NovelToon NovelToon
DI,BELAI SAHABAT SUAMIKU

DI,BELAI SAHABAT SUAMIKU

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Selingkuh / Tamat
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Pernikahan Sora dan Rian terancam hampa akibat dinginnya sikap sang suami. Di tengah kesepian yang menghimpit, hadir Aris, sahabat masa kecil Rian yang perhatian dan selalu ada. Sentuhan lembut dan kehangatan Aris perlahan mengikis benteng pertahanan Sora. Sebuah kisah tentang godaan terlarang, dilema kesetiaan, dan gairah yang membakar di balik pintu tertutup

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

UJUNG JALAN

"Terima kasih atas kuncinya, Sora..."

Bisikan Helena bergaung dingin di tengah gemericik hujan yang membasahi aspal. Jari-jarinya yang bersarung tangan kulit hitam memegang kunci tembaga kuno itu dengan sangat erat, seolah telah menggenggam seluruh takdir yang ia buru selama bertahun-tahun.

Sora berusaha menggerakkan jemarinya, namun tubuhnya terasa bagaikan tertindih tumpukan batu yang amat berat. Kesadarannya samar-samar, berada di ambang kegelapan dan kenyataan. Darah segar dari pelipisnya terus menetes hangat, menyatu dengan air hujan yang mengalir di pipinya.

Dari sudut matanya yang kabur, Sora melihat Rian dan Jaksa Pratama diseret oleh dua pria berbadan tegap menuju mobil SUV hitam di belakang. Rian, dalam sisa tenaganya, sempat menoleh ke arah Sora dengan mata yang memancarkan penderitaan mendalam.

"Bawa mereka berdua ke dermaga lama," perintah Helena dingin pada anak buahnya tanpa sedikit pun menoleh. "Pastikan mereka tidak pernah muncul lagi di permukaan."

"Bagaimana dengan wanita ini, Nyonya?" tanya salah satu pengawalnya sambil menunjuk ke arah Sora yang terkapar di dalam bangkai sedan Kejaksaan.

Helena menatap Sora sejenak. Sorot matanya begitu datar, tanpa ada sedikit pun rasa kemanusiaan atau rasa bersalah.

"Biarkan dia di dalam. Bakar mobil ini," ucap Helena datar. "Buat seolah-olah ini kecelakaan tragis akibat kebocoran bahan bakar."

Helena lalu berbalik melangkah anggun menuju mobilnya. Anak buahnya dengan cepat menyiramkan cairan bahan bakar ke arah kap mesin dan kabin sedan yang ringsek. Bau bensin yang menyengat mendadak menguasai udara, menyengat hidung Sora yang semakin melemah.

Salah satu pria menyulut pemantik api, lalu melemparkannya ke arah kap mesin.

CZZZZ... BLAAARRR!

Api berkobar cepat melahap bagian depan mobil. Hawa panas mendadak menyengat wajah Sora, membakar oksigen di sekitarnya dan memaksanya batuk-batuk hebat.

Di bawah kilatan lidah api yang kian membesar, dua SUV hitam milik Helena melaju kencang meninggalkan persimpangan jalan yang sepi itu.

Sora memejamkan matanya rapat-rapt. Apakah ini akhir dari perjalanannya? Apakah ia harus mati konyol di dalam kobaran api setelah semua penderitaan, kebohongan, dan manipulasi yang ia lewati bersama Rian, Aris, dan Danu?

"Nggak... aku nggak boleh mati di sini..." cicit Sora dalam hatinya, sebuah dorongan naluri bertahan hidup yang sangat kuat mendadak meledak di dalam dadanya.

Dengan sisa tenaga terakhir yang dimilikinya, Sora merayap keluar dari pintu sedan yang ringsek. Siku dan lututnya tergores aspal kasar, namun ia terus merayap menjauhi kobaran api yang kian membesar. Tepat saat tubuhnya berhasil merayap sejauh lima meter—

DUAAARRR!

Tangki bensin sedan Kejaksaan meledak dahsyat! Hantaman gelombang panas dan serpihan logam melemparkan tubuh Sora ke tepi jalan, membuat pandangannya benar-benar gelap gulita.

Bip... Bip... Bip...

Suara ritmis monitor detak jantung memecah kegelapan yang menyelimuti pikiran Sora. Udara beraroma antiseptik dan obat-obatan yang tajam masuk menyelimuti indra penciumannya.

Sora membuka matanya secara perlahan. Pandangannya yang tadinya buram secara bertahap mulai menyesuaikan dengan cahaya lampu putih di atas ruangan. Ia terbaring di atas ranjang rumah sakit dengan selang infus menancap di tangan kirinya dan perban tebal membungkus kepalanya.

"Mbak Sora... Syukurlah Mbak sudah sadar!"

Suara wanita yang akrab terdengar di samping ranjang. Sora menoleh perlahan, mendapati Siska—mantan sekretaris Aris yang dulu diselamatkannya di bunker—duduk di sana dengan mata berkaca-kaca.

"Siska...?" cicit Sora dengan suara yang sangat serak. "Aku... di mana?"

"Mbak ada di Rumah Sakit Bhayangkara," terang Siska cepat sambil membantu Sora membasahi bibirnya dengan sedikit air mineral. "Tim patroli kepolisian menemukan Mbak tergeletak di tepi jalan tol tak lama setelah ledakan mobil Kejaksaan. Mbak selamat!"

Sora menelan air dengan susah payah, ingatan pahit malam itu langsung membanjiri pikirannya kembali. "Rian... Jaksa Pratama... Helena..."

"Polisi sudah mengetahui segalanya, Mbak Sora," potong Siska dengan wajah yang kini berubah sangat serius. "Tim khusus gabungan Kejaksaan dan Kepolisian sudah mengepung dermaga lama tiga jam yang lalu berdasarkan jejak GPS mobil SUV milik anak buah Helena."

Sora membelalakkan matanya. "Lalu bagaimana dengan mereka?!"

Siska menarik napas panjang sebelum menjawab. "Rian dan Jaksa Pratama berhasil diselamatkan sebelum mobil mereka ditenggelamkan ke laut. Tapi Helena..."

"Helena kenapa, Siska?" desak Sora, dadanya kembali naik-turun tak beraturan.

"Helena tertangkap basah di pelabuhan pribadi saat mencoba melarikan diri ke Singapura menggunakan kapal pesiar kecil," terang Siska. "Kunci tembaga Swiss milik ayah Mbak yang diambilnya... ternyata adalah sebuah jebakan."

Sora tersentak. "Jebakan?"

"Iya," Siska tersenyum tipis. "Rian dan Jaksa Pratama sebenarnya sudah menduga bahwa Helena akan memburu kunci itu secara langsung. Kunci yang dibawa Mbak Sora malam itu sudah dipasangi micro-chip pemancar sinyal satelit khusus yang langsung terhubung ke radar Kepolisian Internasional (Interpol)."

Sora membisu. Ternyata Rian tidak sepenuhnya bertindak bodoh—pria itu sengaja menjadikan kunci itu sebagai umpan untuk memancing Helena keluar dari persembunyian diplomatiknya!

"Saat ini Helena Kusuma beserta seluruh anggota konsorsium kotornya di Singapura dan Zurich telah ditangkap dan ditahan tanpa hak jaminan," lanjut Siska dengan nada lega. "Seluruh berkas kejahatan finansial, pencucian uang, dan konspirasi pembunuhan yang mereka lakukan selama belasan tahun akhirnya terbongkar penuh ke publik."

Sora bersandar pada bantal rumah sakit. Airmata hangat perlahan meluncur menyusuri pipinya. Namun kali ini, bukan air mata ketakutan atau kepedihan... melainkan air mata kebebasan murni yang telah lama hilang dari dadanya.

Belenggu masa lalu yang dirajut oleh Rian, Aris, Danu, dan Helena akhirnya benar-benar hancur menembus dasar bumi.

Tiga bulan kemudian.

Pagi hari di kawasan Jakarta Selatan terasa begitu sejuk dan cerah. Sinar matahari pagi menyusup hangat melalui jendela kaca besar sebuah galeri seni baru bernuansa putih bersih yang berdiri anggun di pinggir jalan utama.

Di bagian depan galeri, terpasang papan nama kayu berukir sederhana namun sangat elegan: "SORA ART GALLERY".

Sora berdiri di depan sebuah kanvas besar di tengah ruangan. Ia mengenakan terusan gaun putih yang simpel dengan rambut hitamnya yang diikat longgar ke belakang. Wajahnya memancarkan ketenangan, kebahagiaan, dan kemandirian yang utuh—tanpa ada lagi bayang-bayang trauma atau ketakutan.

Proses hukum seluruh tersangka telah selesai sepenuhnya. Rian mendapat keringanan hukuman karena perannya sebagai saksi kunci dan kini menjalani masa tahanannya dengan penyesalan mendalam. Sementara aset dan seluruh warisan almarhum ayahnya telah dipulihkan secara penuh dan sah oleh negara di bawah nama Sora.

Sora mengangkat kuasnya, memberikan goresan warna kuning keemasan terakhir pada lukisan pemandangan matahari terbit di atas lautan luas—sebuah simbol dari kehidupan barunya yang bersih.

Kring...

Suara lonceng di atas pintu kaca galeri berdenting lembut, menandakan seorang pengunjung melangkah masuk.

Sora membalikkan badannya sambil menyunggingkan senyuman hangat yang sangat tulus dari dalam jiwanya.

Seorang pria tegap berstelan kemeja biru kasual berdiri di ambang pintu, membawa seikat bunga matahari segar dan sebuah dokumen kerja. Pria itu adalah pengacara muda dari tim pemulihan aset keluarganya yang selama beberapa bulan ini setia membantunya menata ulang seluruh administrasi hidupnya tanpa pernah memaksakan kehendak atau bersikap dominan.

"Selamat pagi, Mbak Sora," panggil pria itu dengan senyuman ramah dan sopan. "Maaf mengganggu waktu melukisnya. Saya membawa dokumen akhir pelimpahan penuh galeri ini dari pengadilan."

Sora melangkah mendekat, menerima dokumen tersebut lalu menatap seikat bunga matahari yang diulurkan padanya.

"Terima kasih banyak, Mas Bima..." ucap Sora lembut sambil menghirup aroma segar bunga di tangannya. "Terima kasih untuk semuanya."

Bima menatap lukisan matahari terbit di kanvas besar di belakang Sora dengan rasa kagum yang jujur.

"Lukisan yang sangat indah, Mbak Sora," puji Bima tulus. "Matahari terbitnya kelihatan sangat nyata dan penuh harapan."

Sora memandangi lukisannya sendiri, lalu menatap lurus ke arah jendela luar tempat sinar matahari pagi bersinar begitu terang membakar sisa-sisa kegelapan masa lalunya.

"Karena setelah badai yang sangat panjang... akhirnya aku bisa melihat matahari terbit milikku sendiri tanpa ada yang membatasinya lagi."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!