Dulu, Adrian hanyalah seorang anak miskin yang setiap hari hidup dalam hinaan dan siksaan. Hingga suatu malam, hidupnya berubah ketika seorang Don mafia terbesar di Swiss mengangkatnya sebagai anak dan pewaris keluarga Moretti.
Kini, di usia 23 tahun, Adrian Moretti dikenal sebagai Don muda yang disegani. Dingin, kejam kepada musuh, tetapi selalu melindungi orang yang tidak bersalah.
Sampai suatu hari, ia menyelamatkan seorang gadis bernama Aurora yang dikejar para penagih utang, orang-orang yang ternyata pernah menghancurkan masa kecil Adrian.
Niatnya hanya menolong, namun semakin lama mengenal Aurora, hati Adrian yang selama ini membeku perlahan luluh. Untuk pertama kalinya, ia merasakan cinta. Sayangnya, Adrian tidak pernah belajar bagaimana mencintai dengan benar.
Baginya, mencintai berarti melindungi.
Melindungi berarti memiliki. Dan siapa pun yang berani merebut Aurora darinya... akan menjadi musuh seluruh keluarga Moretti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15 : Bukan Serangan Jantung
Aurora masih memandangi foto itu tanpa berkedip. Di dalam gambar tampak halaman depan Panti Asuhan Kasih Bunda yang begitu dikenalnya. Bangunan sederhana dengan taman kecil, ayunan besi yang mulai berkarat, dan pohon maple tua yang selalu menjadi tempat favorit anak-anak bermain.
Jemarinya perlahan menyentuh permukaan foto. "Tempat ini..." gumamnya lirih. "Tidak banyak berubah."
Isabel berdiri di sampingnya. "Don Besar cukup sering membantu panti itu."
Aurora menoleh. "Sering?"
Isabel mengangguk pelan. "Yayasan Moretti Foundation memberikan bantuan berupa dana operasional, renovasi bangunan, perlengkapan sekolah, hingga biaya pengobatan anak-anak."
Aurora tampak terkejut. "Kenapa aku tidak pernah tahu?"
"Mungkin karena semua bantuan diberikan secara anonim."
Aurora mengernyit. "Anonim?"
"Ya. Don Besar tidak pernah ingin nama keluarga Moretti dipasang sebagai penyumbang."
Aurora menundukkan kepalanya. "Ibu Maria juga tidak pernah bercerita..."
Isabel tersenyum tipis. "Mungkin beliau memang menjaga semua itu tetap menjadi rahasia."
Aurora kembali membuka halaman berikutnya. Kali ini terdapat beberapa foto kegiatan amal. Anak-anak panti tampak menerima buku, pakaian musim dingin, dan makanan.
Aurora tersenyum kecil ketika melihat beberapa wajah yang dikenalnya. "Itu Leo, dan itu Emma..." Tanpa sadar matanya mulai berkaca-kaca. "Sudah lama sekali..."
Isabel membiarkannya menikmati kenangan itu. Namun saat Aurora membalik halaman berikutnya, senyumnya perlahan menghilang. Sebuah foto berukuran besar memenuhi satu halaman. Foto peresmian gedung baru panti asuhan, di sana berdiri Leonardo Moretti bersama Maria Laurent.
Di belakang mereka terdapat puluhan anak panti. Aurora memperhatikan satu per satu wajah anak-anak itu. Lalu...
Tangannya mendadak berhenti. "Nanti dulu..." Ia mendekatkan wajahnya. "Kenapa ada dua anak perempuan yang memakai kalung yang sama?"
Isabel ikut melihat. "Apa?"
Aurora menunjuk foto tersebut. "Lihat, kalung berbentuk bunga lily."
Isabel menyipitkan mata, benar. Di dalam foto tampak Aurora kecil mengenakan sebuah kalung perak berbentuk bunga lily. Anehnya... di sebelah kanan Maria Laurent juga berdiri seorang anak perempuan lain dengan kalung yang sama persis.
Aurora mengernyit. "Aku tidak ingat pernah memiliki teman yang memakai kalung seperti ini."
Isabel pun mulai merasa ada yang aneh. "Kalung itu masih kau simpan?"
Aurora menggeleng pelan. "Tidak. Ibu Maria pernah bilang kalungku hilang saat aku masih kecil."
Isabel menatap kembali foto itu. "Kalau begitu..."
Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, suara ketukan pintu terdengar.
Tok... tok...
"Masuk."
Pintu terbuka.
Carlo masuk dengan langkah cepat. "Maaf mengganggu."
Isabel segera berdiri. "Ada apa?"
Carlo memandang Aurora sejenak, lalu berkata kepada Isabel. "Don Besar meminta Nona Aurora turun ke ruang makan."
Aurora berkedip. "Sekarang?"
Carlo mengangguk. "Don Adrian baru saja menghubungi mansion."
Aurora langsung menoleh. "Adrian?"
"Beliau mengatakan akan kembali malam ini."
Isabel tampak sedikit heran. "Biasanya Don Muda baru kembali besok pagi."
"Itulah sebabnya Don Besar meminta seluruh keluarga berkumpul."
Aurora menutup buku itu perlahan. Entah mengapa, jantungnya kembali berdetak lebih cepat.
Sementara itu, di sebuah panti jompo kecil di pinggiran Kota Bern. Mobil Adrian berhenti tepat di depan bangunan tua yang tampak sepi. Ia turun bersama Johan dan empat orang pengawal.
Seorang perawat lansia segera menghampiri. "Maaf, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?"
Adrian menunjukkan sebuah foto. "Saya mencari pria ini."
Perawat itu melihat foto tersebut, wajahnya langsung berubah.
"Tuan Anton?"
"Di mana dia?"
Perawat itu menundukkan kepala. "Maaf... Tuan Anton sudah meninggal dunia."
Johan membelalakkan mata. "Kapan?"
Perawat itu menjawab lirih. "Baru... dua jam yang lalu."
Suasana mendadak membeku.
Adrian menatap wajah perawat itu tanpa ekspresi. "Apa penyebab kematiannya?"
"Dokter mengatakan serangan jantung."
Namun sebelum perawat itu sempat melanjutkan, Adrian melihat sesuatu di ujung koridor. Seorang petugas kebersihan buru-buru mendorong troli keluar dari ruangan tempat Anton dirawat.
Tatapan Adrian langsung tertuju pada roda troli itu. Ada bercak lumpur hitam yang masih basah. Padahal... sejak pagi tidak pernah turun hujan di Kota Bern.
Sorot mata Adrian berubah tajam. "Johan."
"Ya, Don."
"Jangan biarkan siapa pun keluar dari gedung ini."
Johan langsung memahami. "Don curiga..."
Adrian memotong ucapannya. "Anton tidak mati karena serangan jantung."
Tatapannya tertuju pada pintu kamar yang baru saja ditinggalkan petugas kebersihan. "Seseorang baru saja lebih dulu membungkamnya."
Adrian melangkah tanpa tergesa menuju kamar tempat Anton dirawat. Langkah sepatunya menggema di koridor yang sunyi. Aura dingin yang memancar darinya membuat para perawat hanya bisa menyingkir tanpa berani bertanya.
Sementara itu, Johan segera memberi perintah melalui alat komunikasinya. "Tim Alpha, tutup seluruh pintu keluar."
"Tim Bravo, amankan semua kendaraan di area parkir."
"Tidak seorang pun boleh meninggalkan gedung tanpa pemeriksaan."
"Siap!"
Beberapa detik kemudian, para pengawal keluarga Moretti bergerak cepat. Dua orang menjaga pintu utama, sementara yang lain menyisir setiap lorong.
Adrian berhenti tepat di depan kamar nomor 207. "Jangan ada yang masuk sebelum aku selesai."
"Baik, Don."
Perlahan ia membuka pintu.
Ceklek...
Ruangan itu sederhana. Hanya terdapat sebuah tempat tidur, lemari kecil, dan meja di samping jendela. Tubuh Anton masih terbaring tenang dengan selembar kain putih menutupi hingga dada.
Seorang dokter yang baru selesai melakukan pemeriksaan berdiri di samping ranjang. "Anda keluarga pasien?"
"Bukan."
Adrian mengeluarkan kartu identitas khusus milik Moretti Foundation.
"Saya hanya ingin memastikan penyebab kematiannya."
Dokter itu sedikit ragu, tetapi akhirnya mengangguk. "Silahkan."
Adrian mendekati jasad Anton, tatapannya menyapu seluruh tubuh pria tua itu tanpa melewatkan satu detail pun. Lalu... matanya berhenti pada tangan kiri Anton. Ujung jari telunjuk pria tua itu tampak sedikit membiru.
Adrian menyipitkan mata. "Biru..."
Ia kemudian memperhatikan leher Anton. Di balik kerah baju pasien terdapat titik merah yang hampir tidak terlihat. Sangat kecil, seperti bekas tusukan jarum.
"Johan."
Johan segera masuk. "Ya, Don?"
"Tutup pintunya."
Pintu kembali tertutup rapat.
Adrian menunjuk bekas kecil di leher Anton. "Lihat."
Johan mendekat, beberapa detik kemudian wajahnya berubah. "Bekas suntikan."
Adrian mengangguk pelan. "Bukan serangan jantung."
Dokter yang berada di ruangan itu tampak terkejut. "Mustahil..."
Adrian menoleh. "Dokter."
"Y-ya?"
"Apakah Anda melakukan pemeriksaan toksikologi?"
Dokter itu menggeleng. "Tidak. Karena riwayat penyakit jantung pasien memang cukup berat."
Adrian kembali menatap jasad Anton. "Kalau begitu pelakunya memang mengincar kelemahan itu."
Johan mulai memahami. "Racun yang memicu serangan jantung..."
"Tepat."
Dokter langsung membelalak. "Anda mengatakan pasien ini diracun?"
Adrian menjawab datar. "Saya hampir yakin."
Ruangan kembali sunyi.
Di luar kamar, seorang petugas kebersihan terus mendorong trolinya menuju pintu belakang gedung. Langkahnya terlihat tenang, namun saat hampir mencapai pintu keluar...
"Berhenti."
Suara dingin itu membuatnya membeku, ia perlahan menoleh. Dua pria berpakaian hitam telah berdiri menghalangi jalan.
"Maaf," ucapnya gugup. "Saya hanya ingin membuang sampah."
Salah satu anggota Moretti tersenyum tipis. "Kalau begitu buka troli itu."
Petugas tersebut mulai berkeringat. "Tidak perlu..."
"Buka."
Tangannya gemetar saat membuka penutup troli.