Panti asuhan "Lentera Kasih" akhirnya menjadi satu-satunya tempat yang bersedia menerimanya. Di sana, di antara keterbatasan dan hidangan seadanya, Kirana tumbuh menjadi gadis yang kuat dan sangat cerdas. Buku-buku tua di perpustakaan panti menjadi teman setianya. Kirana belajar dengan giat, menyerap ilmu pengetahuan dengan ketajaman berpikir yang mengagumkan. Ia tahu, hanya dengan pendidikan ia bisa mengubah takdirnya.
Namun, kecerdasannya saja tidak cukup untuk membayar biaya masuk universitas. Mimpinya untuk berkuliah di jurusan Kedokteran—cita-cita yang terinspirasi dari keinginan menyembuhkan luka dan menyelamatkan nyawa—membentur dinding tebal bernama biaya. Malam ini, dengan sisa-sisa keberanian yang ia kumpulkan selama berminggu-minggu, Kirana memutuskan untuk mendatangi rumah masa kecil ayahnya. Ia tidak meminta warisan atau kemewahan; ia hanya berharap ada sedikit keajaiban dan rasa iba di hati sang nenek agar mau membiayai pendidikannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penawaran di Luar Dugaan
Mobil sedan mewah itu membelah jalanan malam yang tenang. Keheningan di dalam kabin yang hangat hanya dihiasi suara rintik hujan yang mengetuk kaca jendela luar. Di samping Kirana, Rian duduk dengan posisi tegap, pandangannya lurus menyusuri jalanan, namun auranya yang dominan memenuhi seluruh ruangan.
"Berapa umurmu?" tanya Rian memecah keheningan. Suaranya datar namun terdengar tegas di tengah kesunyian. "Dan kenapa kamu jalan kaki hujan-hujanan malam-malam begini?"
Kirana menarik napas pelan, mengusap tangannya yang masih terasa dingin. Ia tidak merasa perlu menyembunyikan apa pun atau berpura-pura. Kepolosannya dan ketulusannya membuatnya menjawab setiap pertanyaan Rian dengan kejujuran tanpa beban.
"Umur saya genap dua puluh tahun, Pak," ujar Kirana lembut namun mantap. "Saya baru saja pulang dari kampus negeri di pusat kota untuk mengurus pendaftaran beasiswa kuliah. Saya harus jalan kaki karena uang di sisa tabungan saya tidak cukup untuk naik taksi, sementara angkutan umum yang menuju arah panti asuhan sudah tidak ada yang melintas sejak sore tadi."
Rian diam mendengarkan, matanya yang tajam melirik sekilas ke arah Kirana. Ia menangkap keteguhan yang jujur dalam nada suara gadis itu—tidak ada nada meratapi nasib atau mengharapkan belas kasihan.
"Kamu anak yatim piatu?" tanya Rian lagi.
"Iya, Pak. Orang tua saya meninggal saat kecelakaan waktu saya berumur lima tahun. Sejak saat itu saya besar di Panti Asuhan Lentera Kasih," jawab Kirana jujur, tak sedikit pun menyembunyikan latar belakangnya.
Rian terdiam sejenak. Pikiran sang CEO berputar cepat. Di dunia klan Wijaya yang penuh dengan intrik, ketamakan, dan perebutan kekuasaan, orang-orang di sekitarnya selalu mendekatinya demi harta, takhtanya, atau sekadar kasihan pada kondisi fisiknya yang terikat di atas kursi roda. Namun gadis di sampingnya ini berbeda; polos, jujur, berpendidikan, tak mudah menyerah, dan yang paling penting, tidak memandangnya dengan tatapan kasihan.
Mobil perlahan mulai melambat saat memasuki kawasan jalan kecil menuju panti asuhan. Lampu-lampu panti tampak samar di kejauhan di balik guyuran hujan.
Tiba-tiba, Rian memutar posisinya sedikit, menatap lurus tepat ke dalam manik mata Kirana.
"Jadi istri saya," ucap Rian tenang namun penuh penekanan. "Saya akan mengurus semua administrasi kuliahmu, membiayai pendidikannya sampai selesai, dan menjamin seluruh kehidupanmu."
Kata-kata itu terucap begitu saja dari bibir sang CEO, memotong kesunyian malam dan membuat Kirana terpaku seketika, menatap Rian dengan mata membelalak tak percaya.
Suasana di dalam kabin mobil mendadak membeku. Kata-kata yang baru saja terucap dari bibir Rian memantul di dinding kendaraan mewah itu, meninggalkan gema yang membuat dada Kirana berdesir hebat.
"Jika kamu setuju, besok siang anak buah saya akan menjemputmu. Kita akan ke kantor catatan sipil," lanjut Rian dengan nada tenang yang mutlak, seolah sedang menyampaikan sebuah poin kesepakatan bisnis yang paling penting. Matanya tak sedikit pun berkedip, mengunci pandangan Kirana yang masih terpaku.
Kirana benar-benar bengong. Otaknya seakan berhenti berputar selama beberapa detik. Pernikahan? Dengan pria asing bertangan dingin yang baru ia temui beberapa puluh menit lalu di tepi jalan? Tawaran itu terdengar sangat tidak masuk akal, seperti potongan adegan dari novel drama yang sering ia baca di perpustakaan.
Ia memandangi Rian yang duduk tegap di sampingnya. Pria itu tidak tampak sedang bercanda. Di balik sorot mata hitam legam itu, ada keseriusan dan ketegasan yang tak terbantahkan. Bagi Kirana, janji untuk membiayai seluruh administrasi kuliah dan masa depannya adalah sebuah keajaiban besar—kunci menuju impiannya yang sempat nyaris terkunci rapat. Namun, harga yang ditawarkan terasa sangat besar dan penuh ketidakpastian.
Sebelum Kirana sempat mengatupkan bibirnya atau merangkai kata untuk merespons, mobil sedan mewah itu perlahan berhenti dengan halus.
"Kita sudah sampai, Mbak," suara ramah Pak Eko memecah keheningan yang mencekat.
Kirana menoleh ke luar jendela. Di balik rintik hujan yang mulai mereda, tampak gerbang kayu Panti Asuhan "Lentera Kasih" dengan pendar lampu terasnya yang hangat. Ibu Ratna terlihat berdiri di teras dengan raut wajah cemas, memegang payung sembari menatap ke arah mobil asing yang berhenti di depan rumahnya.
Rian tidak mendesak. Ia hanya merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah kartu nama beraksen emas yang elegan, lalu meletakkannya di atas pangkuan Kirana.
"Pikirkan baik-baik malam ini. Saya tidak pernah memaksa, tapi saya selalu memegang kata-kata saya," ucap Rian pelan, suaranya dalam dan berwibawa.
Kirana menggenggam kartu nama yang terasa berat dan mahal itu dengan jari-jarinya yang gemetar. Ia menatap Rian sekali lagi, mencoba membaca apa yang sebenarnya ada di dalam pikiran pria berkuasa di atas kursi roda tersebut.
"Terima kasih... atas tumpangannya, Pak," bisik Kirana dengan sopan.
Dengan perlahan, Kirana membuka pintu mobil. Pak Eko dengan cepat memayunginya hingga ia melangkah masuk melewati pintu gerbang panti. Sedan mewah hitam itu melaju perlahan meninggalkan jalanan sepi, membelah kegelapan malam dan menyisakan Kirana yang berdiri membatu di bawah guyuran rintik hujan.
Di tangannya, kartu nama bertuliskan Rian Wijaya - Chief Executive Officer berkilau ditimpa cahaya lampu panti. Kirana tahu, malam ini ia tidak akan bisa tidur nyenyak. Sebuah persimpangan jalan paling krusial dalam hidupnya telah membentang tepat di depan mata.