Setelah kejadian Raka menyelamatkan warga desa Ciherang dari para korporat di kota, Raka Ardian mencoba peruntungan ke kota mencari kerjaan sambil menyelidiki perusahaan yang mengambil tanah warga Ciherang.
Berbagai kejadian suka dan duka dia hadapi.
Mampukan Raka bertahan di kota yang sering kali mengabaikan rasa kemanusiaan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Djafar S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 BENANG KUSUT DI MEJA DIREKSI
Malam kembali turun merayap dengan perlahan di atas keindahan lanskap Kota Bandung, menyelimuti kemegahan kawasan perumahan elit Dago Atas dengan tirai kelam yang sunyi dan mencekam. Di dalam ruang baca pribadi milik Tuan Wiratman yang terletak di lantai dua rumah peristirahatan mewah tersebut, suasana justru terasa begitu panas, tegang, dan membara.
Setelah melalui proses pemulihan intensif yang melelahkan menggunakan metode pengobatan kuno Welingan Sejati, Tuan Wiratman kini sudah berangsur pulih dan diizinkan duduk bersandar di kursi kerjanya yang empuk. Ia mengenakan jubah tidur beludru hangat, sementara secangkir teh herbal hangat mengepulkan uap tipis di dekat tangan kanannya.
Tepat di hadapan meja kerja kayu jati tua itu, duduklah Ibu Sinta dan Raka Ardian dengan ekspresi wajah yang sama-sama serius. Meskipun raga Tuan Wiratman tampak sudah jauh lebih segar ketimbang beberapa hari lalu saat ia terbaring kritis di ambang kematian, sepasang mata tuanya kini menyiratkan gelombang amarah yang luar biasa besar serta rasa tidak percaya yang mendalam setelah ia mendengarkan uraian kronologis lengkap dari Raka mengenai racun sintetis mematikan yang selama ini disusupkan secara sistematis ke dalam aliran darahnya.
"Jadi... kehadiran Dokter Hendri di rumah ini selama berbulan-bulan bukan sekadar bentuk kelalaian medis biasa?" suara Tuan Wiratman terdengar berat, serak, namun tetap memancarkan wibawa khas seorang pengusaha senior yang terbiasa memegang kendali penuh atas perusahaan raksasa. "Dia adalah pion beracun yang sengaja dibayar dan disusupkan untuk melumpuhkanku secara perlahan-lahan dari dalam?"
Raka mengangguk pelan, jemarinya merapikan beberapa lembar catatan kecil dan hasil pindaian energi yang ia letakkan di atas meja kerja di hadapan Tuan Wiratman.
"Benar, Tuan Wiratman. Jenis toksin yang mengendap di dalam jaringan tubuh Anda adalah racun sintetis dosis mikro yang dirancang khusus untuk mengelabui laboratorium medis modern. Racun itu bekerja secara bertahap melemahkan fungsi organ hati, ginjal, dan kesadaran motorik, sehingga kematian Anda kelak akan terlihat wajar sebagai akibat dari komplikasi penyakit tua."
Ibu Sinta mendengarkan penjelasan itu dengan tangan yang menutup mulutnya rapat-rapat. Air mata penyesalan dan kengerian kembali menggenang di pelupuk matanya, membayangkan betapa dekatnya maut merenggut nyawa suaminya sendiri di bawah pengawasan dokter pribadi yang selama ini sangat mereka percaya. "Tapi... apa motif utama di balik semua kebejatan ini? Siapa sebenarnya orang di balik layar yang tega meracuni suamiku?"
Mendengar pertanyaan kritis tersebut, Raka merogoh kantong bagian dalam jaket lapangannya, lalu mengeluarkan sebuah map tebal berisi dokumen digital, salinan transaksi keuangan mencurigakan, serta data investigasi yang berhasil ia kumpulkan bersama Budi di gudang logistik—disertai berbagai petunjuk krusial yang mengarah langsung pada PT Cimanuk Perkasa. Ia mendorong map dokumen tersebut melintasi meja, tepat di depan Tuan Wiratman.
"Orang yang paling diuntungkan dari kelumpuhan total Anda, Tuan Wiratman, adalah orang yang sejak tahun lalu memegang kendali operasional harian atas perusahaan keluarga Anda," ucap Raka dengan nada suara yang tajam dan dingin.
"Direktur Utama PT Cimanuk Perkasa saat ini: "Prabu Baskara"
Tuan Wiratman terperanjat kaget luar biasa begitu mendengar nama tersebut disebut. Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, ia membuka map dokumen itu dan membaca lembar demi lembar laporan finansial, aliran dana gelap, tanda tangan palsu yang dicatut atas namanya, serta proyek-proyek investasi fiktif yang mengalir deras ke rekening pribadi luar negeri atas nama Prabu Baskara dan jaringan oknum pejabat korup di daerah.
"Baskara..." geram Tuan Wiratman, rahangnya mengeras hingga otot-otot di pipinya berkedut hebat menahan amarah yang meluap-luap. "Aku sendiri yang membesarkannya, mengangkatnya masuk ke dalam jajaran dewan direksi tertinggi ketika perusahaan ini mulai berekspansi. Dan sekarang, bajingan itu menggunakan kekuasaan dan fasilitas yang kuberikan untuk menghancurkan perusahaan keluargaku dari dalam!"
"Bukan hanya menghancurkan perusahaan dan keluarga Anda saja, Tuan Wiratman," timpal Raka dengan sorot mata yang menyiratkan bara api kemarahan. "Prabu Baskara menggunakan nama besar perusahaan Anda sebagai kedok legalitas yang bersih untuk melakukan perampasan tanah secara paksa, teror preman, dan penggusuran brutal di berbagai wilayah pedesaan di Jawa Barat. Dan salah satu target utama yang paling kejam mereka hancurkan adalah tanah kelahiran saya:
"Desa Ciherang"
Tuan Wiratman mendongak seketika, menatap lekat-lekat ke dalam bola mata Raka. Ada rasa terkejut yang teramat sangat terpancar di wajah pengusaha senior itu. "Desa Ciherang? Proyek pembangunan kawasan wisata terpadu dan perkebunan industri skala besar yang diajukan tahun ini... bukankah itu proyek yang dipresentasikan Baskara dengan dalih mulia 'pemberdayaan ekonomi masyarakat pedesaan'?"
"Itu adalah kebohongan terbesar yang dibungkus dengan rapi!" tegas Raka, suaranya bergetar menahan kepedihan masa lalu yang kembali menyeruak di dadanya. "Mereka mengerahkan preman bersenjata, memalsukan dokumen pelepasan tanah adat, hingga menebar teror fisik agar warga desa ketakutan dan meninggalkan tanah leluhur mereka. Rumah-rumah dibakar, sumber air dirusak, dan sekarang mereka berniat meratakan kuburan para leluhur kami demi jalur akses jalan raya dan vila mewah!"
Suasana di dalam ruang baca pribadi yang luas itu mendadak menjadi sangat sunyi senyap. Tuan Wiratman terdiam seribu bahasa, menatap lembaran-lembaran dokumen di tangannya dengan jemari yang mencengkeram erat kertas-kertas tersebut—bukan lagi karena sisa racun yang melemahkan fisiknya, melainkan karena rasa bersalah dan malu yang teramat sangat menyiksa batinnya. Ia baru menyadari sepenuhnya bahwa kekayaan, kehormatan, dan nama besar keluarga Hartono selama ini telah disalahgunakan secara keji sebagai alat perampokan hak-hak rakyat kecil oleh seorang pengkhianat berdarah dingin bernama Prabu Baskara.
Ibu Sinta melangkah mendekat, meletakkan tangan lembutnya di atas pundak suaminya untuk menyalurkan kekuatan batin, lalu beralih menatap Raka dengan sorot mata penuh ketulusan dan empati yang mendalam.
"Raka... kami bersumpah demi Tuhan, kami benar-benar buta dan tidak tahu menahu tentang segala kebejatan yang dilakukan Baskara di balik layar perusahaan. Tapi sekarang, setelah tirai kebohongan ini tersingkap terang-benderang di hadapan kami, kami tidak akan pernah tinggal diam membiarkan kejahatan ini terus berlanjut."
Tuan Wiratman menarik napas panjang, menegakkan tubuhnya dengan gagah, lalu mengepalkan tangan kanannya dengan kuat di atas permukaan meja kerja. Sorot mata seorang pemimpin bisnis besar yang disegani kembali menyala terang di dalam bola matanya, memancarkan tekad baja yang tak tergoyahkan.
"Anak muda," ucap Tuan Wiratman dengan suara yang mantap dan penuh wibawa, menatap lurus langsung ke mata Raka. "Kau telah mempertaruhkan nyawamu untuk menyelamatkanku dari cengkeraman maut. Sebagai gantinya, izinkan aku menggunakan seluruh sisa kekuatan, jaringan, dan sumber daya yang kumiliki untuk membantumu membersihkan nama keluargamu, membongkar kebusukan Prabu Baskara, dan menyelamatkan Desa Ciherang. Kita akan hancurkan kekaisaran korporasi busuk itu sampai ke akar-akarnya, secara hukum yang sah maupun melalui perhitungan yang setimpal!"
Raka mengangguk perlahan, menyambut tawaran itu dengan ketenangan batin yang luar biasa. Sebuah aliansi yang sangat kuat dan berbahaya kini resmi terbentuk di balik dinding perpustakaan rumah mewah di Dago Atas—perpaduan sempurna antara kearifan luhur Welingan Sejati dari seorang pemuda desa dan kekuatan finansial raksasa dari dunia metropolitan, bersiap mengguncang singgasana kekuasaan Prabu Baskara yang angkuh.