NovelToon NovelToon
Sang Dewa Cangkul Sakti

Sang Dewa Cangkul Sakti

Status: sedang berlangsung
Genre:Budidaya dan Peningkatan / Reinkarnasi / Sistem
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: UrLeonard

Bereinkarnasi di Era Kultivasi Modern, Yang Chan awalnya hanyalah remaja tanpa bakat yang mendambakan kehidupan damai. Memilih untuk tidak masuk dalam kebrutalan dunia kultivasi.

​Tanpa disangka, rutinitas mencangkulnya justru membangkitkan Sistem Taman Kehidupan. Bukan misi berdarah yang didapat, melainkan keajaiban agrikultur penakluk lahan mati yang kelak melahirkan legenda suci, juga bakat terpendam yang seharusnya tidak ia miliki.

​Saat para penguasa dunia sibuk mencari jejak keilahian, mampukah ia menjaga kedamaian hidupnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: Bayangan Latihan di Balik Dimensi

Yang Chan menghela napas lega, lekas menyembunyikan sekop hitamnya kembali ke dalam jiwa sebelum ayahnya menoleh ke arahnya.

Untunglah parit kini mengalir lancar tanpa memicu kecurigaan sedikit pun dari Yang Wei yang masih sibuk merapikan pagar bambu di ujung ladang fana itu. Ia lekas berjalan pulang dengan santai, bersikap biasa saja seolah tak terjadi apa-apa sepanjang sore tadi.

Malam pun segera tiba di desa terpencil itu, membawa sunyi berselimut hawa dingin pegunungan yang menusuk kulit.

Di kamarnya yang kecil dan sederhana, ia merebahkan diri di atas kasur kayu tipis. Suara jangkrik di luar jendela menjadi latar belakang yang monoton, menemani kegelapan yang merayap lambat di sela dinding kayu kamarnya.

Ia memejamkan mata, mulai mengatur napas agar sirkulasi pernapasannya tetap stabil dan tenang.

Di tengah keheningan rumah keluarga Yang yang sudah terlelap, ia tidak benar-benar tidur. Ia memfokuskan aliran Qi di pusat pikiran, menarik kesadarannya perlahan masuk ke dalam pusaran energi hangat yang memisahkannya dari tubuh fana di atas kasur.

'Di luar, aku hanyalah anak petani biasa yang sedang beruntung. Tapi di dalam sini...' batinnya dengan tenang tepat di ambang batas kesadarannya yang mulai memudar.

Sensasi kasur kayu yang keras mendadak lenyap, berganti dengan kehangatan tanah gembur yang menyentuh telapak kaki telanjangnya.

Pandangan matanya terbuka lebar, menyambut hamparan cahaya keemasan lembut tanpa matahari yang menerangi seluruh sudut dimensi saku miliknya yang luas.

Debuk!

Satu benturan keras yang sangat nyaring seketika bergema di tengah keheningan.

Kepalan tangan kanan Yang Chan menghantam permukaan logam hitam pekat dari boneka latihan setinggi manusia. Ia langsung melompat mundur satu langkah, memasang kuda-kuda rendah dengan kedua kaki yang kokoh mencengkeram tanah spiritual.

Boneka latihan itu adalah perubahan bentuk dari alat serbaguna miliknya yang ia perintahkan untuk memadat. Di tempat ini, ia bebas membebaskan seluruh kekuatan fisiknya tanpa takut memicu perhatian orang rumah atau merusak perkakas tani berharga milik keluarganya.

Keringat mulai bercucuran melewati pelipisnya, menetes membasahi tanah spiritual di bawahnya. Rahangnya tampak mengeras saat ia kembali melancarkan pukulan cepat dan tendangan presisi, meniru persis teknik bela diri dasar yang sering diajarkan ibunya setiap pagi di halaman rumah.

"Ibu selalu menahan diri saat mengajariku di halaman fana itu," gumam Yang Chan, berhenti sejenak untuk mengusap peluh di rahangnya menggunakan punggung tangan kirinya.

Ia menarik napas panjang, membiarkan fluktuasi Qi barunya mengalir deras tanpa hambatan melewati saluran nadinya menuju ke ujung jemari tangan.

"Mari kita lihat seberapa jauh teknik ini bisa menyalurkan energi Qi jika tanpa batasan dunia fana," lanjutnya dengan mata yang berbinar penuh rasa penasaran yang mendalam.

Ia kembali melesat maju, menghantam dada boneka logam itu dengan tinju bertenaga penuh yang membelah angin. Suara benturan berat kembali terdengar, namun permukaan logam hitam sistem itu tetap mulus tanpa tergores sedikit pun. Ia tersenyum puas melihat pertahanan alat ajaibnya yang sangat luar biasa kokoh dan andal.

Rasa lelah di fisiknya perlahan menguap, berganti ketenangan batin yang sejuk ketika ia menghentikan latihan kerasnya.

Suara benturan kini sepenuhnya berganti dengan keheningan, menyisakan suara gemericik air yang sangat tenang dari arah tengah ladang. Ia melangkah santai mendekati petak tanah spiritual yang sebagian sudah ditumbuhi tunas hijau bercahaya.

Boneka logam itu seketika meleleh bagaikan raksa cair di udara, lalu memadat kembali menjadi sebuah gembor air berukir akar pohon yang tampak sangat anggun di genggamannya.

Dengan gerakan tubuh yang mengalir luwes sisa dari latihan bela diri tadi, ia mulai menyirami tanaman obat langkanya secara lembut satu per satu.

'Kultivasi dan bertani... pada akhirnya keduanya butuh akar kuat yang disiram dengan kesabaran,' ucapnya dalam batin sembari menatap salah satu pucuk daun yang menggeliat segar setelah mendapat tetesan air spiritual.

Siluet tubuhnya memancarkan aura stabil dan damai di bawah cahaya keemasan yang statis, sangat kontras dengan hantaman destruktif yang dilakukannya beberapa menit lalu. Jiwanya kini menyatu kembali dalam ketenangan malam dimensi yang damai.

Srak. Srak.

Suara sapu lidi yang bergesekan kasar dengan permukaan tanah liat mengembalikan kesadarannya ke dunia nyata dengan cepat. Sayup-sayup kokok ayam jantan terdengar saling bersahutan di kejauhan, menandai pagi yang telah menyapa halaman depan rumah sederhana milik keluarga Yang.

Yang Chan meregangkan bahunya di bawah siraman matahari pagi yang terasa hangat di kulitnya. Hasil latihan semalam membuat tubuh fisiknya terasa jauh lebih segar dan tegap, namun ia menekan erat semua fluktuasi energi spiritualnya agar tidak terendus oleh siapa pun.

"Chan'er! Jangan terlalu lama menyapu, kau harus membantu ayahmu memindahkan karung di petak timur setelah sarapan!" teriak Bing Chan dengan suara jernih dari dapur kayu mereka yang sudah mengepulkan asap masakan pagi.

Yang Chan menoleh cepat dengan senyuman lebar menghiasi wajahnya yang tampak segar dan rileks.

"Siap, Ibu! Aku hampir selesai!" sahutnya dengan nada ceria tanpa beban sedikit pun, kembali menyapu beberapa lembar daun kering terakhir yang tersisa di dekat pagar kayu rumah mereka.

1
ಠ⁠ω⁠ಠ
oke, kalau jurusnya pakai bahasa inggris keren juga ya /Sweat/, tapi aku kembalikan ke kalian. Apakah perlu aku revisi agar jadi bahasa indo saja, atau aku pertahankan perubahannya? /Slight/
ಠ⁠ω⁠ಠ: /Scare//Scare//Scare/
total 2 replies
Sulaeman Effendi
bagaimana selanjutnya ?
Sulaeman Effendi
kapan peningkatan kultifasi nya?
ಠ⁠ω⁠ಠ: Sebenarnya aku lupa perhatiin aspek Kultivasinya /Sweat/
total 1 replies
Sulaeman Effendi
seorang pendekar yang bijak 👍
Sulaeman Effendi
tehnik yang tepat 👍😄
Sulaeman Effendi
Asyik tanpa risiko berhasil memuaskan 👍
Sulaeman Effendi
era baru menjelajahi hutan
Sulaeman Effendi
mulai terasa ada perkembangan pertemanan yg menggetarkan
Sulaeman Effendi
iya boy, hidup tenang, menyenangkan dan berhasil gemilang 👍💪😀
Sulaeman Effendi
awal untuk maju dengan sekolah boy
Sulaeman Effendi
sekolah apa kuliah boy
ಠ⁠ω⁠ಠ: Agak beda ini, nggak mirip sekolah, kuliah juga gak mirip /Sweat/
total 1 replies
Sulaeman Effendi
sekolah Boy ?
ಠ⁠ω⁠ಠ: Iya, sekolah. Tapi enggak fokus ke sekolahnya, lebih ke hal lain di sekolah/akademi /Slight/
total 1 replies
Sulaeman Effendi
sekolah Boy agar pintar dan sakti
Sulaeman Effendi
Tingkatkan terus Boy
M Mugni
ceritanya mantap 💪💪💪
Sulaeman Effendi
terus semangat Boy 💪
Sulaeman Effendi
tak disangka ternyata hebat
ಠ⁠ω⁠ಠ: Udah ada tanda-tandanya /Slight/
total 1 replies
Sulaeman Effendi
waduh bagaimana selanjutnya???
Sulaeman Effendi
bangkitlah petani miskin tunjukkan taring mu
Sulaeman Effendi
mulai seru nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!