NovelToon NovelToon
Ponsel Dewa Si Reno

Ponsel Dewa Si Reno

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Komedi / Romansa
Popularitas:297
Nilai: 5
Nama Author: Khusus Game

Berbekal ponsel hitam tanpa merek dengan AI yang sangat sarkastis, Reno mendadak menjadi peretas paling dicari oleh komplotan mafia teknologi. Di tengah pelarian yang menegangkan, Reno tidak hanya harus menghindari peluru, tetapi juga harus menahan malu karena asisten digital di ponselnya yang justru sering menjebaknya dalam situasi paling absurd

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26: Pelarian Romantis di Atap

Langkah kaki mereka berdua berderap sangat cepat menaiki susunan anak tangga beton yang seolah berputar ke atas tanpa ujung.

Reno menggenggam erat telapak tangan Luna, memandu laju pelarian gadis itu dengan ritme gerakan yang luar biasa teratur.

Suara pantulan langkah kaki bergema keras mendominasi kesunyian lorong jalur evakuasi yang sempit dan berdebu ini.

Terdengar gedoran kasar dari arah pintu bawah, menandakan aparat kepolisian dan manajer butik masih berusaha mendobrak akses masuk utama.

{Kalau manajer butik itu sampai berhasil menangkapku, aku pasti akan langsung dijebloskan ke dalam sel tahanan kota malam ini juga atas tuduhan penipuan kelas berat.}

Ia memaksakan seulas senyum tipis, menoleh ke belakang untuk sekadar memastikan gadis bergaun merah marun itu tidak tersandung langkahnya sendiri.

Luna membalas tatapan itu dengan sebuah anggukan mantap, menunjukkan tingkat kepercayaan buta yang sangat mengagumkan bagi seorang wanita cerdas.

Reno merasa harus mempertahankan ilusi kepahlawanan palsunya ini bagaimanapun caranya agar posisinya di mata Luna tidak kembali merosot.

Ponsel hitam di dalam saku jas mahalnya mendadak bergetar singkat, memberikan sebuah pembaruan informasi situasional dari sistem kecerdasan buatan.

Reno mempercepat laju kakinya, mengambil dua anak tangga sekaligus untuk memangkas waktu tempuh menuju ke bagian paling atas gedung pencakar langit.

Otot betisnya mulai terasa kaku menahan beban ekstra, namun ia menolak menyerah pada kelelahan fisik di tengah situasi hidup dan mati ini.

Lantai demi lantai mereka lewati dengan napas yang semakin memburu tak beraturan, menguras seluruh sisa tenaga di dalam tubuh.

Setiap lantai yang terlewati menampilkan deretan angka tingkat gedung yang terlukis pudar di permukaan dinding beton.

Reno terus menghitung mundur sisa anak tangga dengan jantung yang berpacu liar menyerupai mesin pompa air rusak.

Genggaman tangannya pada jemari lentik Luna perlahan mulai dibasahi oleh keringat kepanikan yang tidak bisa ia cegah.

Gadis bergaun merah marun itu sedikit terhuyung pada undakan anak tangga terakhir, kehilangan keseimbangan akibat sepatu hak tingginya.

Reno segera menahan pinggang Luna dengan sigap, mencegah tubuh anggun itu terjerembap membentur sudut beton yang bertekstur kasar.

"Kita sudah hampir sampai di ujung tangga, bertahanlah sebentar lagi."

Kalimat bernada pelindung itu meluncur dari bibir Reno, berusaha menutupi rasa ketakutan pribadinya dari pendengaran sang gadis pujaan.

Luna hanya mengangguk pelan, merapikan kembali tatanan gaunnya dengan tangan yang sedikit gemetar menahan ketegangan.

Sebuah pintu besi tebal berwarna merah kusam akhirnya terlihat jelas berdiri memblokir jalan di ujung atas tangga evakuasi.

Reno melepaskan genggamannya sejenak, lalu mendorong tuas pintu besi raksasa itu menggunakan seluruh sisa kekuatan di kedua lengannya.

Pintu akses menuju area atap gedung itu terbuka dengan bunyi derit engsel berkarat yang luar biasa nyaring dan memekakkan telinga.

||||

Mereka berdua melangkah keluar dari area tangga, memasuki pelataran atap beton yang memiliki ukuran sangat luas membentang.

Hamparan gedung pencakar langit kota metropolitan langsung menyambut pandangan mereka dari segala arah bagaikan sebuah lukisan arsitektur modern.

Reno segera membalikkan badan, menarik gagang pintu besi itu hingga tertutup rapat kembali mengunci jalur pengejaran dari bawah.

Ia meraih sebuah balok kayu sisa pembangunan yang tergeletak di sudut tembok, lalu menyelipkannya kuat-kuat ke celah gagang pintu sebagai pengunci darurat.

{Setidaknya sepotong balok kayu ini bisa menahan dobrakan gerombolan petugas polisi itu selama beberapa menit ke depan untuk mengulur waktu.}

Luna melangkah perlahan menuju pinggiran atap, menatap ke bawah ke arah struktur bangunan kota yang menjulang tinggi di sekeliling mereka.

Gadis berprestasi itu menyilangkan kedua lengannya, menenangkan detak jantungnya yang masih berpacu ekstrem akibat durasi pelarian yang teramat panjang barusan.

Reno berjalan mendekat, melepaskan jas hitam hasil retasannya dengan gerakan perlahan yang sudah diperhitungkan sisi keanggunannya.

Ia menyampirkan jas elegan tersebut ke bahu Luna, memberikan sebuah gestur perlindungan klasik yang selalu berhasil memikat perhatian para wanita di dalam film.

Luna menoleh dengan seulas senyum tipis, merapatkan kerah jas tebal tersebut menutupi bagian lehernya dengan gerakan nyaman.

"Kamu selalu saja memiliki cara untuk menyelamatkanku dari berbagai situasi berbahaya yang datang secara tiba-tiba."

Pernyataan Luna terdengar sangat lembut, memecah kesunyian di atas pelataran atap beton pencakar langit tersebut.

Reno menelan ludah kasarnya, merasa sedikit bersalah karena bahaya yang sebenarnya mengintai malam ini murni berasal dari kejahatan finansial manipulatifnya sendiri.

"Sudah menjadi tugas utamaku untuk memastikan kamu tidak terluka sedikit pun di tengah semua kekacauan tak terduga ini."

Bualan heroik itu kembali keluar secara refleks, merajut skenario kebohongan yang semakin rumit dan tebal menyelimuti identitas aslinya.

Luna memiringkan kepalanya sedikit, menatap lurus ke dalam bola mata Reno dengan tatapan penuh selidik tajam.

"Orang-orang yang mengejar kita di bawah tadi jelas bukan kelompok aparat keamanan hotel biasa yang sedang berpatroli."

Gadis itu mulai merangkai analisis logisnya secara mandiri, mencari benang merah dari seluruh rentetan kejadian gila yang menimpa mereka belakangan ini.

"Kejadian di kafe, peretasan sistem hidrolik secara tiba-tiba, hingga malfungsi kelistrikan skala besar barusan, semua ini terlalu terstruktur untuk sekadar sebuah kecelakaan biasa."

Reno mematung, menyadari bahwa insting cerdas dan ketelitian Luna hampir berhasil menguliti seluruh kebohongannya tanpa sisa.

{Kalau dia sampai tahu aku adalah buronan aparat berwajib akibat menipu butik pakaian mahal, posisiku di matanya akan langsung merosot ke dasar jurang.}

Ia memajukan langkahnya satu tindak, mempersempit jarak berdiri di antara mereka berdua untuk menciptakan sebuah intimidasi berkedok romantisme.

"Ada hal-hal di dunia ini yang jauh lebih masif dan mematikan dari sekadar penyelesaian tugas kuliah atau kompetisi basket kampus yang kekanak-kanakan."

Pemuda kurus itu menurunkan nada suaranya menjadi bariton berat, mengadopsi secara utuh karakter agen rahasia yang sering ia tonton di acara televisi mingguan.

Luna membelalakkan matanya sedikit, menunjukkan ekspresi ketertarikan yang luar biasa tinggi terhadap pengungkapan misteri palsu tersebut.

"Kamu sebenarnya sedang terlibat dalam sebuah konspirasi berbahaya macam apa, Reno?"

Pertanyaan itu diucapkan dengan nada berbisik, seolah sangat takut ada pihak musuh tak kasat mata yang ikut menyadap pembicaraan pribadi mereka.

Reno menatap wajah cantik itu lekat-lekat, menyadari bahwa ia telah berhasil membalikkan kondisi kritis ini menjadi sebuah keuntungan emosional yang sangat besar.

"Aku sedang menjalankan misi menyelidiki sindikat kejahatan siber internasional yang memiliki jaringan peretasan dengan akar sangat dalam di struktur kota ini."

Dusta berskala besar itu diucapkan tanpa ada nada keraguan sedikit pun, mengorbankan seluruh sisa kejujuran nuraninya demi memenangkan hati sang pujaan.

||||

Luna terdiam sejenak, memproses informasi fiktif berskala masif yang baru saja menghantam kapasitas logikanya dengan keras.

Gadis yang selama ini menganggap kehidupan kampus sangat membosankan itu kini merasa benar-benar sedang berada di tengah sebuah misi spionase kelas dunia.

Rasa kekaguman mendalam perlahan mulai menggantikan guratan kebingungan di wajah ayunya.

Ia sama sekali tidak pernah menyangka bahwa pria yang sering menjadi bahan ejekan di kantin kampus ini ternyata menyimpan identitas rahasia yang begitu kompleks.

"Pantas saja kamu memiliki kemampuan aneh untuk merusak dan mengendalikan mesin di sekitar kita tanpa perlu menyentuh perangkatnya sama sekali."

Reno hanya mengangguk pelan dengan raut sok misterius, membiarkan imajinasi liar Luna bekerja sendiri untuk menyempurnakan kebohongan konyol tersebut.

Ponsel hitam misterius X-Phreak 9000 di dalam saku celananya mendadak memberikan sebuah getaran konfirmasi yang cukup panjang.

Teks analisis digital itu muncul sekilas di layar gelap, memberikan validasi sistem matematis atas keberhasilan strategi murahan Reno.

{Enam puluh persen, ini adalah sebuah lompatan angka tertinggi yang pernah kucapai seumur hidupku dalam sejarah penaklukan asmara umat manusia.}

Kepercayaan diri Reno langsung melonjak menembus batas kewajaran, merasa seluruh rintangan emosional telah berhasil ia taklukkan sepenuhnya malam ini.

Luna melangkah jauh lebih dekat, hingga ujung sepatu hak tingginya nyaris bersentuhan langsung dengan ujung pantofel curian Reno.

Gadis berprestasi itu mendongakkan wajahnya perlahan, menatap wajah Reno dari jarak yang luar biasa intim tanpa menyisakan banyak sekat ruang.

"Apakah identitas rahasiamu ini mengharuskanmu untuk selalu berlari sendirian menghindari kejaran musuh di setiap sudut kota?"

Reno menahan ritme napasnya, tidak berani melakukan gerakan spontan yang berisiko merusak momen paling mendebarkan dalam seluruh sejarah hidupnya ini.

"Terkadang, seorang agen rahasia hanya membutuhkan satu alasan perlindungan yang kuat untuk terus bertahan hidup di tengah kerasnya ancaman sindikat."

Kalimat gombal berkedok bahasa spionase itu sukses besar membuat pipi Luna sedikit merona merespons kedekatan mereka.

Luna perlahan memejamkan kedua matanya rapat-rapat, memiringkan wajah cantiknya dengan sebuah gestur yang sangat jelas meneriakkan kesediaannya.

Reno merasakan jantungnya berhenti berdetak selama satu detik penuh, otaknya buntu memproses undangan ciuman langsung dari gadis paling populer di seluruh penjuru kampus.

Ia ikut memejamkan mata perlahan, mencondongkan wajahnya ke depan untuk menyambut momen puncak dari seluruh perjuangan absurdnya selama beberapa hari terakhir.

Jarak di antara kedua bibir mereka menyusut dengan sangat cepat, tinggal menyisakan beberapa sentimeter ruang kosong pemisah.

||||

Sebuah guncangan mekanis yang luar biasa masif mendadak menggetarkan seluruh permukaan lantai atap beton tempat mereka berdua berpijak.

Suara deru baling-baling mesin berukuran raksasa tiba-tiba memecah keheningan absolut, menenggelamkan seluruh nuansa romantis yang terbangun dalam sekejap mata.

Reno membuka matanya secara spontan, menarik tubuhnya mundur dengan kepanikan tingkat tinggi yang kembali menyerang sistem saraf motoriknya.

Luna tersentak kaget bukan main, melangkah mundur beberapa kali sambil berpegangan erat pada lengan kemeja panjang Reno.

Ponsel hitam di saku celana Reno kembali bergetar dengan ritme peringatan darurat yang luar biasa menyengat permukaan paha.

Sebuah objek besi melayang berukuran raksasa perlahan muncul dari balik gedung sebelah, bermanuver turun secara agresif mendekati area atap tempat mereka bersembunyi.

Bentuk utamanya menyerupai helikopter tanpa awak yang sengaja dilengkapi dengan berbagai macam modul persenjataan mekanis tersembunyi di bagian sisi badannya.

Teks peringatan menyala itu diproyeksikan langsung dari saku celana, menyajikan sebuah ancaman kematian yang jauh lebih mengerikan daripada sepasukan unit patroli kepolisian kota.

Lampu sorot helikopter tersebut menembak lurus ke arah mereka, membutakan jarak pandang dengan pancaran buatan yang dirancang untuk mengintimidasi target buruan.

Mesin terbang mekanis itu berhenti melayang statis tepat di depan batas pagar beton atap, mengarahkan moncong rakitannya lurus membelah jarak menuju posisi mereka berdua.

Reno segera melindungi Luna dengan memosisikan tubuh gadis itu di balik punggungnya, membiarkan tubuhnya kembali bergetar hebat menghadapi situasi di luar batas nalar ini.

{Mafia gila ini benar-benar tidak ragu mengirimkan armada tempur udara hanya untuk merebut kembali sebuah telepon genggam hasil eksperimen dari tangan mahasiswa biasa.}

Sistem audio pada perangkat drone raksasa itu mendadak mengeluarkan bunyi distorsi frekuensi yang sangat memekakkan telinga siapa saja di sekitarnya.

Saluran komunikasi ponsel X-Phreak 9000 milik Reno juga ikut diretas paksa dari jarak jauh, menyambungkan transmisi suara ancaman tersebut secara otomatis ke pelantang suaranya.

Suara bariton Mr. X yang sangat mengancam langsung menggema keras, memantul dari pelantang suara helikopter sekaligus dari dalam saku celana Reno tanpa ampun.

1
M Amir
kurang greget aghhh
Khusus Game: gigit...kurang gereget mah.
total 1 replies
Aisyah Suyuti
good
Dragonovic#
let's gooooo
semoga happy ending thor jangan bad ending im already tired for bad ending
Khusus Game: siappp. Abang first komen, LANGSUNG SAJA, ACC.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!