Demi menguji ketulusan, Aldi Pratama menyamar sebagai pria biasa selama dua tahun pernikahan. Namun, Kirana beserta keluarganya yang gila gengsi terus menghina dan merendahkannya. Batas sabar Aldi habis; ia mengungkap identitas aslinya sebagai pewaris tunggal konglomerat raksasa Pratama Group, menceraikan Kirana, dan memiskinkan keluarganya.
Kejatuhan itu seketika menghancurkan hidup Kirana—ibunya meninggal karena syok, adiknya dipenjara, dan ia harus bertahan hidup sebagai pedagang sembako miskin. Di titik nadir inilah Kirana bertobat total dan belajar bersyukur. Takdir kemudian mempertemukan mereka kembali lewat program sosial. Meski dipisahkan jurang kasta yang permanen, Aldi diam-diam memberi perlindungan rahasia karena belum bisa melupakan Kirana sebagai cinta pertamanya, sementara Kirana menjalani takdirnya dengan keikhlasan dan penyesalan abadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 13: Jaring yang Mulai Menutup
Malam hari sebelum acara gathering, Aldi tidak pulang ke rumah keluarga Sitorus. Dia memilih menetap di ruang kerja rahasianya di sebuah apartemen mewah penthouse yang terletak di pusat kota—aset pribadi yang tidak pernah diketahui oleh Kirana maupun keluarganya.
Aldi duduk di balik meja kaca besar, mengenakan jubah mandi sutra hitam yang mewah. Di hadapannya, Edi, asisten pribadi utamanya dari Pratama Group pusat, sedang berdiri tegak dengan setumpuk dokumen rahasia di tangannya.
"Tuan Muda Aldi," buka Edi dengan nada sangat hormat.
"Tim audit rahasia yang Anda minta telah menyelesaikan tugas mereka di PT Nusantara Mandiri. Dan hasilnya... sangat mengejutkan."
Aldi menyesap teh hitamnya perlahan. "Katakan, Edi."
"Rendy Wijaya ternyata berhasil menduduki posisi CEO daerah di sana bukan karena prestasinya di luar negeri, melainkan karena dia melakukan penyuapan masif kepada salah satu mantan direktur regional kita yang bulan lalu dipecat karena kasus nepotisme. Tidak hanya itu, kami menemukan bukti valid bahwa Rendy telah memindahkan dana investasi proyek sebesar lima puluh miliar rupiah dari kas anak perusahaan ke rekening cangkang miliknya di luar negeri dalam waktu dua minggu terakhir ini," jelas Edi, menyerahkan lembar bukti transaksi ilegal tersebut kepada Aldi.
Aldi membaca dokumen tersebut baris demi baris. Senyum dingin dan mematikan terukir di wajah tampannya. Rendy ternyata bukan hanya seorang pria arogan yang manipulatif, tetapi juga seorang pencuri yang nekat bermain di halaman belakang Pratama Group.
"Lalu, bagaimana dengan manipulasi dana dua ratus juta yang dituduhkan kepada saya?" tanya Aldi datar.
"Kami sudah mengamankan salinan digital rekaman CCTV asli dari komputer cadangan divisi keuangan, Tuan Muda. Di sana terlihat jelas Soni menggunakan komputer Anda saat jam makan siang atas perintah langsung via pesan teks dari Rendy. Semua bukti sudah lengkap, matang, dan siap dieksekusi," jawab Edi dengan mata yang berbinar penuh kesetiaan.
Aldi berdiri, berjalan menuju jendela kaca besar yang menampilkan gemerlap lampu malam kota Jakarta. Besok malam adalah acara gathering akbar, tempat di mana Rendy, Soni, dan keluarga Kirana akan berkumpul untuk merayakan kesombongan mereka.
"Bagus sekali, Edi," ucap Aldi, suaranya terdengar seperti vonis malaikat maut bagi para musuhnya. "Siapkan setelan jas formal utama saya dari Pratama Group untuk besok malam.
Beritahu seluruh dewan komisaris pusat dan media bisnis utama untuk hadir di Grand Ballroom Hotel Mulia. Sudah saatnya kita mengakhiri sandiwara rumah-rumahan ini, dan membangunkan mereka dari mimpi indahnya."
"Baik, Tuan Muda Aldi! Segala perintah Anda akan terlaksana sempurna esok malam," jawab Edi sambil membungkuk dalam.
.
.
.
Lampu kristal raksasa yang menggantung di langit-langit Grand Ballroom Hotel Mulia memancarkan cahaya keemasan yang berkilau, memantul pada pilar-pilar marmer dan gaun-gaun malam mewah para tamu yang hadir. Malam itu,
PT Nusantara Mandiri menggelar Annual Gathering dengan sangat megah. Musik klasik mengalun lembut dari sudut ruangan, mengiringi obrolan manja para petinggi kantor dan tawa renyah para sosialita yang hadir.
Di dekat meja prasmanan utama, Ibu Ratna berdiri dengan anggun, mengenakan gaun brokat satin berwarna merah marun yang sengaja dia sewa dari butik ternama demi menjaga gengsinya. Di sebelahnya, Riko tampak necis dengan setelan jas hitam, tangannya sibuk memegang segelas minuman soda sambil matanya tak henti-henti mengagumi kemewahan aula tersebut.
"Kamu lihat ini, Riko," bisik Ibu Ratna dengan senyum bangga yang merekah lebar di wajahnya. "Ini baru namanya acara kelas atas. Kalau bukan karena kebaikan Nak Rendy yang mengundang kita secara khusus sebagai keluarga dekat
Kirana, mana mungkin kita bisa menginjakkan kaki di tempat semewah ini. Coba kalau kita cuma mengandalkan Aldi, paling banter kita cuma diajak makan di warung tenda pinggir jalan."
Riko terkekeh, membetulkan posisi dasi kupunya dengan gaya sok keren. "Benar banget, Ma. Lihat tuh orang-orang yang datang, semuanya dandanannya necis. Eh, Ma, tapi Kak Kirana mana ya? Kok dari tadi belum kelihatan bareng Kak Rendy?"
"Kirana tadi katanya masih di ruang rias VIP bersama Nak Rendy. Ya wajar dong, kan Kirana sekarang jadi pusat perhatian karena dekat dengan CEO baru," jawab Ibu
Ratna dengan nada sombong, mengabaikan fakta bahwa anak perempuannya itu sebenarnya masih berstatus istri sah orang lain.
Tak jauh dari tempat mereka berdiri, Kirana melangkah masuk ke dalam ballroom. Dia mengenakan gaun malam berwarna salem yang anggun, rambutnya ditata konde modern yang memperlihatkan leher jenjangnya. Namun, ekspresi wajahnya tidak bisa menyembunyikan rasa gelisah yang mendalam.
Matanya bergerak liar menyapu seluruh penjuru ruangan, mencari satu sosok yang sejak kemarin menghilang tanpa kabar. Di mana Mas Aldi? Rendy bilang Mas Aldi bakal datang ke sini sebagai tenaga bantuan dekorasi... Apa dia bener-bener tega menyuruh suamiku melakukan pekerjaan kasar itu di depan semua orang? batin Kirana dengan dada yang terasa sesak.
"Kirana, kenapa mukamu ditekuk begitu? Senyum dong, ini malam besar kita!"
Suara bariton yang familier itu membuat Kirana menoleh.
Rendy sudah berdiri di sampingnya dengan setelan jas tuksedo hitam custom-made yang sangat pas di tubuh tegapnya. Pria itu memegang dua gelas wadah minuman mini, menyerahkan salah satunya kepada Kirana dengan senyum manipulatif andalannya.
"Rendy... apa kamu bener-bener menyuruh Mas Aldi datang ke sini sebagai pelayan?" tanya Kirana dengan suara berbisik, nadanya sarat akan protes dan kecemasan. "Bagaimana kalau teman-teman kantor melihatnya? Aku... aku gak tahu harus menaruh mukaku di mana kalau sampai itu terjadi."
Rendy terkekeh pelan, menyesap minumannya dengan gestur yang sangat santai. "Kirana, Kirana. Kenapa kamu masih saja memikirkan harga diri pria yang sudah terbukti melakukan penggelapan dana kantor? Harusnya kamu itu berterima kasih karena aku memberikan dia pekerjaan tambahan untuk mencicil kerugian perusahaan. Kalau dia punya urat malu, dia pasti bekerja dengan giat di belakang, bukan malah bersembunyi."
"Tapi dia suamiku, Rendy!" tekan Kirana, matanya mulai berkaca-kaca karena tekanan emosi yang tumpah baur.
"Suami yang membawa sial dan kemiskinan untukmu, kan?" bisik Rendy tepat di telinga Kirana, suaranya terdengar dingin dan tajam seperti belati. "Lihat ibumu, lihat adikmu. Mereka tersenyum bahagia di sini karena aku, bukan karena suami manajer-gudangmu itu. Sudah saatnya kamu membuka mata, Kirana. Tempatmu adalah di atas sini, bersamaku, bukan di bawah lumpur bersama Aldi Pratama."
Kirana terdiam, lidahnya mendadak kelu. Di satu sisi dia ingin marah, namun di sisi lain, kemewahan yang ada di sekelilingnya malam ini seolah membenarkan kata-kata Rendy bahwa uang dan kekuasaan adalah segalanya.