"Sekali saja kita melangkah melewati batas ini, Arden... semuanya tidak akan pernah sama lagi."
Alyssa tidak pernah menyangka pernikahannya akan menyeretnya ke dalam pusaran dosa yang terlarang. Sebagai istri yang berbakti, ia selalu menekan keinginan pribadinya demi menjaga kehormatan keluarga besar suaminya.
Namun, benteng pertahanan itu runtuh saat Arden—adik iparnya—kembali dari luar negeri.
Arden bukan lagi remaja tanggung yang dulu ia kenal. Pria itu telah menjelma menjadi sosok dewasa yang penuh pesona, perhatian, dan diam-diam menawarkan kehangatan yang tak pernah Alyssa dapatkan dari suaminya sendiri.
Di sisi lain, Arden tersiksa. Semakin ia mencoba menjauh, semakin ia mendambakan Alyssa—wanita yang seharusnya haram untuk ia sentuh.
Kini, keduanya terjebak dalam tarik ulur perasaan yang menyiksa. Antara kesetiaan pada keluarga, atau menyerah pada godaan gairah yang candu.
Saat batas suci itu akhirnya dilanggar, siapkah mereka membayar harga yang teramat mahal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nopani Dwi Ari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.22
Satu minggu kemudian...
Hari ini adalah hari kepulangan Alyssa ke Jakarta. Ia pulang sendiri tanpa didampingi Adrian. Pria itu sama sekali tak pernah kembali ke Bali sesuai janjinya. Selama seminggu ini, Alyssa menghabiskan waktunya bersama Arden—menikmati indahnya Bali seolah mereka adalah sepasang pengantin baru, bahkan sempat larut dalam batas-batas rasa yang terlarang.
Ting!
Sebuah notifikasi pesan masuk dari nomor Adrian saat Alyssa sedang merapikan barang di kamar hotel.
"Alyssa, maafkan aku ya. Pekerjaan di Jakarta benar-benar menumpuk dan tak bisa ditinggal. Maaf banget, nanti aku janji bakal ganti waktu liburan kita."
Alyssa tersenyum miring, sebuah tawa hambar lolos dari bibirnya. 'Pekerjaan?' batinnya miris.
Alyssa sama sekali tidak tahu kalau detik ini, Adrian sebenarnya tidak berada di kantor Jakarta. Pria itu tengah sibuk memboyong Hanum berbulan madu ke negara impian wanita itu: Korea Selatan. Adrian menuruti semua kemanjaan Hanum yang berharap bisa berjalan-jalan di Seoul, bahkan berharap bisa tak sengaja bertemu dengan aktor terkenal atau member BTS.
Alyssa menghela napas panjang, meredam sesak di dadanya. Ia memasukkan pakaian terakhir ke dalam koper, lalu menarik ritsletingnya hingga tertutup rapat.
"Sudah selesai?" tanya Arden yang muncul di ambang pintu kamar.
Alyssa mendongak, menyunggingkan senyum manis yang dipaksakan, lalu mengangguk pelan.
Arden melangkah masuk, dengan sigap mengambil alih koper besar milik Alyssa tanpa membiarkan wanita itu kerepotan. Mereka memang memesan penerbangan di pesawat yang sama untuk kembali ke Jakarta, meski nanti saat tiba di bandara, mereka terpaksa harus berpisah arah demi menjaga kerahasiaan.
Di dalam kabin pesawat, Alyssa duduk di samping jendela. Pandangannya menatap kosong ke arah awan putih di luar saat burung besi itu mulai mengudara membumbung tinggi.
"Nanti... kalau Mama tanya kenapa Mas Adrian gak ikut pulang bareng dari Bali, aku harus jawab apa, Den?" tanya Alyssa pelan tanpa mengalihkan pandangannya.
Arden yang duduk di sampingnya menoleh, menatap lekat profil wajah Alyssa yang tampak muram.
"Katakan saja, di hari terakhir di Bali, Mas Adrian mendadak ada urusan pekerjaan mendesak ke luar kota," usul Arden tenang.
Alyssa mengangguk pelan, lalu mematikan daya ponselnya karena pesawat sudah mulai lepas landas.
Tanpa Alyssa ketahui, jauh di Seoul sana, Hanum yang sedang asyik dipeluk Adrian di tengah dinginnya udara Korea Selatan tak tahan untuk tidak pamer. Karena tidak bisa langsung meneror Alyssa yang sedang terbang, Hanum sengaja melempar umpan pada Indah—salah satu Tante Adrian yang terkenal bermulut tajam dan tak menyukai Alyssa.
Hanum membuat status video singkat dirinya sedang dirangkul Adrian di depan Namsan Tower, lengkap dengan gembok cinta mereka. Video itu disertai pesan dengan nada mengejek yang terselubung:
"Bulan madu ke Korea, negara impian. Makasih sayang... ❤️"
Hanum sengaja mengatur privasi status tersebut. Hanya Indah yang bisa melihatnya.
Hanum tahu betul sifat Indah. Tantenya Adrian itu semakin dilarang, justru akan semakin gatal untuk membocorkan dan memanasi Alyssa. Hanum dengan sengaja menciptakan 'lawan' dan drama baru untuk Alyssa.
Sementara di dalam pesawat, Arden memperhatikan Alyssa yang tampak sangat lelah hingga akhirnya tertidur pulas dengan kepala tersandar di dinding jendela yang dingin.
Dengan gerakan sangat perlahan, Arden menarik kepala Alyssa agar bersandar nyaman di bahunya sendiri. Pria itu menyelimuti tubuh Alyssa dengan kain hangat, lalu menatap wajah tidur Alyssa dengan pandangan teduh penuh tekad.
'Mulai hari ini, aku gak akan biarkan siapa pun bikin kamu nangis lagi, Sa. Termasuk Mas Adrian,' batin Arden mantap sambil menggenggam erat jemari dingin Alyssa di bawah selimut.
*
*
Sementara itu di Jogja, Indah sedang bersantai di ruang tengah rumahnya. Ia membuka ponsel dan tak sengaja melihat pembaruan status milik Hanum.
"Bulan madu?" gumam Indah heran. Matanya menyipit memperhatikan sosok pria di dalam video tersebut. Ia tahu betul postur dan gaya lelaki yang sedang merangkul Hanum.
"Adrian?!" seru Indah kaget, setengah tak percaya bahwa Hanum benar-benar sudah berhasil menikahi keponakannya.
Dengan cepat, Indah langsung mencoba menghubungi Hanum. Panggilan pertama dan kedua tidak diangkat. Baru pada panggilan ketiga, Hanum akhirnya mengangkat telepon tersebut.
"Halo, Tante Indah..." sapa Hanum penuh kepura-puraan.
"Kamu beneran nikah sama Adrian?!" tembak Indah langsung, bahkan sebelum Hanum selesai menyapanya.
"Iya, Tante. Kenapa?" Hanum berpura-pura polos sembari berjalan ke balkon kamar hotelnya di Seoul, menatap pemandangan kota di bawah sana. "Ah... Tante lihat status aku, ya? Maaf ya, Tan... Aku gak maksud pamer, tapi aku cuma mau orang-orang tahu kalau aku dan Mas Adrian sudah menikah."
Di balik layar, Hanum tersenyum miring. Ia tahu Indah adalah kunci utamanya. Hanum harus bersikap manis agar Indah—yang walau jauh di Jogja—bisa jadi sekutu kuatnya untuk meracuni pikiran keluarga di Jakarta, menendang Alyssa, dan memuluskan jalannya masuk ke Keluarga Narendra.
Tawa renyah Indah terdengar dari seberang telepon.
"Kamu ngomong apa sih, Num? Tante justru seneng banget kamu menikah sama keponakan Tante! Kamu itu yang paling pantas jadi menantu Keluarga Narendra, dibanding si Alyssa... anak gak jelas itu!" puji Indah tanpa beban.
Senyum Hanum makin melebarkan rasa puasnya. "Terima kasih banyak ya, Tante. Nanti kalau aku sama Mas Adrian main ke Jogja atau Tante ke Jakarta, aku pasti bawakan oleh-oleh spesial dari Korea buat Tante."
"Wah, makasih banyak ya, Num! Kamu memang yang terbaik!" seru Indah girang.
Setelah berbincang sebentar, Indah mematikan sambungan telepon. Ia bersandar di sofa mewah miliknya. Tak sabar rasanya dia ingin memberitahu keluarga besar Narendra, tapi semua butuh strategi untuk mengusir Alyssa dari keluarga Narendra.
Tak lama setelah panggilan telepon dari Hanum terputus, suara deru mobil terdengar berhenti di garasi. Anton melangkah masuk ke dalam rumah bersama anak kedua mereka, seorang anak perempuan bernama Feli yang baru saja ia jemput dari sekolah. Sementara anak pertama mereka—seorang anak laki-laki yang sudah kelas dua SMP—masih ada kegiatan di sekolahnya.
"Loh! Fel, kok udah pulang? Kenapa, Nak?" tanya Indah heran seraya beranjak menghampiri suami dan anaknya.
Anton menghela napas panjang. Ia menatap Indah dengan pandangan lelah dan malas.
"Dari tadi kamu pegang ponsel terus, tapi gak lihat pesan dari gurunya Feli?" ujar Anton mencoba bersabar.
Dengan cepat, Indah langsung membuka aplikasi pesan di ponselnya. Benar saja, ada beberapa pesan menumpuk dari wali kelas Feli yang mengabarkan bahwa Feli mendadak demam tinggi dan muntah-muntah di sekolah.
"Ma-maaf, Mas. Aku... aku gak tahu," balas Indah terbata, mendadak gugup.
"Gak tahu?" Anton tersenyum sinis. "Kamu gak akan pernah tahu urusan anak, Indah. Karena dari dulu anak selalu diurus sama Bi Mina. Kamu selalu terlalu sibuk sama urusan teman-teman gak jelas mu itu."
Indah bungkam, tak bisa membela diri.
Anton kemudian mengusap lembut kepala putri kecilnya. "Feli ke kamar dulu ya, Sayang. Istirahat."
Feli mengangguk pelan dengan wajah pucat, lalu melangkah menuju kamarnya. Anton sengaja menyuruh putrinya masuk agar tidak menyaksikan keributan orang tuanya.
Setelah bayangan sang anak menghilang di balik pintu, Anton kembali menatap Indah. Ada rasa jenuh dan bosan yang mendalam di matanya. Jujur, jauh di dalam lubuk hatinya, ada keinginan untuk berpisah dari Indah. Namun, rasa cintanya yang masih tersisa membuat Anton bertahan, selalu menyisipkan harapan bahwa suatu hari nanti Indah bisa berubah menjadi istri dan ibu yang lebih baik.
Bersambung ....
mana sih Suami'y.,
wwooii Suami Indah yang gak Indah.,
bawa pulang noh istri durjana'mu itu
🏃🏼♀️🏃🏼♀️🏃🏼♀️🏃🏼♀️🤣🤣🤣🤣🤣
Intan : kali ini klo Kamu bikin ulah., mengganggu siapapun termasuk Alis., Aku akan mengembalikan Kamu sm Kakak'mu
KAMU BOLEH BALIK KE SINI KLO SUDAH BAWA SURAT CERAI
s' Han ini bebener ya...
astagaaaaaaaa...
Han : ko' nyalahin Aku Jum., ini semua gegara Otor lo., bukan Aku
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣