Di tengah masa kelaparan parah yang melanda desa, seorang bayi perempuan dibuang begitu saja ke dalam hutan terlarang oleh orang tua kandungnya.
Takdir membawanya ke pelukan keluarga pemburu sederhana bernama Arga dan Mira yang kemudian menamainya Natasya.
Tujuh tahun berlalu, Natasya tumbuh menjadi anak ceria yang menyimpan rahasia ajaib karena ia mampu memahami dan berbicara dengan hewan.
Ketika Mira jatuh sakit parah dan membutuhkan tanaman obat langka, Natasya menggunakan kemampuannya untuk menjelajahi hutan terlarang demi menyelamatkan ibunya dan membawa kemakmuran bagi desa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Natasya langsung memeluk pinggang ayahnya dengan sangat erat untuk menenangkan pria kekar yang sedang gemetar itu.
"Gaga yang sudah mengantarku ke sini malam ini, dia adalah serigala yang sangat baik jadi Ayah tidak perlu takut padanya."
Arga benar-benar merasa kepalanya hampir pecah karena tidak bisa memproses apa yang sedang terjadi di depan matanya saat ini.
Pria itu menatap serigala raksasa yang kini sedang duduk tenang di tanah menjaga mereka berdua dari berbagai ancaman tak terlihat di luar sana.
"Bagaimana mungkin anak manusia sepertimu bisa berteman akrab dengan hewan buas dari Hutan Larangan, Natasya?"
"Aku berjanji akan menjelaskan semuanya secara rinci nanti, Ayah."
Natasya melepaskan pelukan hangatnya dan mendongak menatap lurus ke arah dahan pohon lebat di atas mereka.
"Sekarang yang lebih penting adalah kita harus meminta kembali obor milik Ayah dari kera nakal pembuat masalah itu."
Natasya melangkah maju dengan berani melewati tubuh besar Gaga dan berdiri tepat di bawah dahan kera besar yang membawa obor tersebut.
"Hei Tuan Kera, cepat kembalikan obor milik ayahku itu sekarang juga."
Natasya berteriak sangat lantang dengan raut wajah yang sangat serius menantang ke atas pohon.
Kera besar berbulu merah gelap itu menunduk menatap ke bawah dengan pandangan mata yang sangat meremehkan.
"Anak manusia berukuran sangat kecil ini ternyata berani sekali membentakku di wilayah kekuasaanku sendiri."
Kera itu membalas ucapan Natasya dengan cicitan nyaring yang bagi manusia biasa hanya terdengar seperti suara hewan biasa, namun sangat jelas di telinga Natasya dan Gaga.
"Obor bercahaya itu sangat penting untuk perjalanan kami berdua menuju danau beracun."
Natasya menunjuk dengan jari telunjuknya ke arah obor yang sedang dipegang erat oleh kera tersebut.
"Tolong kembalikan barang itu secara baik-baik, maka aku jamin kami tidak akan marah padamu."
"Aku sama sekali tidak peduli dengan urusan perjalanan bodoh kalian."
Kera ekor merah itu kembali mengayunkan obor tersebut dengan gerakan mengejek yang membuat siapapun ingin memukulnya.
"Benda bercahaya ini terasa sangat hangat di tanganku dan aku menyukainya, jadi benda ini resmi menjadi mainan baruku malam ini."
Kera-kera bawahan lain di sekelilingnya ikut tertawa bersahutan untuk menertawakan Natasya yang dinilai lemah dan tidak berdaya.
Arga yang tidak mengerti sepatah kata pun dari apa yang dibicarakan putrinya hanya bisa menarik lengan baju Natasya dengan cemas.
"Natasya, kamu itu sebenarnya sedang berbicara dengan siapa nak?"
"Kera-kera itu hanyalah binatang buas liar di hutan, mereka sama sekali tidak mengerti bahasa manusia yang kamu ucapkan."
"Tunggu sebentar dan diamlah, Ayah, aku sedang dalam proses membujuk pemimpin mereka."
Natasya melepaskan tangan ayahnya dengan gerakan lembut lalu kembali menatap tajam ke atas dahan.
"Kalau kamu memang tidak mau mengembalikannya dengan cara yang sopan, maka Gaga yang akan memanjat naik dan memaksamu."
"Serigala bertubuh besar itu memang terlihat sangat menakutkan jika bertarung di atas darat."
Kera itu tertawa semakin kencang sambil sibuk mencari dan memakan kutu dari punggung temannya di dahan sebelah.
"Tapi tubuhnya itu terlalu berat dan dia terlalu bodoh untuk bisa memanjat pohon setinggi dan selicin ini."
Gaga menggeram sangat kesal dari hidungnya saat mendengarkan ejekan kasar dari kera licik tersebut.
"Tolong izinkan aku melompat untuk menggigit putus ekornya yang sombong itu sekarang juga, Natasya."
"Aku sangat benci dengan kawanan pemakan buah yang tidak pernah diajari sopan santun ini."
"Kamu tidak perlu repot-repot mengotori gigimu, Gaga."
Natasya tersenyum misterius lalu mengambil sesuatu yang dibungkus daun dari dalam tas bambu kecilnya.
Ia perlahan mengeluarkan sepotong kecil ikan asin sisa makan malam yang tadi tidak jadi dimakan oleh ular sanca penjaga pohon.
"Tuan Kera yang sombong, apa kamu bisa mencium bau makanan ini?"
Natasya mengibas-ngibaskan potongan ikan asin itu ke udara malam agar aromanya yang tajam menyebar terbawa hembusan angin.
Bau gurih dan amis khas ikan asin kering seketika memenuhi seluruh udara di sekitar pohon tersebut dan mengalahkan bau busuk hutan.
Kera besar itu tiba-tiba menghentikan tawanya seketika dan mulai mengendus udara dengan hidungnya yang pesek berkerut.
"Bau makanan asing apa yang sangat menggugah selera ini, anak manusia?"
Air liur kental mulai menetes lambat dari sudut mulut kera tersebut karena ia memang belum pernah sekalipun mencium bau ikan asin yang diawetkan dengan garam.
"Ini adalah makanan rahasia paling lezat yang pernah dibuat oleh bangsa manusia."
Natasya berpura-pura akan memasukkan ikan asin itu ke dalam mulutnya sendiri dengan gaya yang sangat dramatis dan meyakinkan.
"Rasanya sangat gurih, sedikit asin, dan sangat cocok dimakan untuk menghangatkan perut saat malam hari yang dingin seperti ini."
Kera-kera bawahan lain mulai saling dorong dan ribut berebut posisi dahan untuk bisa melihat sumber makanan di tangan Natasya dengan lebih jelas.
Mereka sudah sangat bosan karena setiap hari hanya bisa memakan buah liar yang masam dan mencari serangga kecil dari balik kulit kayu pohon.
"Cepat berikan makanan lezat itu kepadaku sekarang juga."
Kera besar itu melompat tidak sabar ke dahan yang lebih rendah dan mengulurkan sebelah tangannya ke bawah.
"Aku adalah pemimpin tertinggi kawanan ini, jadi hanya aku yang paling berhak mencicipi makanan itu lebih dulu."
"Tentu saja aku akan memberikannya dengan senang hati padamu, Tuan Kera yang gagah."
Natasya tersenyum sangat manis untuk menyembunyikan rencana negosiasi aslinya.
"Tapi syaratnya kamu harus menukar makanan ini dengan obor yang kamu pegang itu karena obor itu toh tidak bisa kamu makan sampai kenyang."
Kera besar itu menatap obor panas di tangan kirinya lalu menatap ikan asin kecil di tangan Natasya secara bergantian dengan wajah bimbang.
Otak hewan liarnya sedang bekerja keras mencoba menimbang mana barang yang paling berharga untuk dirinya pertahankan saat ini.
Obor itu memang terasa hangat, namun perut buncitnya yang keroncongan jauh lebih mendambakan makanan berbau sedap tersebut.
"Baiklah, aku setuju untuk melakukan pertukaran ini secara adil denganmu."
Kera besar itu melemparkan obor bambu tersebut ke bawah dengan bidikan yang sangat tepat.
Arga dengan gerakan refleks yang sigap langsung menangkap gagang obornya kembali sebelum benda menyala itu jatuh menyentuh tanah yang basah.
"Ini makanan yang sangat lezat untukmu sesuai dengan janjiku tadi."
Natasya melempar potongan ikan asin berharga itu tinggi-tinggi ke arah dahan tempat sang kera pemimpin berada.
Kera besar itu langsung menangkapnya dengan mulut terbuka dan melahapnya dengan sangat rakus tanpa berniat membaginya sedikitpun dengan kera yang lain.
"Ini benar-benar makanan ajaib yang rasanya sangat luar biasa."
Kera itu mengunyah ikan asin tersebut dengan kedua mata terpejam penuh kegirangan yang meluap-luap.
"Rasa asin dan gurihnya yang meledak di mulut membuatku merasa sangat bersemangat malam ini."
"Terima kasih banyak atas kerja sama pertukarannya, Tuan Kera."
Natasya membungkukkan badannya sedikit dengan gaya menyindir yang persis dilakukan kera itu kepadanya sebelumnya.
"Ayo kita segera lanjutkan perjalanan kita, Ayah, Gaga."
Arga masih berdiri mematung di tempatnya dengan obor yang kini sudah kembali menyala aman di tangannya.
Pria dewasa itu menatap bergantian antara putri kecilnya dan kawanan kera di atas pohon itu dengan mulut yang setengah terbuka karena syok.
"Sebenarnya apa yang baru saja terjadi di sini, Natasya?"
"Ceritanya akan sangat panjang untuk dijelaskan, Ayah."
Natasya menggandeng tangan besar ayahnya dengan memberikan senyuman polos yang seolah tak berdosa sedikitpun.
"Nanti akan aku ceritakan semuanya dari awal sambil kita terus berjalan menuju tempat danau beracun itu."
Gaga berjalan perlahan mendahului mereka berdua untuk membuka jalan sekaligus mengendus potensi bahaya baru di depan.
Pada malam bersejarah itu, Arga akhirnya benar-benar menyadari bahwa putri kecil yang selama ini ia lindungi di desa ternyata menyimpan sebuah keajaiban yang sama sekali tidak masuk akal.