NovelToon NovelToon
Story Of Love

Story Of Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Romansa Fantasi
Popularitas:303
Nilai: 5
Nama Author: Bunda Nastiti

Restu orang tua memang satu hal yang sangat penting dalam sebuah hubungan, namun apa kita harus menerima begitu saja jodoh pilihan orang tua kita sementara hati kita sudah terpaut pada yang lain. Bisakah kita menjalani kehidupan jika bersama orang yang tidak kita inginkan. Namun, apa sudah jadi jaminan. Kita akan bahagia jika hidup bersama orang yang kita pilih?

layaknya permen nona-nona, ada pait.. asam.. manis... begitu pula hidup. Tinggal kita saja, mana yang kita pilih... itulah yang akan kita jalani.

Begitu pula jalan hidup dari seorang perempuan bernama Rani yang lengkap dengan lika liku hidup, up and down. Penasaran??? yuuuk ikuti kisah nya....


Selamat menikmati 😊semoga cocok di hati

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Nastiti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Abang biar badan gedhe juga pengen kali Yang, dimanjain."ucap Bang Rengga.

"Iya, nanti ya kalau udah saatnya. Pasti bakal Aku manjain. Udah, sekarang kita turun ya. Bentar lagi Magrib. Abang udah kelar belum liat laporannya?"

"Abang lanjut di rumah aja, puyeng kepala Abang." Ucapnya. "Apalagi kepala bawah." Imbuhnya pelan.

"Apa Bang?" Tanyaku yang tidak jelas mendengar gumamannya.

"Ayo turun, daripada Abang khilaf lagi." Ucap Bang Rengga.

Kamipun akhirnya turun, setelah adzan Maghrib terdengar berkumandang kami segera masuk ke musholla, mengambil wudhu lalu sholat Maghrib. Setelah sholat, baru Bang Rengga mengantar aku pulang.

Kali ini lelaki yang sebentar lagi akan melamarku itu tidak mampir karena akan pulang ke rumah Papa Adam dan Mama Sofia. Dia akan menunjukkan beberapa bukti yang sudah dia dapatkan sebelum nanti akan menelusuri kejanggalan yang dia temukan lebih jauh lagi.

Sementara itu, di sebuah rumah mewah. Papa Adam dan Mama Sofia sedang bersantai. Papa Adam terlihat tidur berbantal paha Mama Sofia. Meskipun tidak muda lagi, sisi romantis mereka patut diacungi jempol karena tidak kalah dengan yang masih muda.

"Assalamu'alaikum," ucap Bang Rengga saat masuk di ruang tengah yang biasa mereka gunakan untuk berkumpul dan bersantai.

"Waalaikumsalam," jawab kedua orang tua itu bersama.

"Abang tumben pulang ke sini? Ada apa?" Tanya Mama Sofia.

"Dih, anak bujang ganggu aja. Nggak tahu apa Papa lagi pengen berduaan aja sama Mama." Protes Papa Adam.

"Dih, udah tua juga. Awas ya, aku nggak mau punya adek. Aku mau bikin baby sendiri ntar habis nikah sama Rani." Jawab Bang Rengga.

Mama Sofia memukul pelan dada Papa Adam. Papa Adam hanya cengengesan sambil bangun dari tidurnya.

"Kusut banget tuh muka, kayak cucian habis di angkat dari gilingan. Lecek banget. Hahaha... " ejek Papa Adam. "Kenapa? Nggak bisa nyosor Rani?" Tanya nya lagi.

"Papa, nanyanya gitu amat?" Protes Mama Sofia. "Rani itu, nggak kayak mantan-mantannya Abang lho, Pa. Mereka semua itu kayak soang kalau sama Abang. Dih.... Mama aja kadang sampai geli sendiri ngeliatnya. Rani itu lebih bisa menjaga, lebih tahu batasannya. Dari awal Abang cerita aja, Mama udah punya bayangan Rani itu seperti apa. Eh, alhamdulillah pas ketemu nggak jauh beda dari bayangan Mama." Jelas Mama Sofia.

"Iya, Papa tahu itu. Sekarang yang jadi soang kayaknya malah si Abang. Tapi, Papa tahu Rani bisa jaga diri dari Abang." Jawab Papa Adam. "Ya kalau Abang udah siap babak belur di tangan Rani sih, silahkan aja coba macam-macam sama Rani." Ucap Papa Adam dengan senyum mengejek.

"Si Papa sekarang bisa ngejek kayak gitu. Belum nyadar sih, di kantor Papa yang Surabaya ada tikusnya." Ucap Bang Rengga.

"Tikus? Tikus apa Bang? Kok Dibyo nggak ada cerita apa-apa ya sama Papa?"

"Ya iyalah, cari mati namanya kalau dia cerita. Coba Papa lihat laporan yang udah Abang print. Papa fokus aja sama yang Abang blok warna merah. Itu laporan yang sama, dari dua sumber yang berbeda." Jelas Bang Rengga sambil menyerahkan laporan yang sudah dia print tadi sewaktu di cafe.

"Abang bisa nemu kayak gini gimana ceritanya?" Tanya Papa Adam setelah mengamati perbedaan angka di laporan tersebut.

Akhirnya Rengga menceritakan awal kecurigaan nya. Hingga akhirnya dia diam-diam turun ke langsung menyelidiki.

"Ini Abang baru cek dua bulan lho, Pa. Belum mundur ke belakang."

Papa Adam terlihat memijat pelipisnya. Kepalanya seketika pening, dia tidak habis pikir kenapa orang yang dulu berjuang bersama, kini malah menusuknya dari belakang.

"Beda ya Pa, laki kalau udah ketemu sama pawangnya, lebih semangat cari cuan. Dulu aja, Papa sampai capek kan ngomong sama Abang, bantuin Papa, urus usaha Papa. Jawabnya apa? Males." Ucap Mama Sofia.

"Iya lah, Ma. Buat meratukan wanita yang tepat itu butuh banyak cuan. Ya, meski Rani nggak pernah mau kalau aku kasih sesuatu yang berlebihan. Dia tuh di ajak makan di pinggir jalan aja udah seneng lho, Ma. Dia malah bete kalau di bawa ke Mall, ke restoran mahal gitu malah kurang suka dia. Katanya udah mahal, tapi nggak bikin kenyang. Abang kasih kartu aja, belum pernah lho dia pakai sekalipun. Apalagi di bikin lecet. Nggak kayak mantan-mantannya Abang dulu yang hobi nya shopping. Ngambek dikit minta shopping."

"Gayanya butuh cuan! Emang cafe selusin masih kurang?" Sindir Papa Adam.

"Iyalah, Pa. Lagian siapa lagi yang mau bantuin Papa kalau bukan Abang?" Tanya Bang Rengga sambil memainkan alisnya.

"Sudah, ini urusan Om Dibyo gimana?" Tanya Bang Rengga lagi.

"Abang bantu Papa cari lebih banyak bukti lagi ya. Sampai tuntas kalau bisa. Nanti biar Papa yang sikat."

"Apa dia kayak gitu karena kecewa anaknya di tolak sama Abang ya, Pa?" Tanya Mama Sofia.

"Entahlah, Ma. Papa juga nggak habis pikir kenapa dia bisa sejauh ini."

"Emang Abang kenapa sih, dulu nggak mau sama Elsa?" Tanya Mama.

"Heemm.... Mama nggak tahu aja siapa Elsa sebenarnya. Dia kelihatan baik cuma di depan kita aja. Aslinya, wow.... Pasti Mama bakal ngelus Papa kalau Abang kasih lihat bukti yang Abang punya. Intinya, dia cuma perempuan yang cocok buat senang-senang, tapi bukan buat jadi Ibu dari anak-anak Abang. Mama ngertikan maksud Abang?"

"Sek... Sek.. Bang. Bentar, kok ngelus Papa? Maksudnya apa?" Tanya Papa Adam.

"Iya, biar Papa juga sadar nggak pingsan kayak dulu. Sampai-sampai paksa Abang biar mau sama Elsa. Demi persahabatan katanya. Bikin Abang kesel aja!" Jawab Rengga yang dulu sempat renggang dengan sang Papa karena di paksa menikah dengan Elsa.

"Iya... Iya.. Papa minta maaf."

"Di maafin, sekarang Abang mau istirahat dulu. Nanti malam baru lanjut lagi lihat laporan punya Papa."

"Iya, makasih ya Bang."

"Makasih aja, nih? Nggak ada bonus gitu buat Abang?" tanya Bang Rengga.

"Dih, perhitungan amat sama Papa sendiri!" protes Papa Adam.

"Gak bakal bikin Papa bangkrut juga kok. Ya... Pa... Cuma bayarin aja pesenan Abang sama si Roni."

Papa Adam hanya mengacungkan dua jempolnya pertanda setuju.

"Abang pesen apa sama Roni?" tanya Mama Sofie.

"Abang pesen set perhiasan buat Rani. Tapi kalau sampai Rani tahu, bisa ngomel berhari-hari dia, Ma. Katanya mending buat nambahin modal usaha Abang aja. Ajaib kan Ma, Pa. Cewek tuh biasanya kalau lihat yang berkilau gitu bawaannya langsung peluk cium. Kalau Rani malah kultum." jelas Rengga sambil geleng-geleng kepala.

"Hahahha... Mantu idaman banget ya, Ma." ucap Papa Adam. "Papa yakin, dia belum cek saldo kartu yang kamu kasih itu."

Rengga hanya menggeleng kan kepala nya, "Abang ke atas dulu ya, Pa, Ma. Mau istirahat bentar, habis itu lanjut cek lagi." pamit Rengga.

"Iya, sana cepat naik. Papa mau lanjut pacaran lagi sama Mama."

"Dih, nggak mau kalah banget sama yang muda."jawab Rengga sambil berlalu naik ke kamarnya di lantai dua.

*****

"Bu, pesenan makanan buat besok sampun beres njeh?"

"Sudah Mbak. Kemarin malam Ibu sudah ke rumah Budhe Wati buat ngingetin lagi. Kalau kuenya kamu gimana, Mbak? Temen kamu sudah diingatkan?"

"Sampun, Bu. Yang di Budhe Wati telas pinten, Bu?" (sudah, bu, yang di Budhe Wati habis berapa, Bu?")

"Nggak mau bilang, Budhe jawabnya habis berapa nya katanya nanti sama Rani aja. Katanya Mbak udah pesen uangnya sama Mbak aja. Kemarin udah mau Ibu bayar, tapi dia kekeh ndak mau bilang." jelas Ibu.

"Iya, emang Mbak udah pesen semua nanti Mbak aja yang bayar. Uang Ibu sama Bapak simpan aja, buat bantu-bantu Azka nanti kalau si Putri lahiran." jelasku.

"Oalah, Mbak. Dari dulu kok kamu itu selalu aja ngalah sama adik kamu itu. Sekali-sekali itu kamu juga mikir seneng kamu gitu lho. Biar Ibu sama Bapak yang bayar. Kamu itu juga tanggung jawab kami."

"Mboten nopo-nopo, Bu. InsyaAllah rejeki Mbak semakin lancar. Doanya aja, biar apa yang Mbak pilih sudah benar."

"Iya, Ibu sama Bapak selalu berdoa buat Mbak, buat Azka. Semoga selalu dilancarkan semua yang di inginkan. Oya, Mbak. Nanti Budhe Husna sama Budhe Tika datang. Kayaknya sama Mas mu juga."

"Alhamdulillah, kalau keluarga yang di Tulung Agung bisa ikut hadir. Sayangnya Mbah Uti ndak bisa ikut njeh, Bu."

"Mbah mu itu sudah sepuh, Mbak. Kasihan kalau perjalanan jauh. Nanti saja kalau kamu sama Bang Rengga longgar, kamu ajak main ke desa. Sowan sama Mbah dan keluarga di sana. Biar tahu kehidupan di desa."

"Iya, nanti Mbak pasti ajak Bang Rengga sowan sama Mbah. Mbak udah lama ndak kesana. Biasanya, kalau ke cabang yang di sana, Mbak pasti sempetin mampir. Kalau pas sendiri Mbak malah nginep di hari terakhir."

"Ya sudah, Bu. Mbak ke tempat budhe Wati sekalian berangkat kerja."

"Lhooo... Kamu nggak ijin libur Mbak?"

"Nggak, Bu. Kan cuma setengah hari aja. Terus di rumah juga sampun beres semua. Kasihan kalau Mbak Nita sendirian di kantor."

"Ya sudah, Hati-hati dijalan."

"Njeh, Bu. Mbak berangkat dulu ya, Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumsalam,"

*****

Di kantor, hari ini kerjaan lumayan banyak meski tidak terlalu ramai karena kami hanya menyelesaikan sisa pekerjaan kami hari Jumat kemarin.

"Nah... Ini yang saya cari Pak Wandi."

Tiba-tiba saja ada suara berat lelaki yang masuk di ruangan ku.

Aku mengangkat wajahku, melihat siapa yang masuk. Ternyata Pak Sastra, bos Bang Rengga. Beliau rupanya ada janji temu dengan Pak Wandi.

"Hallo, selamat siang Mbak Rani." sapanya sambil mengulurkan tangan mengajak berjabatan.

"Siang, Pak Sastra, apa kabar? Sehat? Lama ndak main ke Malang ya. Monggo pinarak." jawabku sambil menjabat ukuran tangan Pak Sastra.

(Monggo pinarak\=silahkan duduk.)

"Waduh, nggak nyangka saya kalau ternyata anaknya Pak Wandi yang bikin kulkas sepuluh pintu saya meleleh." ucap Pak Sastra lalu tertawa setelah beliau duduk di kursi yang ada di ruangan ku.

"Iya, kapan hari sebelum deketin Rani. Bang Rengga itu sempat tanya-tanya dulu. Sekalian aja tak privat. Gimana caranya deketin Rani. Tak tik nya itu saya yang ngajarin." ucap Pak Wandi sambil terkekeh.

"Oalah, belajar dari Bapak to. Makanya berhasil dapatin Rani." ujar Nita.

Aku hanya tersenyum saja mendengar obrolan mereka.

"Mbak Rani, harus tanggung jawab lho, tadi pagi Rengga muntah-muntah pas meeting bersama di kantor. Jangan-jangan Rengga hamil." ucap Pak Sastra bercanda.

"Lhooo, Abang sakit? Semalam masih telponan nggak Papa kayaknya, Pak. Terus Bang Rengga nya gimana sekarang, Pak?"

"Tadi sudah saya antar pulang, sekalian mau ketemu sama Pak Wandi."

"Ke rumah Mamanya?" tanyaku.

"Nggak, ke rumahnya sendiri. Nggak mau dia, saya antar ke rumah orang tua nya."

"Ooo, iya Pak. Terimakasih infonya. Nanti saya telpon Bang Rengga nya."

Tidak lama kemudian, Pak Sastra pamit keluar dengan Pak Wandi. Bertepatan dengan berakhirnya jam kantor. Segera saja ku telpon  Bang Rengga.

Tapi hingga panggilan ke tiga belum ada jawaban.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!