Clyrine Elamora Rexander adalah putri manja pemilik Raxenswood Academy yang memilih menyembunyikan identitasnya dan menjalani kehidupan sebagai murid pemberontak yang gemar berkelahi demi melindungi mereka yang tertindas.
Namun, kehidupan palsunya mulai runtuh ketika ia berhadapan dengan Claire, saudari tirinya yang ternyata menyimpan sisi gelap, serta Jonathan Wright, pria yang ingin memanfaatkan perjodohan mereka untuk merebut Raxenswood.
Di tengah rahasia keluarga, pengkhianatan, dan ancaman yang semakin dekat, Clyrine harus berhenti bersembunyi dan menghadapi kenyataan bahwa menjadi pewaris Raxenswood berarti mempertaruhkan segalanya.
Sebab di balik semua kekacauan itu, ada seseorang yang diam-diam telah merencanakan semuanya dari balik bayangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xyfvxnyy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sorot Mata di Parkiran dan Langkah Menuju Ujian
Raungan mesin motor sport merah-hitam milik Adrian perlahan meredup saat roda depannya menyentuh batas paving blok area parkir khusus siswa Rexanswood Academy. Dengan gerakan luwes, Adrian memutar setang, memundurkan bodi motornya sedikit, lalu menurunkannya tepat di samping deretan mobil mewah keluaran terbaru milik para murid elit sekolah itu.
Kedatangan murid baru selalu menjadi magnet perhatian di sekolah prestisius ini. Namun pagi itu, atmosfer parkiran mendadak berubah jauh lebih gaduh dan dipenuhi tatapan heran. Adrian Vaughan—dengan postur atletis, seragam rapi yang dikenakan santai tanpa kancing jas atas, dan wajah tampan khas blasteran Eropa—seketika menarik pandangan puluhan pasang mata siswi yang baru saja turun dari mobil masing-masing.
Tetapi kejutan terbesar bukan hanya soal kehadiran Adrian. Saat motor itu berhenti sempurna, sesosok gadis berseragam khas Rexanswood melangkah turun dari jok belakang.
Clyrine Elamora Rexander.
Gadis yang kemarin sore baru saja dicap curang, dihukum membersihkan lapangan sampai lemas, dan selalu dicap sebagai pembuat onar tanpa masa depan oleh sebagian besar murid, pagi ini tiba di sekolah dengan membonceng murid baru yang sangat memikat.
Bisik-bisik seketika menjalar cepat di sepanjang selasar parkir.
"Eh, itu murid baru pindahan jalur internasional ya?"
"Ganteng banget... tapi kok bonceng Clyrine?"
"Bukannya kemarin Clyrine habis kena kasus di ruang BK? Kok mukanya santai banget?"
Clyrine tidak mempedulikan ocehan murahan di sekitarnya. Amarah di dadanya akibat pemandangan di lampu merah tadi—melihat Damien asyik tertawa bersama Kayvara—masih membakar kepalanya. Jemarinya membuka kaitan tali helm dengan sedikit sentakan kasar, lalu melepas pelindung kepala itu hingga rambut hitam kemerahannya tergerai berantakan tertiup angin pagi.
Adrian mematikan mesin, melepas helmnya sendiri, lalu menyugar rambut gelapnya dengan senyuman percaya diri yang tak pernah luntur.
"Helm lo sini, biar gue gantung di spion," ujar Adrian seraya menerima helm yang disodorkan Clyrine. Ia melirik jam tangan peraknya sekilas, lalu menatap Clyrine yang masih memasang wajah tegang. "Gue harus ke ruang administrasi dulu buat urus berkas kelas sama jadwal pelajaran. Nanti jam istirahat gue samperin lo ke kelas, oke?"
Clyrine menghela napas pendek, berusaha membuang bayangan wajah Damien dari benaknya. "Iya. Gedung administrasi ada di sayap kanan lantai satu, lurus aja dari lobi utama."
"Sip. Jangan kabur lo, banyak yang mau gue tanyain tentang sekolah ini," kelakar Adrian sambil mengedipkan sebelah matanya jahil, lalu berbalik melangkah dengan santai menuju lobi, membiarkan tatapan kagum siswi-siswi lain mengekori punggungnya.
Clyrine menyampirkan ranselnya di satu bahu, menegakkan dagunya, dan mulai melangkah menaiki tangga menuju gedung utama. Ia tidak punya waktu untuk meladeni rasa penasarannya soal Adrian, apalagi meratapi rasa kecewanya terhadap janji palsu Damien Vance. Pagi ini, ia punya satu misi mutlak: membuktikan kemampuannya dalam ujian susulan dan mengamankan janji hadiah dari Charles Rexander.
Namun, baru saja Clyrine melangkah di koridor utama lantai dua yang berlapis marmer krem, langkah kakinya melambat.
Di depan pintu kaca ruang bimbingan dan konseling, empat orang baru saja keluar.
Sosok jangkung Charles Rexander berdiri mendominasi koridor dengan setelan jas abu-abu gelap bergaris halus. Di samping kirinya berdiri Claire yang menundukkan kepala dalam-dalam dengan mata sembab kemerahan akibat menangis panjang. Di belakang mereka berdua, tampak Genevieve dan Victoria—dua antek setia Claire—yang berdiri kaku dengan wajah pucat pasi dan bibir terkatup rapat, tampak jelas baru saja dicecar habis-habisan di hadapan kepala BK.
Pertemuan di dalam ruang BK tadi tampaknya baru saja usai.
Charles menoleh, tatapannya langsung bertumbukan dengan manik mata Clyrine yang berdiri beberapa meter di depannya. Pria paruh baya itu tidak lagi memandang putri bungsunya dengan sorot dingin atau curiga. Sebaliknya, ada gurat ketegasan yang dibalut rasa bersalah yang berusaha ia tutupi di balik wibawa kepemimpinannya.
Charles melangkah mendekati Clyrine, menghentikan langkah tepat di hadapannya.
"Sana masuk ke dalam," ucap Charles dengan suara baritonnya yang berat dan berwibawa, memecah keheningan koridor. "Ujian susulan kamu sudah disiapkan, kamu ditunggu Pak Antonio di ruangannya sekarang."
Clyrine mengerjapkan matanya pelan, menatap lurus ke dalam manik mata sang ayah.
Charles berdeham singkat, melirik sekilas ke arah Claire dan kedua temannya yang masih mematung di kejauhan. "Masalah kamu, Claire, dan teman-temannya sudah Daddy urus tuntas dengan pihak sekolah. Rekaman yang dibawa Damien semalam sudah diperiksa resmi, dan sanksi kamu resmi dihapus dari sistem yayasan."
Sebuah kelegaan yang amat besar menjalar di dada Clyrine. Charles Rexander benar-benar membuktikan kata-katanya; ia tidak membiarkan putri kandungnya disudutkan lagi oleh permainan manipulatif Claire.
"Iya, makasih banyak ya, Dad," jawab Clyrine singkat namun tulus, menyunggingkan senyum tipis yang sopan.
Charles menepuk pelan pundak Clyrine—sebuah sentuhan langka yang sarat akan pengakuan seorang ayah yang selama belasan tahun terasa begitu jauh. "Buktikan kalau waktu belajar kamu semalam tidak sia-sia. Kerjakan dengan benar. Daddy langsung ke kantor sekarang karena ada rapat penting."
"Siap, Dad. Hati-hati di jalan."
Charles mengangguk mantap, lalu berbalik melangkah tegap menuju tangga lobi tanpa melirik Claire sedikit pun, meninggalkan aura kekuasaan yang masih membekas di lantai koridor.
Begitu derap langkah sepatu Charles menjauh dan menghilang di belokan tangga, keheningan di koridor kembali berubah tegang.
Claire melangkah maju beberapa tindak, berdiri tepat di hadapan Clyrine. Wajah ayu anak tiri keluarga Rexander itu tampak rusak oleh amarah yang tertahan. Matanya merah membara, jemarinya mengepal begitu erat di samping rok seragam hingga kainnya kusut masai. Di belakangnya, Genevieve dan Victoria menatap Clyrine dengan pandangan takut bercampur benci.
"Puas lo sekarang?" desis Claire tajam dengan suara bergetar pelan, memastikan suaranya tidak terdengar oleh guru-guru di sekitar koridor. "Lo pikir dengan lo bawa Damien semalam, lo bawa rekaman itu, dan bikin Daddy marah besar ke gue... lo udah menang?"
Clyrine hanya menatap Claire dengan tatapan datar dan dingin. Tidak ada rasa gentar sedikit pun di wajahnya; mentalnya yang ditempa oleh latihan fisik dan bimbingan Damien tadi malam membuatnya berada di level yang jauh lebih tenang.
Claire mendekatkan wajahnya sedikit, menyeringai penuh racun. "Lihat aja pembalasan gue nanti, Clyrine. Gue nggak bakal biarin lo hidup tenang di rumah itu, apalagi sampai lulus dengan nilai bagus."
Alih-alih membalas dengan bentakan atau umpatan kasar seperti dulu, Clyrine hanya tersenyum miring—sebuah senyuman remeh yang justru meremukkan harga diri Claire jauh lebih dalam daripada tamparan fisik.
Tanpa membalas sepatah kata pun, Clyrine melangkah melewatinya begitu saja, mengabaikan eksistensi Claire seolah saudara tirinya itu hanyalah angin lalu yang tak berharga.
Claire menggigit bibir bawahnya menahan murka yang meledak di dada, sementara Clyrine terus melangkah mantap menuju pintu ganda ruang bimbingan dan konseling.
Tok, tok, tok.
Clyrine mengetuk pintu kayu itu dengan percaya diri, lalu mendorongnya terbuka.
Di dalam ruangan ber-AC yang dingin itu, Pak Antonio Roberto sudah duduk di balik meja kerjanya. Di hadapannya, selembar kertas ujian baru dan lembar jawaban kosong telah tersusun rapi di bawah pengawasan langsung sang guru BK.
Melihat kedatangan Clyrine, Antonio berdeham canggung, buru-buru merapikan letak kacamatanya. "Masuk, Clyrine. Silakan duduk di meja tengah. Waktu ujian kamu sembilan puluh menit dimulai dari sekarang."
Clyrine menarik kursi di tengah ruangan, meletakkan tempat pensilnya, lalu menatap lembar soal di hadapannya dengan fokus penuh. Segala drama di koridor, rasa kecewanya pada Damien, dan bisik-bisik di parkiran tadi lenyap dari kepalanya. Di ruangan ini, ia hanya punya satu tujuan: menghabisi seluruh soal sejarah politik itu dengan nilai mutlak.