NovelToon NovelToon
CAMPUS COUPLE

CAMPUS COUPLE

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cintapertama
Popularitas:344
Nilai: 5
Nama Author: Nurul Laila

Menjadi mahasiswa Arsitektur semester tiga dan aktif dalam kegiatan himpunan sudah cukup menguras energi Gea. Kehadiran Jay yang manis terasa seperti tempat peristirahatan di tengah penatnya kegiatan. Pertama kali menjalin kasih, Gea fikir akan berjalan mulus, penuh rasa menggelitik, dan menyenangkan. Namun, kisah romansanya tidak berjalan mulus seperti yang dia bayangkan.
Kecemburuan dan kekangan dari Jay terasa semakin menyesakkan. Kuliah di jurusan yang di dominasi oleh pria, Gea tidak bisa bebas berinteraksi dengan pria, bahkan dengan sahabat dan sepupunya sendiri. Membuat keretakan dan hubungan mereka pun harus kandas.
Saat Gea tidak berpikir untuk menjalin hubungan baru, atau membuka hatinya untuk orang baru, dia dipertemukan dengan seseorang yang menawarkan kenyamanan yang berbeda. Seseorang yang hadir tanpa menuntut.
Bisakah Gea melepaskan luka masa lalunya dan menyambut dengan utuh seseorang yang datang di waktu yang dia tak sangka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Laila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

JAY - Part 1

Kilatan lampu-lampu kota yang berpendar hangat di balik jendela kaca sebuah kafe malam itu sama sekali tidak mampu menghangatkan suasana hati Jay. Di luar, hujan turun cukup deras, menciptakan ketukan-ketukan ritmis di atap yang seolah mendukung kegundahan yang sedang menggerogoti isi kepalanya. Jay hanya duduk terdiam, menatap cangkir kopinya yang mulai mendingin. Riuh rendah obrolan keempat sahabat di mejanya malam itu mendadak kehilangan daya tarik.

Sikap diam Jay yang tidak biasa akhirnya memicu perhatian. Dion dan Ria saling melempar pandang sejenak sebelum akhirnya Dion memutuskan untuk membuka suara.

“Lo kenapa sih, Jay?” tanya Dion, mencondongkan badannya ke depan. “Asem banget gue liat-liat dari tadi.”

“Biasa,” jawab Jay singkat, menghembuskan napas pendek.

Mendengar jawaban klise itu, keempat sahabatnya saling bertukar pandang, menunggu Jay melanjutkan keluh kesahnya.

“Gea tuh… terlalu akrab sama orang,” ungkap Jay kemudian, menyuarakan ganjalan yang menyumbat dadanya belakangan ini.

Adam yang sedang mengunyah kentang gorengnya menyahut santai, “Ya kan emang si Gea anaknya friendly dan supel, Jay. Dari dulu juga begitu.”

Seperti tersentil egonya, rahang Jay seketika mengeras. Ia langsung bersikap defensif.

“Tapi, dia gak sadar sikap easy going-nya itu sering bikin cowok-cowok di luar sana salah paham. Buat dia mungkin itu biasanya aja, tapi gue sebagai cowoknya gak bisa dan gak sudi ngeliatnya.”

Jay kembali terbungkam, mencoba meredam kalimat-kalimat penuh emosi yang mendadak berterbangan keluar dari kepalanya.

Jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, Jay tahu dan sangat sadar bahwa Gea mencintainya dengan tulus. Namun, egonya sebagai laki-laki perlahan-lahan terkikis dan terluka setiap kali ada orang luar yang menyentil hubungan mereka. Bisikan-bisikan sumbang yang mengingatkan bahwa Gea terlalu cantik, pintar, dan bisa mendapatkan laki-laki yang jauh lebih baik darinya, perlahan berubah menjadi racun krisis percaya diri yang akut bagi Jay.

Rasa insecure itulah yang membuat Jay mendadak menjadi posesif gila-gilaan. Ia ingat bagaimana dadanya terbakar cemburu setiap kali melihat akun media sosial Gea dipenuhi oleh komentar dan interaksi dari banyak pria. Saking takutnya kehilangan, Jay bahkan sengaja tidak pernah mengunggah foto Gea secara utuh di media sosialnya sendiri. Kalaupun ada, ia hanya memamerkan siluet punggung, genggaman tangan, atau sisi samping wajah Gea yang samar.

Puncaknya, ia sampai memaksa Gea untuk menonaktifkan seluruh akun media sosial gadis itu demi ketenangan ego pribadinya.

“Lo semua liat, kan, gimana dia akrab banget tiap kita rapat?” tambah Jay panjang lebar, meluapkan rasa frustrasinya. “Berkali-kali gue ingetin dia buat biasa aja. Jangan terlalu akrab. Gue udah bilang dengan jelas kalo gue gak suka. Tapi rasanya susah banget buat bikin dia ngerti posisi gue,” tambahnya panjang lebar.

Dion menyandarkan punggungnya ke kursi, melipat tangan di dada sembari mengulas senyum miring. “Ya udah, sekali-sekali bikin dia cemburu juga,” kata Dion, “biar dia tau rasanya jadi lo,” usulnya.

Jay diam. Kalimat Dion mendadak terdengar menggiurkan di telinganya yang telanjur panas.

“Jangan gila lo, Yon! Itu gak akan menyelesaikan masalah,” potong Adam cepat, tidak setuju dengan ide sahabatnya. Ia menatap Jay dengan sorot mata serius. “Lo harus jujur dan terbuka sama Gea tentang apa yang sebenernya lo takutin, Jay. Biar dia bener-bener ngerti akar masalahnya.”

“Loh? Jay kurang jujur apa sih, Dam?” sambar Putri, langsung membela Jay. “Dia udah sering

bilang kok ke Gea kalo dia gak suka. Dia udah mengutarakannya berkali-kali.”

“Tapi gue yakin dia gak mengungkapkan apa yang sebenernya dia rasaian, makanya Gea

bisa bener-bener ngerti,” balas Adam menunjuk Jay dengan telunjukkan dengan suara yang tenang namun menuntut. “Ini tuh masalah dua orang yang harusnya diperbanyak komunikasi dan saling pengertian. Biar sama-sama tau batasan apa yang harus mereka ambil tanpa ada yang merasa dikekang.”

Jay terdiam sejenak, menimbang-nimbang opsi di kepalanya sebelum akhirnya bergumam, “ide Dion ada benernya.”

Adam terbelalak, menatap sahabatnya itu dengan pandangan tidak percaya. Ia tidak menyangka kalimat kekanak-kanakan itu bisa lolos begitu saja dari mulut seorang wakil ketua himpunan yang biasanya logis. Hebatnya, Jay mengucapkan hal itu dengan raut wajah tanpa beban, seolah mengabaikan konsekuensi besar yang mengintai.

“Jangan gambling gitu, Jay. Salah langkah sedikit, hubungan lo sama dia yang ada bener-bener rusak,” tambah Ria ikut memperingatkan, mulai merasa aura meja mereka bergeser menjadi bahaya.

...****************...

Sepulangnya dari kafe malam itu, Jay langsung membersihkan diri. Setelah mandi dan berganti pakaian dengan oversize tee dan celana pendek santai, ia merebahkan tubuhnya yang terasa penat ke atas kasur. Kamarnya sunyi, hanya menyisakan temaram lampu tidur dan pendar

cahaya dari layar ponselnya yang baru saja membuka aplikasi Instagram.

Sembari scrolling, ibu jarinya mendadak terhenti pada sebuah unggahan feed terbaru milik Karin. Itu adalah sebuah foto bersama Karin, Gea, Risa, dan Nindy yang ternyata pergi menghabiskan waktu bermain bersama siang tadi. Di foto itu, Gea tampak tertawa lepas mengenakan atasan berwarna merah muda.

Tanpa sadar, napas Jay memberat. Jari tangannya bergerak otomatis memencet kolom

komentar, berselancar di sana untuk melihat bagaimana orang-orang merespons foto tersebut. Benar saja, matanya langsung disuguhi oleh rentetan pujian yang ditujukan untuk kekasihnya. Ada nama-nama familier yang ia kenal sebagai teman satu kampus, hingga deretan akun asing yang sama sekali tidak ia ketahui identitasnya.

Karin, yang memang aktif bekerja sebagai seorang model, memiliki jumlah pengikut yang

cukup masif. Hal itu otomatis menarik perhatian orang asing untuk ikut mampir dan mengagumi kecantikan teman-temannya. Pandangan Jay terpaku pada satu komentar dari sebuah akun pria yang dengan berani menuliskan kalimat:

“Itu yang baju pink masih jomblo, kan?”

Rahang Jay mengeras seketika. Dengan perasaan dongkol yang mulai membakar dada, ia

meng-klik akun pria asing tersebut. Jay meneliti setiap postingan, menelisik bagaimana rupa dan

profil pria yang dengan lancang mempertanyakan status kekasihnya di lapak umum. Sesaat setelah

mengecek daftar pengikut pria itu, Jay mendapati bahwa pria asing tersebut ternyata juga mengikuti akun Instagram milik Gea.

Untung gue udah suruh Gea buat gak aktif IG, batin Jay dalam hati, seolah menemukan secercah kemenangan kecil di tengah rasa sesaknya. Ada rasa lega yang egois karena ia telah berhasil memutus akses dunia luar untuk melihat kekasihnya. Jay tahu persis bahwa dalam hal ini Gea sama sekali tidak salah. Gea tidak bisa mengontrol mata dan ketertarikan orang lain padanya. Namun, rasa rendah diri yang akut membuat Jay selalu memandang setiap laki-laki yang menatap Gea terlalu lama sebagai sebuah ancaman besar. Dan di atas segalanya, Jay paling membenci satu kenyataan pahit yang selama sembilan bulan ini terus menghantuinya, kalau ia tidak pernah benar-benar merasa aman memilikinya.

...****************...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!