NovelToon NovelToon
Kuli Bangunan Terpaksa Kaya

Kuli Bangunan Terpaksa Kaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Komedi / Romansa Fantasi
Popularitas:8.2k
Nilai: 5
Nama Author: Tri Wahyuni92

Riyan Sadewa, seorang kuli bangunan di Bandung, hidup pas-pasan hingga sebuah kecelakaan di lokasi kerja mengubah segalanya. Sebuah sistem misterius muncul, memaksanya menghabiskan uang dengan syarat tidak boleh mendapatkan keuntungan sedikit pun. Jika ia untung, nominal uang yang harus dibuang justru berlipat ganda. Riyan terjebak dalam permainan ekonomi yang absurd, membeli aset besar hanya untuk merusak harganya demi memuaskan sistem. Di tengah tekanan ini, ia harus belajar bahwa membuang uang ternyata jauh lebih sulit daripada mencari nafkah, dan ia harus menemukan cara untuk menghentikan siklus ini sebelum hidupnya hancur.

"Sistem gila. Bukannya berkurang, duit gua sekarang malah bertambah."

"Gua cuma mau miskin, Ya Tuhan! Kenapa susah banget buat bangkrut di dunia ini?!"

Bagaimana kelanjutannya..?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 31

"TOLONG! BATALIN ASURANSINYA! BATALIN SEKARANG JUGA!!"

Suara jeritan Riyan Sadewa menggema memantul di dinding-dinding kaca showroom Vandersen Motors. Dia memegang kera baju agen asuransi berjas abu-abu itu sambil mengguncang-guncangkannya dengan histeris.

"T-Tuan Riyan, tolong tenang!" agen asuransi itu merapikan dasinya dengan wajah panik bercampur kebingungan.

"Kenapa ditiadakan?! Anda baru saja menciptakan transaksi ganti rugi terbesar dalam sejarah klaim otomotif! Ini keuntungan bersih untuk Anda!"

"Gua gak mau untung! Gua mau rugi! Mana kertas klausulnya?! Biar gua robek! Gua makan kertasnya sekarang juga!!" Riyan mencoba merebut berkas emas dari koper perak itu, tetapi Kezia Zevan dengan cepat menahan kedua tangan Riyan dengan lembut.

"Suamiku, sudah..." puji Kezia dengan tatapan penuh keharuan.

"Kamu tidak perlu berpura-pura panik hanya untuk menutupi kejeniusanmu di depan media. Aku tahu, kamu memang sengaja memanfaatkan celah hukum pasal asuransi unforeseen usage (penggunaan tak terduga) ini untuk melipatgandakan asetmu, kan?"

"Bukan, Kezia! Aku beneran gak tahu!" jerit Riyan, mukanya sudah merah padam.

'Gua harus hentikan ini! Kalau si Agus sama si Ujang beneran masukin semen ke bagasi Bugatti, 11 triliun bakal langsung cair detik ini juga! Mati berdiri gua kena denda penalti Sistem!

Riyan membalikkan badannya secara mendadak, menunjuk ke arah Agus dan Ujang yang sudah siap membawa karung semen menuju mobil Bugatti Chiron.

"AGUS! UJANG! STOP!! JANGAN MASUKIN SEMEN KE MOBIL ITU!!" teriak Riyan melengking.

Agus yang sudah mengangkat karung semen Tonasa 50kg di atas bahunya mendadak berhenti. "Hah? Kenapa, Pak Dirut? Katanya tadi mau dicoba ketahanan bagasinya pake semen sama pasir?"

"Gak jadi! Batal! Mobil-mobil ini... dilarang dirusak! Dilarang kena debu! Dilarang kena semen!" Riyan berlari kencang, menyambar karung semen dari tangan Agus lalu melemparnya menjauh.

"Semua mobil ini harus mulus! Sempurna! Gak boleh ada klaim kerusakan satu rupiah pun!"

[Denting Sistem! Pembatalan Akselerasi Kerusakan Dikonfirmasi.]

[Proyeksi Cairnya Klaim Asuransi 11,4 Triliun: DIBATALKAN.]

[Status Saldo Aman Sementara: 920 Miliar Rupiah!]

[Sisa Waktu Penalti Jatuh Tempo: 22 Jam : 40 Menit!]

Haaaaaah...

Riyan menyapu keringat dingin di dahi dengan lengan kausnya. Napasnya terengah-engah. Selamat. Untuk sementara, saldonya tetap tertahan di angka 920 Miliar Rupiah. Masih ada sisa 920 Miliar yang harus dia habiskannya dalam waktu kurang dari 23 jam!

Valerie Vandersen yang menyaksikan seluruh kegilaan itu mendekat perlahan, melipat tangannya di dada dengan tatapan curiga.

"Riyan," kata Valerie dingin. "Lu beli 100 hypercar seharga 3,8 triliun... terus lu batalin klaim ganti ruginya... terus sekarang mobil-mobil mahal ini mau lu apain? Lu mau bikin pameran?"

Riyan memutar otaknya yang bekerja keras menguras sisa-sisa sel kuli bangunannya.

'Gua punya 100 mobil super seharga 3,8 triliun. Gua gak bisa ngerusak mobil ini karena ada asuransi sialan itu. Tapi... gimana kalau mobil-mobil ini gua bagi-bagikan gratis ke orang-orang yang gak bakal bisa ngerawatnya?!

Mata Riyan langsung berbinar-binar! Benar! Biaya perawatan (maintenance) satu mobil supercar itu bisa ratusan juta per bulan! Kalau gua bagiin gratis ke tukang parkir, pedagang cuanki, dan kuli-kuli proyekan di seluruh Bandung, nilai jual sekunder mobil ini bakal hancur karena pasar bakal banjir supercar gratisan!

"Pirang," kata Riyan menyunggingkan senyum sengaknya kembali. "100 mobil ini... gua jadiin Bonus Operasional Karyawan Lapangan!"

"Hah?!" Valerie dan Kezia berseru kaget secara bersamaan.

"Mulai hari ini," lanjut Riyan keras-keras agar terdengar oleh seluruh staf.

"100 unit hypercar ini resmi jadi mobil dinas operasional kuli proyek, tukang gali sumur, dan mandor mansion gua! Agus dapet Bugatti, Ujang dapet Pagani, sisanya bagi-bagi ke anak-anak proyekan!"

"S-Serius, Pak Dirut?!" Ujang melompat gembira. "Mobil seharga puluhan miliar buat kita-kita?!"

"Iya! Tapi ingat!" tegur Riyan tajam. "Mobil ini gak boleh dijual lagi! Harus dipakai buat bolak-balik beli nasi bungkus warteg tiap siang!"

Biarin! Bensinnya boros, sparepart-nya mahal, begitu mereka gak sanggup rawat, mobil-mobil ini bakal nongkrong jadi rongsokan berdebu di pinggir jalan! Aset 3,8 triliun gua resmi menguap tanpa menghasilkan uang kembali! Gua jenius! pikir Riyan bangga.

Sore harinya, Pukul 17.00 WIB.

Konvoi 100 hypercar yang dikendarai oleh para kuli bangunan berkaos kutang dan bernoda semen akhirnya tiba di area proyek pembangunan "Mansion Mewah Riyan Sadewa" di kawasan bukit Dago, Bandung. Suara raungan mesin W16 dan V12 memecah ketenangan kawasan elite tersebut.

Riyan turun dari mobil diikuti Kezia dan Valerie yang ikut karena ingin melihat bagaimana "pembantaian aset" ini berlanjut.

Namun, begitu Riyan menapakkan kakinya di tanah proyekan, seorang mandor senior berlari menghampirinya dengan raut wajah sangat panik bercampur gembira.

"Pak Dirut Riyan!! Pak Dirut!!" teriak Mandor Karso sambil melambaikan helm proyeknya.

Riyan mengerutkan kening. "Ada apa, Pak Karso? Ada alat berat yang patah? Atau ada pondasi yang roboh? Bilang sama gua, biar gua ganti rugi 920 miliar sekarang!"

"Bukan, Pak! Justru saat anak-anak kuli tadi siang lagi meratakan tanah pakai ekskavator di area belakang proyekan Bapak... kami nemu sesuatu di dalam tanah!"

"Nemu apa? Pipa bocor?" tanya Riyan berharap ada denda lingkungan.

"Bukan, Pak! Mari ikut saya!" Mandor Karso mengarahkan Riyan, Kezia, dan Valerie ke area pengerukan tanah setinggi lima meter.

Di dasar galian tanah tersebut, terlihat sebuah bungker beton tua peninggalan zaman kolonial Belanda yang pintu besinya sudah terkelupas. Di dalam bungker yang diterangi lampu sorot proyek, berjejer puluhan peti kayu tua yang terbuka.

Di dalam peti-peti kayu itu... memancarkan kilauan warna kuning keemasan yang sangat menyilaukan mata!

"I-Ini..." Valerie menutupi mulutnya dengan kedua tangan, matanya membelalak tak percaya. "I-Ini cadangan batangan emas murni berstempel De Javasche Bank tahun 1920?!"

Mandor Karso mengangguk bersemangat. "Betul, Ibu! Tadi tim purbakala dan perbankan pusat sudah datang mengecek. Di dalam bungker tanah milik Pak Riyan ini terkandung Dua Ton Emas Murni Harta Karun Kolonial!"

JGEEEEEEERRRRRRRRRR!!

Langit sore Kota Bandung seolah meledak di atas kepala Riyan Sadewa. Lidahnya mendadak kelu, dadanya terasa ditimpa trafo listrik 10.000 volt!

"D-Dua... ton... emas...?" bisik Riyan dengan suara gemetar hebat.

"Selamat, Pak Dirut Riyan!" seru Mandor Karso sambil menyalami tangan Riyan yang lemas. "Menurut hukum kepemilikan tanah dan tambang swasta, tanah ini kan sudah Bapak beli tunai kemarin. Jadi seluruh harta karun emas di bawah tanah ini secara sah 100% milik Bapak! Nilainya kalau ditukar rupiah saat ini adalah... DUA KOMA DELAPAN TRILIUN RUPIAH!"

[Denting Sistem! Penemuan Aset Tersembunyi Otomatis!]

[Valuasi Harta Karun Emas: +2.800.000.000.000 Rupiah!]

[Saldo Terkini Anda Melonjak Dahsyat Menjadi: 3,72 Triliun Rupiah!]

[Peringatan Akhir Sistem: Waktu Denda Sisa 20 Jam!]

"GUA CUMA MAU BIKIN RUMAH, KENAPA ADA EMAS BELEPOTAN DI DALEM TANAHNYA, WOIIIII!!"

Riyan Sadewa ambruk, pingsan telentang tepat di atas tumpukan tanah galian proyeknya sendiri.

1
Fajar Fathur rizky
cepat bikin tiga kekuatan besar itu bangkrut
Fajar Fathur rizky
bikin wanita itu jatuh cinta kepada mcnya thor
BaekTae Byun: jatuh cinta mending mikirin nyawa yang tinggal belasan jam
total 1 replies
adib
oke. alur awal terlalu cepat.. jadi nggak berasa .. tp udah cukup unik jalur ceritanya
Bang Haji
Kalo bikin cerita pake otak dong ..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!