TOXIC AND CONTROL
Karya: Parkha
Bagi Kinara Jose, hidup sebagai siswi penerima beasiswa berpenampilan polos dengan kacamata tebal adalah cara terbaik untuk bertahan hidup dengan tenang di SMA Elite. Namun, seluruh dunianya runtuh saat ia tidak sengaja menarik perhatian Rian Pradifta.Rian—sang Tiran berwajah malaikat namun berhati iblis, cowok terkaya, terdingin, dan paling ditakuti satu sekolah. Sekali Rian mengunci pandangannya pada Kinara, tidak ada jalan keluar. Cowok itu terobsesi mengontrol setiap jengkal hidup Kinara, memutuskan dengan siapa ia bicara, ke mana ia pergi, hingga apa yang harus ia pakai.Kehidupan Kinara yang tenang kini berubah menjadi labirin yang mencekik. Rian adalah racun, namun juga satu-satunya oksigen yang tersisa untuknya. Di tengah kepungan obsesi gila itu, sebuah rahasia besar perlahan terkuak: di balik kacamata tebal dan sikap penurutnya, Kinara menyimpan pesona tersembunyi yang siap menjungkirbalikkan kuasa Rian sang Tiran
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
---Toxic and Control *BAB 24: PILIHAN DI BALIK KELAM* _
---Toxic and Control
*BAB 24: PILIHAN DI BALIK KELAM*
_
Tawaran nominal fantastis yang meluncur begitu enteng dari bibir Rian Pradifta tidak membuat Kinara Jose luluh. Sebaliknya, harga diri gadis beasiswa itu justru merasa kembali diinjak-injak. Kinara menatap lurus ke sepasang mata elang Rian dengan kilat penolakan yang teramat tegas di balik lensa kacamata murahnya yang baru saja dikembalikan Rian sebelum turun.
"Aku menolak, Kak," ucap Kinara dingin, suaranya menusuk keheningan kabin mobil sport mewah itu. "Aku menghargai tawaranmu, tapi aku tidak mau menjual seluruh kebebasanku padamu. Menjadi pelayan pribadimu di sekolah sudah cukup menjadi sangkar bagiku. Urusan biaya rumah sakit Ibuku, biar aku yang mencarinya dengan keringatku sendiri di Aston Club. Permisi."
Tanpa menunggu balasan dari Rian, Kinara langsung membuka pintu mobil dan melangkah turun dengan cepat, berjalan setengah berlari memasuki area bangsal rumah sakit tanpa sekali pun menoleh ke belakang.
Rian hanya bisa mencengkeram setir mobilnya kuat-kuat hingga buku jarinya memutih tegang. Sepasang mata elangnya menggelap pekat menatap punggung mungil Kinara yang perlahan menghilang di balik pintu kaca rumah sakit. Penolakan demi penolakan yang dia terima selalu berhasil menyulut badai frustrasi yang luar biasa pekat di dalam dadanya.
Malam semakin larut ketika Rian melangkah memasuki apartemen penthouse-nya yang mewah dan sepi di pusat kota. Sambil melemparkan jaket kulit hitamnya ke atas sofa beludru, cowok bertubuh tinggi tegap itu berjalan menuju jendela kaca besar yang menampilkan kerlap-kerlip lampu kota Jakarta.
Pikirannya kosong, namun batinnya bergejolak hebat dipenuhi bayangan Kinara. Rian sama sekali tidak rela jika gadisnya harus tetap bekerja di tempat hiburan malam yang liar seperti Aston Club.
Meskipun Kinara bersikeras menegaskan bahwa tugasnya di sana hanyalah sebagai pelayan biasa yang mengantarkan pesanan minuman, bagi Rian itu tetap saja sebuah ancaman besar. Di kelab malam sekotor itu, Kinara harus terus berinteraksi dan dikelilingi oleh banyak pasang mata laki-laki mesum yang menatap tubuh mungilnya penuh dengan ketamakan dan hasrat liar.
Rian tidak suka miliknya ditatap oleh pria lain. Nafsu kepemilikannya yang absolut menuntut kendali penuh atas eksistensi Kinara. Laki-laki mesum di kelab malam itu sama saja seperti gangguan-gangguan yang ada di sekolah—seperti Randy dan Silla—yang kini sudah berhasil dia singkirkan dan ratakan hingga ke akar-akarnya.
Rian menyugar rambut hitamnya dengan kasar, lalu menopangkan kedua tangan pada tepi pembatas kaca sembari menunduk dalam. Napasnya terdengar sangat frustrasi di tengah keheningan malam yang pekat. Otak cerdas dan manipulatifnya mulai menimbang-nimbang skenario kejam berikutnya untuk menjebak Kinara.
Rian menyipitkan matanya tajam. Sebaris luka di sudut bibirnya mengencang seiring senyuman miring tak terlihat yang terukir di wajah tampannya. Opsi pertama untuk menutup Aston Club terasa kurang mengikat. Egonya yang tergores penolakan membutuhkan cara yang jauh lebih absolut untuk memaksa gadis itu menyerah kalah.
Opsi kedua. Dia akan membuat Kinara membutuhkan uang dalam jumlah yang sangat banyak dalam waktu singkat demi pengobatan ibunya. Rian tahu persis titik lemah terbesar gadis itu. Jika dia secara rahasia mengintervensi pihak administrasi Rumah Sakit Harapan Bangsa untuk memajukan tenggat waktu dan menaikkan seluruh biaya tindakan medis hingga ratusan juta rupiah, Kinara dipastikan akan terdesak sampai ke ujung tanduk. Gadis itu tidak akan punya tempat pelarian lagi, dan pada akhirnya, satu-satunya orang di dunia ini yang bisa menyelamatkan nyawa ibunya hanyalah seorang Rian Pradifta.
Keesokan harinya, skenario kejam yang dirancang Rian dari atas apartemen semalam resmi menghantam hidup Kinara tanpa ampun.
Kinara Jose baru saja menyelesaikan jam pelajaran pertamanya di sekolah ketika ponsel di dalam saku seragamnya bergetar panjang. Sebuah panggilan masuk dari nomor rumah sakit membuat jantungnya seketika mencelos sampai ke perut. Dengan perasaan cemas yang mendadak merayap pekat, Kinara berjalan cepat ke toilet sepi untuk mengangkat telepon tersebut.
"Halo, selamat pagi. Apakah benar ini dengan perwakilan keluarga Ibu Kinara Jose?" suara administrasi rumah sakit terdengar dingin di seberang sana.
"Iya benar, saya anaknya. Ada apa ya, Sus? Apakah kondisi Ibu saya memburuk?" tanya Kinara panik.
"Kondisi Ibu Anda stabil, namun ada perubahan kebijakan mendadak dari pihak jajaran direksi rumah sakit. Mengingat kondisi kanker stadium lanjut yang diderita pasien, seluruh rangkaian jadwal operasi besar dan pasokan obat khusus harian harus dimajukan besok pagi. Dan kami informasikan, total rincian biaya deposit tindakan darurat yang harus dilunasi siang ini adalah sebesar tiga ratus juta rupiah."
DEG.
Ponsel di tangan Kinara nyaris terlepas dari cengkeramannya. Seluruh pasokan oksigen di paru-parunya serasa menguap seketika, menyisakan pucat yang pasi di wajah polosnya.
"T-tiga ratus juta? Tapi tenggat waktunya kan masih bulan depan, Sus? Dan kenapa biayanya melonjak berkali-kali lipat?!" jerit Kinara dengan suara yang gemetar hebat, air mata keputusasaan mulai meluncur deras membasahi pipinya.
"Maaf, ini sudah menjadi keputusan mutlak pihak rumah sakit. Jika biaya tidak dilunasi sebelum pukul tiga sore ini, maka dengan sangat terpaksa seluruh fasilitas pengobatan dan pasokan obat Ibu Anda akan dihentikan secara permanen."
Tut.
Panggilan terputus sepihak. Kinara merosot perlahan di lantai toilet yang dingin dengan tubuh yang bergetar hebat akibat paranoianya yang pecah berkeping-keping. Kepalanya berdenyut nyeri luar biasa, menatap kosong ke arah layar ponsel dengan napas yang memburu sesak.
Di dalam hatinya, Kinara menangis histeris. Waktu yang dia miliki hanya tersisa beberapa jam sebelum jam tiga sore, dan mustahil baginya mendapatkan uang tiga ratus juta rupiah secepat itu, bahkan meskipun dia bekerja siang malam di Aston Club.
Di tengah keputusasaan yang mencekik seluruh jalan napasnya, ingatan tentang tawaran gaji sepuluh kali lipat dari Rian di dalam mobil semalam mendadak melintas hebat di kepalanya. Kinara meremas tali rok seragamnya kuat-kuat. Dengan hati yang hancur karena terpaksa menelan kembali harga dirinya, Kinara menyadari bahwa dia tidak punya pilihan lain selain mendatangi sang tuan muda untuk memohon bantuan finansial tersebut, murni demi menyelamatkan nyawa ibunya. Dia sama sekali tidak tahu, bahwa seluruh badai penderitaan ini adalah murni hasil rancangan dari otak gila kontrol milik Rian Pradifta.
---
semoga Kinara terselamatkan dr jebakan Randy
kalian yang awal bab maki2 Rian ..tetap maki2 ya soalnya Rian tobatnya masih lama wkkwkwk