Gagal naik ke Alam Dewa karena masih terikat karma fana, jiwa sang Kultivator Tertinggi terpaksa kembali ke tubuh aslinya di dunia modern sebagai Dika.
Berbekal Mata Takdir untuk membereskan hutang budi dan dendam masa lalu, Dika berniat menyelesaikan misinya dengan cepat dan diam-diam.
Namun, sebuah kesalahan takdir membuat isi hati dan keluh kesah batinnya bisa didengar jelas oleh wanita-wanita di sekitarnya!
Sanggupkah Dika menjaga wibawanya sebagai calon dewa, saat semua strategi dan gengsinya bocor lewat suara hati sendiri?
#UrbanFantasy #RomanceKomedi #KultivasiModern
#IsiHatiTerdengar #PuraPuraLemah #MantanDewa
#ZeroToHero #BenciJadiCinta
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samsu234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Audit Basah PT Pesugihan Pantai Selatan Tbk
Bau amis air laut bercampur aroma melati murahan mendadak menguar dari AC kantor cabang Tomang. Padahal saat itu jam dua siang, waktu di mana para budak korporat biasanya lagi berjuang melawan kantuk pasca-makan siang. Di kubikal pojok, Dika magang—yang sekarang statusnya naik jadi staf tetap—sedang menatap layar monitornya yang mendadak kedip-kedip eror.
Setiap kali kursor Excel miliknya menyentuh baris aset PT Pesugihan Pantai Selatan Tbk, angka-angka nominal di layar berubah menjadi deretan huruf Jawa kuno berwarna biru menyala.
"Dik, ada tamu nyariin lu. Di ruang rapat utama," bisik Lina sambil menyenggol bahu Dika. Mukanya pucat, tangannya gemetaran memegang nampan kosong. "Aura orangnya... ngeri banget, Dik. Begitu dia masuk lobby, satpam kita langsung pingsan berdiri."
Dika menghela napas, mencabut pulpen dua ribu rupiah dari saku kemejanya, lalu berdiri. "Sari ya, Lin?"
"Kok lu tahu?"
"Di laporan konsolidasi tadi, nama CEO-nya tertulis Kanjeng Raden Ayu Sari Ningrum. Ditandatangani pakai tinta darah gurita raksasa," jawab Dika lempeng, lalu melangkah menuju ruang rapat.
Begitu pintu ruang rapat dibuka, hawa dingin ekstrem langsung menyergap. Di ujung meja, duduk seorang wanita muda berambut hitam panjang sepinggang, memakai setelan blender jas desainer berwarna hijau lumut yang sangat elegan. Parasnya cantik luar biasa, tipikal wanita bangsawan Jawa keraton, tapi matanya dingin tanpa emosi. Di belakang kursinya, samar-samar terlihat bayangan siluet ombak laut besar yang bergemuruh dan ribuan prajurit siluman hiu yang sedang berlutut.
Dia adalah Sari, CEO muda berdarah dingin yang memimpin gurita bisnis gaib di sepanjang pesisir pulau Jawa.
"Jadi, kamu yang namanya Dika? Akuntan ingusan yang berani menolak laporan keuangan konsorsium kami?" suara Sari terdengar lembut, tapi getarannya membuat kaca meja rapat retak halus.
Dika duduk di kursi seberang Sari tanpa rasa takut. Wajahnya tetap lempeng kayak keramik pasar. Dia menaruh laptop Asus bututnya di meja. "Laporan perusahaan Mbak Sari saya reject karena melanggar Standar Akuntansi Keuangan universal. Ada selisih dana sekitar dua triliun rupiah yang tidak bisa didefinisikan."
Sari tersenyum sinis, menyilangkan kakinya yang jenjang. "Itu bukan selisih fiktif, Dika. Itu adalah dividen tahunan yang kami setorkan langsung ke kas penguasa Laut Selatan. Kamu tidak tahu siapa di belakang saya? Berani-beraninya mengoreksi pembukuan kami."
"Saya gak peduli siapa di belakang Mbak. Mau ratu pantai, mau raja samudra, kalau masuk ke wilayah audit saya, jurnalnya harus balance," balas Dika tenang, lalu membuka laptopnya.
Sari mendengus, matanya mendadak berubah menjadi biru pekat. Ruang rapat Tomang seketika berubah. Dindingnya lenyap, digantikan oleh pemandangan istana bawah laut yang megah namun mencekam. Tekanan air laut gaib seberat jutaan ton mendadak menindih tubuh Dika, mencoba memaksa cowok itu berlutut.
"Jangan sombong, anak muda. Saya bisa menenggelamkan seluruh takdir dan jatah umurmu ke dasar palung terdalam hari ini juga!" ancam Sari, aura mistisnya meledak membuat ruangan bergemuruh.
Namun, Dika hanya membetulkan posisi kacamata minusnya. Dia mengangkat pulpen dua ribu rupiah miliknya. Seketika, pulpen murah itu memancarkan pendar cahaya emas padat yang langsung membentuk kubah pelindung, membelah tekanan air laut gaib milik Sari menjadi dua bagian tanpa sisa.
Aura Kurator Utama Karma Purba bangkit kembali.
"Mbak Sari, rekayasa laporan keuangan dengan kedok sesajen laut itu masuknya pasal penggelapan aset tak berwujud," ucap Dika, suaranya kini bergaung agung, meredam suara ombak gaib di sekitar mereka. "Kalian memotong sisa umur para nelayan lewat skema pesugihan saham, lalu kalian bukukan sebagai 'Biaya CSR Operasional'. Di buku besar langit, ini namanya utang darah jangka panjang dengan bunga darurat seratus persen."
Mata Sari melebar. Dia terkejut melihat aura emas Dika yang begitu murni, bahkan sanggup menetralkan energi mistis lautan yang dia bawa dari parangtritis.
Dika mengetuk keyboard-nya sekali. "Saya lakukan penyesuaian sekarang. Formula VLOOKUP: Sinkronisasi Aset Gaib Pantai Selatan!"
Pendar cahaya emas melesat dari laptop Dika, menembus bayangan istana bawah laut di belakang Sari. Seketika itu juga, terdengar suara jeritan ribuan siluman yang panik karena sistem pembukuan gaib mereka di-hack paksa oleh sistem akuntansi langit. Angka-angka triliunan rupiah di laptop Dika mulai bergerak mundur, kembali ke angka yang legal, sementara sisa umur para nelayan yang sempat disedot langsung dikembalikan ke pemilik aslinya.
Aura hijau lumut di tubuh Sari mendadak meredup drastis. Napas CEO muda itu memburu, wajah cantiknya keringat dingin karena energi spiritualnya tersedot habis untuk membayar penalti denda jurnal penutup.
"Selesai," ucap Dika sambil menutup laptopnya. Ruang rapat Tomang kembali normal seketika. Bau amis berganti lagi jadi bau kopi sasetan.
Sari terduduk lemas di kursinya, menatap Dika dengan kombinasi rasa ngeri, kesal, sekaligus... kagum yang mendalam. Selama memimpin PT Pesugihan Pantai Selatan Tbk, baru kali ini ada seorang pria—bukan dukun, bukan jawara—tapi cuma staf kantor biasa yang berhasil mematikan langkah bisnis gaibnya hanya pakai rumus Excel.
Sari merapikan kembali jas hijaunya, mencoba mengumpulkan sisa wibawanya yang runtuh. Dia menatap Dika tajam, tapi kali ini dengan senyuman yang berbeda.
"Hebat... kamu bener-bener gila, Dika," bisik Sari, matanya menyipit penuh selidik. "Kamu baru saja mengacaukan portofolio bisnis ibu ratu. Tapi, saya suka aset yang potensial seperti kamu."
Sari berdiri, lalu berjalan mendekati meja Dika. Dia menaruh sebuah kartu nama eksklusif berbahan logam hitam dengan grafir tinta emas di depan laptop Dika.
"Ini nomor pribadi saya. Mulai hari ini, PT Pesugihan Pantai Selatan resmi menunjuk kamu sebagai auditor eksternal tunggal kami. Atur jadwalmu, minggu depan kamu harus ikut saya dinas ke kantor pusat kami di bawah laut," ucap Sari sambil mengedipkan sebelah matanya yang kembali normal, meninggalkan kesan sensual sekaligus mematikan.
Tanpa menunggu jawaban, Sari berbalik dan berjalan keluar ruangan dengan langkah anggun, meninggalkan aroma melati yang perlahan memudar.
Dika menatap kartu nama di mejanya, lalu memasukkan kembali pulpen dua ribu rupiahnya ke saku kemeja.
"Dik... lu gak apa-apa kan?" Lina buru-buru masuk ke ruang rapat dengan muka cemas. "Gila, si CEO cantik itu tadi keluar sambil senyum-senyum ngeri. Lu gak dipelet kan?"
Dika menggeleng lempeng, lalu mengambil kartu nama logam tersebut. "Gak, Lin. Cuma... sepertinya dinas minggu depan bakalan butuh baju selam."