Kania harus mengalami malam tergelap dalam hidupnya, ia dinodai dan kehilangan harga dirinya. Ketika kebenaran terungkap, orang-orang yang seharusnya menjadi tempat perlindungannya justru menjadi hakim yang paling kejam.
Tunangannya, Haris, langsung memutuskan pertunangan mereka, menganggap Kania sudah kotor dan tak layak lagi bersanding dengannya. Bahkan ayah kandungnya sendiri membuangnya, menyebutnya telah mencoreng nama baik keluarga.
Tanpa dukungan siapa pun, Kania terhempas ke jalanan, hingga seseorang mengulurkan tangan dan membantunya untuk bangkit dari keterpurukan.
Kini, ia kembali bukan lagi sebagai wanita lemah yang diusir, melainkan sebagai sosok yang berani menantang takdir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 22
Di restoran yang tenang dan berkelas, Luna dan Haris duduk berhadapan. Luna sibuk mengobrol tentang persiapan pernikahan, gaun yang sudah dipilih, hingga undangan yang akan disebar. Namun Haris hanya menjawab seperlunya, matanya sering menatap keluar jendela seolah tak mendengar apa yang dikatakannya.
"Kak, kamu dengar aku tidak?" tanya Luna akhirnya dengan nada sedikit kesal. "Aku bicara soal dekorasi pesta kita."
Haris tersadar, tersenyum tipis. "Maaf... aku sedikit lelah. Lanjutkan saja, aku mendengarkan."
Luna menatapnya cemas. Ia tahu meskipun mereka sudah bertunangan, hati pria itu tetap tak bisa ia genggam sepenuhnya. Namun ia takkan menyerah. Ia meraih tangan Haris di atas meja, menggenggamnya erat.
"Bagaimana kalau setelah makan kita langsung ke bioskop? Film yang sudah lama aku tunggu akhirnya tayang hari ini," ucapnya antusias sambil tersenyum lebar. "Aku sudah beli tiketnya sejak kemarin, tempat duduknya juga yang paling depan."
"Maaf, Lun. Aku tidak bisa," jawab Haris singkat, menarik tangannya dari genggaman Luna. "Masih banyak laporan penting yang harus kuselesaikan sore ini. Aku harus segera kembali ke kantor."
Senyum di wajah Luna perlahan memudar. Ia menatapnya tak percaya. "Lagi-lagi sibuk? Kak, kita baru saja bertunangan. Bukankah seharusnya kita meluangkan waktu bersama lebih banyak? Kerjaan itu bisa dikerjakan besok kan?"
Haris menggeleng pelan, "Ini bukan sekedar pekerjaan biasa. Ada hal penting yang harus dituntaskan sebelum minggu ini berakhir. Lain kali saja ya."
"Kamu tidak pernah benar-benar menganggapku ada, bukan?!" bentak Luna, matanya mulai berkaca-kaca. "Bagimu aku hanya pengganti yang terpaksa kamu terima, bukan? Sejak dulu hingga sekarang, matamu selalu mencari dia! Bahkan saat kita berdiri di atas panggung pertunangan pun, pikiranmu tetap entah ke mana!"
Haris mencoba meraih tangan gadis itu namun Luna menepisnya dengan kasar.
"Jangan sentuh aku!"
"Maafkan aku, Lun," ucap Haris pelan, suaranya penuh penyesalan. "Aku tidak bermaksud menyakitimu. Memang benar belakangan ini pikiranku sedang kacau, ada banyak hal yang membebani pikiranku, tapi itu bukan berarti aku tidak menghargaimu. Kamu adalah tunanganku, dan aku berjanji akan menepati janjiku."
"Janji?" Luna tertawa getir, air mata mulai menetes di pipinya. "Kamu menyebut itu janji? Sementara setiap hari kau membuatku merasa seperti orang asing di hadapanmu!"
Haris menghela napas panjang, lalu menatapnya dengan tulus. "Aku butuh waktu, Lun. Tolong beri aku waktu sedikit lagi. Aku akan berusaha sekuat tenaga untuk melupakan semuanya dan mulai bersamamu. Tolong mengertilah."
Ia kembali mencoba meraih tangan Luna, kali ini gadis itu tidak menepisnya.
"Berjanjilah kamu akan berusaha lebih keras," bisik Luna parau, menunduk menyembunyikan wajahnya. "Aku tidak sanggup jika harus terus bersaing dengan bayangannya selamanya."
"Aku berjanji," jawab Haris, meski di dalam hatinya ia tahu, janji itu terasa semakin berat untuk ditepati.
-
-
-
Jam berganti menjadi siang, lalu sore. Kania tak beranjak sedikit pun dari kursinya. Keringat dingin mulai menetes di pelipisnya, namun ia tak berhenti menelusuri lembar demi lembar dokumen yang menumpuk setinggi dada. Ia membandingkan catatan lama dengan bukti transaksi, mencocokkan nama pemasok, dan menghitung ulang setiap angka yang tertera.
Satu per satu kepingan teka-teki mulai tersusun rapi. Kerugian besar yang diderita cabang ini bukan sekedar kelalaian, melainkan pencurian yang direncanakan dengan rapi selama berbulan-bulan. Dana dialihkan perlahan ke rekening fiktif, kontrak dibuat dengan harga yang jauh di atas pasaran, dan keuntungan disembunyikan di balik laporan yang dimanipulasi.
Kania menuliskan nama-nama yang terlibat beserta bukti kuatnya di selembar kertas terpisah. Tangannya tak lagi gemetar. Rasa sakit yang dulu ia rasakan kini telah berubah menjadi ketajaman pikiran yang tak bisa dibohongi siapa pun.
Tepat saat matahari mulai terbenam, pintu ruangan diketuk pelan. Rico masuk membawa secangkir kopi.
"Nona belum istirahat sama sekali," ucapnya lembut namun penuh perhatian. "Sudah hampir jam tujuh malam."
Kania mengangkat wajahnya, matanya berkilau tajam. Ia menyodorkan kertas berisi daftar itu ke arah Rico.
"Lihat ini," ucapnya singkat. "Semua orang yang terlibat di sini. Dan perhatikan nama pemasok utamanya, perusahaan itu berafiliasi dengan PT. Arsena Group."
Rico menatap daftar itu, lalu mengangguk pelan. "Benar dugaan Tuan Victor. Mereka tidak hanya ingin merusak bisnis pesaing, tapi juga mengambil alih lahan ini dengan harga murah setelah perusahaan bangkrut."
Kania mengepalkan tangannya di atas meja. Dadanya bergemuruh, bukan karena amarah yang meledak-ledak, melainkan karena tekad yang semakin mengeras.
"Jadi semua ini bukan kebetulan," bisiknya dingin. "Mereka tidak hanya ingin menghancurkan cabang ini... mereka juga ingin mengambil alih lahannya dengan harga murah setelah bangkrut."
Ia berdiri tegak, menatap jendela kaca yang memantulkan cahaya lampu kota yang mulai menyala.
"Besok kita mulai langkah kedua," ucapnya tegas. "Panggil mereka semua ke sini. Aku akan memberikan kesempatan terakhir untuk mengakui kesalahan mereka sebelum aku menyerahkan semuanya ke pihak berwajib."
Rico menutup dokumen di tangannya perlahan, lalu menatap Kania dengan sopan.
"Sudah cukup untuk hari ini, Nona. Tuan Victor berpesan agar Anda tidak memaksakan diri berlebihan. Mari kita pulang."
Kania sempat mengerutkan kening. "Pulang ke kediaman utama Tuan Victor?"
"Bukan," jawab Rico pelan. "Tuan Victor telah menyiapkan tempat tinggal terpisah untuk Anda. Agar Anda bisa bekerja dan beristirahat dengan lebih tenang tanpa gangguan."
"Baiklah." angguk Kania, ia mengambil tasnya diatas meja lalu keluar dari ruangan menuju lift bersama dengan Rico.
Sesampainya di lantai bawah, mobil sudah siap di depan pintu utama. Rico bergegas membukakan pintu belakang mobil untuk Kania, lalu ia menyusul duduk di kursi kemudi.
Mobil melaju menembus keramaian kota, lalu berbelok masuk ke kawasan perumahan elit yang sepi dan asri. Tak lama kemudian, kendaraan berhenti di depan sebuah bangunan bergaya klasik yang elegan namun sederhana, dikelilingi taman luas yang tertata rapi.
Di teras depan, Paman Remon sudah berdiri menunggu. Begitu melihat mereka turun, ia segera melangkah maju dan membungkuk hormat.
"Selamat datang, Nona Kanaya. Tuan Victor menugaskan saya khusus untuk mengurus segala keperluan Anda mulai hari ini," ucapnya dengan nada lembut namun penuh wibawa. "Segala sesuatu di dalam sudah disiapkan sesuai kebutuhan Anda."
Kania menatap bangunan itu lekat-lekat, lalu menoleh ke arah Rico. "Dia... tidak ingin aku tinggal bersamanya?"
Rico menggeleng pelan. "Tuan Victor hanya ingin Anda memiliki ruang sendiri untuk bangkit. Dia tahu, Anda tidak lagi ingin menjadi bayang-bayang siapa pun. Di sini, Anda adalah pemilik mutlak. Silakan masuk, Nona."
Paman Remon membukakan pintu lebar-lebar. Di dalamnya, ruangan terasa hangat dan nyaman, tak ada kesan kaku atau menakutkan seperti di kediaman Victor. Kania melangkah masuk perlahan, menyadari bahwa untuk pertama kalinya setelah diusir dari rumahnya sendiri, ia memiliki tempat yang benar-benar miliknya.
-
-
-
Bersambung...
mungkin sakit hati karna bapak Haris masih cinta sama mama Kania yg kandung😏
sabar ya pemirsa, bentar lagi malam pesta dimulai😁
lanjut dong thor🤭🤭