NovelToon NovelToon
NEVER TRULY GONE

NEVER TRULY GONE

Status: sedang berlangsung
Genre:BXB / Mengubah Takdir
Popularitas:133
Nilai: 5
Nama Author: Selene Mora

Bagaimana jika cinta terbesar adalah cinta yang diam-diam merantai, mengikat hati tanpa suara, dan terus hidup meski tanpa harapan?

​Brant dan Luca hanya tahu satu hal: cinta itu masih ada dan mungkin akan tetap ada selamanya. Mereka hanya pasrah, tidak lagi bertarung untuk bersama.


!!!⚠️!!!

#BL

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selene Mora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

6

Waktu menunjukan pagi menjelang siang. area parkir gedung olahraga sudah ramai . Tim basket dan lainya sibuk masuk-masukin koper ke bagasi bus pariwisata yang mesinnya sudah menderu.

Di tengah kerumunan, Brant yang lagi nenteng tas olahraganya tiba-tiba mematung. Dia melihat luca yang berdiri mojok depan bus di antara mobil-mobil yang terpakir.Sial bagi Luca, aksinya sama sekali tidak mulus. Saat ia sedang asyik memperhatikan Brant, Brant justru balas menatap lurus ke arahnya.

​"Ngapain lo di sini?" tanya Brant dingin,sambil jalan mendekat ke arah Luca di depannya.

​"Kan aku udah bilang, mau dadah-dadah cantik pas bus jalan," jawab Luca sambil nyengir, meski matanya sibuk scanning keadaan sekeliling.

"Gue kan sudah bilang jangan mangkir kelas," kata Brant tenang, tanpa ada nada emosi dalam suaranya. Ia lalu menggandeng lengan Luca, menariknya sedikit bergeser ke tempat yang teduh karena posisi berdiri Luca langsung tersengat matahari pagi menjelang siang itu. "Nanti kalau busnya jalan, gue juga bakal ngabarin lu."

​Diperlakukan begitu, Luca hanya bisa mengerucutkan bibir sambil pura-pura merasa bersalah. Dia sengaja diam, menyembunyikan fakta bahwa dia memang sengaja seniat itu datang hanya demi melihat Brant sebelum berangkat.

​Gak lama, Clay muncul bawa koper gede sama tas ransel yang kayaknya berat banget. Clay dan Rey memang diizinkan ikut sebagai tim suporter. Dia ngasih kode mata ke Brant, minta dibantu angkut koper. Brant baru mau gerak, tapi langkahnya terhenti pas Vania turun dari pintu bus dengan wajah yang dibuat seolah-olah lagi kesulitan.

​"Brant, bisa tolongin gue?" sapa Vania lembut. "Tas gue di bagasi atas nggak nyampe, tinggi banget. Boleh bantuin naikin?"

​Brant ngelirik Clay, tapi di belakang Clay ternyata udah ada Rey yang siap bantu. Karena posisi Brant paling dekat sama Vania dan bus di depannya, Brant cuma mendengus tipis lalu naik ke bus buat naruh tas cewek itu.

Luca yang melihatnya merasa kesal.

​"Manja banget sih itu cewek! Kan ada kondektur!" gumam Luca emosi, udah mau teriak kalau aja Vin nggak tiba-tiba muncul dan ngebekap mulutnya dari belakang.

​"Diem, Ca! Jangan malu-maluin di depan umum!" bisik Vin tajam sambil nyeret Luca menjauh sedikit.

Satu per satu pemain mulai naik ke bus. Luca berdiri di pinggir jalan dengan wajah yang masih agak ditekuk gara-gara insiden tas Vania tadi. Matanya nggak lepas dari jendela bus, mencari-cari posisi Brant.

​Begitu bus mulai bergerak perlahan, kaca jendela di bagian tengah terbuka. Clay dan Rey nongol dari sana sambil melambai heboh.

​"Woi, Luca! Tenang aja , Pangeran lo aman sama kita!" teriak Rey dengan suara lantang yang bikin beberapa orang nengok.

Clay sambil ketawa gesrek, ikut ngasih jempol ke arah Luca.

Sementara ​Brant yang duduk di sebelah Clay cuma bisa mijit pangkal hidungnya, malu liat kelakuan temen-temennya, tapi dia tetep natap Luca dari balik kaca dan ngasih anggukan kecil seolah mengonfirmasi kalau dia bakal baik-baik saja.

​Luca yang tadinya mau marah malah jadi senyum kecil sambil dadah-dadah balik. Setidaknya, dia tahu Brant nggak sendirian di sana.

​Gak lama bus ilang dari pandangan, Rose dan Elena baru nyampe dengan napas tersengal-sengal. "Yah! Udah jalan ya? Gue mau dadah-dadah ke Kak Jack padahal!" keluh Rose kecewa.

​"Udah telat, mending kita ke kantin," ajak Luca.

​"Eh,kelas udah mulai loh, nggak masuk kita?" tanya Elena ragu.

​"Nanggung. Paling juga udah diabsen," sahut Vin santai sambil jalan duluan.

​Elena cuma bisa pasrah, ngikutin temen-temennya ke kantin.mereka nanti akan masuk lagi pas jam kedua nanti.

Rumah Luca malam ini mendadak jadi markas besar. Karna mendapat info dari grup kalau dosen di jam pertama mereka besok berhalangan hadir, maka Rose dan Elena memutuskan untuk bermalam di rumah Luca. Sedangkan,Vin malam itu tidak bisa gabung sama mereka karna ada urusan lain katanya. Dan Berhubung mamanya Luca sedang ikut seminar di luar kota, mereka memutuskan untuk menguasai dapur.

​"Ca, lo beneran bisa motong bawang nggak sih? Itu ukurannya kenapa kayak potongan kayu bakar?" tegur Rose yang sedang lagi sibuk mengupas bawang.

​"Ini namanya seni,Rose! Biar teksturnya kerasa!" sahut Luca pede.

Elena nggak ambil pusing saat mendengar jawaban konyol Luca. Dia tetap fokus pada tugasnya menggoreng. " terserah lu deh, ca."

Gak mau melewatkan moment "kehebatannya", Luca langsung menekan tombol video call ke arah Brant.

Di seberang sana,mata Brant baru saja mau terpejam,fisiknya kelelahan karna latihan tadi. Di atas meja ponselnya bergetar hebat.

​Begitu diangkat, pemandangan pertama yang Brant lihat bukan wajah manis pacarnya, melainkan isi kulkas yang berantakan dan grasak-grusuk tangan Luca yang sibuk membongkar isinya.

​"Kak! Bentar ya, jangan dimatiin! Aku lagi nyari lengkuas... eh, atau ini jahe ya? Rose! Ini jahe atau kunyit?" suara Luca terdengar panik di balik kamera.

​Brant cuma bisa menyandarkan punggungnya di kepala ranjang, menatap layar ponselnya dengan tatapan datar namun tak beralih. " Itu kunyit, Luca. Yang warnanya oranye," sahut Brant pelan, suaranya terdengar sangat dalam dan serak karena lelah.

​akhirnya Brant harus menjadi penonton setia "siaran langsung" kekacauan dapur itu selama hampir satu jam. Dia menonton Luca yang mulai grasak-grusuk, mulai dari adegan Luca yang hampir nangis karena matanya perih kena uap bawang, sampai adegan Elena yang teriak-teriak karena minyak gorengnya meledak-meledak mengenai tangannya.

​"Luca, mending lo pesen online dari pada rumah lo rata sama tanah," celetuk Brant dingin, matanya sudah tinggal lima watt.

​"Nggak mau! Ini demi Kakak biar liat aku pinter masak!" seru Luca sambil sibuk mengaduk nasi di penggorengan yang bunyinya sreng-sreng berisik sekali.

Tepat saat Brant benar-benar hampir hanyut ke alam mimpi, teriakan melengking Luca membangunkannya.

​"KAK! JANGAN TIDUR DULU! LIAT NIH!"

​Brant tersentak, mengerjapkan matanya yang memerah. Di layar, Luca sedang pamer piring dengan wajah penuh keringat tapi senyumnya selebar dunia.

"Perkenalkan karya pertamaku malam ini: Fried Rice Soy Sauce and Crispy Chicken!"

​Brant diam sebentar, menatap nasi goreng yang warnanya cokelat pekat itu. "Itu nasi goreng, Namanya nggak usah sok Inggris, Luca."

​"Ihh, biar keren dikit kenapa sih! Ini namanya branding!" Luca merengut.

​Tepat saat Luca sedang bangga-bangganya, Lea muncul di pintu dapur dengan tangan bersedekap. Dia menatap kekacauan di depannya.

​"Woi, Luca Stellan!" suara Lea dingin tapi menusuk, bikin Elena dan Rose otomatis tegak berdiri. "Lo liat ini dapur atau tempat pembuangan sampah? Gue kasih waktu sampe jam sepuluh. Kalau ini lantai masih lengket, lo tidur di luar sama kucing! Nggak ada nego!"

​Luca takut. Dia buru-buru menyambar ponselnya yang masih tersandar di rak dapur. "Eh... Kak Brant, darurat! Singanya bangun! Aku harus bersih-bersih sekarang kalau nggak mau jadi gelandangan! Love you, Kak!"

​Klik. Layar jadi hitam.

​Brant terdiam menatap ponselnya yang sudah mati, lalu melempar benda itu ke samping bantalnya. Dia menarik selimut dan memejamkan mata, membayangkan Luca yang sekarang pasti dia lagi di marahi sekarang.

​"Dasar bocah konyol," gumam Brant pelan,dan akhirnya tertidur dengan senyum tipis tersungging di bibirnya.

Pertandingan babak penyisihan selesai sore itu dengan kemenangan yang cukup menguras tenaga. Di penginapan, Brant sudah tampak segar sehabis mandi. Dia duduk di teras sambil menatap segelas kopi hitam yang disediakan panitia di meja. Rasanya ada yang kurang kalau tidak ada rokok.

​"Pak, pinjam motornya sebentar ke warung depan," ucap Brant pada sekuriti di situ.

Begitu kunci diserahkan, Brant langsung menghidupkan mesin motor bebek itu.

​Tepat saat motor mau jalan, Vania sudah berdiri di gerbang penginapan.

"Brant! Boleh numpang nggak? Gue mau beli suncream, punya gue habis. Perih banget kalau besok tanding nggak pakai," ucapnya.

​Brant hanya mengangguk singkat tanpa ekspresi. "Naik."

​Karena sudah kebiasaan membawa motor sport dengan tarikan gas yang responsif, Brant tidak sengaja memacu motor bebek itu cukup kencang. Saat melewati sebuah lorong, seorang anak kecil tiba-tiba muncul. dan......

​Ckiiiiiitt!

​Brant refleks rem mendadak. Motor oleng, kakinya menahan beban motor agar tidak ambruk, tapi benturannya tetap terjadi.

​beruntung, sebagian besar tubuh mereka mendarat di atas empuknya rumput liar, sehingga luka mereka tidak terlalu parah. Hanya bagian tangan Vania yang sempat mencium aspal hingga lecet, sementara lengan dan betis Brant yang menjadi tumpuan utama mengalami luka gores yang cukup panjang akibat gesekan dengan pinggiran jalan.

​Melihat Vania yang tiba-tiba pucat pasi dan mulai terisak ketakutan. Brant langsung membawanya ke Puskesmas terdekat yang di sarankan oleh seorang yang kebetulan ada di lokasi itu.​ Di Puskesmas, mereka langsung di layani dengan cepat. setelah perawat selesai mengobati tangan Vania, cewek itu masih gemetar. Brant duduk di kursi sebelah, menatap lukanya sendiri dengan datar.

​"Sorry. Gara-gara gue lo jadi luka begini," ucap Brant rendah.

​Vania menoleh dengan mata berkaca-kaca. "Nggak apa-apa,Brant. Gue cuma... trauma banget sama kecelakaan motor. Bokap gue meninggal karena itu."

​Brant tertegun sebentar. Dia tidak banyak bicara, hanya mengangguk paham. Di dalam kepalanya, rasa bersalah itu muncul.

Begitu tiba di penginapan, kedatangan Brant dan Vania langsung memancing perhatian. Jack, Clay, Rey, dan beberapa pemain lainnya sempat terkejut melihat luka lecet dan perban di tubuh mereka.

​"Nggak sengaja ngerem mendadak. Cuma lecet," jelas Brant singkat, memotong rasa penasaran teman-temannya sebelum suasana makin heboh.

​Melihat luka keduanya tidak serius, ketegangan pun mereda. Mereka akhirnya duduk bersama di ruang makan yang di sediakan jatah nasi kotak untuk masing-masing.Vania yang mulai merasa kesulitan meminta bantuan Brant yang bertepatan duduk di sampingnya .

​"Brant, tangan gue masih agak perih... boleh tolong buka plastik nasinya?" tanya Vania pelan.

​Brant tidak menjawab, tapi tangannya langsung bergerak membuka plastik nasi kotak itu dengan cepat dan efisien.

​"Sedotannya juga..." tambah Vania lagi.

​Brant mengambil kotak minuman, menusukkan sedotan, lalu menaruhnya kembali di depan Vania tanpa sepatah kata pun. Bahkan saat Vania mengeluh rambutnya mengganggu, Brant sempat membantunya merapikan helaian itu agar tidak masuk ke makanan—semua dilakukan Brant dengan wajar, murni karena dia merasa ini adalah "kompensasi" atas kecelakaan tadi.

​Sementara Clay dan Rey yang melihat itu dari meja sebelah cuma bisa saling lirik. Mereka risih melihat Vania yang mendadak jadi sangat manja, tapi mereka tahu Brant hanya sedang menjalankan tugas tanggung jawabnya.

Jack yang saat itu duduk di depan Brant menatap lurus ke arah Vania, ia tahu cewek itu sengaja menggunakan rasa bersalah Brant karna kecelakaan itu.

​Di tengah suasana itu, ponsel Brant bergetar. Nama "Luca " muncul di layar. Brant langsung berdiri dan berjalan menjauh ke arah teras yang sunyi.

​"Halo," sapa Brant

​"Kaaak! Aku lagi minum boba nih, terus tiba-tiba kepikiran Kakak... eh tapi Kak, musibah! Wi-Fi rumah mati!" cerocos Luca.

" Terus kalau mati kenapa?"tanya Brant bingung .

"Paket data aku sekarat! Tinggal 500MB! Ini gara-gara kita sering videocall dan telpon lama banget tau! Gantiin ya Kak, isiin saldo aku buat beli paket data lagi."

​Brant geleng-geleng kepala. Dia merasa lucu sendiri. Dia yang sering telpon, dia juga yang minta videocall berjam-jam sampai gue hampir ketiduran, sekarang gue yang disalahkan sampai disuruh ganti paket datanya? batin Brant.

​"Lo yang cerewet , sekarang gue yang kena tagihan?" goda Brant, meski hatinya merasa rindu dengan ocehan nggak bermutu itu.

"Nggak mau tahu, pokoknya Kak Brant yang harus tanggung jawab!" Ucap Luca menuntut. Bukannya terdengar serius, suaranya yang manja itu justru tidak terdengar mengekspresikan ketegasan.

"Iya, iya. Gue tanggung jawab. Gue tutup dulu ya," ucap Brant pelan.

​Begitu sambungan putus, Brant langsung membuka aplikasi banknya. Tak butuh waktu lama, di rumah Luca sebuah notifikasi muncul: "Transfer Masuk Rp100.000 dari Brant Wiley."

​Setelah memasukkan ponsel ke saku, Brant akhirnya kembali duduk di kursinya, melanjutkan makan malam yang sempat terpotong tadi. Sikapnya terkesan santai dan cuek, tak acuh dengan Vania yang terang-terangan menunjukkan wajah kecewa karena ditinggal begitu saja. Tentu saja bagi Brant, mendahulukan kekasih gemasnya adalah prioritas utama yang tidak perlu diperdebatkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!