Elara terjebak dalam novel–bukan sebagai pahlawan, bukan juga sebagai penjahat, melainkan selir yang bahkan namanya kerap terlupa.
Lebih dari itu, ia adalah orang yang hanya ingin hidup tenang, bermalas-malasan, bahkan terlalu malas untuk melafalkan dialog yang ditetapkan untuknya.
Oleh sebab itu, sebagai tokoh pendukung yang bangkit dari kematian, ia tak berniat menuntut balas? Ia memilih tak ikut campur sedikit pun.
Namun, bagaimana jika alur malah berbalik dan membuatnya menjadi tokoh utama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Elara menatap Valerius. Ia bisa berbohong. Ia bisa mengarang cerita. Tapi sesuatu dalam nalurinya memberitahunya bahwa berbohong pada orang ini adalah ide yang sangat buruk.
Jadi Elara melakukan hal yang paling Elara sekali.
Ia menguap.
"Siapa saya?" ulang Elara, menggaruk kepalanya. "Saya Elara von Clervant. Selir Tingkat Enam yang dipromosikan secara tidak adil. Mantan mayat. Konsultan paruh waktu yang tidak dibayar. Pecandu tidur siang. Dan orang yang sangat, sangat ingin pulang ke kasurnya."
Elara menatap Valerius dengan mata yang sayu dan sangat tulus.
"Kalau Anda bertanya apakah ada sesuatu yang aneh tentang saya, ya, memang ada. Saya terlalu malas untuk menjadi jahat, terlalu lapar untuk menjadi ambisius, dan terlalu mengantuk untuk menjadi pahlawan. Saya hanya ingin hidup tenang, makan enak, dan tidur nyenyak. Jika itu bukan jiwa yang suci menurut standar Gereja Anda, maka saya tidak tahu apa lagi yang bisa saya katakan."
Valerius menatap Elara. Ia menatapnya sangat lama. Matanya yang pucat seolah-olah sedang memindai setiap lapisan jiwa Elara.
Dan yang ia temukan di sana adalah kekosongan. Bukan kekosongan yang gelap atau jahat, melainkan kekosongan yang tenang. Seperti danau yang sangat dalam dan sangat diam. Tidak ada ambisi, tidak ada kebencian, tidak ada ketakutan yang berarti. Hanya ada… kedamaian yang aneh dan kemalasan yang absolut.
Tanda di pergelangan tangan Elara berkedip sekali, lalu perlahan-lahan memudar, hingga akhirnya hilang sama sekali.
Valerius mundur selangkah. Wajahnya menunjukkan sesuatu yang belum pernah dilihat oleh siapa pun di kuil itu: kebingungan yang murni.
"Tanda itu.. hilang," bisik salah satu pendeta.
"Dia lulus," ucap pendeta tua dengan suara kagum. "Dia lulus Ujian Kesucian."
Aurelia berdiri dari kursinya, wajahnya merah padam. "Tidak mungkin! Itu mustahil! Dia mengubah Festival Suci menjadi pasar! Dia menghina tradisi! Dia..."
"Cukup, Putri Mahkota," suara Lucian memotong, dingin dan tajam seperti pedang. Ia melangkah maju, berdiri di samping Elara. "Inkuisitor Agung sendiri yang menetapkan aturan. Tiga pertanyaan, dan Selir Elara menjawab semuanya. Tanda Pencari telah hilang. Ujian selesai."
Valerius menatap Lucian, lalu menatap Elara. Ia membungkuk, kali ini lebih dalam dari sebelumnya.
"Selir Elara dinyatakan suci," ucap Valerius, suaranya terdengar datar namun ada getaran aneh di dalamnya. "Gereja Matahari tidak memiliki tuntutan lebih lanjut untuk saat ini."
Valerius berbalik dan berjalan keluar dari aula dengan langkah cepat, jubah putihnya berkibar. Para pendeta bergegas mengikutinya.
Saat melewati Aurelia, Valerius berhenti sejenak. Ia membisikkan sesuatu yang hanya bisa didengar oleh Aurelia.
"Dia bukan bidat. Tapi dia juga bukan manusia biasa. Ada sesuatu yang *salah* tentang jiwanya. Sesuatu yang tidak bisa kubaca. Kita butuh pendekatan yang berbeda."
Aurelia menelan ludah, matanya berkilat gelap.
***
Di kereta kuda dalam perjalanan pulang, Elara sudah kembali dalam posisi horizontal, kepalanya di pangkuan Nira yang duduk di lantai kereta.
"Yang Mulia," bisik Nira pelan. "Hamba.. Hamba sangat takut tadi. Hamba pikir Anda akan dibakar."
"Aku juga," gumam Elara, matanya terpejam. "Tapi ternyata Inkuisitor itu cuma orang yang suka bertanya pertanyaan yang tidak ada jawaban benarnya. Di dunia kerjaku dulu, kami menyebut orang seperti itu 'HRD saat interview'. Mereka cuma mau lihat apakah kamu panik atau tidak."
Lucian, yang duduk di seberang mereka, menatap Elara dengan tatapan yang sangat sulit dibaca.
"Elara," ucap Lucian pelan. "Pertanyaan terakhir Valerius.. 'Siapa kau sebenarnya?'.. apa yang kau rasakan saat itu?"
Elara membuka satu matanya. Ia menatap Lucian. Untuk sesaat, topeng kemalasannya retak sedikit, dan Lucian bisa melihat sesuatu yang sangat tua dan sangat lelah di balik mata itu.
"Saya merasa.." Elara memilih kata-katanya dengan hati-hati. "Saya merasa seperti seseorang yang sedang menonton film di bioskop, tapi tiba-tiba karakter di layar menoleh dan menatap langsung ke arahnya. Mengetahui bahwa kau tidak seharusnya ada di sana, tapi sudah terlalu jauh untuk keluar dari gedung."
Elara langsung menutup matanya lagi, seolah-olah ia sudah mengatakan terlalu banyak.
"Tapi itu cuma perasaan aneh karena kurang tidur," tambah Elara cepat. "Sekarang tolong jangan tanya apa-apa lagi. Saya mau tidur. Dan Nira, tolong suapkan aku kue lapis kalau mulutku terbuka."
Lucian menatap Elara yang dalam hitungan detik sudah tertidur pulas, napasnya teratur dan tenang.
Ia memikirkan kata-kata Elara. Menonton film di bioskop. Karakter yang menoleh. Terlalu jauh untuk keluar.
Lucian tidak mengerti sepenuhnya. Tapi ia memahami bahwa Elara menyembunyikan sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar kecerdasan atau kemalasan. Dan apa pun itu, itu membuatnya takut.
Lucian mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan Elara yang terkulai lemas.
"Aku tidak peduli siapa kau sebenarnya," bisik Lucian, suaranya begitu pelan hingga hanya dinding kereta kuda yang mendengarnya. "Siapa pun kau, dari mana pun kau datang.. kau tidak akan kubakar. Dan tidak akan kubiarkan siapa pun membakarmu."