NovelToon NovelToon
Nikah Kilat Sang Mayor: Jatuh Berkali-kali dalam Pelukan Perwira

Nikah Kilat Sang Mayor: Jatuh Berkali-kali dalam Pelukan Perwira

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / One Night Stand / Menikahi tentara
Popularitas:100
Nilai: 5
Nama Author: Vira Dusk

Laras terbangun dengan tubuh nyeri di ranjang asing—di sampingnya, seorang perwira TNI berdada bidang yang bahkan belum ia tahu namanya. Semalam adalah sebuah jebakan. Tapi lelaki dingin itu, **Mayor Bramantya**, justru bersikeras satu hal: *"Saya akan bertanggung jawab. Kita menikah."*

Laras cuma berniat "kerja sama dulu, lihat situasi, kalau tak cocok kabur." Ia punya rahasia: dulu anak angkat yang disiksa dan nyaris dijual ayah tirinya, kabur ke kota besar, menempa diri jadi desainer berbakat dengan tangannya sendiri. Yang tak ia duga—sang Mayor yang garang di luar itu ternyata memuja istrinya sampai ke ubun-ubun:

> *"Siapa pun kamu dulu, yang kucintai kamu yang sekarang."*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vira Dusk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 7

Bab 7

Mata Seorang Brigjen

"Saya mau."

Jawaban Laras terdengar pelan, tetapi tidak goyah.

Pak Hardjono tidak segera bereaksi. "Karena Bram menolongmu?"

"Sebagian."

"Karena kamu tidak punya tempat lain?"

Pertanyaan kedua membuat Laras terdiam lebih lama.

"Itu juga sebagian," jawabnya jujur. "Saya tidak akan berpura-pura keputusan ini lahir dari kisah cinta. Kami baru bertemu. Saya menerima karena Mas Bram memberi pilihan yang tidak pernah saya punya sebelumnya."

Ini pertama kalinya ia menyebut `Mas Bram`. Bram menoleh, sedikit terkejut, tetapi Laras tetap memandang ayahnya.

"Dia berjanji saya bisa tetap bekerja, punya ruang sendiri, dan pergi kalau kelak merasa tidak aman. Saya tahu pernikahan bukan percobaan. Karena itu saya tidak menjawab dengan ringan. Tapi untuk sekarang, saya memilih mencoba membangun hidup bersama anak Bapak."

Pak Hardjono mengamati wajahnya beberapa detik. "Baik. Saya dengar jawabanmu."

Ia belum mengatakan setuju.

Bu Rahayu meminta Bik Inah mengantar Laras ke kamar tamu. Sebelum pergi, Laras sempat menoleh kepada Bram. Lelaki itu mengangguk kecil, memberi tahu tanpa kata bahwa ia tidak perlu kembali untuk menghadapi pembicaraan berikutnya.

Pintu kamar tamu ditutup. Beberapa menit kemudian terdengar bunyi kunci diputar dari dalam.

Pak Hardjono mendengarnya.

Laras tidak langsung tidur. Setelah mandi dan mengganti pakaian dengan kaus serta celana panjang milik Kinan yang dipinjamkan Bu Rahayu, ia keluar mencari air panas. Bik Inah sedang menutup panci sup di dapur.

"Mbak Laras belum makan banyak," katanya. "Mau saya hangatkan lagi?"

"Tidak usah repot, Bik. Air hangat saja."

Bik Inah menuangkan air ke cangkir. Ia kelihatan ingin bertanya, tetapi memilih menggeser sepiring pisang goreng ke depan Laras.

"Mas Bram tidak pernah membawa perempuan ke rumah," ujarnya akhirnya.

Laras hampir tersedak air. "Semua orang terus mengatakan itu. Saya jadi merasa seperti barang bukti langka."

Bik Inah tertawa kecil. "Bukan begitu. Saya cuma mau bilang, kalau beliau sudah membawa Mbak masuk lewat pintu depan, berarti niatnya sungguh-sungguh."

"Kalau keluarganya tidak setuju?"

"Pak Hardjono banyak bertanya, tapi beliau tidak suka orang dihukum sebelum ada bukti. Bu Rahayu kelihatannya sudah ingin memberi Mbak makan tiga kali malam ini."

Kalimat sederhana itu mengurangi sesak di dada Laras. Ia membawa cangkir kembali ke kamar, mengunci pintu, lalu meletakkan kursi dekat gagang karena kebiasaan lama belum bisa hilang dalam satu malam.

***

Malam turun bersama gerimis tipis.

Bram duduk di ruang kerja ayahnya. Lemari kaca di belakang meja menyimpan tanda jasa dan foto-foto penugasan. Pak Hardjono berdiri di depan jendela, sedangkan Bu Rahayu baru masuk setelah memastikan memar Laras tidak membutuhkan perawatan rumah sakit segera.

"Dia tidak mau saya periksa penuh," kata Bu Rahayu. "Hanya mengizinkan saya membersihkan luka di pergelangan. Ada tanda dehidrasi, kurang tidur, dan memar yang usianya berbeda. Bukan semua terjadi kemarin."

Rahang Bram mengeras.

"Siapa yang melakukannya?" tanya Pak Hardjono.

"Ayah angkatnya terlibat. Nama lengkap dan alamat terakhir belum saya dapatkan."

"Belum dapat atau dia belum mau memberi?"

"Belum siap memberi."

Pak Hardjono berbalik. "Dan kamu siap menikah dengan seseorang yang nama ayah angkatnya saja belum kamu tahu?"

"Ya."

"Jangan jawab seperti sedang menerima perintah. Pikirkan akibatnya."

"Saya sudah memikirkannya sejak subuh."

Bu Rahayu duduk di kursi dekat pintu. "Bram, Ibu bersimpati kepada Laras. Tapi keadaan seperti ini bisa membuat orang mengambil keputusan karena panik. Bagaimana kalau dia menganggap pernikahan satu-satunya cara untuk selamat?"

"Saya memberi pilihan lain. Saya bisa mencarikan tempat aman dan membantu laporan tanpa menikah. Dia tetap memilih datang."

"Kamu?" tanya ibunya. "Apa kamu memilih karena rasa bersalah?"

Bram diam sesaat.

"Saya memilih karena sesuatu terjadi di bawah tanggung jawab saya juga. Tapi bukan hanya rasa bersalah." Ia mengingat Laras yang berdiri di gerbong dengan lutut belum pulih, memeriksa sandal anak, lalu menghadapi penculik tanpa mundur. "Dia berani, jujur tentang kesalahannya, dan tidak meminta apa pun. Saya menghormatinya."

"Menghormati belum tentu cukup untuk menikah."

"Bisa menjadi awal."

Bu Rahayu menatap putranya lama. Dua perempuan yang pernah ia kenalkan ditolak Bram bahkan sebelum pertemuan kedua. Malam ini, lelaki yang sama mempertahankan seorang asing dengan keteguhan yang belum pernah dilihatnya.

Pak Hardjono kembali ke meja. "Ada risiko lain."

"Saya tahu."

"Belum tentu." Ia menautkan kedua tangan. "Kalau nanti Laras merasa tertekan lalu mengatakan kamu memaksanya menikah, kariermu bisa terkena. Kalau latar belakangnya berkaitan dengan tindak pidana, satuanmu akan ikut diperiksa. Kalau ada pihak yang sengaja menanam dia untuk mendekati keluarga ini, dampaknya lebih luas daripada rumah tangga kalian."

Bu Rahayu terlihat tidak nyaman. "Mas, jangan bicara seolah Laras mata-mata."

"Saya bicara sebagai orang yang pernah melihat prajurit jatuh bukan karena peluru, melainkan keputusan pribadi yang tidak diperiksa."

"Laras korban," kata Bram.

"Mungkin. Dan cara membuktikan itu bukan dengan keyakinanmu saja."

Pak Hardjono mendorong sebuah buku catatan ke depan Bram. "Kamu akan melapor kepada Letkol Wibowo melalui jalur resmi. Ajukan surat izin kawin. Litsus dilakukan seperti calon pasangan prajurit lain. Tidak ada nama saya yang dipakai untuk mempercepat hasil."

"Siap."

"Jangan `siap` saja. Pastikan Laras memahami bahwa pemeriksaan latar belakang bukan tuduhan. Dia berhak tahu data apa yang diminta."

"Saya akan menjelaskan."

"Dan mintakan pendamping perempuan saat bagian sensitif diperiksa. Jangan biarkan dia mengulang pengalaman buruk di hadapan ruangan penuh laki-laki."

Bram mengangguk. Ayahnya keras, tetapi setiap syarat yang ia pasang ternyata juga melindungi Laras.

Bu Rahayu mengembuskan napas. "Lalu selama proses itu dia tinggal di mana?"

Pak Hardjono menoleh ke pintu. "Kamar tamu. Tidak ada yang mengganggunya."

Kalimat itu membuat bahu Bram sedikit turun.

"Tapi keluarga harus tahu," lanjut Pak Hardjono. "Bas dan Endah perlu datang. Kinan juga pulang dari kampus besok. Kalau pernikahan ini berjalan, saya tidak mau Laras masuk ke keluarga yang berbisik di belakangnya."

Ia mengambil ponsel dan menghubungi putra sulungnya.

Panggilan tersambung setelah tiga nada.

"Assalamualaikum, Bapak," terdengar suara Mas Bas.

"Waalaikumsalam. Kamu di mana?"

"Baru pulang ke rumah. Ada apa?"

Pak Hardjono menatap Bram. "Adikmu pulang membawa calon istri."

Sunyi dari ujung telepon berlangsung dua detik, lalu suara Mas Bas meninggi. "Bram? Calon istri?"

Bu Rahayu menutup mulut agar tidak tertawa. Bram memijat pangkal hidung.

"Bawa Endah datang besok," kata Pak Hardjono. "Jangan membuat keributan di grup keluarga."

"Tapi siapa namanya? Dari mana? Sejak kapan Bram punya calon?"

"Besok kamu dengar sendiri."

Pak Hardjono memutus panggilan sebelum pertanyaan berikutnya keluar.

Ia lalu menatap Bram dengan mata seorang pensiunan brigjen yang terbiasa memisahkan naluri dari bukti.

"Kita cek latar belakangnya. Kalau bersih, saya restui."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!