NovelToon NovelToon
The Cure Was You

The Cure Was You

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Cinta Terlarang
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Xereaa

Dua kali gagal menikah membuat Rellunae berhenti percaya pada cinta. Baginya, semua orang hanya datang untuk pergi, tidak ada pria yang benar-benar mencintai dirinya dengan tulus. Sampai ia bertemu Orion. Seorang pasien dengan masa lalu kelam yang dipindahkan dari satu rumah sakit jiwa ke rumah sakit jiwa lainnya karena tak seorang pun mampu menanganinya.
Awalnya Rellunae hanya ingin menyembuhkan. Namun ia tidak menyadari bahwa setiap senyuman, perhatian, dan kebaikan yang diberikannya perlahan membuat dirinya menjadi pusat dunia pasiennya. Bagi Orion, Rellunae bukan hanya sekedar psikiater, melainkan seseorang yang harus tetap berada di sisinya apa pun yang terjadi. Tapi bagaimana jika satu-satunya orang yang mencintainya dengan tulus adalah seseorang yang mencintainya terlalu dalam hingga berubah menjadi obsesi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xereaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

07 | Harga Diri Seorang Luna

Jam di dinding menunjukkan pukul setengah sembilan malam ketika Luna akhirnya memutuskan pergi ke ruang olahraga kecil di rumahnya. Treadmill hitam miliknya sudah berdiri menunggu di sudut ruangan. Luna mengikat rambut panjangnya menjadi kuncir tinggi, meletakkan ponselnya di meja kecil samping mesin, lalu menyalakan treadmill.

Ia memilih kecepatan 5 km/jam. Tak lupa juga ia menyalakan bluetooth di treadmillnya lalu memilih playlist secara acak. Ia sama sekali tidak memperhatikan lagu apa yang akan diputar. Baginya, yang penting ada suara yang bisa mengusir pikirannya.

Luna mendengus begitu lagu yang amat familier baginya berputar. "Dari sekian banyaknya lagu di playlist, kenapa harus lagu favorit pria itu?" gumamnya dibarengi dengan helaan napas kasar.

Ia buru-buru mengganti lagu supaya moodnya tidak semakin berantakan. Luna kemudian menghela napas. Rasa itu masih ada. Rasa sakit yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Rasa yang membuat dirinya nyaris gila lima tahun yang lalu.

Suara notifikasi dari ponsel membuat Luna tersadar. Ia segera menekan icon 'pause' di layar treadmill lalu mengambil ponsel. Ternyata perawat bangsal yang memberinya pesan.

Selamat malam, dokter Luna. Maaf mengganggu waktunya. Saya ingin menyampaikan suatu hal bahwa pasien Orion Grimm ingin menelepon anda. Apakah bisa dok?

"Damn..." gumam Luna begitu membaca isi pesan. Kenapa pasien itu tidak bisa memberi psikiaternya waktu untuk bernapas? Jemari Luna segera mengetikkan balasan.

Malam, suster. Terima kasih informasinya. Mohon sampaikan kepada pasien Orion bahwa saat ini saya sedang tidak bertugas sehingga tidak dapat menerima panggilan. Jika ada kondisi darurat atau keluhan yang mendesak, silahkan laporkan kepada dokter jaga atau perawat yang bertugas malam ini. Saya akan menemuinya sesuai jadwal yang telah ditentukan. Terima kasih.

Dan terkirim. Sebenarnya jauh di lubuk hati Luna, ia sedikit penasaran dengan tujuan Orion ingin menelepon dirinya. Tapi, lagi-lagi ia harus bersikap profesional. Sekitar tiga menit kemudian, ponsel Luna kembali bergetar.

Ia menatap layar dengan perasaan tidak enak. Benar saja, balasan dari perawat bangsal.

Dokter Luna, mohon maaf mengganggu lagi. Saya sudah menyampaikan kepada pasien Orion bahwa dokter sedang tidak bertugas. Namun, pasien tetap ingin berbicara dengan dokter. Saat ini pasien menolak kembali ke kamar sebelum mendapat jawaban langsung dari dokter. Mohon arahannya, dok.

"Ya Tuhan..." gumam Luna sambil memijit pelipisnya. Belum sempat ia mengetik balasan, notifikasi lain kembali masuk.

Mohon maaf, dok. Pasien Orion mengatakan bahwa pasien hanya ingin berbicara selama satu menit.

"Akal-akalan barat. Dikira aku ngga tau, hah, jalan pikir otaknya itu?" gerundel Luna. Dengan rasa kesal, jemarinya bergerak cepat diatas layar ponsel.

Suster, mohon sampaikan bahwa saya akan bertemu pasien besok di rumah sakit. Saat ini saya benar-benar tidak bisa menerima telepon.

Pesan terkirim. Luna kemudian meletakkan kembali ponselnya di meja dekat treadmill. Ia tak peduli apakah akan ada pesan selanjutnya atau tidak. Pasiennya yang satu itu memang tidak bisa ditebak. Dirinya kemudian memilih untuk melanjutkan olahraga kecil yang sempat tertunda.

Kali ini Luna menekan hingga kecepatan 7 km/jam. Ponselnya kembali berbunyi tapi ia mendadak tuli. Luna tetap fokus joging diatas treadmillnya itu. Mendengar nama Orion membuat dirinya reflek teringat kejadian memalukan saat di Silver Oak tadi sore.

♧♧♧

"Tujuan kita sama, Nanae," jawabnya singkat.

Tanpa sadar, mulut Luna terbuka 180°. Orion sedang tidak melantur, kan? batinnya. Ia langsung merapatkan mulutnya lalu tangannya tergenggam dan menutupi mulutnya. Kemudian dirinya berdeham. "Memangnya kamu–eh, anda, ada urusan apa di lantai empat?" tanya Luna sedikit gugup. Semoga firasatnya salah.

"Kamar aku di lantai empat, ngga jauh dari ruang praktek Nanae. Sepuluh meter mungkin ada," ujarnya santai.

"Uhuk!" Kopi yang sempat tertahan di mulut Luna akhirnya menyembur keluar. Air kopi yang keluar langsung jatuh mengotori jas putih kebanggaan orang-orang berprofesi dokter. Tangannya tidak sempat menampung kopi yang keluar dari mulutnya.

"Uhuk!Uhuk!" Luna buru-buru menutup mulut sambil membungkukkan badan. Wajahnya memerah diikuti dengan air yang menggenang di kedua netranya. Tenggorokannya perih akibat tersedak kopi.

"Nanae!" Entah kesambat apa tiba-tiba Orion langsung menahan tubuh Luna. Tangan kirinya melingkar di perut sementara tangan lainnya menepuk pelan punggung psikiaternya. "Pelan-pelan."

Ting!

Pintu lift otomatis terbuka begitu sampai di lantai empat. Luna masih terbatuk sementara Orion masih setia menahan tubuhnya."Nanae, udah mendingan?" tanya Orion yang sialnya nada bicaranya lembut.

Luna langsung memberi jarak, wajahnya masih merah karena batuk hebat. "S-saya ngga papa. Terimakasih sudah bantu saya tadi," jawab Luna disertai dengan senyum profesional yang terlalu dipaksakan.

"Aku gendong sampe ruangan Nanae, ya?" pintanya tulus. Luna yang mendengarnya langsung salah tingkah.

"Ng-ngga perlu, Orion. Saya bisa jalan sendiri. Sekali lagi terimakasih dan have a nice day!" ucap Luna sembari cepat-cepat keluar dari lift dan jalan cepat menuju ruangannya.

Brakk!

Suara pintu tertutup menggema di lantai empat. Lutut Luna mendadak lemas sehingga dirinya menyandarkan punggungnya ke pintu lalu merosot ke bawah. "Bodoh banget sihh pake acara keselek kopi di depan Orion! Mana dia pasti liat waktu aku nyembur kopinya lagi, bodohhh bodohh!" Luna merutuki kebodohannya sendiri. Ia merasa sudah tidak memiliki harga diri di depan pasiennya.

Dari sekian banyaknya pasien yang ia tangani, kenapa harus Orion yang melihat kebodohannya? Apalagi mereka baru menjalani sesi konsultasi pertama. "Aku kalo jadi Orion bakal ilfill sih liat cewek nyembur kopi kayak tadi," akunya menyindir pada diri sendiri.

Dirinya kemudian mengingat ucapan pasien itu saat di lift. Ucapan yang membuat dirinya melakukan hal memalukan. Bangsal Orion berada di lantai empat, yang artinya ruangan Luna berdekatan dengan kamar Orion. Biasanya, bangsal-bangsal di lantai atas hanya ditempati oleh orang-orang berduit. Jadi kesimpulannya adalah... Tidak tidak. Luna tidak boleh menarik kesimpulan begitu saja.

"Apapun itu, aku harap aku bisa mengenal Orion lebih jauh," ucapnya pada diri sendiri.

♧♧♧

Langit di luar jendela kamar Rellunae Keller masih berwarna biru pucat, dihiasi semburat jingga tipis di ufuk timur. Sinar matahari pagi menyelinap perlahan melalui celah tirai krem, membentuk garis-garis keemasan di atas lantai kayu.

Di luar, suara burung-burung kecil terdengar saling bersahutan dari pepohonan yang mengelilingi rumah keluarga Keller. Udara pagi yang sejuk membuat dedaunan bergoyang pelan, sesekali menimbulkan suara gemerisik yang menenangkan.

Di atas tempat tidurnya yang empuk, Luna masih terlelap. Selimut putih tebal menutupi sebagian tubuhnya, sementara rambut panjangnya terurai berantakan di atas bantal. Tadi malam ia baru berhasil memejamkan mata setelah berjam-jam memaksa dirinya untuk berhenti memikirkan satu pasien.

Hembusan angin pagi membuat tirai bergerak pelan. Sinar matahari kini jatuh tepat di wajah Luna. Wanita itu mengerutkan kening dalam tidurnya. Ia berguling pelan, menarik selimut hingga menutupi sebagian wajahnya, seolah berharap pagi hari akan menunggu sedikit lebih lama. Sayangnya, ketenangan itu tidak bertahan lama.

Tok tok tok

"Nona Luna?"

Tok tok tok

Suara ketukan itu kembali terdengar. Luna mengerjapkan mata pelan. Kepalanya masih terasa berat akibat kurang tidur. Dengan susah payah, ia meraih jam yang tergeletak di atas meja samping kasurnya. Jam menunjukkan pukul 05.30, jarang-jarang Luna bangun sesiang itu.

"Nona Luna?" panggil suara di balik pintu sekali lagi, kali ini sedikit lebih keras.

"Iya bi, masuk aja..." jawab Luna dengan suara serak khas manusia saat bangun tidur.

Pintu kamar terbuka perlahan. Salah satu asisten rumah tangga keluarga Keller masuk sambil menundukkan kepala. "Maaf mengganggu istirahat Nona," ucapnya dengan nada hati-hati.

Luna mengusap wajahnya dengan kedua tangan. "Ada apa, bi?" tanyanya dengan mata sedikit terbuka.

"Ada tamu yang ingin bertemu Nona."

Seketika mata Luna langsung terbuka lebar. "Tamu? Sepagi ini?"

Batin Luna langsung menyumpah serapah tamu yang mengganggu waktu istirahatnya. Siapa orang yang memiliki keberanian datang ke rumahnya sepagi ini?

"Siapa memangnya, bi?" tanya Luna lagi seraya duduk di pinggir ranjang.

Pelayan itu tampak ragu sebentar. "Tuan Xabiru, Non."

Sisa kantuk yang menggantung di kedua mata Luna langsung lenyap. Xabiru? Ngapain dia pagi-pagi ke rumah orang? batinnya bertanya-tanya.

Firasatnya mendadak tidak enak. Jangan-jangan alasan Xabiru datang ke rumahnya karena pasien yang ia tangani membuat masalah? Tapi... siapa pasiennya? Luna langsung menggelengkan kepalanya begitu satu nama terukir di otaknya.

"Bi, aku mau mandi dulu. Si Xabiru suruh nunggu sebentar," ujar Luna seraya berlari ke kamar mandi. Sang pelayan mengangguk sebagai jawaban lalu meninggalkan kamar Luna.

Luna hanya membutuhkan waktu sepuluh menit untuk mandi. Setelahnya ia memakai cardigan asal dan buru-buru turun ke ruang tamu dimana Xabiru sudah menunggunya.

"Hai," sapa Xabiru dengan secangkir kopi di tangannya.

"Kakak ngapain pagi-pagi ke rumah orang? Ganggu tau ngga?" semprot Luna sambil melipat kedua tangan di depan dada. Pria di samping kiri tertawa pelan lalu menaruh cangkir ke meja.

"Kamu baru bangun? Tumbenn, biasanya juga bangunnya jam 5," jawabnya santai seolah tak merasa bersalah bertamu saat pagi hari.

"Basi, pertanyaannya. Langsung tudep, bisa?" jawab Luna sedikit ketus.

"Hari ini adalah hari dimana pasienmu di sidang."

Luna reflek menoleh. Matanya menatap wajah Xabiru yang ternyata juga menatap dirinya. Perasaannya mulai tidak enak.

"Hah? Siapa??"

1
Rian Moontero
mampiiirr👍😄
Sia Rivera: thankss sudah mampirr🙌🏻
total 1 replies
Anisa Nur Afifah
lanjut thor
yaya
when ya dapet mertua yang royal...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!