NovelToon NovelToon
Surat Dari Balik Sekat

Surat Dari Balik Sekat

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyelamat / Action
Popularitas:346
Nilai: 5
Nama Author: MF015

Novel ini mengisahkan Ahmad Zaki, seorang pemuda berusia 20 tahun yang merupakan anak dari pedagang kain. Ia berniat untuk belajar dan memperdalam ilmu di pondok pesantren yang berada di pedesaan.

Baru beberapa hari di pondok pesantren, ia telah menanam benih-benih cinta. Cinta yang tulus kepada seorang santriwati berusia 18 tahun, Nafisah Zahra.

Namun, cinta keduanya terhalang oleh perjodohan dan agresi militer.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MF015, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4: Lubang Sebesar Nampan

Sudah dua hari kitab itu tidak keluar dari tas kain Zaki.

Bukan karena ia lupa. Justru karena ia terlalu ingat. Setiap kali tangannya menyentuh sampul cokelat itu, ia teringat baris pensil kecil di halaman ketiga dan balasan yang ia tulis di bawahnya. Lalu ia bertanya pada dirinya sendiri, dengan tingkat kepanikan yang meningkat setiap jam: bagaimana cara mengirimnya?

Menaruh kitab di dekat lubang pemberian dengan sengaja terasa seperti melanggar sesuatu. Kemarin itu kecelakaan. Yang ini, kalau dilakukan dengan niat, namanya lain. Dan Zaki, yang dibesarkan oleh ayah yang jujurnya sampai bikin tawar-menawar alot, tidak pandai menyusun alasan.

"Kamu kenapa, sih?" tanya Darto saat mereka antre makan siang. "Dua hari ini kamu kayak orang yang menyimpan utang."

"Tidak ada."

"Ada. Kamu lihat tas terus."

"Saya cuma menjaga barang."

"Barang apa? Sarung dua sama dodol yang sudah habis kamu makan sendiri?"

Zaki menghela napas. Ia menoleh kanan-kiri, memastikan tidak ada Ustaz, lalu berbisik, "Saya mau mengembalikan kitab."

"Kitab siapa?"

"Kitab saya sendiri. Tapi ada... catatan di dalamnya. Dari seseorang."

Darto berhenti mengunyah tempe. Matanya membulat, dan senyum yang perlahan merekah di wajahnya lebih berbahaya dari ancaman Ustaz mana pun.

"Kamu," katanya pelan, "berbalas catatan dengan santriwati."

"Bukan berbalas. Baru satu kali. Dan itu soal i'rab."

"Soal i'rab." Darto mengangguk-angguk penuh khidmat. "Iya. Dulu Romeo dan Juliet juga awalnya soal nahwu."

"Mereka tidak soal nahwu."

"Kalau mereka santri, ya soal nahwu."

Zaki ingin menenggelamkan diri di dalam baskom nasi. "Bantu saya, atau diam."

"Saya bantu dan tetap ngomong. Itu paket lengkap." Darto menepuk-nepuk bahunya. "Tenang. Kamu kira siapa yang mengurus urusan begini di pondok ini selama dua tahun?"

"Ada yang mengurus urusan begini?"

"Ada," kata Darto, dengan senyum orang yang baru membuka rahasia dagang. "Namanya Rukmini."

Rukmini, kata Darto, adalah salah satu santriwati yang piket di sisi seberang dapur umum. Ia dikenal sigap, cepat bicara, dan sulit disuap kecuali dengan makanan yang bagus. Selama ini, ia menjadi semacam penghubung tak resmi antara sisi putra dan sisi putri untuk urusan yang tidak melanggar aturan, misalnya titipan kitab, kabar dari keluarga, dan sesekali sambal kiriman ibu.

"Tidak ada yang melanggar?" tanya Zaki curiga.

"Semua yang lewat dia halal. Kalau ada yang tidak halal, dia langsung buang sendiri." Darto berkacak pinggang bangga. "Kami punya prinsip: yang boleh cuma yang boleh."

Sore itu, setelah piket, Zaki dan Darto berdiri di dekat lubang pemberian. Kitab Zaki berada di tangannya, dibungkus daun pisang seperti bungkusan kemarin, dengan dua pasang mata yang bergantian mengawasi pintu.

"Sekarang?" bisik Zaki.

"Sekarang. Tapi jangan terlihat mencurigakan."

"Bagaimana caranya tidak terlihat mencurigakan?"

"Cukup jangan bertingkah seperti kamu sekarang."

Zaki mendekat ke lubang. Dari balik anyaman bambu, terdengar bunyi panci dan suara beberapa perempuan yang berbincang.

"Assalamualaikum," katanya, agak terlalu keras. Darto meringis. "Mohon maaf, apakah Mbak Rukmini ada?"

Hening. Suara panci berhenti.

Lalu terdengar langkah cepat, dan wajah seorang perempuan muncul di celah anyaman. Zaki hanya sempat melihat sepasang mata cerdik dan alis tebal yang terangkat tinggi.

"Waalaikumsalam. Siapa yang mencari saya?"

"Zaki, Mbak. Santri baru. Dari kemarin, yang kitabnya sempat..."

"Oh, yang kitabnya kesasar." Suaranya ceria, sama seperti yang kemarin. "Ada apa, Kang? Kitabnya kurang lengkap?"

"Bukan. Saya ingin... menitipkan lagi."

"Menitipkan lagi?" Alis Rukmini terangkat semakin tinggi. "Untuk siapa?"

"Untuk..." Zaki berhenti. Lidahnya mendadak kaku. "Untuk siapa saja yang kemarin mengoreksi."

Dari belakang Rukmini, terdengar suara cekikikan halus yang segera dibungkam. Rukmini menoleh sekilas dan mendelik. Ketika kembali menatap Zaki, wajahnya tampak berusaha keras menjaga kesopanan.

"Begini, Kang," katanya dengan nada seperti pedagang yang hendak menawar. "Saya ini bukan kurir gratis."

"Ah. Oh." Zaki mengangguk cepat. "Berapa, Mbak?"

"Bukan uang. Uang itu kotor." Rukmini mengangkat telunjuk. "Kemarin Darto bilang ibumu pintar bikin dodol."

Zaki menoleh ke Darto, yang seketika pura-pura sibuk mengamati langit. "Dodolnya sudah habis, Mbak."

"Habis semua?"

"Saya... lapar."

"Kang." Rukmini menghela napas panjang. "Kamu baru tiga hari di sini, sudah menghabiskan oleh-oleh sendirian. Itu berbahaya untuk reputasi."

"Saya minta maaf."

"Baiklah. Kali ini saya kasih keringanan." Ia mengulurkan tangan lewat celah anyaman, hanya tangannya saja, sesuai aturan. "Kitabnya."

Zaki menyerahkan bungkusan itu dengan dua tangan. Rukmini menerimanya dengan gaya seorang petugas pos kerajaan.

"Akan saya sampaikan," katanya. "Tapi saya tidak janji dijawab."

"Tidak masalah."

"Dan Kang Zaki?"

"Iya?"

"Lain kali, kalau ada titipan lagi, jangan datang dengan wajah seperti orang mau disidang. Kelihatan sekali."

Zaki merasa telinganya panas. Darto sudah nyaris ambruk menahan tawa.

"Saya usahakan," jawab Zaki.

"Bagus." Tangan itu menarik diri, dan wajah Rukmini menghilang dari celah anyaman. Terdengar suaranya, samar, berbicara kepada seseorang di belakangnya. "Nih. Titipan. Jangan pura-pura tidak mau."

Ada jeda yang terasa sangat panjang. Kemudian sebuah suara lain menjawab, pelan sekali, hampir tak terdengar. Zaki tidak bisa menangkap kata-katanya, tapi ia mengenali nada itu. Nada yang sama dengan puisi di balik tembok dua hari yang lalu.

Jantungnya melompat begitu keras sampai ia takut Darto bisa mendengarnya.

Malam itu, Zaki tidak bisa mengaji dengan tenang. Setiap kali ia membuka mulut untuk melafalkan hafalan, pikirannya melenceng. Apakah kitabnya sudah sampai? Apakah dibuka? Apakah dibaca? Bagaimana kalau tidak? Bagaimana kalau dibaca lalu dianggap lancang? Bagaimana kalau, entah, kitabnya malah ketahuan Ustaz?

"Kang Zaki," tegur Kang Fadil pelan, dari samping. "Baris itu sudah kamu ulang lima kali."

"Ah. Maaf."

"Tidak apa. Tapi kalau mau salah, ganti barisnya, jangan yang sama."

Zaki menutup kitab hafalannya dan menghela napas. Ia keluar sebentar ke teras untuk mencari udara. Langit malam bersih, bintang berhamburan seperti butir gula yang tumpah dari toples. Dari jauh terdengar suara jangkrik dan sesekali lolongan anjing desa.

Sebuah langkah pelan mendekat di belakangnya. Zaki berbalik.

Bu Nyai Khadijah berdiri di ujung teras dengan mukena yang masih menempel di bahu. Wajahnya tenang, dan senyumnya tipis. Di tangannya tergenggam sebuah bungkusan kecil.

"Nak Zaki," katanya lembut. "Belum tidur?"

"Belum, Bu Nyai. Saya..." Zaki bergegas mencium tangan beliau. "Mohon maaf, saya sedang mencari angin."

"Tidak apa-apa. Sudah larut, tapi angin malam memang enak untuk merenung." Bu Nyai memandangnya sebentar, dengan tatapan yang seperti bisa membaca lebih banyak dari yang ia katakan. "Tadi sore, ada titipan dari dapur umum. Katanya untuk santri baru dari kota."

Jantung Zaki berhenti berdetak.

"Titipan... apa, Bu Nyai?"

"Entahlah. Saya tidak membukanya." Bu Nyai mengulurkan bungkusan itu. Sebuah bungkusan daun pisang yang sangat ia kenal. "Tapi kalau saya boleh memberi satu nasihat kecil, Nak."

Zaki menerima bungkusan itu dengan tangan yang terasa aneh. "Inggih, Bu Nyai."

"Pondok ini adalah tempat belajar. Belajar itu tidak selalu dari kitab yang dibaca sendirian. Kadang, ilmu datang lewat jalan yang tidak kita duga." Senyum Bu Nyai sedikit melebar. "Tapi jalan apa pun itu, pastikan jalannya lurus, dan tidak ada yang dirugikan."

"Inggih, Bu Nyai."

"Selamat malam. Jangan tidur terlalu larut."

Beliau pergi, langkahnya tenang seperti orang yang tidak tahu apa-apa, atau justru tahu semuanya. Zaki berdiri kaku di teras sampai suara langkah itu hilang, lalu buru-buru duduk dan membuka bungkusan daun pisang di pangkuannya.

Kitab itu ada di dalamnya. Dan di halaman ketiga, di bawah kalimat terima kasihnya, ada balasan baru dengan tulisan pensil yang sama: kecil, rapi, dan miring ke kanan.

"Tidak marah. Ustaz malah pura-pura tidak tahu siapa yang menjawab tadi."

Zaki tersenyum, dan senyum itu belum sempat habis ketika ia membaca baris kedua:

"Kalau berkenan, halaman tujuh belas ada kesalahan yang lebih besar. Selamat mencari."

Ia membuka halaman tujuh belas dengan tangan yang sedikit bergetar. Dan di sana, di antara catatan-catatan pinggirnya sendiri, terselip sehelai kertas kecil terlipat rapi.

Zaki membukanya perlahan.

Isinya hanya sebait puisi, ditulis dengan tangan yang sama:

"Jika hujan tak pernah bertanya pada tanah,

mengapa ia jatuh dengan begitu sabar?"

Tidak ada nama. Tidak ada tanda tangan. Tapi Zaki tahu, dengan kepastian yang tidak butuh bukti, bahwa suara yang ia dengar dari balik tembok itu kini punya nama. Dan nama itu, sepertinya, tidak akan mudah ia lupakan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!