Pada malam Tahun Baru 2035, seluruh manusia di bumi menerima sebuah notifikasi misterius yang muncul tepat di depan mata mereka.
【Integrasi Dunia akan dimulai dalam 365 hari.】
Tak ada yang tahu siapa pengirimnya. Tak ada yang mampu menjelaskan bagaimana layar itu muncul. Setelah berbulan-bulan tanpa kejadian apa pun, dunia mulai melupakannya dan menganggapnya sebagai fenomena aneh semata.
Namun, tidak dengan Leon.
Di malam yang sama, ia menerima notifikasi kedua yang hanya bisa dilihat olehnya.
【Sistem Simulasi Satu Tahun berhasil diaktifkan.】
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D'Silent Novel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 — Utusan Sang Pertapa (Bagian 1)
Leon berdiri terpaku di depan pintu.
Tatapannya tidak lepas dari gadis berambut perak yang kini berdiri dengan tenang di ambang pintu penginapan.
Suasana koridor begitu sunyi.
Hanya suara jangkrik dari luar jendela yang terdengar samar.
"Kau menyebut lelaki tua berjubah abu-abu..."
kata Leon pelan.
"...siapa sebenarnya dia?"
Gadis itu tersenyum tipis.
"Maaf."
"Aku tidak bisa menjawabnya."
"Belum."
Leon mengernyit.
"Kenapa?"
"Karena Guruku berkata..."
"...jawaban yang datang terlalu cepat hanya akan membuatmu bergantung."
Kalimat itu terdengar aneh.
Namun entah mengapa, Leon merasa cara berbicaranya sangat mirip dengan Rowan.
Tidak pernah memberi jawaban secara langsung.
Selalu memaksanya berpikir.
Leon mempersilakan gadis itu masuk.
Ruangan kecil itu mendadak terasa sempit.
Gadis tersebut duduk dengan anggun di kursi kayu dekat jendela.
"Aku belum memperkenalkan diri."
"Namaku Aria."
"Leon."
"Aku sudah tahu."
Leon tersenyum kecut.
"Kurasa semua orang sudah tahu namaku."
Aria menggeleng pelan.
"Tidak."
"Guruku tahu namamu..."
"...bahkan sebelum kau datang ke dunia ini."
Kalimat itu membuat tubuh Leon menegang.
"Sebelum aku datang?"
Aria mengangguk.
"Beliau sudah menunggumu."
"Selama bertahun-tahun."
Seketika, suasana kamar berubah hening.
Leon merasakan pikirannya dipenuhi pertanyaan.
Bagaimana mungkin seseorang mengetahui kedatangannya jauh sebelum sistem memilihnya?
Apakah lelaki tua itu juga seorang Administrator?
Atau...
Sesuatu yang lebih tinggi?
Melihat kebingungan Leon, Aria mengeluarkan sebuah kotak kayu kecil dari balik jubahnya.
Kotak itu berwarna hitam pekat.
Di bagian atasnya terdapat ukiran bulan sabit yang dikelilingi empat bintang.
"Ini titipan untukmu."
Leon menerimanya dengan hati-hati.
Anehnya...
Begitu ujung jarinya menyentuh kotak itu, simbol kecil di tutupnya memancarkan cahaya keemasan.
Ding!
【Artefak Terdeteksi】
Kotak Warisan Penjaga
Status: Terkunci
Syarat Pembukaan: Segel Kelas mencapai Sinkronisasi 10%.
Leon membelalakkan mata.
Kotak itu ternyata berhubungan dengan kelas tersegelnya.
"Apa isinya?"
tanya Leon.
Aria tersenyum.
"Aku juga tidak tahu."
"Guru melarangku membukanya."
"Beliau hanya berkata..."
"...pemilik sebenarnya akan mampu membukanya sendiri."
Leon memandangi kotak itu beberapa saat.
Lalu memasukkannya ke dalam tas.
"Kalau begitu..."
"...apa tujuanmu datang ke sini?"
Aria berdiri perlahan.
"Menyampaikan satu pesan."
Ia menatap langsung ke mata Leon.
"Para Penjaga telah mulai bergerak."
"Mereka akan datang satu per satu."
"Bukan untuk membunuhmu."
"Bukan pula untuk melindungimu."
"Lalu untuk apa?"
"Mereka ingin memastikan..."
"...apakah kau memang pantas menjadi pewaris."
Ucapan itu membuat Leon kembali mengingat Alpha Dire Wolf dan Shadow Lynx.
Selama ini ia mengira semua itu hanya kebetulan.
Ternyata...
Semuanya memang memiliki tujuan.
Sebelum Leon sempat bertanya lagi, Aria berjalan menuju pintu.
"Tunggu."
"Aku masih punya banyak pertanyaan."
Aria berhenti.
Namun ia tidak berbalik.
"Aku tahu."
"Sayangnya..."
"...jawabannya tidak boleh datang dariku."
Setelah mengatakan itu, ia membuka pintu.
Namun tepat sebelum melangkah keluar, ia berkata pelan.
"Oh ya."
"Besok pagi..."
"...jangan terlambat ke lapangan latihan."
Leon mengernyit.
"Kenapa?"
Aria tersenyum kecil.
"Karena Guru Rowan sudah menerima surat."
"Surat?"
"Kau akan mengikuti..."
"...Seleksi Pemburu Magang."
Pintu pun tertutup perlahan.
Leon berdiri mematung.
"Seleksi Pemburu Magang?"
Ia belum pernah mendengar istilah itu.
Namun dari nada bicara Aria, seleksi tersebut jelas bukan latihan biasa.
Di luar penginapan, Aria berjalan perlahan menuju jalan utama desa.
Sesampainya di bawah pohon ek besar, sesosok lelaki tua berjubah abu-abu telah menunggunya.
"Bagaimana?"
tanya lelaki itu.
"Dia menerimanya."
Aria menundukkan kepala.
"Dan seperti dugaan Guru..."
"...dia tidak berhenti bertanya."
Lelaki tua itu tertawa pelan.
"Itu bagus."
"Orang yang berhenti bertanya..."
"...akan berhenti berkembang."
Ia mengangkat pandangannya ke arah langit malam yang dipenuhi bintang.
"Hitungan mundur masih tiga ratus lima puluh lima hari."
"Semoga..."
"...kita tidak terlambat."
Aria ikut menatap langit.
Untuk pertama kalinya, wajahnya dipenuhi kekhawatiran.
Karena ia tahu...
Ancaman yang akan datang setahun lagi jauh lebih mengerikan daripada semua monster yang pernah ditemui Leon.
Dan semua yang terjadi sejauh ini...
Baru merupakan langkah pertama dari perjalanan panjang sang pewaris.