Dijual oleh keluarganya sendiri sejak kecil, Viona Lin tumbuh sebagai pembantu keluarga Jiang. Hidupnya berubah ketika ia dipaksa mendonorkan ginjalnya untuk menyelamatkan Dylan Jiang, pewaris keluarga yang berkuasa.
Mengetahui pengorbanan itu, Dylan membawa Viona pergi dari keluarga Jiang. Namun alih-alih mendapatkan kebebasan, Viona justru terjebak dalam perhatian dan obsesi Dylan yang semakin sulit ia hindari.
Ketika seorang pria bertekad menjadikan dirinya miliknya selamanya, masih bisakah Viona menemukan jalan untuk bebas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
“Dylan, rumahmu pasti sangat besar,” ujar Delvin sambil memaksakan senyum. “Setidaknya kau membutuhkan beberapa pelayan. Mana mungkin hanya dia seorang diri mampu mengurus semuanya?”
Dylan meletakkan gelas di tangannya.
“Viona hanya bertugas menyiapkan makananku dan merapikan kamarku,” jawabnya tenang. “Untuk pekerjaan lain, tidak perlu kau khawatir.”
Delvin terdiam.
***
Jarum jam dinding telah menunjukkan pukul satu dini hari.
Di gudang kecil belakang rumah, Viona masih terbaring di lantai beralas kardus.
Ia berkali-kali membalikkan badan, tetapi rasa nyeri di pinggang bekas operasi membuatnya tidak bisa memejamkan mata.
“Sampai kapan aku harus bertahan?” gumamnya lirih sambil memegang pinggangnya.“Kenapa sakitnya tidak juga hilang...”
Matanya menatap langit-langit yang kusam.
“Bagaimana nasib Vivi kalau aku dibawa pergi oleh Tuan Muda?” bisiknya dengan mata mulai berkaca-kaca. “Tuan dan Nyonya pasti akan menghentikan biaya pengobatan Vivi.”
Pintu gudang tiba-tiba terbuka.
Delvin dan Moly masuk dengan wajah dingin.
Viona buru-buru bangkit dari tempat tidur, meski luka di pinggangnya kembali terasa nyeri.
“Tuan... Nyonya...” sapanya pelan.
Delvin menatap Viona dengan tatapan tajam.
“Dengar baik-baik,” ucapnya dingin. “Besok kau harus menolak ikut dengan Dylan.”
Tubuh Viona langsung menegang.
“Kalau sampai Dylan tahu bahwa kaulah pemilik ginjal itu,” lanjut Delvin, “maka nasib adikmu akan segera berakhir!"
Wajah Viona seketika memucat.
“Tuan... Nyonya... tolong jangan...” pintanya dengan suara bergetar.
Moly melangkah maju, menatapnya dengan dingin.
“Kalau kau tidak mau adikmu mati, kau harus menolak tawaran Dylan. Apa pun alasannya, jangan ikut dengannya. Kalau besok kau gagal,” lanjut Moly tanpa belas kasihan, “maka adikmu akan langsung diusir dari rumah sakit.”
“Aku... aku akan berusaha...” ucap Viona lirih sambil menahan nyeri di pinggangnya.
Plak!
Tamparan keras mendarat di pipinya hingga tubuhnya terhuyung dan hampir terjatuh.
“Jangan cuma berusaha!” bentak Moly. “Lakukan!”
Viona menundukkan kepala, pipinya terasa perih.
“Kalau kau tidak mau melihat mayat adikmu,” lanjut Moly, “maka satu-satunya pilihanmu adalah patuh kepada kami.”
“Iya... Nyonya...”
Melihat jawabannya, Delvin merasa cukup.
“Aku harap kau tidak melakukan hal bodoh,” katanya sebelum berbalik.
Moly mendengus pelan, lalu mengikuti langkah Delvin keluar dari gudang.
Di sisi lain rumah.
Di dalam kamar yang baru saja kembali menjadi miliknya, Dylan duduk di balkon sambil mengisap sebatang rokok.
Asap putih mengepul di udara malam.
Jay berdiri di sampingnya, sementara Bibi Ma berdiri beberapa langkah di depan mereka.
“Bibi sudah lama bekerja di rumah ini,” ucap Dylan tanpa mengalihkan pandangan. “Ceritakan semua yang terjadi pada Viona. Jangan ada yang disembunyikan.”
“Baik, Tuan Muda.”
Bibi Ma menarik napas panjang sebelum mulai bercerita.
“Viona adalah anak yang dijual oleh keluarganya sendiri. Saat itu, keluarganya terlilit utang kepada rentenir. Karena tidak mampu membayar, mereka menyerahkan Viona kepada Tuan Besar Jiang.”
Tatapan Dylan perlahan berubah dingin.
“Tuan Besar membayar sejumlah uang dengan syarat Viona tidak boleh kembali kepada keluarga kandungnya. Sejak tinggal di rumah ini, hidup Viona semakin menderita,” lanjut Bibi Ma.
“Sejak usia sepuluh tahun, dia sudah dipaksa bekerja seperti orang dewasa. Nona Sanny juga sering mencari-cari kesalahannya. Apa pun yang terjadi selalu disalahkan kepada Viona. Akibatnya, dia sering dipukul dan dihukum.”
Suara Bibi Ma mulai bergetar.
“Viona tidak pernah melawan. Dia hanya diam dan menerima semuanya.”
Dylan memejamkan mata sesaat.
“Lalu bagaimana dengan adiknya?” tanyanya pelan.
“Beberapa tahun lalu, keluarga kandung Viona diam-diam datang ke rumah ini,” jawab Bibi Ma.
“Mereka membawa adik Viona yang bernama Vivi. Saat itu, Vivi tidak sadarkan diri karena jatuh dan kepalanya terbentur. Viona menangis dan memohon kepada Tuan Besar agar bersedia membiayai pengobatan adiknya.”
“Sejak saat itulah...” Bibi Ma berhenti sejenak.
“Tuan Besar memanfaatkan kelemahan itu. Setiap kali Viona menolak atau dianggap tidak patuh, beliau selalu mengancam akan menghentikan biaya pengobatan Vivi.”
“Tuan Besar dan Nyonya…” Jay menghela napas pelan. “Mereka sama sekali tidak menganggap Viona sebagai manusia.”
“Benar sekali,” sahut Bibi Ma dengan mata yang mulai memerah. “Selama ini Viona hanya makan sisa makanan keluarga Jiang. Terkadang, dia hanya diberi sepotong roti.”
“Meski sedang sakit, dia tetap dipaksa bekerja. Tidak ada yang peduli dengan kondisinya.”
Dylan terdiam.
Tangannya perlahan mengepal.
“Begitulah kehidupan Viona selama ini,” lanjut Bibi Ma. “Dia juga dipaksa mendonorkan ginjalnya untuk Tuan Muda. Saat itu, Tuan Besar mengancam akan menghentikan biaya pengobatan adiknya jika dia menolak. Setelah operasi pun, mereka tidak membiarkannya beristirahat atau menjalani perawatan lanjutan. Luka operasinya belum pulih, tetapi dia sudah dipaksa bekerja lagi. Bahkan beberapa kali dia pingsan karena menahan sakit dan kelelahan.”
Beberapa saat kemudian, Dylan mengalihkan pandangannya kepada Bibi Ma.
“Bibi Ma.”
“Iya, Tuan Muda.”
“Apakah Bibi ingin keluar dari rumah ini?”
Bibi Ma tertegun.
“Tuan Muda… usia saya sudah tidak muda lagi. Kalau keluar dari sini, saya harus pergi ke mana?”
Dylan mematikan rokoknya di asbak.
“Kalau Bibi bersedia, datanglah ke rumahku.”
Bibi Ma membelalakkan mata.
“Mulai besok, Bibi ikut bersama Viona. Tujuan utama Bibi bukan menjadi pelayan,” lanjut Dylan tenang. “Aku ingin Bibi merawat Viona sampai kondisinya benar-benar pulih. Dalam waktu dekat aku harus pergi ke luar negeri untuk urusan pekerjaan. Selama aku tidak ada, temani Viona dan pastikan dia beristirahat dengan baik.”
Mata Bibi Ma langsung berkaca-kaca.
“Tuan Muda…”
“Apakah Bibi keberatan?” tanya Dylan.
Bibi Ma menggeleng tanpa ragu.
“Tentu saja tidak, Tuan Muda. Justru ini kesempatan yang baik untuk menyembuhkan bekas operasi Viona. Selama ini dia tidak pernah mendapat perawatan yang layak.”
Dylan mengangguk pelan.
“Jay.”
“Iya, Tuan.”
“Hubungi dokter terbaik. Minta dia datang ke rumahku untuk memeriksa Viona.”
Jay langsung mengangguk.
“Baik, Tuan.”
“Aku ingin semua proses penyembuhan dilakukan di rumah,” lanjut Dylan. “Dengan begitu tidak akan ada orang yang datang mengganggunya.”
“Saya mengerti.”
***
Viona keluar dari gudang dengan langkah pelan.
Setelah memastikan Delvin dan Moly benar-benar telah pergi, ia berjalan menuju dapur.
Suasana rumah sudah sunyi.
Semua orang telah masuk ke kamar masing-masing.
Viona mengambil segelas air putih, lalu meminumnya perlahan.
Setelah gelas itu kosong, ia memegang pinggangnya yang masih terasa nyeri.
“Obatku sudah habis...” gumamnya lirih. “Kenapa sakitnya belum juga reda?”
Ia menarik napas pelan, berusaha menahan rasa nyeri yang semakin menusuk.
“Aku juga tidak punya uang untuk membeli obat.”
Tangannya perlahan menyentuh bekas operasi di pinggang.
“Lukanya... semakin bengkak.”
Butiran keringat dingin membasahi dahinya.
Viona mengusapnya dengan lengan baju panjang yang dikenakannya.
Ia menarik napas dalam dan mengisi air itu ke dalam gelas. Setelah selesai ia lalu berbalik hendak kembali ke gudang.
Bruk!
“Ah!”
Karena tidak memperhatikan jalan, tubuhnya menabrak seseorang.
Byur!
Air yang di dalam gelas langsung membasahi jubah tidur pria itu.
Viona langsung membelalak.
“T-Tuan Muda!”
Wajahnya seketika pucat.
Ia buru-buru mundur satu langkah.
“Maaf... saya benar-benar tidak sengaja...”
Dylan menunduk melihat jubah tidurnya yang basah.
Lalu mengangkat pandangan ke arah Viona.
Di bawah cahaya lampu dapur, wajah gadis itu tampak jauh lebih pucat daripada sebelumnya.
Napasnya juga terdengar sedikit berat.