Angkasa adalah CEO sukses yang sudah beristri. Rumah tangganya terlihat sempurna di mata semua orang.
Tapi di balik kesempurnaannya, ia harus berjuang setiap hari.
Dikelilingi oleh perempuan-perempuan yang menyayanginya dengan caranya masing-masing.
Ada yang menyayanginya seperti seorang ibu, ada yang mencintainya dengan gairah, ada yang memujanya dengan ketulusan, dan ada yang menantangnya dengan kebencian yang berubah menjadi cinta.
Godaan datang tanpa diduga. Di kantor, di rumah, bahkan di saat ia paling lengah.
Mampukah Angkasa menjaga rumah tangganya tetap utuh?
Mampukah ia menghalau setiap godaan dan tetap menjadi suami yang setia?
Dan mampukah ia bersabar menunggu... sampai akhirnya ia dipanggil dengan sebutan "AYAH"?
Karena menjadi CEO itu mudah.
Menjadi suami yang setia dan ayah yang dirindukan? Itu pertaruhan sesungguhnya.
Siimak kisah lengkapnya, hanya di Noveltoon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EmeLBy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28 : RUMAH ORANG TUA
Rumah itu tampak sepi, seperti tidak ada tanda-tanda ada orang lain di dalamnya.
Angkasa membuka pintu pelan. Sepi.
"Bintang? Tang?"
Tidak ada jawaban. Kamar kunci, lemari baju Bintang terbuka, satu koper kecil hilang.
Di atas meja makan, ada secarik kertas.
"Sa, aku pulang ke rumah Ayah dulu. Aku butuh tenang. Jangan cari aku dulu."
Angkasa menjatuhkan diri di sofa.
Di rumah orang tuanya di Laweyan, Bintang duduk di ruang tengah. Di depannya ada teh hangat buatan Ibunya, tapi tidak disentuh. Matanya bengkak.
Ayahnya, Pak Hardiman, duduk di kursi kayu di sebelahnya.
"Kamu berantem sama Angkasa?"
Bintang diam, hanya memandangi wajah ayahnya dalam. Air matanya netes lagi.
"Ada masalah apa kalian?"
"Dia sering tak jujur padaku, Yah. Dia bilang ke gudang, ternyata ke warung bakmi. Dia main sama anaknya janda itu. Anak itu manggil dia Ayah, Yah. Ayah Angit." Cerita Bintang tanpa ragu.
Pak Hardiman menghela napas. Mengelus kepala anaknya.
"Kamu sedang cemburu. Bahkan cemburu dengan anak kecil yang memanggil ayah pada suamimu." tebak Hardiman sambil sedikit menaikkan ujung bibirnya.
Bintang masih mematung.
"Bintang, Ayah mau tanya. Selama nikah sama Angkasa, pernah gak Angkasa mukul kamu?"
Bintang menggeleng.
"Pernah gak Angkasa selingkuh, bawa perempuan ke rumah?"
Menggeleng lagi.
"Pernah gak di kasih uang belanja?"
"Apaan sih, Yah. Angkasa selalu jujur soal keuangan kami." Potong Bintang.
"Lha terus apa yang bikin kamu kabur ke sini?"
Bintang terdiam.
"Rumah tangga itu memang selalu ada bumbu berantemnya, Nduk. Ayah sama Ibumu dulu juga gitu. Tapi kabur bukan solusi terbaik. Hadapi."
"Iya aku cemburu. Aku juga kecewa dengan diriku sendiri yang belum bisa kasih anak, tapi dia malah jadi Ayah buat anak orang lain. Itu sakit, ayah." sangat terasa Bintang masih di kuasai emosi.
"Cemburu karena sayang, Nduk. Kalau gak sayang, gak akan cemburu. Tapi cemburu itu dihadapi, bukan dihindari. Pulanglah. Tanya baik-baik. Jangan disimpulkan sendiri." pinta Hardiman lemah, berharap anaknya tidak berkeras hati.
Ibu Bintang ikut duduk.
"Ibu kenal Angkasa. Dia orang yang baik. Pasti ada alasannya. Dengerin dulu."
Kenapa Bintang merasa kedua orang tuanya membela Angkasa. Sebenarnya anak mereka itu siapa? Mengapa mereka sepercaya itu pada Angkasa. Tapi perasaannya, hanya Bintang yang tau. Kesal.
Jam 11 malam, HP Bintang bergetar. Chat dari Angkasa.
"Tang, angkat teleponku. Kamu sudah sampai rumah bapak? Maafkan aku. Pulang ya. Aku tunggu di rumah."_
Bintang menatap Ayahnya yang mengangguk.
Ijin pak Dirut. Aku mau tenang dulu. Balas Bintang singkat.
Di rumahnya, Angkasa yang membaca chat itu langsung sujud syukur di ruang tengah yang sepi. Walau istrinya kabur, walau panggilannya tak terjawab. Setidaknya Bintang tetap membalas chatnya. Walau panggilannya kembali asing.
Malam itu Bintang tidur di kamar nya ditemani 1ibunya.
"Bu... apa kita punya garis keturunan mandul?" Masih saja Bintang meragukan hasil tes kesuburan beberapa bulan yang lalu.
"Kamu bicara apa sih. Keluarga kita semua subur, gak ada yang mandul. Bukankah kamu anak ibu yang ke tiga jika kakakmu hidup semua." Iya, Bintang harusnya jadi anak ke tiga seandainya ibunya tidak sering keguguran.
"Kami sudah menikah tiga tahun Bu, tapi telat haid saja tidak pernah. Boro-boro garis dua." Sungut Bintang meratapi nasibnya.
"Jangan berprasangka buruk sama Tuhan. Hamil hanya masalah waktu. Bagaimana mau dikasih anak, kalau liat suami main sama anak orang saja sudah kabur ke rumah Ayah dan Ibu." Lagi lagi ibunya membela Angkasa.
"Aku tidak mempermasalahkan ia bermain dengan anak manapun, Bu. Yang aku tidak suka ialah itu dilakukannya di belakangku. Harusnya dia bilang yang benar, pamitlah. Bukan meninggalkanku dengan mengendap-endap saat aku tidur. Tidak juga membolos saat jam kerja. Itu yang aku tidak suka." Panjang Bintang curhat pada ibunya.
"Kamu pernah membicarakan ini baik-baik? Alasan Angkasa pergi sembunyi-sembunyi?" Bintang terdiam. Ia memang tidak pernah membahas ini dengan serius dengan Angkasa. Hatinya terlalu dipenuhi rasa emosi dan sensitif. Langsung merasa kasihan pada dirinya sendiri yang tak kunjung hamil.
"Sudah larut. Istirahatlah. Tubuh dan pikiranmu sangat capek hari ini." Ibu Bintang sudah berbalik menghadapnya. Mengulas senyum teduh pada anak perempuannya, yang sudah menikah tapi dianggapnya belum dewasa ini.
Pagi datang...
Huek.
Huek.
Perut Bintang terasa melilit sakit. Air liurnya terasa sangat pahit dan asam bercampur sungguh tak enak.
Ibu Bintang yang mendengar langsung bangun.
"Bintang? Kamu kenapa, Nduk?"
Ada apa dengan Bintang?
Bersambung...
Bagaimana pemirsa, kita buat hamil kah Bintang ini?
bagus Tang......biarkan angkasa merasakan kesendiriaannya tanpa bintang......masihkah Bintang diperlukan atau semakin bebas dengan para wanitanya......
siapa tahu.....mah kamu awal kehamilan.....bulan depan ga datang tuh tamu bulanan mu......