NovelToon NovelToon
Cewe Cegil Vs CEO Dingin

Cewe Cegil Vs CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Nalara amora

"Apa gunanya menjadi istri CEO kalau hatinya saja sedingin es kutub?"

Hidup Aratala Arasunya Grita tak pernah mudah. Sejak kecil di panti asuhan hingga berjuang demi biaya kuliah semester dua, Aratala sudah kenyang dengan kerasnya hidup. Namun, sebuah insiden sepeda listrik mempertemukannya dengan seorang wanita elegan—yang secara mengejutkan memintanya menjadi istri anaknya.

Elio Lerian Raymond, CEO muda yang dingin dan ceplas-ceplos, bukanlah pria yang mudah ditaklukkan. Awalnya Aratala menolak, namun angka fantastis yang ditawarkan mampu membungkam egonya.
Lagipula, ini cuma kontrak, pikir Aratala.
Namun, bagaimana jika pernikahan atas dasar kontrak dan kebutuhan biaya panti ini justru membawanya ke dalam pusaran perasaan yang tidak pernah ia rencanakan? Apalagi saat sang CEO mulai menunjukkan sisi posesifnya yang tak terduga.

Selamat datang di kehidupan penuh drama antara Cewe Cegil vs CEO dingin

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nalara amora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

perasaan mendebarkan

Aku menarik napas panjang, mencoba menekan egoku yang setinggi langit. Kalau aku terus keras kepala, bisa-bisa aku berakhir di dalam kamar mandi ini sampai jam kuliahku habis, dan itu berarti uang panti asuhan yang kupertaruhkan jadi sia-sia.

Oke, Aratala. Turunkan harga dirimu sedikit. Cuma sedikit.

" pak Elio..." panggilku pelan, suaraku sedikit melunak, terdengar nyaris seperti rengekan. "Tolong... ambilkan handuknya. Saya janji, nanti kalau sudah keluar, saya tidak akan menumpahkan kopi lagi di ruang kerja Bapak. Gimana?"

Aku menunggu. Hening selama beberapa detik yang terasa sangat lama. Di luar sana, aku mendengar suara Elio beranjak dari kasur. Langkah kakinya yang berat terdengar mendekati pintu kamar mandi.

Klik.

Pintu sedikit terbuka—hanya celah kecil—tapi cukup untuk melihat tangan kekarnya yang memegang handuk putih milikku. Dia tidak langsung memberikannya. Dia menahannya di sana, seolah sedang menantangku untuk mengambilnya.

"Satu lagi," suaranya berat, tepat di balik celah pintu. "Panggil aku 'Mas'. Sebagai tanda kita sudah resmi jadi suami istri, setidaknya di dalam rumah ini."

Aku memejamkan mata, wajahku rasanya terbakar. Mas? Pria sedingin es ini minta dipanggil 'Mas'?

"Mas Elio," kataku cepat, hampir seperti orang yang sedang mengigau, saking malunya. "Sudah, kan? Sekarang tolong, berikan handuknya!"

Terdengar tawa rendah, sangat rendah, keluar dari bibir Elio. Itu adalah suara tawa pertama yang pernah kudengar darinya—dan itu terdengar jauh lebih berbahaya daripada saat dia marah.

Dia menyerahkan handuk itu ke tanganku. Saat jemarinya bersentuhan dengan kulit tanganku yang basah, ada aliran listrik kecil yang aneh—sesuatu yang membuatku segera menarik tangan dan menutup pintu dengan cepat sebelum dia sempat melihat wajahku yang pasti sudah semerah kepiting rebus.

"Ditunggu sarapannya di bawah, Aratala," suaranya terdengar jauh lebih rileks, membuat jantungku yang baru saja tenang kembali berdegup kencang tak karuan.

Aku bersandar pada pintu yang tertutup, menatap handuk di tanganku dengan tatapan tidak percaya. Tadi itu apa? Aku baru saja kalah total, dan entah kenapa, rasanya sangat menyebalkan sekaligus... mendebarkan.

Detak jantungku rasanya hampir melompat keluar dari kerongkongan. Aku sudah mengendap-endap seperti pencuri, memastikan kalau koridor kamar sudah kosong dan "si macan" itu benar-benar sudah turun ke meja makan.

Tapi saat langkahku baru saja melewati lemari pakaian, sebuah deheman berat menghentikan duniaku.

" khemm "

Deg!

Refleks, aku mendekap handuk yang melilit tubuhku dengan kedua tangan sampai buku-buku jariku memutih. Aku berbalik dengan gerakan patah-patah.

Elio masih di sana. Dia bersandar santai di ambang pintu kamar, tangan kanannya terlipat di depan dada, sementara mata tajamnya menelusuri penampilanku dari ujung kepala sampai kaki. Senyum miring itu masih ada—senyum yang tadi membuatku kalah telak di depan pintu kamar mandi.

"Kukira kau tadi bilang sedang terburu-buru untuk kuliah?" suaranya rendah, sedikit serak, dan terdengar jauh lebih intim daripada sebelumnya.

"kou .. kau katanya mau menunggu di bawah!" seruku, berusaha menjaga nada suaraku tetap tegas meski nyatanya kakiku terasa lemas.

Elio tidak menjawab. Dia justru melangkah masuk, menjauh dari pintu dan menutupnya perlahan dengan tumit sepatunya. Bunyi klik kunci pintu yang tertutup rapat itu membuat bulu kudukku berdiri.

Dia terus melangkah mendekat, langkahnya yang tenang justru terasa seperti jerat yang semakin mengencang di leherku. Aku terpojok di depan lemari, sementara dia berhenti tepat di depanku, hanya berjarak beberapa senti saja. Aroma parfum maskulinnya sekarang terasa mendominasi udara di sekitarku, membuat kepalaku sedikit pening.

"Aku berubah pikiran," bisiknya, suaranya sangat dekat di telingaku sampai aku bisa merasakan hembusan napasnya. "Ternyata melihatmu yang sedang panik begini... jauh lebih menarik daripada sarapan."

Dia mencondongkan tubuh, tangannya terangkat—bukan untuk menyakitiku, tapi untuk merapikan helai rambutku yang masih basah dan menempel di pipi. "Kau tadi memanggilku 'Mas' dengan sangat manis, Aratala. Bisa ulangi sekali lagi?"

Mataku membelalak. Sisi cegil-ku yang biasanya siap membalas, sekarang seolah mogok kerja. Aku hanya bisa menatapnya, terjebak di antara tatapan matanya yang intens dan kenyataan bahwa aku hanya berbalut handuk di depan pria yang—secara kontrak—adalah suamiku.

"Jangan gila, pak Elio," bisikku parau, mencoba mencari keberanian yang tersisa. "Aku harus kuliah."

"Kuliahmu bisa menunggu," balasnya datar, tapi tatapannya terkunci di bibirku. "Lagipula, istriku yang manis ini baru saja kalah taruhan, kan?"

Aku mengerjapkan mata berkali-kali. Pria ini benar-benar tidak punya belas kasihan. Dia tahu betul kalau posisiku saat ini—hanya berbalut handuk, terpojok di depan lemari—membuatku tidak punya pilihan lain selain menuruti kemauannya agar dia segera pergi.

"Mas..." ucapku lirih, hampir seperti bisikan.

Elio tertawa pelan, suara baritonnya terasa bergetar di dekat telingaku. Dia tidak langsung menjauh, justru tangannya yang tadi berada di dekat rambutku kini turun perlahan, menyentuh bahuku sejenak sebelum dia akhirnya mundur selangkah.

"Nah, begitu lebih baik," ucapnya dengan nada puas yang membuatku ingin menendang tulang keringnya.

Dia berbalik badan, langkahnya santai menuju pintu seolah tidak terjadi apa-apa barusan. Sebelum dia benar-benar keluar, dia berhenti sejenak dan menoleh ke arahku—senyum miring itu masih bertengger di bibirnya.

"Cepat pakai bajumu, Aratala. Aku tidak mau istriku yang 'terlalu bersemangat' ini telat kuliah hanya karena dia terlalu sibuk menatapku."

BRAK!

Pintu tertutup rapat.

🌴🌴🌴

Aku merosot jatuh ke lantai, menyandarkan punggungku ke pintu lemari. Napasku masih memburu, jantungku rasanya baru saja selesai lari maraton. Wajahku terasa panas, pasti sekarang sudah semerah tomat.

"Sial," umpatku pelan sambil memegangi dadaku. "Dia benar-benar membuatku gila."

Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan sisa-sisa kewarasanku. Dia pikir dia siapa? Berani-beraninya dia menggodaku sampai seperti ini?

Lihat saja nanti, Elio Raymond. Kamu boleh menang pagi ini, tapi permainan kita baru saja dimulai, batinku sambil berdiri dengan susah payah dan segera menyambar pakaian dari dalam lemari.

Aku tidak boleh membiarkan dia merasa menang terlalu lama. Kalau dia mau bermain api, aku akan memastikan rumah ini benar-benar terbakar habis oleh kekacauan yang akan kubuat.

Aku menuruni tangga dengan langkah santai, tidak memedulikan rasa maluku yang masih tersisa gara-gara kejadian di kamar tadi. Kali ini, aku sudah siap. Aku memakai oversized crop top berwarna pink pastel yang kupadukan dengan rok tenis pendek, dan tak lupa sebuah pita besar berwarna senada yang kupasang di puncak kepalaku.

Saat kakiku menginjak anak tangga terakhir, aku melihat Elio sudah duduk di meja makan yang panjangnya seperti landasan pacu. Dia sedang menyesap kopi hitamnya sambil membaca tablet.

Tepat saat tatapanku mengarah padanya, kulihat gerakan tiba-tiba. Elio yang tadinya menatap layar tablet dengan fokus, mendadak membuang muka ke arah jendela besar di sampingnya dengan gerakan yang... sedikit kaku.

Cih, sok jual mahal, batinku sambil berjalan menuju meja makan dengan gaya yang kubuat-buat menggemaskan.

Elio menelan ludahnya susah payah, kenapa aratala begitu cantik.

🌴🌴🌴

"Pagi, Mas Elio!" sapaku ceria, sengaja memanggilnya dengan sebutan itu hanya untuk melihat reaksinya.

Elio berdeham keras, matanya masih menolak untuk menatapku. Dia terlihat sibuk memperhatikan sepasang burung di taman luar, seolah itu jauh lebih menarik daripada istrinya sendiri.

"Pakaian apa itu?" suaranya tertahan, terdengar berat dan sedikit serak. "Kurang bahan, Aratala. Kamu mau ke kampus atau mau pergi ke pesta ulang tahun anak TK?"

Aku tertawa kecil, sengaja memutar tubuh di depannya sampai rokku sedikit berkibar. "Ini namanya fashion, Mas. Namanya juga anak muda. Lagipula, kan aku imut, ya kan?"

Aku menarik kursi di depannya dan duduk dengan posisi kaki yang kugoyang-goyangkan. Saat aku menopang dagu dengan kedua tangan, pita di kepalaku ikut bergoyang. Di mata Elio, mungkin aku terlihat seperti boneka yang nyasar ke rumahnya yang kaku.

Elio akhirnya menoleh. Namun, dia hanya melirikku sekilas—hanya sekilas—sebelum matanya kembali teralihkan dengan cepat. Tapi aku melihatnya. Rahang bawahnya mengeras dan tangannya yang memegang cangkir kopi sedikit gemetar.

"Duduk yang benar," perintahnya dingin, meski nada bicaranya tidak sedalam biasanya. "Dan jangan menatapku seperti itu."

"Seperti apa?" tanyaku polos, memiringkan kepala sampai pita di rambutku hampir jatuh.

Elio memejamkan mata sesaat, lalu menghela napas panjang. Dia terlihat seperti sedang berjuang melawan sesuatu. "Seperti bocah yang sedang meminta permen. Aku tidak akan membelikanmu permen, jadi berhenti bertingkah seperti itu."

Aku terkekeh dalam hati. Gotcha.

Pria sedingin es ini ternyata punya kelemahan. Ternyata, dia tidak tahan melihatku tampil "segar" dan kekanak-kanakan seperti ini. Dia mungkin menganggapku bocil, tapi dia tidak bisa menyembunyikan fakta kalau dia terganggu—dengan cara yang sangat menyenangkan bagiku.

"Ya sudah kalau tidak mau belikan permen," kataku sambil mengambil roti bakar di depannya dengan santai. "Kalau begitu, boleh tidak aku minta diantar ke kampus? Supaya aku tidak perlu naik sepeda listrik lagi."

Elio terdiam. Dia menatapku—kali ini tatapannya cukup lama—sebelum akhirnya dia mengangguk pelan tanpa sepatah kata pun.

Yes! Satu poin untuk Aratala!

🌴🌴🌴

Suasana di meja makan mendadak hening. Hanya ada denting garpu yang beradu dengan piring porselen. Elio masih belum mau menatapku secara langsung, dia lebih memilih membedah roti bakarnya seolah itu adalah dokumen kontrak yang sangat rumit.

"Mas Elio," panggilku lagi, kali ini sengaja kupanjangkan nada suaraku. "Boleh ya? Antar aku ke kampus? Kalau aku naik sepeda listrik, nanti pita di rambutku bisa terbang karena angin, kasihan kan kalau aku jadi kurang imut?"

Elio meletakkan pisaunya dengan kasar. Bunyi klang yang nyaring membuatku sedikit tersentak. Dia akhirnya menatapku. Matanya tajam, tapi ada kilatan aneh di sana—antara kesal dan... mungkin sedikit gemas?

"Kau tahu, Aratala?" suaranya rendah, nyaris seperti geraman. "Kau adalah definisi dari gangguan paling manis yang pernah ada di hidupku."

Aku mengerjap, tidak menyangka dia akan mengatakan itu. "Jadi, itu artinya iya?"

Dia berdiri, merapikan jasnya yang tampak sangat sempurna kontras dengan baju pink-ku yang mencolok. "Cepat habiskan sarapanmu sebelum aku berubah pikiran dan membiarkanmu naik sepeda listrik itu ke kampus."

"Siap, Mas!" aku bersorak girang.

Aku segera melahap roti bakarku dengan cepat. Saat aku sedang mengunyah, aku menangkap basah Elio yang sedang menatapku lagi. Pandangannya tidak lagi dingin. Dia menatapku dengan tatapan yang sulit kuartikan—mungkin dia sedang berpikir, makhluk apa ini yang tiba-tiba datang dan mengacaukan hidupnya?

Saat kami berjalan keluar menuju garasi, Elio berhenti di depan mobil mewahnya. Dia membukakan pintu untukku.

"Masuk," perintahnya singkat.

Aku masuk ke dalam mobil, menghirup aroma interior yang wangi dan mewah. Begitu Elio masuk ke kursi pengemudi, suasana mendadak jadi sangat dekat. Mobil ini terlalu sempit untuk dua orang yang sedang saling menguji batas kesabaran satu sama lain.

Saat mobil mulai melaju keluar dari gerbang rumah, Elio menoleh padaku sejenak. "Dengar, Aratala. Di kampus nanti, jangan lakukan aksi gila. Jangan menumpahkan kopi ke dosenmu, jangan membuat keributan, dan..." dia menjeda kalimatnya, "...jangan menatap pria lain dengan tatapan seperti itu."

Aku tertawa renyah, sengaja menyandarkan kepalaku di bahunya—yang seketika membuatnya tegang setengah mati.

"oke Mas"

Elio hanya membuang muka, tapi aku bisa melihat telinganya memerah. "Aku hanya tidak ingin istri kontrakku membuat skandal"

"Tentu, Mas. Tentu," kataku sambil tersenyum lebar.

Perjalanan menuju kampus terasa sangat panjang, namun entah kenapa, aku merasa ini baru permulaan dari hari yang sangat panjang bagi Tuan Elio Lerian Raymond.

🌴🌴🌴

1
partini
elio kata"mu itu weleh
Nalara amora: tenang kaaa😭🙏
total 1 replies
partini
masih juga nyalahin orang lain situ tuh yg sarappp pak elio,, jangan lah unboxing kaya gitu trauma loh bukanya suka malah benci
Nalara amora: kaaaaaaa😭😭
total 1 replies
partini
good story
Nalara amora: ahhhhhh makasihh kaaa😄🤭🤭
total 1 replies
partini
busettt agresif sakleeee angel ini pura ' nih ceo ga mau di kokop 🤭
aduh mau di apain si cegil jangan kokop pula biar liur najis angel ilang
ko bisa sih Thor angel bebas masuk apa ga ada bodyguard satpam gitu
Nalara amora: tebak hayoo kaa🤭🤭
total 1 replies
partini
ya elah di tuduh menggoda dasar CEO 1/2 ons ,,noh si angel datang jadikan pelampiasan emosi mu dasar CEO murahan
partini: esmosi aku thor🤭🤭 ,cegil ga boleh bersentuhan ma laki" lain eh dianya mah bebas grepek"😂
total 2 replies
Nalara amora
bagus bgt nih cerita nya, rekomendasi buat yg pengen baca yg manis manis plus ada tom and jary nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!