan siang yang sedikit terlambat.
Setelah memesan mereka duduk di salah satu bangku yang berada di dekat jendela.
Tak lama pesanan mereka pun siap, Yesha berinisiatif mengambil pesanan mereka di loket makanan.
Di sana Yesha kembali bertemu dengan Yohan yang sedang memilih minuman dingin di depannya tersebut, Yesha menghampiri kemudian menyapa.
"Hai Yohan..."
"Oh hai Yesha… makan siang?"
Yesha mengangguk, "Iya, kau sendiri sudah makan?"
"Begitulah. Kau bersama Giselle dan Karina, kan?"
"Bukankah selalu begitu."
"Sini biar aku bantu membawakan pesanan kalian." Ucap Yohan yang langsung merebut nampan berisi makanan serta minuman tersebut.
"Tapi bagaimana kau memegang minumanmu?" Tanya Yesha yang membuat Yohan langsung meletakan sebotol minuman dingin tersebut di atas nampan makanan yang tadi direbutnya.
Yesha menunduk malu, "Ah… aku terlihat seperti orang bodoh, kenapa tidak terpikir tentang itu." Gumamnya.
"Sudahkan? Ayo tunjukkan di mana tempat kalian."
"Baiklah ayo..."
Yesha berjalan memimpin menunjukkan di mana tempat mereka duduk tadi. Keduanya sekarang sampai di tempat yang dimaksud Yesha.
Giselle dan Karina yang melihat Yesha datang bersama Yohan saling melirik.
"Hai..." Sapa Yohan ramah.
"Hai..." Jawab Giselle dan Karina serempak.
Suasana menjadi sedikit canggung dengan kedatangan Yohan di antara mereka bertiga. Karina yang memang tidak bisa hanya diam dan tak suka keheningan pun mulai angkat bicara.
Melirik Yesha juga Yohan secara bergantian.
"Kalian berdua ada hubungan apa?"
Yesha yang saat itu tengah meminum minumannya dibuat tersedak karena pertanyaan konyol yang Karina ucapkan.
"Apa yang kau bicarakan." Bisik Yesha menyenggol lengan Karina yang membuatnya meringis kesakitan.
"Tidak ada. Aku hanya membantu membawakan pesanan kalian, lagipula aku memang ingin menemui Giselle untuk memberikan ini." Ujar Yohan seraya memberikan minuman dingin yang tadi dibelinya kepada Giselle.
Giselle menerima minuman pemberian Yohan tersebut sembari tersenyum padanya.
Karina yang melihat interaksi Giselle dan Yohan tadi hanya bisa tersenyum sambil menggigit kuku jarinya gemas, sedangkan Yesha hanya menatap datar seperti biasa.
Giselle tersenyum tipis, "Tapi Yohan, kau tahukan aku sudah membeli minumanku sendiri? Untuk apa repot-repot membelikan aku minuman lagi?"
"Tak apa, kau bisa meminumnya nanti. Kalau begitu aku pergi dulu, nikmati makan siang kalian." Ujar Yohan tersenyum seraya berjalan meninggalkan mereka.
"Hah… dia tak mengerti maksudku."
"Giselle, kau harusnya menerima perasaannya. Kak Yohan sudah mendekatimu sejak kita di semester awal, lagipula dia kakak tingkat yang tampan dan baik.”
“Tak ada ruginya juga daripada kau mengencani pria-pria brandal macam Donny Atmaja, Raul Sanjaya, apalagi Jevan Lesmana dan pria-pria lain di luar sana." Omel Karina.
"Aku tidak tega, Yohan terlalu baik. Yesha… kau bisa berkencan dengannya jika ingin."
"Yang benar saja. Dari tadi kalian selalu bicara omong kosong. Kalian sudah tidak waras?" Sungut Yesha.
Karina tertawa mendengar jawaban Yesha. Giselle hanya tersenyum mendengarnya, tahu jika Yesha menyembunyikan sesuatu dari dirinya juga Karina.
"Oh ya, aku ingin tanyakan sesuatu.”
“Apa kalian tau pria bernama Jio Pratama di universitas ini?"
"Jio Pratama… kalau dipikir-pikir itu nama yang asing bagiku. Karina kau tahu?"
"Entahlah, kurasa aku juga tidak pernah mendengar namanya. Jio yang aku tahu adalah salah satu member Boy Group terkenal itu. Memangnya dia dari departemen mana? Lagipula siapa dia, mangsa barumu?"
"Tidak, belum. Dan kalaupun aku tahu dia dari departemen yang mana, aku tidak akan bertanya kepada kalian.”
“Kalau begitu bantu aku mendapat informasi tentangnya ya..."
"Kurang kerjaan, memang dia sepenting apa? Tak biasanya kau penasaran begini."
"Sangat. Aku sangat penasaran terhadap Jio Pratama ini dan itu sangat penting demi keberlangsungan hidupku."
Kemudian Giselle menceritakan tentang alasannya mengapa dia sepenasaran itu terhadap sosok Jio Pratama.
Menceritakan dari awal saat Jio Pratama menolongnya dari tindakan Jevan, sampai ia bertemu dengan Jio di sebuah minimarket yang membuat Giselle mengikutinya ke suatu tempat.
Namun Giselle tak menceritakan keseluruhan dia tetap menyimpan sebuah rahasia untuk dirinya sendiri, rahasia yang dapat menguntungkannya suatu hari nanti.
"Tadi kau bilang apa? Mengucapkan terima kasih? Kepadanya? Wah… sejak kapan kau tahu kalimat itu?
Bolehkah Giselle membunuh Karina saat ini juga.
Jika saja Yesha tak menahannya mungkin Giselle sudah kehilangan kendali dan melakukannya.
Tapi Giselle akui apa yang dikatakan Karina benar, dia tak pernah mengucapkan kata terima kasih apalagi pada seorang pria.
Itu hal yang langka, hal ini membuat Karina dan Yesha tak paham.
Kata terima kasih adalah hal yang asing untuk sekedar terucap dari bibir Giselle, orang-orang pasti akan mencelanya karena dia hampir tidak pernah mengucapkan kalimat sederhana itu.
Orang seperti apa Jio Pratama ini, yang bisa membuat Giselle mengucapkan kalimat terima kasih, yang bahkan membuat keduanya terkejut hanya dari cerita yang disampaikan oleh Giselle sendiri.
"Bantu aku ya, aku memaksa dan kalian harus mau."
"Tck… selalu saja, baiklah kalau begitu.”
“Karina, bersiaplah mencari jarum di tumpukan jerami." Ucap Yesha yang membuat Giselle tersenyum senang.
"Uh… kau memang yang terbaik Yesha Kristus..." Ucap Giselle memeluk Yesha.
“Namaku Yesha Hadinata! Sekali lagi kau panggil aku begitu, lupakan kalau aku mau membantumu!”
“Iya-iya baiklah…”
Giselle kembali memeluk Yesha.
"Jauh-jauh kau membuatku geli."
"Kau bahkan tak pantas bersikap manis seperti diriku Giselle." Ledek Karina.
"Diam kau."
Menghabiskan waktu bersama Karina dan Yesha membantu Giselle sedikit banyak melupakan rasa sepi atas kesendiriannya saat berada di apartemen yang menyesakkan itu. Apartemen yang membuatnya merasa hidup seperti di neraka setiap malamnya.
•••Vienbluu (annavienbluu)