Keisya Mahardika hanya punya satu keinginan sederhana, yaitu memiliki seorang mama.
Sayangnya, ayahnya, Arya Mahardika, adalah CEO dingin yang lebih mencintai pekerjaannya daripada urusan hati. Sampai suatu hari Keisya bertemu Alya di kantor ayahnya, wanita baik hati yang langsung ia pilih menjadi calon mamanya.
Sejak saat itu, dimulailah berbagai misi rahasia sang mak comblang cilik untuk mendekatkan mereka berdua.
Di balik rencana-rencana kecil yang lucu dan menggemaskan, perlahan dua hati yang sama-sama terluka mulai saling menemukan.
Tapi apakah cinta bisa benar-benar tumbuh dari ulah seorang anak kecil?Atau justru sang mak comblang cilik harus menerima bahwa tidak semua keinginan bisa menjadi kenyataan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23
Tony tiba di gerbang sekolah Harapan Bunda dengan wajah serius dan langkah yang tegas. Ia mengenakan setelan formal lengkap berwarna abu-abu gelap, sepatu mengilap, dan membawa map dokumen tebal di tangan.
Tanpa banyak basa-basi, ia langsung melewati pos satpam dan menuju ruang kepala sekolah. Beberapa guru yang kebetulan berada di koridor langsung menunduk dan saling berbisik. Mereka menyadari bahwa kedatangan pria ini bukan kunjungan biasa. Aura otoritas yang dibawanya membuat suasana di sekolah yang biasanya ceria tiba-tiba terasa tegang.
Di dalam ruang kepala sekolah yang ber-AC dingin, Tony duduk tegak di seberang meja kayu besar. Kepala sekolah dan Bu Rina, guru yang mengajar Keysa sudah menunggu dengan wajah pucat.
Suara Tony tenang namun penuh tekanan, setiap kata diucapkan dengan jelas dan tidak bisa ditawar.
“Saya datang atas perintah langsung Tuan Arya,” ucapnya tegas, menatap keduanya bergantian.
“Keluarga besar Tuan Arya menuntut pertanggungjawaban penuh atas kelalaian pihak sekolah yang menyebabkan Nona Keysa mengalami luka serius hingga harus menjalani transfusi darah. Anak kecil itu hampir kehilangan banyak darah, dan semua ini terjadi di bawah pengawasan sekolah.”
Kepala sekolah dan Bu Rina tampak tegang. Tangan mereka saling bertaut di bawah meja. Tony membuka map di depannya dengan gerakan tenang, memperlihatkan beberapa dokumen dan catatan medis yang sudah disiapkan.
Ia kemudian menatap tajam kedua orang di hadapannya. “Dan yang paling penting, anak-anak yang sudah merundung serta mendorong Nona Keysa hingga terluka harus segera dikeluarkan dari sekolah. Tidak ada toleransi. Tuan Arya tidak ingin putrinya kembali mengalami perlakuan seperti itu. Kami tidak akan membiarkan kejadian ini terulang.”
Suasana di ruangan langsung hening. Hanya terdengar detak jam dinding yang tiba-tiba terdengar sangat keras. Kepala sekolah menelan ludah, sementara Bu Rina menunduk dalam-dalam. Tony menunggu jawaban dengan sabar, tapi jelas bahwa perintah ini bukan untuk ditawar.
Tak lama kemudian, pintu ruang kepala sekolah terbuka.
Cekklek...
Beberapa orang tua murid yang sudah dipanggil masuk dengan wajah marah dan defensif. Salah satu ibu yang anaknya terlibat langsung berdiri dan bersuara keras.
“Tidak bisa! Mereka hanya anak kecil. Mereka hanya bercanda, saya yakin anak saya tidak berniat mencelakai Keysa!” serunya dengan nada tinggi, wajahnya memerah.
Tony memutar kursi pelan, menatap wanita itu dengan tatapan sinis yang dingin. “Bercanda?” tanyanya pelan, tapi suaranya menusuk.
“Merundung, mengejek dengan kata-kata kotor, lalu mendorong sampai kening berdarah dan harus ditransfusi darah… kamu anggap itu bercanda? Tidak heran kalau anak kalian kelakuannya seperti itu. Bahkan sudah terbukti bersalah pun masih tetap dibela.”
Tony menyandarkan punggung ke kursi, menatap seluruh orang tua yang hadir satu per satu.
“Harusnya kalian sebagai orang tua mendidik anak kalian dengan benar. Bukan memaklumi kesalahan mereka hanya karena usia mereka masih sangat kecil. Kalau dari kecil sudah dilindungi seperti ini, nanti besar mereka akan jadi lebih parah. Tuan Arya tidak akan membiarkan putrinya terus menjadi korban.”
Ruangan semakin sunyi. Beberapa orang tua saling pandang, ada yang menunduk malu, ada yang masih ingin membantah tapi tidak berani.
Tony menutup mapnya dengan tenang, seolah sudah selesai menyampaikan pesan.
“Keputusan sudah jelas. Anak-anak yang terlibat harus dikeluarkan. Jika pihak sekolah menolak, Tuan Arya siap menempuh jalur hukum. Nama baik sekolah juga bisa dipertaruhkan. Pilih saja.”
"Tuan Tony, kita bicarakan ini baik-baik. Hal seperti ini sangat wajar, sering terjadi pada anak-anak. Kami, pihak sekolah tetap akan bertanggung jawab, tapi kami tidak bisa mengeluarkan mereka. Mereka masih anak-anak, kalau di keluarkan bagaimana nasib mereka" ucap kepala sekolah.
Tony tertawa sinis, "lalu bagaimana dengan nasib anak bos saya? Bisa saja mentalnya tergangggu karena sering di hina sebagai anak haram"
"Kalau anda tidak bisa mengeluarkan mereka, maka tuan Arya sendiri akan memindahkan anaknya ke sekolah lain. Beliau juga akan berhenti menjadi donatur utama di sekolah ini"
Kepala sekolah akhirnya mengangguk pelan, wajahnya pucat. Sementara orang tua yang tadi bersuara keras hanya bisa mengatupkan bibir, tidak mampu membantah lagi di bawah tekanan Tony yang penuh wibawa.
Di luar ruangan, suara anak-anak bermain di halaman terdengar samar. Tapi di dalam, suasana sudah berubah total.
Tony berdiri, merapikan jasnya, lalu keluar dengan langkah tenang. Misinya sudah selesai. Keysa akan dilindungi, dan pihak yang lalai harus menanggung konsekuensinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sepulang sekolah Zara ke rumah sakit dengan di temani tantenya, dia masih mengenakan seragam sekolahnya yang sedikit kusut, rambut pendeknya berantakan karena angin, dan di tangannya ia menggenggam seikat bunga kecil yang dibelinya di pinggir jalan. Matanya yang biasanya ceria kini tampak sedih.
Zelia, wanita muda yang sedang menjaga keponakannya, hanya menghela napas pelan sambil menggendong tas besar. Ia sudah lelah seharian, tapi tidak tega menolak permintaan Zara yang terus memohon ingin menjenguk sahabatnya.
Begitu masuk ke ruang perawatan, Zara langsung berlari kecil menuju ranjang Keysa. Wajahnya cerah seketika saat melihat sahabatnya sudah duduk bersandar di bantal dengan plester putih di kening.
“Keyca! Kamu cudah nda apa-apa? Maaf ya, kemalin Zala nda bica tolong kamu,” ucap Zara sedih sambil meletakkan bunga di meja kecil di samping ranjang. Matanya berkaca-kaca.
Keysa tersenyum lebar meski masih terasa pusing. Ia mengulurkan tangan kecilnya. “Nda apa-apa, Zala. Cekalang Key cudah baik-baik aja kok. Kening Key aja macih cuka pucing cedikit,” jawabnya dengan logat khasnya yang lucu.
Zara langsung naik ke kursi di samping ranjang, duduk dekat, dan mulai bercerita tanpa henti. Mereka berdua saling bergantian menceritakan sesuatu yang lucu. Suara mereka yang kecil dan penuh semangat memenuhi ruangan yang tadinya sunyi.
"Zala kenapa cuma bawa bunga? Halusnya bawa dimcum mentai, atau bawa cilok kliwil" tanya Keysa sambil mengerucutkan bibirnya.
"Nda belcyukulnya kamu itu. Cudah untuk Zala bawa bunga, nda cuma bawa dili aja" seru Zara kesal.
"Tapi Key itu manucia, nda makan bunga dili ini" ucap Keysa.
Di sudut ruangan, Zelia hanya diam mendengarkan obrolan keduanya. Ia duduk di kursi jauh, menyandarkan punggung, dan sesekali memutar bola matanya malas. Baginya, percakapan dua bocah kecil itu terdengar sangat absurd dan bertele-tele.
“Mereka ini… ngomongnya kayak drama sinetron,” gumam Zelia pelan sambil mengeluarkan ponsel, pura-pura sibuk. Meski begitu, sudut bibirnya sedikit terangkat. Ia tidak bisa menyangkal bahwa kehadiran Zara membuat Keysa terlihat jauh lebih ceria.
Keysa dan Zara terus bercanda, dan saling menghibur. Di tengah rasa sakit yang masih tersisa, persahabatan mereka yang tulus menjadi obat yang paling menenangkan.