Stella itu berisik, ceria, dan keras kepala. Seluruh sekolah tahu dia cinta mati-matian pada Gibran, sang kapten futsal populer.
Sialnya, Stella selalu berakhir dengan penolakan mentah-mentah dari Gibran. Namun, di balik bayang-bayang koridor sekolah, ada Lingga. Cowok pendiam, misterius, dan sedingin es yang diam-diam selalu memperhatikan Stella.
Saat Gibran terus mematahkan hati Stella, Lingga hadir membawa kehangatan yang tak terduga. Lewat perhatian-perhatian kecil yang terselubung, Lingga perlahan mengobati luka Stella hingga mereka resmi jadian.
Di saat Lingga dan Stella sedang manis-manis nya sebagai best couple satu sekolah, Gibran justru datang kembali dan berbalik mengejar Stella.
Bisakah Lingga yang dingin tetap mempertahankan kehangatan cintanya untuk Stella?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sisi Bucin Lelaki Pendiam 34.
Aroma kuah bakso yang gurih bercampur dengan riuh suara ratusan murid memenuhi seisi kantin SMA Pancasila siang itu.
Jam istirahat pertama selalu menjadi momen paling brutal. Kursi-kursi plastik berderit, denting sendok beradu dengan mangkuk, dan gosip-gosip segar beterbangan di udara bersama kepulan asap makanan.
Di sudut dekat jendela besar yang menghadap langsung ke lapangan basket, Stella duduk dengan jemari yang bertautan di atas meja.
Rasa cemas yang sempat surut di parkiran tadi pagi kembali menggelitik permukaan kulitnya. Menjadi kekasih seorang Lingga Dewantara berarti harus siap berbagi ruang dengan tatapan-tatapan menyelidik. Lingga adalah poros, sedangkan Stella—setidaknya dalam pandangan orang-orang—hanyalah gadis petakilan yang mendadak beruntung.
"Stella, demi apa... gue masih merinding lihat cara Lingga ngehadangin lo dari anak-anak geng koridor tadi pagi di gerbang" bisik Tania, memajukan badannya hingga dada menyentuh tepi meja. Matanya berbinar, tipikal pencinta drama garis keras.
Rara, yang sibuk mengaduk es teh manisnya, ikut menimpali dengan nada dramatis. "Asli, Stel. Lingga tuh auranya kayak kulkas dua pintu yang kalau jalan bisa bikin lantai retak. Tapi pas di depan lo? Kok bisa langsung kayak pinguin jinak sih?"
Stella hanya melempar senyum tipis, agak canggung. "Kalian berlebihan. Lingga cuma... ya begitu. Dia emang nggak suka ribut."
"Nggak suka ribut atau nggak mau lo yang kenapa-napa?" goda Tania lagi, menyenggol lengan Stella.
Percakapan mereka terputus saat sebuah bayangan tinggi tegap jatuh di atas meja mereka. Lingga datang.
Di kedua tangannya, cowok itu membawa dua mangkuk bakso yang uapnya masih mengepul tebal. Tanpa sepatah kata pun, dia meletakkan satu mangkuk di hadapan Stella, dan satu lagi di tempat duduknya sendiri, tepat di seberang gadis itu.
Lingga tidak mengenakan seragamnya dengan rapi. Dua kancing teratas kemejanya terbuka, memperlihatkan kaos dalam hitam yang membungkus lehernya dengan pas.
Rambutnya agak berantakan, tanda dia baru saja menyelesaikan kelas olahraga atau sekadar malas menyisir. Namun, tatapan matanya tetap sama yaitu tajam, fokus, dan tidak peduli pada sekitar.
"Dimakan, Bee," ujar Lingga pendek. Suaranya berat, bariton yang selalu berhasil membuat Stella patuh tanpa merasa diintimidasi.
Stella memandangi mangkuknya. Kuah kaldu yang bening, tiga butir bakso urat besar, tahu goreng, mie soun, dan... sejumput daun bawang hijau yang mengapung di permukaannya. Refleks, hidung Stella berkerut kecil. Dia sangat membenci tekstur daun bawang yang layu di dalam kuah panas. Aromanya membuat seleranya hilang seketika.
Sebelum Stella sempat meraih sendok untuk menyingkirkannya sendiri, tangan Lingga sudah bergerak lebih dulu.
Dengan gerakan yang teramat telaten, Lingga memutar mangkuk Stella ke arahnya. Menggunakan sendok di tangan kanan dan garpu di tangan kiri, dia mulai memisahkan potongan-potongan kecil daun bawang tersebut. Lingga melakukannya dengan fokus yang luar biasa, seolah-olah menyingkirkan sayuran hijau itu adalah misi hidup dan mati yang membutuhkan presisi tinggi.
Matanya yang biasa dingin kini menatap mangkuk dengan kelembutan yang tersembunyi. Satu demi satu, helai daun bawang dipindahkan ke tepi piring kecil tempat sambal miliknya.
Dia tahu. Tanpa Stella harus mengeluh, Lingga mengingat detail sekecil itu.
Di seberang meja, Tania dan Rara menahan napas serentak. Mulut Tania sedikit menganga, sementara Rara mencengkeram lengan Tania dengan sangat erat, menahan pekikan histeris yang nyaris lolos dari tenggorokannya.
Mereka berdua berakhir saling berpelukan erat, menyembunyikan wajah di bahu satu sama lain karena tidak kuat melihat sisi 'bucin' seorang Lingga Dewantara yang selama ini dikenal sebagai siberian husky-nya SMA Pancasila.
"Ya Tuhan, Stel... gue mau pingsan," bisik Tania dari balik bahu Rara, tubuhnya bergetar menahan gemas. "Lingga yang hobi denger musik di pojok kelas sampai tidur, sekarang lagi milah daun bawang pakai perasaan? This is peak cinema!"
Lingga sama sekali tidak terganggu dengan kehebohan dua sahabat Stella. Baginya, riuh kantin, bisikan orang-orang, bahkan eksistensi Tania dan Rara saat ini hanyalah white noise—suara latar yang tidak penting.
Dunianya menyempit, hanya menyisakan mangkuk bakso dan gadis yang duduk di depannya.
Setelah memastikan tidak ada sebutir pun warna hijau yang tertinggal di mangkuk Stella, Lingga memutar kembali mangkuk itu ke posisi semula.
"Nih. Udah bersih," kata Lingga datar, seolah baru saja menyelesaikan tugas matematika biasa. Dia menyodorkan sendok dan garpu yang sudah dibersihkan dengan tisu ke tangan Stella.
"Makasih, Sayang," ucap Stella lembut. Pipinya merona tipis, menghangat bukan karena uap makanan, melainkan karena perhatian kecil yang terasa begitu masif dampaknya di dada.
"Sama-sama. Makan yang banyak, lo agak kurusan minggu ini."
Stella mendengus pelan, namun mulai menyuap baksonya. Rasa hangat kaldu menjalar di tenggorokannya, menenangkan saraf-sarafnya yang tegang.
Di tengah kunyahannya, Stella memperhatikan cara Lingga makan. Cowok itu makan dengan tenang, efisien, dan tidak banyak tingkah. Tidak ada obrolan romantis, tidak ada gombalan receh yang sering didengar Stella dari pasangan lain di koridor sekolah.
Hubungan mereka tidak dibangun di atas kata-kata manis, melainkan di atas tindakan-tindakan nyata yang melindungi.
Saat istirahat hampir usai, Lingga meletakkan sendoknya. Dia meminum es jeruknya hingga tandas, lalu menatap Stella lurus-lurus.
"Nanti pulang sekolah, jangan pulang sendiri," ujar Lingga. Kali ini nadanya lebih rendah, ada penekanan yang membuat Stella menghentikan kegiatannya.
"Kenapa? Kamu engga sibuk emang?"
"Nggak. Ada urusan bentar sama anak-anak anak IPS 3. Cuma 15 menit. Tunggu di perpus, nanti gue jemput ke sana. Jangan keluar gerbang sebelum gue dateng. Paham, Bee?"
Stella menangkap sesuatu yang tidak biasa di balik ketegasan suara Lingga. Ini bukan sekadar ajakan pulang bersama; ini adalah instruksi pengamanan. Di sekolah ini, posisi Lingga sebagai salah satu sosok berpengaruh sering kali membawa riak yang tidak diinginkan.
Dan sejak pagi tadi, saat Lingga menegaskan kepemilikannya atas Stella di parkiran, Stella sadar bahwa dirinya kini masuk dalam radar orang-orang yang tidak menyukai Lingga.
Namun, alih-alih merasa takut atau merasa dijadikan beban, Stella justru merasakan sebuah keyakinan yang kokoh mengakar di hatinya.
Lingga tidak pernah menjanjikannya dunia yang tanpa masalah. Lingga hanya memastikan bahwa apa pun masalahnya, dia akan selalu berdiri paling depan sebagai perisai.
Stella mengangguk, tersenyum kecil menenangkan kekasihnya. "Iya, aku tunggu di perpus. Selesaikan urusan kamu, jangan berantem."
Lingga terdiam sesaat, memandangi mata Stella yang jernih. Perlahan, sudut bibirnya terangkat, membentuk senyuman super tipis yang hampir tidak kentara bagi orang lain, namun sangat berarti bagi Stella.
Lingga mengacak rambut depan Stella sekilas dengan gemas sebelum berdiri dari kursinya.
"Pinter. Gue duluan," pamit Lingga. Dia berbalik, berjalan membelah kerumunan kantin dengan punggung tegapnya yang lebar, meninggalkan Stella yang kini harus menghadapi tatapan interogasi dari kedua sahabatnya dengan hati yang jauh lebih siap.
......................
...****************...
Tbc,